Saquel dari Novel "Janda untuk om Duda"
Semenjak mamanya menikah dengan tuan muda Danendra, perlahan kehidupan Bella mulai berubah. Dari Bella yang tidak memiliki ayah, dia menemukan Alvaro, sosok ayah sambungnya yang menyayangi dirinya selayaknya anak kandungnya sendiri.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, sebuah insiden membuat semua berbalik membencinya. Bahkan mama kandungnya ikut mengabaikan dan mengucilkan Bella, seolah keberadaannya tidak pernah berarti.
Di tengah rasa sepi yang mendalam takdir mempertemukan kembali dengan Rifky Prasetya , dokter muda sekaligus teman masa kecil Bella yang diam-diam masih menyimpan rasa sayang untuknya. Bersama Rifky, Bella merasakan arti dicintai dan di lindungi.
Namun, apakah cinta masa lalu mampu menyembuhkan luka keluarga yang begitu dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Bella sudah tiba di restoran yang tertera jelas di pesan singkat dari mamanya. Sebuah restoran bernuansa klasik, tenang, dan terasa terlalu mewah untuk sekadar pertemuan berdua. Ia datang seorang diri, tanpa teman, tanpa siapa pun yang biasanya menemani langkahnya. Sengaja. Ada jarak yang ingin ia jaga, bahkan sejak sebelum pintu restoran itu terbuka.
Langkahnya melambat ketika matanya menangkap sosok Arumi yang sudah duduk di salah satu meja dekat jendela. Wanita paruh baya itu tampak anggun seperti biasa, dengan pakaian rapi dan sikap tenang yang selalu sama, yang sering kali membuat Bella merasa kecil dan tak punya ruang untuk bersuara.
Arumi menatap ponselnya, seolah waktu menunggu bukanlah sesuatu yang mengganggunya.
Bella menarik napas dalam sebelum menghampiri meja itu. Dadanya terasa sesak, perasaan yang sama seperti setiap kali ia harus berhadapan langsung dengan orang tuanya. Sudah lama ia tidak berada sedekat ini, tidak saling menatap tanpa perantara jarak dan waktu.
“Selamat siang,” sapa Bella akhirnya, suaranya terdengar sopan, meski ada getaran tipis yang tak bisa ia sembunyikan.
Arumi mengangkat wajahnya, menatap Bella sekilas sebelum meletakkan ponselnya di atas meja. “Siang. Duduklah, Bella,” ucapnya singkat, nada suaranya datar seperti sedang berbicara dengan orang asing.
Bella mengangguk pelan, lalu duduk di kursi di hadapan ibunya. Meja kayu itu menjadi satu-satunya pembatas di antara mereka, namun rasanya seperti jurang yang dalam. Ia menautkan jemarinya di atas pangkuan, berusaha menjaga sikapnya tetap tenang meski pikirannya berkecamuk.
Suasana berubah canggung. Tak ada senyum hangat, tak ada basa-basi. Hanya suara sendok dan piring dari meja lain yang mengisi keheningan. Bella menyadari, ia sudah lupa bagaimana rasanya duduk berdua dengan orang tuanya tanpa rasa takut atau tertekan.
“Ada apa memintaku untuk datang kemari” tanya Bella akhirnya. Ia sengaja tidak menyebut kata Mama. Lidahnya kelu, ada ketakutan kecil bahwa panggilan itu tak lagi pantas ia gunakan.
Arumi menatap Bella lebih lama kali ini, seolah sedang menimbang sesuatu. “Mama minta kamu menjauhi Rifky, “Maureen menyukai dia, dan kami berencana ingin menjodohkan mereka.” ucapnya lugas, tanpa pengantar.
Kata-kata itu menghantam Bella begitu saja, tanpa peringatan. Dadanya terasa nyeri, seperti ada sesuatu yang diremas dari dalam. Ia terdiam, matanya melebar, bibirnya terkatup rapat. Ingin rasanya tertawa karena betapa ironis situasinya, namun air mata justru menggenang, menahan diri untuk tidak jatuh.
Lagi-lagi, ia harus mengalah.
Bella menunduk, menatap serat kayu meja yang tampak buram di pandangannya. Dalam hatinya, ada suara kecil yang berteriak, lelah dengan pola yang selalu sama. Ia pikir, setelah keluar dari rumah itu, setelah memilih berjalan sendiri dan menjauh dari bayang-bayang keluarganya, hidupnya akan lebih tenang. Ia pikir, kali ini ia boleh memilih untuk bahagia.
Namun ternyata tidak.
Ternyata, meski jarak sudah tercipta, tuntutan itu masih mengejarnya. Masih ada keputusan yang dibuat atas namanya, tanpa pernah menanyakan apa yang ia rasakan.
Bella mengangkat wajahnya perlahan, menatap Arumi dengan senyum tipis yang rapuh, seperti orang yang sudah terlalu sering diminta mengalah, sampai lupa bagaimana rasanya diperjuangkan.
“Hanya itu saja?” tanya Bella pelan. Suaranya terdengar tenang, tetapi ada luka yang tersimpan di setiap kata yang ia ucapkan.
“Iya, hanya itu saja. Kamu sebagai seorang kakak harus mengalah dari adikmu,” jawab Arumi tanpa ragu, seolah kalimat itu adalah hal paling wajar di dunia.
Bella mengangguk perlahan. namun rasanya berat, seakan ia sedang mengiyakan takdir yang selalu sama. Dadanya sesak, hatinya perih, namun wajahnya tetap berusaha tenang. Ironis, pikirnya. Di saat seperti ini, ibunya mengingatnya sebagai bagian dari keluarga. Namun di situasi lain, ketika hal buruk terjadi, ia justru dianggap sebagai anak pembawa sial, anak yang keberadaannya selalu dipersalahkan.
“Aku akan menuruti kemauan Anda, tapi aku meminta satu hal" ucap Bella akhirnya, nada suaranya datar namun penuh kepasrahan.
Arumi menaikkan alisnya sedikit. “Apa itu? Uang?” tanyanya, langsung pada kesimpulan yang biasa ia buat tentang putrinya.
Bella menggeleng pelan. Sejak ia keluar dari rumah, tak pernah sekalipun ia meminta bantuan materi dari keluarganya. Ia bertahan dengan penghasilannya sendiri, meski tak selalu mudah. “Bukan,” jawabnya lirih.
Ia menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian yang tersisa. “Bolehkah… aku memelukmu? Sekali saja, setelah ini aku berjanji akan menjauhi Rifky” pintanya dengan suara yang hampir bergetar.
Permintaan itu menggantung di udara. Mata Bella menatap Arumi penuh dengan harapan, yang sudah lama dia pendam. Ia merindukan pelukan ibunya, pelukan yang dulu pernah ada, namun lama menghilang, seolah tak pernah menjadi miliknya lagi.
Arumi terdiam beberapa detik. Perasaannya campur aduk, antara kaku, bingung, dan sesuatu yang nyaris menyerupai rasa bersalah. Akhirnya, ia menganggukkan kepala pelan, lalu merentangkan kedua tangannya.
Bella tersenyum kecil, senyum yang rapuh namun tulus. Tanpa ragu, ia bangkit dari kursinya dan menghambur ke dalam pelukan ibunya.
Saat tubuh mereka bersentuhan, Bella tak mampu lagi menahan air matanya. Isaknya tertahan di bahu Arumi, sementara jemarinya mencengkeram punggung wanita itu seolah takut momen ini akan segera berakhir. Ia merasa bahagia. Meski hanya sebentar, akhirnya dia kembali merasakan kehangatan seorang ibu.
Setelah merasa cukup, Bella perlahan melepaskan pelukannya. Ia mundur selangkah, lalu mengusap jejak air mata yang mengalir di pipinya, berusaha tersenyum sekali lagi.
“Terima kasih, tolong jaga kesehatan mu baik-baik” ucapnya lembut.
Tanpa menunggu jawaban, Bella berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Arumi yang masih duduk diam di tempatnya, dan meninggalkan satu kenangan pelukan yang mungkin akan ia simpan seumur hidup.