UPDATE SESUAI WAKTU SENGGANG HANA
Ziva adalah gadis berusia 16 tahun yang memiliki trauma pada laki-laki. Karena suatu alasan, membuatnya rela untuk bersekolah di Sekolah biasa yang penuh dengan laki-laki.
Namun, ibunya melakukan perjanjian menikah untuknya dan sayangnya, ia menerimanya karena salah paham.
Pernikahannya pun terjadi, dan penculikan langsung dialaminya, ibunya dibunuh. Suatu keanehan ditemukannya setelah pernikahan, yang belum pernah diketahuinya sejak dahulu.
Apakah Ziva akan mencaritahu semua keanehan ini? Apakah ia akan sembuh dari traumanya? Dan, apakah ia bisa mencintai suami yang dinikahinya karena salah paham?
Atau ia malah membencinya?
Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Ikuti terus cerita Halo Tunder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA NH. asuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. BENARKAH?
Ziva hanya mengikuti apa yang diinginkan Najwa. Awalnya, ia berfikir jika ia membuka matanya, maka ia akan berada di kamarnya yang berwarna Peach.
Namun, ternyata itu semua nyata. Ia terpaksa harus menginap di sana sementara—maksudnya rumah bibi Agi—karena ia sudah kabur dari rumah Sulthan. Setidaknya, sampai ia tahu kenyataan apa yang benar.
Ia dibonceng oleh Najwa dengan motor Ninja miliknya. Dan Ziva dipaksanya untuk memakai helm. Karena 2 topeng karet miliknya semuanya hilang. Sekarang terpaksa, ia harus memesan lagi topeng yang baru di lab sains.
“Kita mau kemana?” Ziva sudah sangat lelah di motor yang tinggi itu. Naiknya saja sudah susah, ditambah bangkunya menukik dan membuat pinggangnya pegal.
“Udah, diam dulu.” Najwa sepertinya juga sudah muak dengan jalan yang tiada habisnya.
“Ish…” gerutu Ziva. Kepalanya terasa seperti di letakkan barbell 20 kilo. Helm itu terasa berat sekali di siang hari yang panas dan melelahkan.
Dan, motor itu berhenti di sebuah dinding tinggi dengan gerbang besar bak gerbang sebuah tembok cina. Dan dari dalam sana, terdengan suara anak-anak yang berteriak seperti sedang berlatih silat.
“Ini tempat apa?” Ziva mengamati gerbang yang tinggi itu. Sepertinya, maling yang mau maling di sini harus punya teknik tinggi mirip Jacki Chen.
“Ini tempat aku, melatih karate.” Najwa menirukan sebuah gaya karete ala guru besar kita, Takeshi Oishi.
Ia menyiapkan kuda-kudanya, kaki kirinya di belakang dan dan di tegang. Kaki kanannya di depan dan ditekuk. Dan tangannya mengepal kuat ke depan. Ia sedikit berputar dan kaki kanannya ikut melayang ketika ia berputar.
“Hiyat…” kakinya berada tepat di depan wajah Ziva. Dan ia menaikkan sebelah alis kanannya dan menyeringai bangga. Ziva memasang wajah malasnya melihat bangganya Najwa beraksi.
Plokplokplok…
Mereka berbalik menatap pintu gerbang itu terbuka. Banyak anak-anak dan mereka semua memberi Najwa tepuk tangan lagi.
“Kenapa baru datang, Guru?” tanya bocah kecil yang rasanya tingginya baru selutut Najwa yang tinggi itu.
Najwa berjongkok, ia mengelus kepala bocah yang kira-kira umurnya baru 4 tahun.
“Maaf, ya. Tadi guru ada urusan.”
Lalu mereka semua menatap Ziva yang masih berpangku tangan di samping kereta Najwa. Anak-anak itu memandang Ziva dengan tatapan aneh yang menusk
“Kakak itu, siapa guru?” bisik bocah tadi pada Najwa.
“Oh, itu… kembarannya guru, dia juga bisa karate, lho.” Bocah kecil tadi tampak senang. Ia berjalan menghampiri Ziva dan menggenggam tangan Ziva.
Ziva pun ikut berjongkok, “Apa, Dik?”
“Kak, tunjukin jurus kakak, Dong.” Ziva menengok ke Najwa yang pura-pura lugu dan mengendikkan bahunya.
“Jurus apa?” tanya Ziva. Anak pendek tadi terkejut. Alisnya naik keduanya.
Oh, ini sangat memalukan. Ziva sudah diremehkan oleh anak berumur 4 tahun. Ini sangat memalukan baginya. Tapi apa yang harus dilakukannya? Ia tidak pandai karate, ia hanya pandai bersilat.
Walau secara teknis, dua kegiatan itu 1 tujuan, tapi dasar-dasar di dalam kedua ajaran itu sangat berbeda.
Ia mendengus kesal pada Najwa yang menahan tawanya. Ia berdiri. Ia melebarkan kedua kakinya dan agak menekuk kakinya seperti setengah berjongkok. Ia meletakkan sikunya di perut dan kedua tinjunya mengepal dan menengadah.
“Hiyat…” Ziva meninjukan tinju kanannya ke depan.
“Hiyat…” kali ini bagian untuk tinju kirinya.
“Hiyat…” ia berbelok ke kiri untuk menendang ke arah angin.
Ia sedikit berputar dan satu kakinya menendang ke arah langit. Kakinya pas setinggi kepalanya. Ia membuat beberapa gerakan keren bagi anak-anak yang hanya tahu dasar dari karate.
Ziva mengambil sebuah sapu yang tak jauh dari gerbang. Ia memutarnya secepatnya, layaknya kipas angin berputar. Ia juga membuat sapu itu menahan berat badannya.
“Hiyaaat…” ujung sapu itu berakhir di depan mata anak itu.
Anak pendek tadi tak bergerak. Entah karena syok atau takut, tetapi ia masih diam di tempat. Bagai makhluk tak bernyawa.
“Aduh… maafkan, kakak, Dik. Maaf-“
“Kakak kereen!” teriak bocah pendek itu tiba-tiba.
Ziva terpaku. Baru kali ini ada yang memujinya seperti itu. Biasanya, ia hanya berlatih berdua dengan abinya yang mantan anak pesantren yang mengikuti ekskul silat. Dan, sudah lama juga ia tidak berlatih. Ia bahkan berfikir kalau gerakannya tadi sudah terlalu berkarat atau kaku.
Plokplokplok…
Laki-laki berjenggot putih yang ada di belakang Najwa itu memberi Ziva tepuk tangan. Ia tersenyum dengan bibirnya yang di tutupi rambut putih itu.
“Lumayan, Nak. Walau gerakan kamu agak kaku dan masih terbatas, tetapi itu sudah hebat.”
Benarkan. Ziva kaku. Hanya orang jeli seperti kakek itu yang bisa menilai gerakan Ziva. Kakek itu juga benar diperkara Ziva yang gerakannya masih terbatas. Ia belum tahu banyak gerakan itu. Tetapi ia bisa setidaknya untuk melindungi diri.
“Kak, ajari kami!!!” anak-anak yang mengelilingi kakek dengan jenggot putih tebal itu bersujud. Apa maksud anak-anak ini? kenapa mereka segampang itu bersujud pada manusia?
“Ja-jangan sepert itu, Dik. Kakak masih sangat payah untuk mengajari kalian.” Ziva ikut duduk dan mengintip anak-anak yang masih sujud itu.
“Anak-anak. Kembali ke lapangan!” Perintah kakek berjenggot putih itu.
Anak-anak itu langsung bergerak dan memasuki gerbang itu dengan cepat. Termasuk anak kecil pendek tadi. Kenapa anak-anak itu sangat patuh pada kakek itu?
Kakek itu masih menatap Ziva dengan senyum di bibirnya yang tidak terlihat. Hanya matanya yang sangat sipit dan itu menunjukan kalau ia sedang tersenyum.
“Apakah ini anak yang kamu katakan?” kakek itu menatap Ziva dengan senyumannya. Ia sedang bertanya pada Najwa, tetapi matanya selalu tertuju pada Ziva.
Najwa hanya mengangguk dan wajahnya semakin serius. Anak ini sangat aneh sekarang. Wajahnya berubah secepat membalikkan telapak tangan.
Kakek itu melihat Ziva. Ia tidak tidak senyum lagi. Ia menjulurkan tangannya dan menggerakkan jarinya memanggil Ziva. Ziva pun mendekati kakek itu.
“Kamu mau lihat ibu kamu?”
Deg…
Umi… masih hidup? Umi benar-benar masih hidup? Benarkah? Apakah yang dikatakan Najwa hari itu benar?
...***...
Brakk…
Pintu dengan dua sisi terbuka. Pintu itu berwarna coklat kemerah-merahan. Pintu itu terbuka dengan dipaksa. Dan pelakunya adalah Lissa Farhani Munggaa. Wajahnya sangat merah, ia sangat marah.
Ia marah, karena Ziva melakukan hal itu sendirian. Ziva tidak percaya pada mereka. Dan lagi, dimana Safana? Disaat-saat begini ia menghilang. Bukannya membantu mencari Ziva, ia malah menghilang tak terlacak.
“Papa!” teriak Lissa di depan seorang lelaki yang fokus pada berkasnya di meja yang dipenuhi kertas seambrek-ambrek.
Lelaki itu hanya sedikit menatapnya, kemudian ia kembali fokus pada kertasnya.
“Katanya, kamu mulai berteman dengan anak-anak payah. Benarkah?” lelaki itu berkedip. Ia masih saja fokus dengan lembaran kertas payah itu.
“Apa maksud papa dengan payah? Mereka adalah teman Lissa. Siapa yang memberitahu papa tentang hal itu?”
“Sepertinya kamu juga ingin seperti kakakmu, Bima. Memberontak dan berteman? Omong kosong!” lelaki itu menutup pena itu dan menyetempel sesuatu pada kertasnya.
“Papa yang omong kosong! Menjebak teman untuk memajukan Firma milik sendiri. Heh, papa menyedihkan!” Lissa membalikkan tubuhnya.
“Lissa! Jangan uji papa! Karena papa tidak pandang bulu!” Lissa menatap papanya dengan ujung matanya.
“Aku tidak peduli apapun yang papa lakukan padaku. Tapi, aku ingatkan papa, jangan ganggu temanku! Aku tahu semua rahasia papa. Dan ini bisa menjadi bom waktu bagi Firma hukum papa!” ia melangkah dan meninggalkan ruangan mewah serba emas itu.
Benci rasanya pada papanya yang suka mengancam seperti itu. Apalagi, papanya yang cuek dan dingin itu hanya memperdulikan nilainya saja, membuatnya ingin muntah berada di keluarga itu.
Lissa tidak menghiraukan papanya. Ia hanya keluar dari pintu itu dan membantingnya untuk yang kedua kalinya.
Lalu ia dihampiri oleh seorang perempuan dengan wajah mirip dirinya. Hanya saja, perempuan itu sangat dingin. Bahkan perempuan itu tidak memandangnya walau tahu kehadirannya di sana.
Lissa hanya memandangnya. Ia pikir, setelah sekian lamanya ia tidak kembali ke rumah utama, ia akan mendapat sedikit sambutan hangat. Ternyata ia terlau berharap. Kenapa ia bisa berharap pada orang tua payah itu?
Lissa masuk ke dalam mobil merahnya yang hanya bisa memuat empat orang. Ia menstrater mobilnya hingga keluar dari pekarangan rumah mewah yang serba putih dengan taman di sekeilingnya hingga menyisakan ruang bagi mobil.
Lissa pergi dari rumah keluarganya dengan perasaan marah. Dan ia juga membawa malunya pulang. Kedua orangtuanya semakin dingin setelah Bima pergi ke Jakarta.
Ah, menyesalnya ia sudah berkenan mengunjungi orangtuanya. Lebih baik ia mencaritahu tentang keberadaan Ziva. Sia-sia saja ia mencoba untuk membuka hati kedua orangtua tamak itu.
Ia fine-fine saja jika kedua orangtua itu hanya mengusik hidupnya, tapi tidak dengan hidup temannya, orang disekeilingnya yang peduli padanya. Aduh, kenapa ia dikaruniai oleh orangtua yang tak peduli padanya?
Lissa tidak menangis ataupun membanting sesuatu, ia memfokuskan amarahnya dengan mengebut sekencang-kencangnya di jalanan yang ramai itu. Untung saja ia sudah pro, jika tidak, mungkin ia akan berakhir di balik jeruji besi.
Kemanakah tujuan Lissa sekarang? Ia tidak tahu ingin kemana. Jika pulang ke rumah, ia hanya akan disambut oleh orang milik ayahnya yang selalu mendesaknya agar belajar.
Dan tidak mungkin ia ke rumah Jeni, orang tua Jeni adalah orang yang aneh menurutnya. Mereka selalu bersikap sebaliknya. Dan mereka juga merupakan bawahan papa Lissa. Ia tidak suka orang yang bekerja untuk papanya.
Tapi, ia tidak tahu, kenapa mobilnya melaju ke rumah Bram. Apa ia kembali saja ke rumahnya? Ah, sudahlah. Lissa ingin memutar mobilnya, tetapi mobil Bram sudah ada di jalan keluar dari gerbang besar itu.
Ya ampun. Habislah harga dirinya. Kenapa ia harus ke sini? Disaat yang seperti ini lagi? Maksudnya disaat hatinya sedang gusar minta ampun.
Ia harus apa sekarang?
...***...