NovelToon NovelToon
Pernikahan Perawan Tua

Pernikahan Perawan Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Berondong
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Franciarie

"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"

Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.

Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kado yang Membuat Cemburu

“Dari temen lama,” jawabku hati-hati. Entah kenapa aku memilih nggak langsung menjelaskan. Bibirku lebih ringan menyebut Raditya teman lama, seakan dia benar-benar nggak pernah muncul lagi dalam hidupku.

Leo berdiri dengan tangan menyilang di dada, tatapannya terpaku pada kotak itu. Kening Leo mengerut. “Temen lama? Siapa, Mbak? Hadiahnya gede banget. Isinya apa, ya?"

"Aku harus jawab yang mana dulu?" protesku.

Leo duduk di sampingku. Tangannya menyentuh kado besar itu, mengamati tiap sisinya, lalu menatapku bingung. "Dari siapa, Mbak?"

Baiklah. Aku harus menjelaskan ini. Harusnya, nggak ada yang perlu aku takuti karena selama ini Leo juga nggak pernah mempermasalahkan apa pun tentang Raditya. Aku rasa Leo akan memahami bahwa Raditya cuma teman kantorku.

"Untuk Prita, dari Raditya." Leo membaca dengan cepat, lalu menatapku dengan kerutan dalam di dahinya. "Raditya?"

Aku mengangguk. "Temen kantor."

"Kenapa kadonya cuma buat Mbak Prita? Ini kado pernikahan atau kado ulang tahun?" Nada bicaranya mulai terdengar naik. Tangannya menepuk-nepuk kado yang masih terbungkus rapi itu, seakan memberikan ancaman anak STM yang bersiap kabur di jam pelajaran.

Aku menggeleng lemah. Perasaanku mulai nggak enak. "Aku ... nggak tahu," jawabku.

Leo terlihat sedang memikirkan sesuatu, seolah ini pelajaran aljabar paling sulit. "Raditya. Raditya." Dia mengulang nama itu berkali-kali. Saat menatapku, ekspresinya berubah, seperti mendapatkan kabar paling menyedihkan. "Dia itu yang aku pernah lihat di kantor Mbak Prita itu? Yang narik-narik tangan Mbak Prita kasar banget? Yang nantangin aku berantem itu?” Baru kali ini aku mendengar Leo bertanya dengan cepat banget.

Jantungku seperti berhenti sesaat. Rentetan pertanyaan itu lebih mirip tembakan cepat yang langsung tertuju tepat ke jantungku. Dudukku semakin nggak nyaman. Karpet lembut yang aku duduki seakan berubah menjadi duri landak yang menusuk-nusuk kulitku.

"Iya. Dia Raditya." Sinyal bahaya di kepalaku menyala. Leo nggak akan bisa menerima nama Raditya muncul dalam pembicaraan kami di mana pun dan kapan pun.

“Iya?” Nada suaranya naik setengah oktaf. Dia berdiri, mengacak-acak rambut panjangnya, lalu menatap kotak besar itu seperti sedang memeriksa barang bukti. “Mbak Prita, tolong jujur sama aku. Sebenarnya, kalian ada hubungan apa?”

Aku memandangnya bingung dan memikirkan jawaban terbaik agar nggak menyalakan api lain yang membahayakan pernikahanku. Nggak lucu kalau kado ini bisa mengacaukan hari-hari kami sebagai suami-istri.

"Nama dia nggak ada di daftar tamu undangan, Mbak. Kenapa bisa kadonya yang besar banget ini malah dateng, cuma buat Mbak Prita pula." Leo tersenyum, tapi terlihat lebih mirip sedang meremehkan.

Aku menggeleng lagi. "Aku juga nggak tahu, Leo."

"Nggak mungkin nggak tahu, sih, Mbak," protesnya cepat.

Aku berdiri dan mencoba mendekat. “Leo, nggak ada apa-apa. Dia cuma—”

“Aku nggak mau dengar!” potongnya cepat. “Aku takut kalau aku denger semua, aku malah tambah kesel.”

Leo menarik napas dalam, tapi matanya nggak lepas dari kotak itu. “Kenapa dia kasih kado? Dia bahkan nggak masuk daftar undangan.” Pertanyaan yang sama terlempar dari bibirnya yang sekarang mengerucut.

“Ya, udah. Jangan dibuka sekarang!” Leo mengulurkan tangan untuk mengambil kotak itu, lalu meletakkannya di atas lemari seperti sedang mengamankan barang berbahaya. “Nanti aja!”

“Aku penasaran isinya,” ujarku pelan.

“Biarin penasaran,” sahutnya sambil duduk di sisi ranjang. “Aku nggak mau liat Mbak Prita senyum-senyum gara-gara kado dari dia.”

Nada posesifnya membuatku antara ingin tertawa dan menghela napas. “Leo .…”

Suamiku itu cuma menggeleng, lalu meraih tanganku dan menarikku duduk di pangkuannya. “Aku nggak suka, Mbak Prita. Aku nggak mau dia ada di sekitar Mbak Prita lagi.”

Aku duduk berhadapan dengan Leo. Wajah kami terlalu dekat sampai aku bisa merasakan napasnya yang panas.

Aku menahan diri untuk nggak menghela napas keras-keras. Kulingkarkan tanganku di lehernya. “Aku jelasin, tapi kamu harus mau denger dulu. Oke?” Kuatur nada bicaraku tetap tenang agar nggak membuat Leo makin kesal.

Leo menggeleng. “Nggak malam ini. Aku cuma nggak mau bayangin macam-macam.” Dia lebih mirip bocah yang merajuk, tapi tetap memakasakan diri terlihat tegar.

Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat di balik kausnya. Mungkin, dia nggak marah besar, tapi jelas terganggu. Aku menyandarkan kepala di bahunya, memilih diam karena tahu kalau aku memaksa menjelaskan sekarang, dia nggak akan mendengar.

Suasana jadi menggantung nggak nyaman. Aku memutuskan untuk diam. Leo juga nggak bicara lagi sampai lampu kamar dimatikan.

Kami tidur malam itu dengan suasana yang aneh. Rasanya hangat, tapi terbungkus sesuatu yang belum selesai. Dia terus mendekapku erat, seolah aku ini kambing yang diikat agar nggak bisa kabur ke mana pun.

Paginya, aroma kopi hitam bercampur roti panggang memenuhi ruang makan. Sinar matahari masuk dari jendela besar, memantul di meja kayu mengilap.

Mami duduk di ujung meja dengan senyum hangat, sementara aku duduk di sampingnya. Leo duduk di seberang, tapi wajahnya masih memendam sesuatu.

“Kamu kenapa, Leo?” tanya Mami sambil mengambil dua telur rebus.

“Nggak apa-apa,” jawab Leo singkat, lalu bangkit setelah hanya meneguk setengah cangkir kopinya.

“Eh, kamu mau ke mana? Belum selesai sarapan.” Mami melotot ke arah anak satu-satunya itu.

Leo hanya menjawab, “Ada urusan,” jawabnya singkat, lalu melangkah pergi.

"Leo Aditya Mahesa," panggil Mami dengan perlahan dan seketika suasana ruang makan berubah suram, penuh ancaman.

Leo menghentikan langkah. Dia memutar tubuh dengan mata membuka lebar. Tatapannya melunak saat memandang bagian belakang tubuh maminya.

"Kamu udah punya istri sekarang. Nggak ada pergi tanpa pamit, tanpa kasih tahu mau ke mana lagi. Istri kamu nunggu di rumah. Jangan pernah biarin istri bingung di mana keberadaan suaminya." Mami memberikan nasihat dengan tegas.

Leo menatapku, lalu menunduk. Dia mendekatiku. Tangannya berada di punggung kursiku. Tubuhnya membungkuk. "Aku main basket sebentar," pamitnya setelah mengecup keningku.

Aku nggak tahu harus merespons apa. Di depan Mami, dia berani menciumku dengan santai. Tubuhku rasanya meleleh. Aku ingin bersembunyi secepatnya.

"Udah, Mi," ucap Leo. "Nanti, aku telepon, Mbak." Dia pergi begitu saja, seolah sengaja segera kabur sebelum Mami mengomel lagi.

Mami menghela napas panjang, lalu menoleh padaku. “Anak itu … memang kalau lagi ngambek, kayak anak kecil. Nggak mau cerita malah kabur main basket. Tapi, biasanya nggak lama, kok.”

Aku tersenyum kecut. "Aku baru tahu dia bisa ngambek gitu."

"Ngambek kenapa lagi dia?" tanya Mami, lalu mengibaskan tangan. "Nggak usah dijawab, deh! Ayo ikut Mami ke belakang! Kita duduk di teras, udaranya lagi enak.”

Teras itu menghadap taman kecil dengan kolam ikan di tengahnya. Suara gemericik air berpadu dengan aroma melati dari pot gantung di pinggir. Aku duduk di kursi rotan empuk, sementara Mami menuang teh hangat ke cangkir kami.

“Kamu tau, Prita,” kata Mami sambil menyeruput tehnya, “Leo itu keras kepala, tapi hatinya gampang meleleh. Kalau dia udah ngambek, ya begitu.”

Aku tertawa kecil. “Ngambeknya lucu, Mi. Dia penasaran, tapi nggak mau aku kasih tau. Dia bingung sendiri, gelisah sendiri. Ngomongnya jadi nggak jelas arah dan tujuannya. Kayak bukan Leo aja."

“Ngeselin, kan? Dari dulu, dia begitu.” Mami tersenyum nakal. “Tapi, jangan bilang Mami yang ngomong. Kalau dia marah, suruh dia ke Mami, biar Mami yang urus.”

Aku mengangguk, merasa hangat di dada. “Aku bersyukur punya Mami yang kayak gini. Soalnya, aku sering denger cerita temen yang nggak akur sama ibu mertuanya. Tiap mereka ketemu, rasanya kayak ada di medan perang. Gitu katanya.”

“Ah, itu karena mereka belum ketemu Mami. Dia nggak beruntung nggak jadi menantu Mami.” Mami tertawa kencang. “Mulai hari ini, kamu harus ikut Mami kalau belanja bahan makanan atau sekadar ke salon. Kita juga bisa masak bareng. Leo itu jarang pulang cepet, jadi kita banyak waktu.”

Kami mengobrol lama, membahas kebiasaan Leo waktu kecil, tentang Mami yang suka koleksi peralatan dapur, bahkan sempat membahas ringan soal Leo yang katanya pernah mogok makan tiga hari gara-gara Mami nggak beliin mainan robot.

“Makanya, Prita. Kalau dia mulai ngambek, kamu jangan panik. Kadang tinggal dikasih makan enak aja udah sembuh,” ucap Mami sambil terkekeh. "Dia suka banget makanan olahan daging kambing. Tongseng itu paling favorit."

Aku merasa semakin nyaman. Rasanya seperti bicara dengan Ibu sendiri.

Malam harinya, lampu kamar sudah menyala lembut. Leo sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Dia duduk di ujung ranjang sambil memainkan cincin kawinnya. Aku masuk setelah mandi, lalu duduk di sebelahnya.

“Leo,” panggilku pelan.

Dia hanya menoleh sebentar. “Hm?”

“Kamu mau dengerin cerita soal Raditya nggak?”

Leo mendengkus kecil. “Nggak ada yang perlu diceritain. Aku cuma nggak suka aja ada laki-laki kayak dia kirim kado khusus buat Mbak Prita.”

"Kamu cemburu sama Raditya?" tanyaku perlahan.

Suasananya jadi hening. Leo nggak menjawab apa pun setelah kuberikan waktu cukup lama.

"Jangan pernah pergi gitu aja, Leo. Kita obrolin baik-baik. Kamu bisa tanya apa pun tentang Raditya atau yang bikin kamu nggak nyaman."

Leo terdiam beberapa detik, lalu menatapku. “Aku takut kalau tanya, aku malah jadi marah-marah.”

Aku tersenyum tipis. “Ya, udah. Aku jelasin sekarang. Raditya itu—”

“Mbak Prita,” potongnya cepat. “Aku nggak mau tau detilnya. Cukup tau kalau dia nyakitin kamu dan aku nggak suka dia dekat-dekat sama kamu.”

Aku menatapnya lama. “Oke. Tapi, jangan siksa diri kamu sendiri cuma gara-gara kado.”

Dia menghela napas, lalu melirik satu-satunya kado yang masih terbungkus rapi. “Kita buka sekarang?”

“Kalau kamu mau,” jawabku pelan.

Leo mendekat ke kotak besar itu, mengambilnya dari atas lemari. Dia menyerahkan kado itu padaku, tapi menarik cepat sebelum aku menyentuhnya. "Aku aja," ucapnya, lalu membuka pita emasnya perlahan. Suara sobekan kertas kado terdengar jelas di antara hening. Saat tutup kotak terangkat, matanya membulat.

Di dalamnya, tergeletak sebuah buku diary berwarna cokelat tua dengan emboss emas di sampulnya. Leo menatapku, matanya penuh tanda tanya dan sedikit rasa nggak percaya.

1
Shofia Hadi
tinggalin aja udah dari pada makan hati
Nurjannah Rajja
Iya ada orang yg suka banget bohong, ngutang juga alasannya bohong...tapi kok hidupnya tenang aja ya. Herann...
mimief
elah..otot
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
mimief
mestinya Leo belajar jgn bawa kerjaan kerumah
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
tutiana
gimana klo mba prita belajar sedikit2 ttg gaming,,, biar ga insecure terus2an
mimief
kau tau..apa yg lebih menyakitkan dari pada omongan,luka fisik yg ditimbulkan dr orang lain.
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
mimief
yah begitulah romantis nya berumah tangga
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
mimief
hiss mami omongan nya nyentil ginjal aku🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
mimief
ayolah prit
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
sryharty
Leo ini bener2 aneh,dulu aja ngejar2 Prita dan dia dulu yg mati2an bantu keluarga Prita
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
Franciarie: Anu, sejak sebelum nikah Dira juga udah ada. Itu Dira hadir di pernikahan Prita dan Leo, kok. Kira-kira kenapa Leo jadi berubah, yok? 🤭🤭🤭
total 1 replies
Siti Rofiatin
ceritanya bagus
Franciarie: Terima kasih, Kak ❤
total 1 replies
tutiana
susah kali jd mba prita ini,,,
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya
tutiana: kan jd sakit sendiri ya Thor
total 2 replies
tutiana
astaga Thor jd nangis terus ini😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭
tutiana
cerita mba prita ini membuat aq menangis di banyak bab 😭
tutiana
keep strong buat semua anak pertama,,,
wiwik
Jangan pesimis dong mbk Prit..Dira sm Leo cuma cocok d dunia bisnis klo prcintaan mbk Prita juara'y..smangatt yaaaa
wiwik
Ayo up Kak..makin pnasaran 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!