Siapa sangka jika pria yang membuat gue naik pitam adalah lelaki yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kami sejak dulu. No way. 😬 (Fiza)
Siapa sangka si tomboy yang gue jadikan rival dalam menebar pesona ke cewek - cewek klub adalah calon istri gue. 😑(Aksa)
Siapa sangka seseorang yang gue sangka babang hensem dan sempat gue taksir adalah calon kakak Ipar. kyaaaa 😱😱 (Yuna)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yuna : Moment yang Menyedihkan
"Innalillahi wa inna illaihi rojiun"
Suara doa itu berkumandang di ruang rawat inap om Bani. Selepas ijab qobul antara abang gue dan mbak Fiza terlaksana. Om Bani pun menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan kami di dunia. Kepergian mertua abang gue yang begitu mendadak, membuat kami semua diliputi kesedihan.
Tubuh mbak Fiza langsung lunglai, ia pingsan. Mas Aksa segera membopong tubuh wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu dan membaringkannya di sofa ruang rawat inap.
Tanpa terasa air mata gue turut mengalir. Ternyata om Bani menunggu mas Aksa resmi memperistri mbak Fiza, baru beliau bisa pergi dengan tenang. Ini adalah acara pernikahan kerabat yang paling mengharukan, yang pernah gue hadiri.
Pantas saja, om Bani terlihat bahagia sekali saat gue dan abang gue datang menjemput dan mengantar mbak Fiza saat menonton konser beberapa waktu lalu.
Setelah dokter memastikan bahwa om Bani memang sudah meninggal dunia, semua orang yang mengikuti proses ijab qobul segera berkoordinasi untuk mengurus prosesi pemakaman om Bani.
"Tulung tunggokke mbakyumu yo, Yun!"
(Tolong tungguin kakakmu ya, Yun!)
Kanjeng mami memberi instruksi. Karena beliau dan bu Imam hendak mengurus segala sesuatu untuk acara tahlilan nanti malam. Pak RT dan pak Imam bertugas mempersiapkan kedatangan jenazah om Bani di rumah duka. Sedangkan papi, mas Aksa, dan mas Lanang sedang membantu pak Modin untuk mengurus jenazah yang hendak dimandikan.
"Bapak, kok Fiza dipun tilar. Mangke Fiza kaliyan sinten?"
(Bapak, kenapa Fiza ditinggal. Nanti Fiza sama siapa?)
Mbak Fiza meracau dengan mata terpejam. Gue jadi ikut menangis dan beristighfar saat melihat mbak ipar gue tantrum dalam pingsannya.
"Mbak Fiza akan bersama Yuna, Yuna akan selalu menemani Mbak." Gue peluk tubuh mbak Fiza yang sudah resmi menjadi kakak ipar gue. Kenapa moment bahagia mbak Fiza dan mas Aksa harus dibarengi moment menyedihkan ini?
"Kamu disini saja, tunggu sampai Fiza sadar. Kalau dia sudah sadar antar pulang." Kanjeng papi memberi instruksi pada mas Aksa. Abang gue mengangguk untuk mengiyakan.
Mas Lanang menepuk bahu abang gue. Kemarahan yang terpancar dimata mas Lanang ketika proses ijab qabul berlangsung, kini sudah hilang berganti keprihatinan.
Tadi sewaktu mas Lanang tiba - tiba muncul, gue sempat panik. Ya iyalah, gue kan tahu kalau mas Lanang jatuh cinta sama mbak Fiza. Sepertinya dia tidak rela dengan pernikahan ini. Tapi karena ini adalah keinginan terakhir om Bani, akhirnya mas Lanang mundur secara jantan. Dengan berbesar hati, mas Lanang mengikhlaskan mbak Fiza menjadi istrinya abang gue. Ya mau gimana lagi mas, kan memang mbak Fiza sudah dijodohkan dengan abang gue.
"Selamat menempuh hidup baru, Bro! Gue juga mau mengucapkan turut berduka cita." Mas Lanang menjabat tangan abang gue, kemudian mereka berdua berpelukan.
"Tolong bahagiakan Fiza. Kalau Lo nggak bisa membahagiakan dia, gue siap menunggu jandanya," ucap mas Lanang. Abang gue memukul pelan bahu mas Lanang.
"Sorry, gue nggak bisa ikut takziah, karena harus segera kembali ke Palembang untuk mengawal Annoying."
"Thanks, Nang!"
"Yun, gue pergi duluan ya." Mas Lanang mengacak rambut gue. Kemudian terpaku memandang tubuh mbak Fiza yang masih pingsan di sofa.
"Sebenarnya gue ingin memeluk Fiza. Sayangnya ada suaminya." Mas Lanang tertawa getir, kemudian berjalan meninggalkan ruangan. Gue menjadi saksi jika masalah antara Abang gue dan mas Lanang telah selesai secara damai, Sob. Semoga esok hari, mbak Fiza bisa menjalani hari - harinya dengan bahagia bersama keluarga gue. Amin.
Lama juga mbak Fiza pingsan. Mungkin akumulasi dari rasa capek setelah beberapi hari tidak tidur karena menunggu om Bani. Ketika sadar, mbak Fiza kembali menangis sambil mencari - cari ayahnya.
Dengan kursi roda pinjaman, yang disediakan oleh rumah sakit, kami membawa mbak Fiza menuju parkiran.
"Bentar ya, Mbak! Yuna ngembaliin kursi rodanya dulu," pamit gue.
Setelah mengembalikan kursi roda, kami pun meninggalkan rumah sakit.
Ternyata jenazah om Bani sudah siap untuk disalatkan. Tapi menunggu mbak Fiza dulu untuk prosesi adat brobosan. Karena tubuhnya nampak lemas, akhirnya abang gue yang membantu memapah mbak Fiza yang melakukan prosesi tersebut sambil menangis. Ya Allah... gue yang melihatnya jadi ikut sedih.
Gue juga sempat mendengar beberapa ibu - ibu yang sedang berbisik - bisik. Ternyata tidak di arisan, tidak di acara hajatan, apalagi acara kematian, ada saja orang yang julid.
Di pemakaman om Bani, hati gue kembali terpukul. Mbak Fiza bertindak nekat dengan ingin ikut masuk ke liang lahat. Mas Aksa sampai harus menggendong dan menenangkan mbak Fiza. Kejadian itu membuat para tetangga yang melayat ikut menangis haru. Wajar saja mbak Fiza begitu terpukul. Semua juga akan sedih harus menjadi yatim piatu di usia yang masih muda.
Karena mas Aksa harus mengadzankan mertuanya, akhirnya gue dan kanjeng mami yang menenangkan mbak Fiza yang kembali terkulai pingsan.
കകകകക
Acara tahlil baru saja selesai. Kami bersiap untuk pulang kerumah. Tentunya dengan mengajak mbak Fiza turut serta. Kan mbak Fiza sudah resmi menjadi salah satu anggota keluarga kami.
Gue melihat mbak Fiza duduk meringkuk di kamarnya. Yah kali ini giliran abang gue yang menghibur mbak Fiza. Atau mungkin sebaiknya abang gue menemani mbak Fiza menginap di rumah mbak Fiza. Mereka kan sudah resmi menikah. Siapa tahu pelukan dan ciuman dari abang gue bisa sedikit mengobati kesedihan mbak Fiza.
Duh.... jadi punya pikiran porno kan gue?
"Mas, jagain mbak Fiza ya." Gue mengingatkan mas Aksa.
"He- em," jawab abang gue singkat. Rasanya jadi kurang meyakinkan sekali.
"Jagain yang bener." Gue mengulangi kembali permintaan gue.
"Iyaaaaa."
"Sekalian dihibur ya, Mas."
"Iya bawel." Wajah abang gue yang memang berkulit putih mulai memerah seperti kepiting rebus.
Gue tertawa melihat wajah abang gue yang nampak malu - maluin. "Beneran dijagain lho mas. Yuna nggak mau mbak Fiza direbut mas Lanang," ancam gue.
Mas Aksa langsung mengacak - acak rambut gue dengan gemas.
Lalu gue menghampiri mbak Fiza. Sejak acara ijab qobul tadi kerudungnya masih belum dilepas, padahal sudah kotor terkena tanah pemakaman. Aduh gue jadi merasa tidak tega meninggalkan mbak Fiza.
Apa sebaiknya gue ikut menemani mbak Fiza saja ya? Tidak apa - apa kan? Gue tidak dianggap sebagai pengganggu kan? Soalnya gue yakin abang gue belum tentu tega memaksakan malam pertama saat sedang berduka. Hehehehehe...
"Mas, badan mbak Fiza kotor, biar Yuna bantu bersihin atau mas Aksa aja."
Tawaran gue ditanggapi dengan pelototan mas Aksa. Hais kalau begini gue mesti kabooor...
Tbc
bayikk pikir ini crta tntang anak betawi ...ehh ternyata ada campuran jawax ...keren
klamaan tinggal di kalimantan kangen jg potongan2 bahasa kramanya