Raisa tidak menyangka bahwa hidup akan membawanya ke keadaan bagaimana seorang perempuan yang menjalin pernikahan bukan atas dasar cinta. Dia tidak mengharapkan bahwa malam ulang tahun yang seharusnya dia habiskan dengan orang rumah itu menyeretnya ke masa depan jauh dari bayangannya. Belum selesai dengan hidup miliknya yang dia rasa seperti tidak mendapat bahagia, malah kini jiwa Raisa menempati tubuh perempuan yang ternyata menikah tanpa mendapatkan cinta dari sang suami. Jiwanya menempati raga Alya, seorang perempuan modis yang menikah dengan Ardan yang dikenal berparas tampan. Ternyata cantiknya itu tidak mampu membuat Ardan mencintainya.
Mendapati kenyataan itu Raisa berpikir untuk membantu tubuh dari orang yang dia tempati agar mendapatkan cinta dari suaminya. Setidaknya nanti hal itu akan menjadi bentuk terima kasih kepada Alya. Berharap itu tidak menjadi boomerang untuk dirinya. Melalui tubuh itu Raisa menjadi tahu bahwa ada rahasia lain yang dimiliki oleh Ardan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eloranaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kata Maaf
Baru satu langkah menginjakkan kaki ke dalam rumah Raisa dibuat melotot kaget. Kondisi lantai berantakan.
Terserak penuh dengan serpihan kaca, yang entah benda apa yang telah hancur tersebut.
Bukankah baru sebentar Raisa ada di luar? Kenapa jadi secepat itu kondisi rumah itu kacau?
"Dan, dengerin ibu kamu sebentar."
"Dengerin apa, Pa? Mama aja nggak dengerin Ardan."
Baik Ardan dan papanya— Wardana, saling bertatap muka. Sedangkan Santi berdiri di belakang suaminya. Tidak mencari perlindungan, justru dia dibawa ke belakang punggung lelaki itu agar tak kembali melempar-lempar barang. Di tangannya masih menggenggam erat vas keramik yang masih ada isinya berupa bunga tiruan.
Keadaan antara Santi dan Ardan sangatlah kontras. Santi masih berpakaian rapi sementara Ardan bisa dikatakan sudah tak berbentuk. Lengan kemeja sebelah kanannya sobek. Kulit wajahnya yang putih memerah, terdapat bekas jeplak tangan di sana.
Apabila diperhatikan lebih rinci lagi. Dari tempat Raisa berdiri lumayan jauh, bisa dilihat bahwa Ardan tengah menangis. Bukan yang menderu, hanya saja pipinya telah dibasahi oleh air mata masih menetes. Sosok lelaki yang sedang berdiri di hadapan Wardana itu seperti berusaha tegar namun mau sebagaimapun menyembunyikan, sebuah kerapuhan itu mampu dibaca jelas.
“Dengerin alasan ibu kamu kenapa pengen kamu supaya ngikutin kemauannya. Semua yang dilakuin orang tua buat anak tuh nggak ada loh yang mau jerumusin anak ke keburukan, Dan. Papa setujuin keputusan mama kamu selama ini karena ya itu jika dilihat emang udah bener, Nak. Kebukti juga di Gerald kakakmu itu.”
“Pa, mau digimanain pun Ardan nggak mau ya nggak mau. Ujungnya bakal tetap sama. Ardan juga beda sama Bang Gerald.” Terdengar sarat akan frustasi di kalimat Ardan.
“Papa mau lihat Ardan jadi manusia hidup yang kayak orang mati? Ardan cuman punya satu hal ini yang bisa diperjuangin, Pa. Ardan udah kalah disegalanya. Ardan cuman punya ini, Pa. Kenapa nggak minta ibu aja yang ubah pandangannya?! Kenapa harus Ardan yang disalahin di sini?!”
Raisa hendak berbicara, berpikir siapa tahu dengan dia berbicara bisa mengurangi ketegangan di sana. Akan tetapi dia tersentak ketika pecahan vas keramik yang dibawa oleh Santi terbang terlempar dan terhempas hingga ke arahnya.
Dan pada akhirnya dia menyesali perbuatan refleksnya sendiri, sebab bukannya bergeser untuk menghindar dia justru menangkapnya. Ujung lancip benda tajam tersebut otomatis tergenggam di tangannya. Tak perlu waktu lama kucuran cairan berwarna merah anyir keluar.
Semua yang ada di sana terkejut tanpa terkecuali, bahkan Raisa sendiri. Dia tertawa getir, bisa-bisanya seceroboh ini. Lantas saja dia langsung membuang benda yang dipegangnya ke lantai.
“Nak Alya?!” pekik Santi. Perempuan itu berlari ke arahnya.
“Dan, aku minta maaf. Ini semua salah aku.” Tidak memperhatikan mertuanya, Raisa justru menatap Ardan yang juga sedang melihat ke arahnya.
Tapi tanpa disangka, meski lelaki itu tidak membalas perkataanya dia justru ikut-ikutan mendekatinya. Meraihnya terlebih dahulu sebelum Santi. Menarik lengan Raisa sedikit kasar dan segera membawanya naik ke lantai dua. Menutup pintu kencang-kencang dengan sekali tendang. Rahang lelaki itu mengeras, urat lehernya menonjol, menatap Raisa dengan mata merah menyala.
Takut melihat emosi yang dipancarkan Raisa menunduk dalam. Menatap ujung kaki. “Maaf, Ardan. Aku hanya mau buat hubungan kamu sama ibu kamu lebih baik jadi saranin ibu buat kasih dukungan ke pameran kamu, nggak nyangka aja bakal begini endingnya. Maaf, Ardan. Ini semua salah aku.”
Tetap bungkam.
Raisa akhirnya mendongakkan kepala pelan-pelan, melihat sendiri ekspresi Ardan. Lelaki tersebut memejam, di balik kelopaknya sebulir air mata bergulir jatuh.
Setarik napas panjang dikeluarkan oleh Ardan hingga lelaki itu akhirnya membuka mata. Keduanya saling tatap sampai Ardan memerintah, “Duduk.”
Raisa masih mencerna kata yang sangat mudah dipahami itu. Bukan apa, dia hanya kebingungan tiba-tiba Ardan mengatakan itu, bukannya membalas ucapan maafnya. Ujungnya dia hanya mengerjap-kerjap melihati Ardan.
“Duduk bego,” ketus Ardan ulang dengan sedikit penekanan lalu menuntun Raisa ke sisi tempat tidur.
Mengambil kotak kecil berisi alat P3K dari bawah meja dekat sofa biasa Ardan tidur dia lantas kembali ke sisi Raisa. Melihat itu, dengan gesit Raisa bergeser ke sisi tengah, mempersilahkan Ardan untuk duduk di sisi pinggir sebelahnya.
Tak pernah terpikir di benak Raisa bahwa Ardan akan melakukan hal tersebut. Duduk di sebelahnya, di ranjang yang sama. Telaten membersihkan luka di tangannya.
Mimpi? Bukan.
Aneh? Sepertinya iya.
Perlahan Raisa tersenyum. “Maaf ya, Ardan.” Dia mengulangi.
Sementara Ardan masih senantiasa bungkam.
“Lukanya sama ya seperti punya kamu? Tapi kalau dilihat sepertinya sakitan punyamu,” celetuk Raisa spontan saat menangkap bekas luka Ardan yang dia tahu pasti sumbernya dari mana. Dilukai oleh Ardan sendiri. Raisa sudah pernah mengobati luka tangan lelaki itu ketika dulu dikurung berdua di kamar tersebut oleh Santi.
Ardan hanya diam hingga selesai membalut telapak Raisa dengan plester luka. Berikutnya, Ardan hendak beranjak tetapi Raisa segera mencegah. Dia bergelendot di lengan Ardan.
Lelaki itu memandanginya.
“Aku minta maaf,” ucapnya.
Ardan mengangguk.
“Mau ke mana? Di sini aja nemenin aku.”
Di luar prediksi. Ardan tidak menolak, sekali lagi! Ardan tidak menolak!
Terkejut tapi senang. Raisa buru-buru memberi space banyak pada Ardan di kasur. Gila, gila, gila. Raisa sampai menggelengkan kepala. Apakah karena ucapan maaf tulus dari dia tadi ya sehingga Ardan mau menuruti? Tapi memang Ardan tipe yang begitukah?
Tidak menemukan jawaban, Raisa hanya fokus pada tindakan selanjutnya.
Mereka berdua bersandar di kepala ranjang dengan Raisa yang meletakkan kepala di bahu Ardan dan senantiasa mendekap lengan lelaki itu. Seolah itu menjadi hal pertama dan terakhirnya seperti itu bersama Ardan. Dan seperti jika dilepaskan begitu saja, lelaki itu pasti akan pergi.
“Alya, pinjem suaminya sebentar ya,” bisiknya pelan kepada diri sendiri.
“Ardan, ini nggak mimpi kan ya?” Dia mengusap-usap lengan Ardan, memastikan bahwa sosok di dekatnya itu memang asli orang. Kenapa rasa-rasanya lelaki itu berbeda hari ini? Mendadak sekali mau mengobati Raisa? Mendadak sekali menuruti permintaan Raisa?
“Seenggaknya, gue nikah sama lo nggak harus pura-pura mencintai di permainan busuk lo ini.” Raisa terperangah, Ardan yang tiba-tiba berucap mengejutkannya. Dengan posisi pipi menempel di pundak Ardan, Raisa mendongak, melihat lebih jelas figur wajah lelaki itu dari dekat. Dekat sekali. “Dan jangan harap, pernikahan gue sama lo akan bertahan selamanya. Tinggal tunggu waktu aja.” Alis Raisa tertaut bingung.
“Maksudnya?”
“Diem. Bacot.”
“Kan aku nanya.”
“Sekali lagi berisik gue tinggal.”
Raisa cepat-cepat mencekal erat lengan Ardan. Mengunci mulutnya sendiri rapat-rapat. Takut lelaki itu sungguhsungguh akan ucapannya. Akhirnya mereka diam sangat lama. Tubuh Raisa saja sampai kaku kesemutan karena tidak bergerak dari posisi awalnya. Meski begitu dia tetap enggan melepaskan. Ardan hari ini seperti orang yang berbeda, meskipun tidak sepenuhnya. Tetapi satu hal kecil yang ditujukan padanya barusan Raisa rasa itu menunjukkan sebuah kemajuan.
Dia sudah boleh mengucapkan selamat pada Alya belum ya? Pikirnya.
“Kalau aku mencintai kamu, dia marah nggak ya?” gumamnya, diam-diam memerhatikan Ardan yang terlelap dengan kondisi yang masih berantakan.
...****************...