Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan palsu
“S-sekarang… giliran gue,” ucap Ara dengan tegas kepada mereka semua.
Sedari tadi Ara sudah muak mendengarkan ocehan dan tuduhan mereka yang tidak bermutu itu. Hanya dengan beberapa lembar foto editan murahan, mereka sudah berani memvonisnya bersalah.
Sungguh sangat di luar nalar.
Perlahan, Ara membungkuk. Tangannya mengambil salah satu foto yang berserakan di lantai, lalu menatapnya dengan seksama.
Satu detik…
Dua detik…
Tiga detik…
Hingga akhirnya, senyum miring terukir di sudut bibirnya.
Dia mengangkat kepalanya, menatap satu per satu wajah keluarganya.
Tatapannya dingin daan auranya membuat semua orang yang berada di sana tertekan.
“Kalau mau nuduh itu harus pintar dikit, dong,” ucap Ara santai, tapi menusuk.
Dia tertawa pelan. Tatapannya kembali turun ke foto di tangannya.
“Lihat ini memang sih, wajah gue di sini cantik banget,” lanjutnya dengan nada meremehkan.
Jarinya menunjuk bagian foto.
“Tapi coba perhatiin deh perbedaan warna wajah sama leher. Kentara banget.”
Ara mengangkat alisnya sedikit.
“Dan ini—” dia memiringkan foto itu, “sejak kapan tangan gue ada tahi lalat di sini?”
Ara menggeleng pelan. Senyumnya makin dalam.
“Editannya aja nggak niat.”
Deg.
Ruangan mendadak sunyi.
Helena dan Andrian langsung melotot, menatap Ara dengan tajam. Namun kali ini ada sedikit keraguan yang terselip di mata mereka.
“Apa maksud kamu, Ara?” tanya Helena, suaranya mulai meninggi.
Ara menghela napas pelan.
“Ck, dasar bodoh,” umpatnya tanpa beban.
Ucapan itu jatuh begitu saja. Terasa ringan tapi menghantam dadanya dengan keras.
Ara benar-benar tidak habis pikir.
Bagaimana bisa wanita di depannya itu lebih percaya pada orang lain dibandingkan anaknya sendiri?
Helena langsung berdiri dengan kasar. Kursi di belakangnya bergeser keras, menambah panas suasana.
“Lancang sekali kamu, anak sialan!” bentaknya, berjalan cepat mendekati Ara.
“Apa yang kamu katakan barusan?!”
Ara tetap diam di tempat ,dia tidak mundur bahkan dia tak gentar sedikit pun.
Dia hanya berdiri di tempatnya, menatap Helena lurus tanpa sedikit pun rasa takut.Dan itu justru membuat Helena semakin emosi.
Tanpa sadar, Helena mengangkat tangannya tinggi bersiap melayangkan tamparan.Namun—
Plak!
Bukan suara tamparan.Melainkan suara tangan yang tertahan di udara.Ara dengan cepat menangkap pergelangan tangan Helena, mencengkramnya dengan sangat erat. Gerakannya sangat Reflek dan tepat sasaran.
Mata Ara langsung berubah. Dia menatap Helena dengan tatapan dingin dan tajam.Juga tanpa sadar Ara mengekuarkan Aura yang membuat semua orang semakin tertekan olehnya.
Aura di sekelilingnya seketika berubah drastis.
“Berani-beraninya,” ucap Ara pelan.
Suaranya rendah ,namun justru terasa lebih mengerikan.
“…kau menyentuh gue.”
Cengkeramannya semakin kuat.Di tangan Helena. Dia sampai meringis, mencoba menarik tangannya, namun tidak bisa.
Kekuatan Ara tidak seperti biasanya.Dan itu membuat semua orang di ruangan itu terdiam.
Mereka semua begitu Kaget, dan juga bingung. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
" Dia beneran ara kan?"
Kenzo yang sejak tadi hanya mengamati kini sedikit menegakkan tubuhnya. Tatapannya menyipit, fokus penuh ke arah Ara.Kenzi dan Vania saling pandang. Jelas terlihat ada yang tidak beres.
" Dia bukan seperti Ara yang kami kenal,"
Ara menatap Helena tanpa berkedip.Tatapannya terlalu familiar.Seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan keadaan.
Seperti seorang ratu di tengah kekacauan.
Perlahan, Ara mendorong tangan Helena menjauh darinya. Tidak kasar tapi cukup untuk menunjukkan kalau dia bukan Ara yang mereka kenal, Ara yang lemah dan mudah di tindas.
“Jangan pernah sentuh gue lagi,” ucapnya dingin.
Suasana mendadak menjadi sunyi.Tidak ada yang berani bergerak sedikit pun mereka hanya menatap Ara dengan tatapan syok dan tidak percaya.
“Kalian pikir,setelah semua yang kalian lakuin, kalian masih bisa nindas gue lagi?” ucap Ara pelan.
Dia tersenyum.Senyum meremehkan yang tipis tapi menusuk.
“Iya?” lanjutnya, sedikit memiringkan kepala.
“Jangan harap.”
Nada suaranya berubah. Menjadi memberat juga lebih dingin dari sebelumnya.
Deg.
Andrian tanpa sadar mengepalkan tangannya kuat. Rahangnya mengeras. Harga dirinya terasa seperti diinjak-injak oleh gadis yang selama ini dia anggap tidak berharga.
Dia bangkit dari duduknya dengan kasar. Dia melangkahkan kakinya dengan lebar dan cepat juga penuh emosi. Lalu berhenti tepat di depan Ara.
“Arabella.” panggilnya rendah, dengan senyum miring yang terlihat mengerikan.
“Terus kenapa kalau kami tetap nindas kamu, hah?”
Dia mengangkat tangannya, menunjuk tepat ke arah wajah Ara.
“Kamu.” ucapnya penuh penekanan.
“Hanyalah anak pembawa sial yang nggak sengaja dilahirkan oleh Helena.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Sangat kejam dan tanpa ampun. Bahkan Andrian tidak memikirkan perasaan Arabella saat mendengar kalimat itu.
Deg.
Tangan Ara langsung mengepal kuat di samping tubuhnya.Urat di tangannya sedikit menonjol.Namun wajahnya tetap datar.
Hanya saja, sorot matanya berubah. Lebih dalam dan gelap.
Ara benar-benar tidak habis pikir.
Bagaimana cara berpikir keluarga Kalandra bisa seburuk ini?
Hanya karena saat Helena melahirkannya, Anabella, saudara kembarnya, meninggal.
Dan Ara selamat. Lalu? Kalau waktu itu yang mati adalah dirinya, apa mereka akan memperlakukan Anabella dengan cara yang sama? Atau justru mencintainya sepenuh hati?
"Ck.Munafik."
“Lagian…” suara Andrian kembali terdengar, memotong pikirannya.
“Kalau kami usir kamu dari sini, kamu pasti bakal terlunta-lunta.”
Dia tertawa kecil.
“Jadi gelandangan.”
Senyumnya makin lebar dan sangat mengerikan.Seolah benar-benar menikmati situasi itu.
Namun,berbeda dengan yang dia harapkan.
Ara tidak marah dan juga panik, dia justru tersenyum pelan, Senyum yang tidak bisa ditebak.
Diam-diam, tangan Ara bergerak masuk ke dalam saku jaketnya.
Jarinya menekan sesuatu.
Klik.
Gerakannya halus,nyaris tidak pernah terlihat.
Tatapannya kembali terangkat, menatap lurus ke arah Andrian tanpa rasa takut sedikit pun.
“Oh…” ucapnya ringan.
“Jadi niat kalian dari awal… cuma buat ngefitnah gue?” tanya Ara sembari menaikan sebelah alisnya.
Dia melangkah satu langkah mendekat.Mendekati Andrian tanpa ragu dan rasa takut.
“Hanya demi satu tujuan—” lanjutnya, suaranya menurun, namun penuh tekanan,
“ngusir gue dari Mansion Kalandra?”
Suasana menjadi sunyi.Tidak ada yang berani menjawab.Namun dari ekspresi mereka Ara sudah mendapatkan jawabannya.
Senyumnya melebar sangat dingin dan menyeramkan.
“Tebakan gue—” bisiknya pelan,
“nggak pernah salah.”
Aura di sekelilingnya kembali berubah dan tekanan di sana semakin membuat mereka tidak bisa berkutik.
Membuat udara terasa lebih berat.
Andrian terdiam.Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi entah kenapa cara Ara menatap mereka begitu sangat mengerikan.
Ara tersenyum tipis.Namun kali ini senyumnya berbeda.Bukan sekadar meremehkan.Melainkan seperti seseorang yang sudah memegang kendali penuh atas permainan.
Jarinya yang sejak tadi berada di dalam saku bergerak sedikit.
Klik.
Suara kecil itu hampir tidak terdengar.
Namun—Beberapa detik kemudian, suara lain menggema di seluruh ruangan.
Suara rekaman yang begitu sangat jelas dan sangat familliar.
Semua orang langsung membeku dengan mata membelalak.
Wajah mereka berubah dalam sekejap. Begitu sangat panik, juga terkejut tidak percaya Ara bisa melakukan semua ini kepada mereka semua.
Ara mengangkat dagunya sedikit. Tatapannya menyapu satu per satu wajah di hadapannya.Menikmati reaksi mereka.
“Harus gue puterin dari awal,” ucapnya pelan,
“atau kalian udah ingat suara itu?”
Sunyi.Tidak ada yang berani menjawab, karena mereka tahu suara siapa itu
Ara tersenyum tipis lalu maju satu langkah .Aura di sekelilingnya berubah drastis.
Membuat siapa pun yang berdiri di hadapannya sulit untuk sekadar bernapas dengan normal.
“Kalian salah satu hal,” ucapnya pelan dengan tatapan tajam.
“Gue bukan Arabella yang dulu.”
Deg.
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Menghantam keras kesadaran mereka.Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi Ara kembali melanjutkan perkataanya suaranya lebih rendah, tajam dan penuh penekanan.
“Dan mulai sekarang…” Dia berhenti sejenak.
Senyumnya perlahan melebar tidak ada kehangatan di sana hanya dingin dan tatapan tajam yang menusuk.
“…yang bakal hancur—”
Tatapannya mengunci mereka semua.Satu per satu tanpa terkecuali.
“bukan gue.”
kenapa ya mereka bisa begitu sama Ara??
lanjut baca 😍😍😍