Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32# Janji Karin untuk Alvian
Karin sedang menepuk-nepuk putranya yang baru saja menuju alam mimpi, sedangkan Aiden masih menyempatkan memeriksa pekerjaannya sembari menunggu istrinya yang sedang menidurkan putra mereka.
setelah beberapa saat berlalu, Aiden akhirnya menyusul istrinya naik ke tempat tidur. Aiden mengusap lembut puncak kepala Alvian yang sudah terlelap, bocah itu sudah terlentang dengan mulut sedikit terbuka.
“Mas! Vian bangun nanti,” Karin menyingkirkan tangan suaminya yang menol-noel pipi putra mereka.
“Kalau bangun tidak bisa di toel-toel,” Aiden masih memandangi putranya, ada rasa bangga melihat putranya tumbuh dengan baik. Aiden sungguh bersyukur memiliki Karin dan Alvian dalam hidupnya.
Karin kembali menyingkirkan tangan suaminya yang mengusik tidur putra mereka, pasalnya Alvian sudah mulai merengek dalam tidurnya.
Aiden tidak lagi mengganggu putranya, dia lantas merubah posisi tidurnya terlentang. Dia menjadikan kedua tangannya sebagai bantal kepala, netranya menatap langit-langit kamar Alvian yang berhiaskan LED rasi bintang dan planet.
“Awalnya aku tidak tahu kalu Nala yang mejadi relasi bisnis Setyadarma, sampai tadi kami bertemu di ruang meeting. Aku tidak tahu bagaimana Nala bisa ikut dalam tender perusahaan om Harun,” Aiden menceritakan tentang dia yang tiba-tiba meeting bersama Nala.
Karin memang tidak bertanya, namun Aiden berinisiatif untuk memberi tahu istrinya. Justru hal itulah yang Karin inginkan, suaminya memberitahunya atas kesadaran diri dan bukan karena Karin paksa. Namun bukan berarti karin akan selalu diam dan menunggu, ada kalanya dirinya yang harus lebih dulu berinisiatif.
“Lalu kenapa tadi dia ikut dengamu saat makan siang?”
Aiden menghela napas, dia menoleh kearah Karin. “Ban mobilnya bocor, mama minta aku menjemputnya. Aku sudah menolaknya, tapi mama mengancamku. Aku tidak mau mama membuatmu atau Alvian susah, karena itu aku mengiyakan.”
Karin menatap sendu pada Aiden “Apa kamu tahu, mas? Karena itulah mama jadi makin seenaknya padamu, mas. Aku tidak melarangmu untuk berbakti pada mama, meskipun aku tahu bagaimana mama memperlakukanmu di masa lalu. Tapi mas juga harus ingat batasan, sekarang bukan hanya ada aku.” Karin mengusap lembut kening putranya yang tidur. “Ada Vian, mas. Anak kita,” lanjut Karin.
Aiden mengulurkan tangannya mengusap kepala sang putra. “Maafkan papa, nak. Papa akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan mama,”
Aiden beralih mengulurkan tangannya menyentuh pipi Karin. “Terimakasih masih di sampingku, meskipun kamu tahu aku banyak kurangnya. Secepatnya aku akan cari jalan keluarnya, sayang.” Aiden meng3cup kening Karin.
Karin tersenyum. “Aku akan selalu ada untuk mendukungmu, mas."
Karin menyadari hari-hari mereka ke depan mungkin tidak akan mudah, bukan hanya karena mama Ayu, tapi juga karena adanya Nala. Namun Karin tidak akan kalah dengan mereka, karena rumah itu adalah miliknya. Rumah impian Alvian yang penuh cinta dan kehangatan, Karin dan Aiden sudah berjanji untuk berkomitmen memberikan yang terbaik untuk Alvian dan adik-adiknya kelak. Karena itu mereka selalu berusaha saling memahami dan melengkapi satu sama lain dalam berumah tangga. Mereka berdua malam itu akhirnya tidur di kamar Alvian sampai pagi, Karin bahkan sempat mengambil potret putranya yang tidur dengan kaki kanan yang sudah ada diatas paha sang papa.
***
Dari tadi Karin terus mengomel karena suami dan putranya tidak kunjung selesai mandi, begini kalau dua kesayangannya tersebut berendam berdua.
“Mas, udahan dong berendamnya! Vian nanti telat masuk sekolah,”
“Tanggung, yank. Sebentar lagi!” jawab Aiden yang sedang bermain busa dengan putranya.
Karin berdecak. “Lima menit lagi,” Karin memberi waktu suami dan putranya lima menit.
“Ihihi…mama malah cama papa,” ucap Alvian.
“Gara-gara kamu ini, boy. Berendamnya udahan, yuk! Vian hari ini pertama masuk sekolah, kan?” Aiden sedang membujuk putranya yang masih ingin lanjut berendam.
“Pian ndak mau telambat cekolah,” bocah itu akhirnya mau mengakhiri acara berendam dan bermain busa.
Selesai mandi, Aiden membawa putranya pada sang istri.
“Vian sudah wangi ini, mama. Sudah siap ke sekolah pakai seragam,” Aiden menurunkan putranya yang masih terlilit handuk karakter.
“Sini coba, mama lihat. Sudah wangi atau masih bau acem anak mama,” Karin merentangkan tangannya menyambut Alvian.
“Cudah wangi Pian ini,”
Aiden dan Karin terkekeh mendengar jawaban putranya.
“Aku siap-siap dulu, yank.” Aiden menuju kamarnya untuk bersiap.
Karin memakaian seragam pada Alvian, dia menyisir dan merapikan rambut Alvian. Tidak lupa sunscreen dan lotion khusus anak dia aplikasikan pada kulit mulus Alvian.
“Cemplot-cemplotnya jangan lupa, mama. Bial Pian wangi cepanjang hali,” ucapnya mengingatkan sang mama untuk menyemprotkan parfum pada tubuh Alvian.
Karin tertawa ringan. “Anak mama mau tebar pesona sama siapa ini, hmm?”
Alvian terkikik malu, dia menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Karin meng3cup puncak kepala putranya. “Dah! Anak mama sudah ganteng dan wangi, siap berangkat ke sekolah. Vian tunggu di sini dulu! Mama mandi dan bantu papa pakai dasi dulu, oke!”
“Oke mama,”
Alvian menunggu orang tuanya selesai bersiap, bocah itu sambil menonton kartun favoritnya.
Setelah beberapa saat, Karin dan Aiden siap. Mereka berdua memang sengaja pagi itu berencana mengantarkan Alvian bersama, Karin ingin meninggalkan memori yang baik untuk putranya di hari pertama sang anak sekolah.
“Mas ingat, ya! Pagi ini tidak ada drama, mau itu mama atau Nala. Hari ini adalah hari milik Vian,” Karin mengingatkan suaminya.
“Siap yang mulia ratu,”
Mereka berdua turun ke lantai satu, Aiden menggendong Alvian sedangkan Karin membawa tas ransel milik putranya. Karin tersenyum melihat canda tawa suami dan anaknya tersebut. Mama janji nak, kamu akan mendapatkan cinta sempurna dari mama dan papa.