Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sambil menyeret selimut untuk menutupi tubuh polosnya, Viona melangkah tertatih hingga kembali ke kamar. Langkahnya terasa berat, nyeri dan ngilu mengiringi setiap pergerakan. Setibanya di dalam sana, selimut itu ia lempar asal.
Viona masuk ke kamar mandi dan membiarkan pintu menutup di belakangnya. Di bawah guyuran shower, Viona akhirnya runtuh. Bahunya terguncang, isakannya tenggelam oleh deras air yang jatuh tanpa henti.
Air mata bercampur dengan aliran hangat yang membasahi wajah. Kilasan malam tadi kembali menyergap, sentuhan yang Agam paksakan, perlawanan yang sia-sia, dan sesuatu yang direnggut tanpa izin. Tenggorokan Viona tercekat, jeritnya tertahan, pecah menjadi napas pendek yang menyakitkan.
Wajah sayu sang ibu terlintas, penuh harap yang kini terasa mustahil untuk ia wujudkan. Dada Viona terasa semakin sesak. Dalam kesunyian ia merasa begitu kecewa, pada pria yang sudah merenggut kehormatannya dan pada dirinya sendiri.
Andai... Andai ia tidak pernah tergiur dengan janji bayaran besar saat bekerja di rumah ini, tentu ia tidak pernah mengalami hal mengerikan itu.
Di bawah aliran air yang terus jatuh, Viona memaksakan dirinya menarik napas lebih dalam. Sekali. Dua kali. Dadanya masih terasa sesak, namun ia bertahan, membiarkan detak jantungnya perlahan melambat. Jemarinya mencengkram dinding kamar mandi, kukunya memucat, seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa ia pegang.
Viona mengangkat wajah, membiarkan air membasuh mata yang perih. Isakan mereda, berganti dengan napas patah-patah. Ia menyeka pipi, lalu mengusap wajahnya berulang kali, lalu meraih sabun, menggosok kasar seluruh tubuh seakan ingin menghapus sisa-sisa sentuhan kasar yang masih menempel di kulitnya.
"Viona, tolong tenanglah," bisiknya pada diri sendiri.
Viona menghentikan aliran air dari shower, kamar mandi kembali sunyi. Viona berdiri diam sejenak, menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Mata sembab, wajah pucat, bibir yang terlihat bengkak dan beberapa jejak membiru di area leher dan dadanya menjadi bukti nyata kejadian semalam. Ia mengangkat kedua tangannya, pandangannya beralih pada kedua pergelangan tangan yang juga tampak ikut membiru, gadis itu kembali terisak.
Kembali menatap cermin, ia mengusap kaca yang berembun, menatap dirinya lebih jelas, lalu menarik napas panjang. "Aku tidak boleh lemah," gumamnya pelan.
Selesai berpakaian, Viona memungut kembali selimut yang sempat ia lempar asal. Selanjutnya ia melangkah keluar menuju tempat biasa ia mencuci.
Membuka tutup mesin cuci, Viona memasukkan selimut itu asal, selanjutnya ia melangkah menuju dapur. Membuka lemari pendingin, mengambil beberapa bahan dari dalam sana.
Tidak ada tiga menu sarapan seperti biasanya. Pagi ini hanya satu hidangan sederhana. Bukan karena ingin membangkang, melainkan karena pikirannya terlalu kusut. Sesekali ia berhenti, menatap kosong wajan di depannya. Viona menghela napas, ia kembali melanjutkan aktifitasnya, ada sebuah tanggung jawab yang harus tetap ia jalankan.
Usai sarapan tersaji di atas meja makan, lengkap dengan secangkir kopi hangat. Viona melanjutkan rutinitasnya, menyapu, mengepel, membersihkan setiap sudut lantai hingga mengkilap.
Namun di sela-sela itu, tubuhnya sesekali menegang. Viona meringis singkat, menahan nyeri yang menusuk dari bawah tubuhnya. Ia menarik napas, meluruskan punggung, lalu kembali bekerja, seolah rasa sakit itu adalah sesuatu yang harus ia simpan sendiri.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Viona mengenal ritmenya tanpa perlu menoleh. Tangannya berhenti sejenak di atas kain pel, lalu kembali bergerak, lebih lambat dari sebelumnya.
Agam yang sudah berpakaian rapih, berdiri tegak tidak jauh dari Viona. Pandangannya jatuh pada punggung gadis yang tengah membelakanginya. Tak ada sapaan. Tak ada penjelasan. Hanya napas yang tertahan di dada masing-masing.
Ia melangkah satu tapak, lalu berhenti lagi. Keraguan menggantung di udara. Mulutnya terbuka, tertutup kembali. Tangannya mengepal, kemudian mengendur, meski begitu, wajahnya tetap terlihat datar.
Kain pel berhenti. Viona berdiri tegak, masih membelakangi dalam diam, ia menegaskan batas yang tak terucap.
Agam akhirnya memalingkan wajah. Lantas melanjutkan langkah menuju pintu. Ia bahkan tidak menoleh saat melewati Viona.
Pintu kembali tertutup rapat saat Agam melangkah keluar dari dalam apartemen. Viona mengepal erat kain pel di tangannya, tubuhnya bergetar menahan sesuatu yang hendak meledak. Akhirnya, kain pel itu melayang di udara, menabrak pintu sebelum akhirnya terhempas ke atas lantai. "Pria brengsek," teriaknya.
Di kantor, Hyun sudah lebih dulu berada di ruangan Agam. Raut wajahnya menyimpan rasa penasaran. Semalam, selepas berdansa dengan beberapa wanita yang ditemuinya di lantai dansa, Hyun sempat panik saat tidak menemukan Agam berada di tempatnya. Berulang kali ia menghubungi ponsel Agam, namun tak pernah mendapat jawaban.
Kekhawatiran itu membuatnya terus mencari. Hyun berkeliling ke setiap sudut club malam itu, berharap Agam masih berada di sana, namun hasilnya nihil. Hyun tetap tidak menemukan Agam. Di sela panik yang sempat menerpa, sebuah suara menghentikannya. Seorang pria yang ia kenal mendekat dan mengatakan sesuatu tentang Agam.
"Sepertinya sahabatmu pergi dengan seorang wanita yang mengajaknya mengobrol," ucap pria itu.
Kalimat itu membuat kekhawatiran Hyun sedikit mereda. Terlebih, sebelumnya Agam memang kerap menghilang saat keduanya mendatangi sebuah club malam. Biasanya Agam memang selalu berakhir di ranjang sebuah hotel ditemani seorang wanita yang dikenali Hyun.
Tapi, saat ini situasinya berbeda. Agam sedang tidak sepenuhnya sadar, Hyun khawatir sahabatnya itu melakukan sesuatu di luar kendali.
"Sebaiknya aku ke apartemennya saja," gumam Hyun saat tersadar dari lamunannya. Ia bangkit dari duduknya, namun baru saja hendak melangkah. Ponselnya bergetar, buru-buru Hyun merogoh saku celananya.
Sebuah nama terpampang di layar ponsel. "Veronica?" gumam Hyun pelan. Ia memang sengaja menyimpan nomor ponsel wanita itu setelah sebelumnya sempat memintanya pada salah satu sekretaris Agam yang lain.
Hyun mengangkat panggilan itu, terdengar suara Veronica dari sebrang sana. Rahang Hyun menegang seketika, tangannya mengepal erat, sementara wajahnya tampak berubah datar saat Veronica menceritakan sesuatu.
Buru-buru Hyun memutuskan panggilan itu saat melihat Agam masuk dengan langkah cepat. Pria itu bahkan sempat membanting kasar pintu saat menutupnya kembali.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hyun, ia melangkah mendekati Agam. Wajahnya terlihat panik. Terlebih ia sempat mendengar Veronica berkata tentang situasi pabrik.
Menghela napas panjang, Agam menatap balik wajah Hyun. "Seseorang membakar pabrik baru kita."
"Astaga... bagaimana bisa? bukankah kita sudah menempatkan beberapa penjaga untuk mengamankan area itu." Hyun bertanya sambil mengacak kasar rambutnya.
Agam mengangkat bahu, wajahnya tetap datar. Kontras dengan Hyun yang mulai gelisah, mondar-mandir pendek seperti menahan sesuatu yang hendak meledak. Ia bahkan melupakan rasa penasarannya tentang keadaan Agam semalam.
"Sepertinya ada penyusup," ucap Agam tenang. "Seseorang yang sengaja ingin membakar pabrik itu."
Hyun menghentikan langkahnya. Alisnya terangkat, lalu kembali mendekat, suaranya merendah namun penuh rasa ingin tahu. "Kau tahu siapa orang itu?"
Agam tersenyum tipis, tatapannya mengunci Hyun, dingin dan tak biasa.
"Orang itu adalah..."
****
bersambung.
Lee Hyun