Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halusinasi
Bima memang sangat dekat dengan Om-nya. Tentu saja karena hubungan darah antara ia dengan Om Aries sebagai adik kandung dari papanya.
Rencana dirinya yang akan melamar seorang wanita untuk dijadikan istri sudah lama dinanti Om Aries dan Tante Lena. Tak heran jika kebahagiaan terpancar di wajah mereka mengetahui dirinya akan segera menikah.
"Kamu akan menikah dengan siapa, Bima? Kenapa calonmu tidak dikenalkan kepada Om dan Tante?" Om Aris sangat penasaran pada calon dari Bima. Semestinya Bima membawa calon istrinya itu untuk bertemu dengan mereka.
"Saya belum bisa membawa dia kemari, Om. Saya belum mendapat restu dari orang tuanya." Bima menyebut alasan kenapa tidak mengenalkan calonnya kepada Om Aries dan Tante Lena.
'Tidak mendapat restu gimana, Bima? Memangnya dia itu dari keluarga mana sampai tidak mengizinkan kamu berhubungan dengan anaknya?" Bima adalah tipikal pria idaman. Selain mempunyai penampilan fisik yang menawan juga masa depan yang cerah, sehingga Tante Lena heran ada orang tua yang tidak merestui anaknya berhubungan dengan Bima.
Bima juga sosok pria yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarga. Sebab Tante Lena tahu, meskipun Bima selalu menjaga jarak dengan Arini, tapi Bima yang sangat menyayangi Laras.
"Dia hanya hanya wanita biasa, Tante. Bukan anak perbisnis kaya raya. Hanya saja, dia itu mantan istri dari Bayu, anak dari Tante Arini." Bima tampak hati-hati saat menerangkan siapa wanita yang ingin dinikahinya. Dia tidak ingin keluarganya berpandangan negatif terhadap Citra seperti Arini.
Tante Lena dan Om Aries terkejut hingga saling berpandangan. Ternyata bukan rencana pernikahan Bima saja yang membuat mereka kaget. Tapi, status wanita yang akan dinikahi Bima pun membuat mereka tersentak.
"Maksud kamu dia itu janda?" tanya Tante Lena. "Apa kamu yakin, Bima?" Tante terkesan keberatan jika dilihat dari kalimat yang diucapkan terakhir.
"Tante jangan salah paham tentang status dia. Nama wanita itu Citra. Dia korban dari sikap Tante Arini yang terlalu Itu campur dengan rumah tangga anaknya. Dia dituding mmmandul karena tidak bisa memberi keturunan pada Bayu, padahal pernikahan mereka baru berjalan dua tahun. Dia anak sulung dan menjadi tulang punggung keluarganya. Sehingga ketika dia menikah dengan Bayu dia masih bekerja cari uang untuk membiayai ibu dan adiknya. Sementara Tante Arini melarang Bayu membiayai hidup keluarga Citra." Bima memaparkan, bagimana Citra harus menerima perlakuan buruk dari keluarga mantan suaminya.
"Citra seorang wanita yang baik, Tante. Dia bukan wanita matre, dia hanya mempunyai tanggung jawab terhadap orang tua dan adiknya di saat suaminya tidak bisa membantu apa-apa." Bima berusaha membela Citra agar Om dan tantenya tidak berpikir buruk terhadap Citra.
"Oang tuanya tidak menyetujui kami, karena takut Citra akan mendapat perlakuan yang sama seperti sebelumnya. Sebab mereka tahu kalau saya ini adalah saudara tiri dari Bayu. Karena itu saya datang kemari minta dukungan dari Om dan Tante supaya bisa menerima Citra sebagai calon istri saya." Berbeda dengan sikap Bima pada Arini, pada Aries dan Tante Lena, dia meminta restu dan dukungan.
"Coba kamu bawa calonmu itu dan kenalkan pada Om dan Tante, supaya kami bisa mengenal, seperti apa calon istrimu itu? Karena kami ingin kamu mendapatkan wanita yang baik, Bima." Tak langsung menyetujui, Aries justru meminta Bima mengenalkannya pada Citra, karena jika tidak bertemu langsung, dia tidak bisa mengenal wanita yang dicintai oleh keponakan itu.
"Baik, Om. Nanti saya akan kenalkan Citra kepada Om dan Tante." Bima menyetujui karena dia pun sebenarnya ingin segera mengenalkan Citra kepada Om dan tantenya. "Saya sangat yakin jika Citra adalah sosok wanita yang saya cari selama ini," tegas Bima.
***
Di kamarnya, Citra tampak gelisah dan tak bisa memejamkan mata. Bayangan adegan mesra dengan Bima siang tadi seperti melekat kuat dalam ingatannya.
Citra menyentuh bibirnya. Hangatnya kecupan Bima seolah membangkitkan gairah yang selama dua tahun ini ia pendam setelah bercerai dari mantan suaminya.
Tak terasa semburat merah kini mewarnai wajah cantiknya. Membayangkan hal itu, membuat hatinya resah. Bagaimana seandainya sang Ibu tahu dia dan Bima saling berciuman? Pasti Ibunya pasti akan murka dan ia khawatir akan menggangu kesehatan ibunya.
"Astaghfirullahaladzim." Citra mengusap kasar wajahnya. "Ya Allah, ampuni hamba," sesal Citra karena menyadari telah melakukan dosa.
Klik
Terdengar notif pesan masuk di ponselnya membuat Citra bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponsel di atas nakas.
Nafasnya ia hempasan saat melihat Bima yang mengirim pesan.
"Astaga, kenapa dia ganggu aku terus, sih!?" gerutu Citra yang tak nyaman, karena Bima tak pantang menyerah mengejarnya.
"Kamu sudah tidur."
"Kapan kamu ada waktu?"
"Saya ingin kenalkan kamu dengan Om Aries, adik papa saya bersama istrinya."
"Mereka tidak sabar ingin bertemu dengan kamu."
"Kamu tenang saja, mereka baik, tidak seperti Tante Arini."
Beberapa pesan dari Bima masuk ke ponselnya. Citra membaca satu persatu pesan itu dan cukup kaget karena Bima akan mengajaknya berkenalan dengan keluarga Bima yang lain selain keluarga Arini.
Klik
Satu pesan kembali masuk ke ponsel Citra dan masih dari pengirim yang sama.
"Kamu belum tidur, Citra?" Bima kembali bertanya, karena Citra membuka pesannya.
Akhirnya Citra mengalah dan membalas pesan dari Bima.
"Belum." Citra hanya mengirim pesan singkat.
"Kenapa? Ini sudah malam, kenapa tidak cepat istirahat?"
*Atau kamu tidak bisa tidur karena teringat kejadian siang tadi?"
Citra membeliak saat Bima kembali membahas soal ciuman mereka dan sepertinya akan terus dibahas oleh Bima untuk menggodanya.
"Jika kamu tidak bisa tidur karena ciuma kita, saya pun sama."
"Saya harap jalannya akan dipermudah untuk kita, agar kita bisa bersama.*
"Karena saya tahu kamu juga menginginkan kita bersama."
"Ucapanmu bisa menolak, tapi tubuhmu tidak."
"Saya bisa merasakan itu, Citra. Kalau kamu juga membutuhkan kehangatan dari seorang suami."
"Apa kamu tidak ingin ada yang pemelukmu setiap saat. Ada yang menemanimu tidur. Menghujanimu dengan ciuman mesra. Mengajakmu memadu kasih di malam yang dingin seperti ini. Aku bisa memberikan semua yang kamu butuhkan, Citra., Lahir maupun batin."
Citra memejamkan mata seraya menggigit bibirnya. Tangan kirinya mengusap tengkuk. Tiba-tiba saja bulu romanya merembang ketika membaca dua pesan terakhir yang dikirim oleh Bima.
Dia memang merindukan hal yang disebutkan Bima tadi. Hanya saja selama ini dia pendam, karena dia harus bekerja untuk menghidupi keluarganya.
Citra kembali melanjutkan membaca pesan Bima. Namun, Citra terkesiap, karena pesan Bima terakhir hanya sampai di kalimat "Ucapanmu bisa menolak, tapi tubuhmu tidak." Tak ia menjumpai dua pesan Bima terakhir yang sanggup menghadirkan gelenyar aneh di tubuhnya.
Citra juga tidak melihat pesan yang dihapus oleh pengirim. Artinya Bima tidak pernah mengirim dua pesan terakhir itu.
"Astaga!" Citra kembali mengusap kasar wajahnya, bisa-bisanya dia tadi berhalusinasi. Mungkin karena dia memang merindukan belaian dari seorang suami, sehingga membaca pesan Bima 'tapi ubuhmu tidak' membuatnya langsung berhalusinasi.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
terimakasih mam zha sudah menghadirkan kisah yg menghibur.. ditunggu kisah2 berikutnya.. sukses selalu...
Happy ending....
ditunggu cerita yg baru 💪💪
tapi sedih,kenapa tau2 udah tamat aja.berpisah sama kisah mereka.
selalu ku tunggu up nya