"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Sisa Tujuh Pertemuan dan Kenyataan yang Hancur
Alin membalikkan badannya dengan sentakan cepat, membiarkan rambut panjangnya yang terurai mengibas udara kamar yang terasa kian pengap dan mencekik. Ia melangkah tergesa-gesa mendekati lemari pakaian besar bermaterial kayu jati di sudut ruangan, berniat mengambil koper besar miliknya. Kedua tangannya mencengkeram erat sisi daster katun tipis yang ia kenakan, berusaha keras meredam gemetar hebat yang mulai menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuh.
Rencananya sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun lagi. Siang ini juga, ia akan mengepak seluruh pakaiannya, meninggalkan rumah terkutuk ini, dan pergi menuju rumah Nenek Aisyah untuk menceritakan segalanya. Kebetulan, Alin masih memiliki jatah cuti menikah dari tempatnya bekerja sebagai staf administrasi selama satu minggu ke depan. Ia memiliki waktu penuh untuk mengurus kekacauan ini tanpa perlu memusingkan urusan pekerjaan atau target kantor yang biasanya menyita waktu.
Namun, baru saja jemari Alin yang dingin menyentuh bilah pintu lemari, sebuah suara debam pintu utama kamar yang dibuka secara kasar mengejutkannya dari belakang.
Brak!
Alin tersentak, tubuhnya berputar cepat dengan jantung yang bertelak tidak beraturan. Matanya melebar mendapati Mas Elang sudah berdiri di ambang pintu, lalu menutupnya kembali dengan sentakan yang tidak kalah keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Pria itu melangkah masuk tanpa permisi, mengikis jarak di antara mereka dengan tatapan mata elangnya yang begitu tajam, pekat oleh amarah dan dominasi yang tertahan.
Alin mengatur napasnya yang sempat memburu akibat rasa syok yang tiba-tiba. Sebagai gadis yang dibesarkan oleh seorang ibu yang tangguh di lingkungan yang keras, ia dididik untuk tidak menjadi wanita cengeng yang mudah diintimidasi oleh gertakan atau fisik seorang pria. Ia menegakkan bahunya, mendongak menantang balik sorot mata suaminya yang menghunjam lurus.
"Ada apa Mas menyusul saya ke kamar ini?" tanya Alin. Nada suaranya terdengar begitu dingin, datar, dan langsung pada inti masalah. "Bukankah wanita di bawah dan anaknya yang sedang sakit jauh lebih membutuhkan kehadiran Mas Elang sekarang, ketimbang seorang istri hasil perjodohan yang tidak diinginkan?"
Elang menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Alin. Rahangnya mengetat mendengar sindiran yang begitu menusuk itu. "Alin, jaga bicaramu! Mas masuk ke sini karena ucapanmu di bawah tadi sudah sangat keterlaluan. Kamu berani menantang suamimu sendiri di depan orang lain! Di mana tata kramamu?!"
"Orang lain?" Alin terkekeh sinis, menyisipkan beberapa helai rambut panjangnya ke belakang telinga dengan gerakan meremehkan. "Maksud Mas, di depan mantan kekasih tercintamu yang malang itu? Kenapa, Mas? Mas merasa harga diri Mas sebagai CEO startup yang hebat mendadak jatuh karena saya tidak mau tunduk pada keputusan egoismu?"
"Alin, dengar baik-baik dan camkan ini di dalam otakmu!" bentak Elang rendah. Suaranya bergetar hebat menahan gejolak emosi yang nyaris membakar akal sehatnya, sementara kedua matanya menatap Alin tanpa ada riak kehangatan atau penyesalan sedikit pun. "Jangan pernah melambungkan ekspektasimu terlalu tinggi dalam pernikahan ini! Jangan mengira dengan status istri sah, kamu bisa mengatur hidupku! Sejak awal, aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Aku terpaksa menikahi gadis kecil sepertimu hanya karena rasa hormat dan baktiku yang teramat besar pada Nenek Aisyah! Hanya karena itu!"
Alin tertegun mematung. Langkah kakinya mendadak terasa goyah seolah lantai marmer yang dipijakinya runtuh ke dalam jurang yang dalam. Meskipun sejak awal ia sudah tahu bahwa pernikahan ini berlandaskan perjodohan sepihak, mendengar pengakuan sekejam dan selugas itu meluncur langsung dari bibir suaminya tetap saja menyisakan lubang besar yang menganga di dadanya.
Elang tidak berhenti sampai di situ. Melihat Alin yang terdiam, pria itu justru melangkah maju satu blok, memperlebar luka di hati istrinya dengan kejujuran yang menghunjam dalam ke ulu hati. "Aku berkata jujur padamu hari ini agar kamu sadar diri, Alin. Sampai detik ini, aku masih sangat mencintai Cindy! Hatiku sepenuhnya masih milik wanita itu! Jadi, berhentilah berasumsi yang bukan-bukan dan bersikap kekanak-kanakan seolah-olah kamu adalah korban yang paling tersakiti di dunia ini! Yang lebih tahu tentang bagaimana dalamnya perjuangan hubunganku dengan Cindy selama ini adalah aku, bukan kamu yang datang sebagai orang asing!"
Plak!
Ucapan Elang barusan bagaikan tamparan fisik tak kasat mata yang mendarat telak di wajah Alin, menyisakan rasa panas yang membakar rongga dadanya hingga terasa sesak. Ucapan itu seakan menjadi penegas yang kejam bahwa pria di depannya ini baru saja membangun tembok benteng yang teramat tebal, kokoh, dan tinggi. Elang mengurung dirinya sendiri bersama masa lalunya, dan menendang Alin keluar dari zona hidupnya tanpa belas kasihan sedikit pun.
Di dalam keheningan kamar utama yang luas itu, Alin mendadak teringat kembali pada kenyataan pahit bahwa mereka memang tidak pernah dekat, bahkan hampir tidak saling mengenal. Selama masa penjodohan singkat yang diatur oleh Nenek Aisyah, mereka hanya bertemu sebanyak tujuh kali. Ya, hanya tujuh kali pertemuan formal, dan itu pun selalu dalam bentuk acara makan malam bersama di rumah besar Nenek Aisyah, di bawah tatapan mengawasi dari keluarga besar.
Alin menerima pinangan Elang karena Nenek Aisyah adalah sosok yang sangat berjasa bagi keluarganya. Wanita sepuh itu telah banyak membantu biaya pengobatan dan hidup ibu Alin yang selama ini berjuang sendirian sebagai single parent sejak ayahnya tiada. Rasa balas budi yang teramat besar membuat Alin memantapkan hati untuk mengiyakan pernikahan ini, mengorbankan masa mudanya. Lagipula, Alin juga tidak ingin munafik pada dirinya sendiri. Saat pertama kali diperkenalkan, Elang adalah tipe pria ideal yang diinginkan oleh wanita mana pun—pria yang tampak dewasa, mapan secara materi, memiliki karier cemerlang, dan berwajah tampan. Alin mengira, meski tanpa rasa cinta di awal, mereka bisa memulainya dari nol, saling mengenal, dan menumbuhkan rasa di rumah baru ini.
Namun, semua bayangan indah, harapan, dan ekspektasi itu kini telah hancur berkeping-keping, menjadi abu yang beterbangan.
Bukannya menangis terisak atau memohon belas kasihan, Alin justru mendongakkan kepalanya tegak-tegah. Sebuah tawa renyah, keras, namun sarat akan kepedihan yang mendalam meluncur dari bibirnya, menggema di sudut kamar dan membuat Elang seketika mengernyitkan dahi kebingungan sekaligus tersinggung.
"Kenapa kamu malah tertawa? Apa ada yang lucu dari ucapan saya?!" tanya Elang, suaranya terdengar kian dingin, tajam, dan penuh selidik.
Bersambung ...