Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Kehancuran
Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Reina seluruh dunia seakan berhenti sesaat.
Angin membeku.
Raungan monster terdiam.
Bahkan gerbang hitam raksasa itu berhenti bergerak.
Lalu—
CRAAAAKKK!!
Simbol merah di permukaan gerbang mulai retak satu per satu. Suara jeritan mengerikan menggema dari dalam kegelapan. Seolah sesuatu di balik gerbang marah. Kabut hitam langsung meledak keluar.
Prisma segera berdiri sambil melindungi yang lain dengan dinding energinya. “REINAA!!”
Namun Reina tidak mundur.
Api hitam terus membakar lengannya, perlahan merambat ke pundak hingga punggungnya. Rasa sakitnya begitu besar sampai tubuhnya gemetar.
Tetapi ia tetap menahan tangannya di depan gerbang. Di balik celah hitam itu mata merah raksasa tadi perlahan mendekat.
Kini mereka bisa melihat bentuknya lebih jelas. Itu bukan hanya satu makhluk. Melainkan kumpulan tubuh dan wajah yang menyatu menjadi sesuatu yang tidak seharusnya hidup. Ribuan tangan bergerak di dinding kegelapan, berusaha keluar dari gerbang.
Dan di tengah semua itu ada sosok manusia.
Tinggi.
Berjubah hitam.
Dengan mata merah yang sama persis seperti Reina.
Dandi langsung merinding. “…Siapa itu…”
Makhluk penjaga menundukkan kepalanya lebih dalam.
“RAJA KEHANCURAN.”
Santo menyipitkan mata. “Jadi itu sumber semuanya…”
Sosok di dalam gerbang perlahan tersenyum. Kemudian ia berbicara. Namun suaranya terdengar langsung di kepala mereka.
“Reina.” “Berapa kali lagi kau ingin melawan dirimu sendiri?”
Tubuh Reina membeku. Karena wajah sosok itu… adalah wajahnya sendiri.
Versi dirinya yang lebih dewasa.
Lebih dingin.
Dan dipenuhi simbol hitam sampai ke leher.
Andri tanpa sadar menurunkan pistolnya. “Mustahil…”
Sosok itu mengangkat tangannya. Seketika bayangan-bayangan masa lalu muncul di udara seperti mimpi buruk.
Mereka melihat: Dunia pertama hancur. Kota-kota terbakar. Monster lahir dari manusia. Dan Reina… berdiri di atas gunung mayat.
Prisma menggertakkan giginya. “Itu bukan Reina.”
Namun makhluk itu tertawa kecil. “Oh?” “Kalau begitu kenapa kekuatan kami sama?”
Simbol di tubuh Reina langsung bereaksi. Rasa sakit menusuk kepalanya. Suara-suara di dalam pikirannya kembali berteriak.
“Kembali…”
“Lengkapi kehancuran…”
“Jadilah kami lagi…”
Reina jatuh berlutut.
Tangannya memegang kepala dengan napas kacau. Dan perlahan—bayangan hitam mulai membentuk armor di tubuhnya.
Prisma langsung melangkah maju.
Namun Santo menahan bahunya. “Tunggu.”
“Dia sedang sekarat!”
“Tidak.” Tatapan Santo tetap tenang. “Dia sedang memilih.”
Di depan gerbang, sosok Raja Kehancuran mengulurkan tangan kepada Reina.
“Datanglah.”
“Kau tidak perlu menanggung rasa sakit manusia lagi.”
“Kita akan mengakhiri dunia… bersama.”
Reina gemetar. Ingatan tentang penderitaan.
Tentang kematian. Tentang rasa takut. Tentang dirinya yang selalu kehilangan.
Semua terasa begitu berat. Dan untuk sesaat ia benar-benar ingin menyerah. Namun… di tengah kekacauan itu—
sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundaknya. Hangat. Prisma berdiri di belakangnya.
Meski tubuhnya penuh luka, pria itu tetap tersenyum kecil. “Kau terlalu keras kepala kalau cuma menyerah di sini.”
Dandi ikut berdiri di sampingnya sambil memutar tombaknya. “Kita belum selesai menjelajahi dunia ini.”
Andri mendecih pelan sambil mengangkat pistolnya lagi. “Kalau kau berubah jadi monster, aku yang pertama menembakmu.”
Santo berjalan paling depan. Pedang hitamnya perlahan diselimuti bayangan. “Tapi sebelum itu…” Matanya menatap lurus Raja Kehancuran. “…kami akan melawan bersama.” Kalimat Santo menggema di tengah kota mati yang runtuh perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak gerbang terbuka Reina tidak merasa sendirian. Aura hitam di tubuhnya masih bergejolak liar, namun tangan Prisma di pundaknya membuat napasnya perlahan stabil.
Raja Kehancuran memandangi mereka dalam diam.
Lalu…
ia tersenyum tipis.
“Begitu ya…”
“Kalian juga sama seperti mereka dulu.”
Mata Reina langsung membesar. “...Mereka?”
Bayangan lain muncul di udara. Sekelompok orang berdiri di belakang Reina versi masa lalu.
Seorang pria bertombak.
Petarung bertangan besi.
Penembak bersenjata api.
Pendekar bayangan.
Wajah mereka berbeda… tetapi posisi mereka sama persis dengan tim Reina sekarang. Jantung Reina berdetak keras. “Tidak mungkin…”
Raja Kehancuran mengangkat tangannya perlahan. “Setiap dunia selalu mencoba melawan takdir.” “Dan setiap kali… kalian semua mati.”
DUUUUMMM!!
Tekanan besar meledak dari dalam gerbang.
Kabut hitam berubah menjadi tangan-tangan raksasa yang langsung menyerbu keluar.
“SERANGAN DATANG!” teriak Andri.
Prisma menghantam tanah dengan palunya.
BRAAAKK!!
Dinding energi biru muncul melindungi mereka, namun tangan-tangan hitam itu terus menghantam tanpa henti hingga retakan mulai muncul.
Dandi melompat maju. Tombaknya berputar cepat sebelum menusuk salah satu tangan raksasa.
CRASSHH!!
Daging hitam pecah ke mana-mana. Namun dari pecahan itu muncul monster-monster kecil merangkak keluar.
“Menyebar!” teriak Santo.
Bayangannya langsung bergerak seperti makhluk hidup, memotong monster-monster itu dalam sekejap.
Andri menembakkan peluru demi peluru.
DOR! DOR! DOR!!
Ledakan energi menghancurkan kepala monster yang mendekat.
Tetapi semakin banyak yang keluar dari gerbang. Seolah gerbang itu tidak memiliki akhir.
Sementara itu Reina masih berdiri membeku menatap bayangan masa lalu tadi.
Karena di akhir bayangan itu… ia melihat sesuatu yang membuat darahnya dingin. Teman-temannya mati karena dirinya sendiri.
Reina masa lalu kehilangan kendali.
Aura hitam meledak.
Dan seluruh rekan di sekelilingnya hancur bersama dunia.
Tubuh Reina gemetar hebat. “Aku… membunuh mereka…”
Suara Raja Kehancuran kembali terdengar lembut.
“Dan kau akan melakukannya lagi.”
“Cepat atau lambat.”
Simbol hitam di tubuh Reina langsung menyebar lebih cepat. Matanya kembali memerah.
Prisma yang sedang menahan serangan menyadari perubahan itu. “Reina!”
Namun kali ini Reina tidak menjerit. Tidak kehilangan kesadaran. Ia perlahan menatap tangannya sendiri.
Aura hitam itu masih ada.
Suara-suara itu masih memanggilnya.
Tetapi ia mulai memahami sesuatu. Kekuatan itu bukan mengendalikan dirinya. Melainkan menunggu dirinya menyerah.
Reina perlahan menggenggam pedang kembarnya. Api hitam muncul di salah satu pedang. Cahaya merah muncul di pedang lainnya. Dua energi berbeda saling bertabrakan hingga udara di sekitarnya bergetar.
Makhluk penjaga langsung mengangkat kepalanya.
“DIA… MENGGABUNGKANNYA?”
Raja Kehancuran untuk pertama kalinya berhenti tersenyum.
Reina melangkah maju. Satu langkah saja membuat tanah retak besar. Tatapannya kini tidak lagi dipenuhi ketakutan.
“Aku tidak peduli siapa aku di masa lalu.”
Aura hitam dan merah mulai berputar di sekeliling tubuhnya. “Aku tidak peduli berapa kali dunia ini hancur.”
Monster-monster mulai menjerit gelisah. Bahkan gerbang hitam bergetar hebat.
Reina mengangkat kedua pedangnya ke arah Raja Kehancuran. “Tapi kali ini…” Matanya menyala merah terang. “…akhirnya akan berbeda.”
Begitu kata-kata Reina selesai langit pecah.
CRAAAAKKK!!
Retakan merah memenuhi seluruh cakrawala seperti kaca raksasa yang hendak hancur. Gerbang hitam meraung keras, sementara monster-monster di sekeliling kota mulai menggila.
Namun untuk pertama kalinya mereka terlihat takut. Raja Kehancuran menatap Reina tanpa bicara. Tatapannya berubah dingin.
“Jadi kau memilih melawan takdir lagi.”
Reina menggenggam kedua pedangnya lebih erat. Aura merah dan hitam berputar di sekelilingnya seperti badai.
Di belakangnya, Prisma memutar palu raksasanya sambil tertawa kecil. “Kalau memang dunia mau hancur…”
Dandi menusukkan tombaknya ke tanah. “…setidaknya kita hancurkan musuhnya dulu.”
Andri mengisi ulang pistolnya. “Setelah itu baru pikirkan kiamat.”
Santo melangkah ke sisi Reina. Bayangan hitam menyelimuti pedangnya. “Kita akhiri.”
Raja Kehancuran perlahan mengangkat tangannya. Dan seluruh gerbang terbuka penuh. Dari dalamnya keluar lautan monster hitam tak terhitung jumlahnya.
Jeritan mereka mengguncang bumi. Namun Reina maju lebih dulu.
DUUUUMMM!!
Satu pijakan membuat tanah meledak. Tubuhnya melesat menembus badai monster.
Pedang merahnya menghancurkan puluhan monster dalam satu ayunan, sementara pedang hitamnya menelan energi monster yang mendekat.
Prisma menghantam tanah di belakangnya. Gelombang energi biru menghancurkan gerombolan monster seperti longsoran.
Dandi bergerak seperti benteng hidup, menahan monster yang mencoba mengepung tim mereka.
Andri terus menembak inti monster satu demi satu tanpa meleset.
Sementara Santo menghilang dalam bayangan. Dan setiap kali muncul monster raksasa langsung terpotong menjadi dua.
Pertempuran terakhir dimulai. Seluruh kota berubah menjadi lautan kehancuran.
Namun semakin lama gerbang terus membesar. Raja Kehancuran tertawa kecil.
“Kalian tetap tidak mengerti.”
“Gerbang itu tidak bisa ditutup.”
“Selama aku ada… kehancuran akan terus lahir.”
Reina berhenti. Tatapannya perlahan mengarah ke gerbang. Lalu ia mengerti. Bukan gerbang itu sumbernya.
Melainkan Raja Kehancuran sendiri.
Makhluk itu adalah inti seluruh siklus kehancuran. Dan satu-satunya cara menghentikannya adalah menghancurkan sumbernya bersama gerbang itu.
Reina menatap teman-temannya. Mereka langsung memahami tanpa perlu bicara.
Wajah Prisma langsung berubah. “Jangan bilang…”
“Reina,” potong Andri pelan. Untuk pertama kalinya suara Andri terdengar takut.
Namun Reina tersenyum kecil. “Ini satu-satunya cara.”
Dandi menggertakkan giginya. “Kita cari cara lain!”
“Tidak ada waktu.”
Gerbang semakin terbuka.
Langit semakin runtuh.
Jika terlambat sedikit saja dunia selesai.
Reina menatap mereka satu per satu.
Prisma.
Dandi.
Andri.
Santo.
Orang-orang yang membuat dirinya tetap menjadi manusia.
“Terima kasih…”
Sebelum mereka sempat menghentikannya, Reina melesat langsung menuju gerbang.
“REINAAAA!!”
Raja Kehancuran membelalakkan mata. Untuk pertama kalinya ia terlihat panik.
“TIDAK—!”
Reina menusukkan kedua pedangnya ke tubuh Raja Kehancuran.
BRAAAAAKKK!!
Ledakan merah dan hitam langsung memenuhi seluruh dunia. Gerbang retak. Monster-monster menjerit bersamaan.
Tubuh Raja Kehancuran mulai hancur menjadi abu. Namun Reina tetap mendorong energinya. Meski tubuhnya sendiri mulai pecah menjadi cahaya.
Air mata mengalir di wajahnya. Tetapi ia tersenyum. Karena untuk pertama kalinya, suara-suara di kepalanya menghilang.
Sunyi. Hangat. Damai. Lalu—
DUUUUUUMMMMMM!!!!
Cahaya besar menelan seluruh kota. Seluruh dunia menjadi putih.
…
…
Ketika cahaya itu menghilang, langit kembali biru. Gerbang hitam lenyap. Monster-monster berubah menjadi debu. Angin hangat berhembus melewati reruntuhan yang kini sunyi.
Prisma berdiri diam menatap langit.
Dandi menunduk tanpa suara.
Andri menggenggam pistolnya erat.
Santo memejamkan mata.
Dan di tempat terakhir Reina berdiri hanya tersisa satu simbol merah kecil yang perlahan berubah menjadi cahaya.
Kemudian menghilang tertiup angin. Namun jauh di atas langit untuk sesaat, bayangan seorang gadis terlihat tersenyum sebelum akhirnya lenyap bersama cahaya matahari.