Diperbarui 27 September 2020
_______________________________
Perjodohan dengan lancar tidak ada kebencian. Eliana dipaksa namun dengan rela hati menerima, sebab kesabaran Arsya merubah status mereka dari adik kakak menjadi sejoli penuh cinta.
Ujian menimpa selalu pada Arsya, sejak awal sabar dengan hubungannya, kemudian takdir membawanya pada penyakit yang tidak disangka.
Eliana tidak menyesali dengan kehidupan barunya. Gadis yang semula manja, menjadi sangat tegar, sebab ujian yang menimpa Arsya --suaminya-- menuntut dia untuk menerimanya juga dan seakan menjadi single parent.
Pesan moral dari cerita ini = tidak ada sesuatu yang berjalan sesuai keinginan kita, jika pun itu ada, ujian akan tetap ada untuk mengingatkan pada kita bahwa dalam hidup itu selalu ada dua sisi -- Hitam & Putih, Sedih & Bahagia, Ujian & Kedewasaan, DLL--
Selamat menikmati untuk teman-teman yang sudah mampir pada novel ini. Terima kasih sebelumnya. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Nurcahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Arsya
"Put, hati-hati. Pokoknya aku tak bosan mengingatkan kamu agar tidak membocorkan tentang kita ini pada Eliana. Jangan keceplosan bicara ...," pungkas Arsya mengakhiri pertemuan hari itu.
Puput hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia menyerahkan catatan hasil revisi draf yang ditugaskan kepadanya.
"O iya, aku sampai lupa membahas ini!" Arsya menepuk keningnya.
"Besok lagi saja, atau nanti kita lanjut lewat WhatsApp," lanjut Arsya.
Arsya membayar semua hidangan yang dipesan, kali ini dengan senyum ramah seperti biasa. Bu Wanti sampai heran, kok bisa ...? jika tadi air muka Arsya seperti diselimuti awan hitam yang bergelayut di langit, tapi saat ini wajahnya bagai mentari yang baru terbit, bersinar, segar dan menghangatkan. Sampai-sampai bu Wanti sempat bercanda dengan Arsya.
Arsya pergi dengan mobilnya setelah menawarkan tumpangan pada Puput, tapi gadis berjilbab itu selalu menolak jika Arsya akan mengantarkan dirinya pulang.
***
Bengkel Mobi Dan Sparepart Sanjaya.
Ruangan berukuran 3 x 3 m² persegi ini adalah salah satu ruangan yang berada di bengkel ayahnya Arsya. Ya, pemuda rupawan, santun dan mandiri itu memang mengelola bengkel ayahnya selain dia punya pekerjaan sendiri. Ruangan berukuran cukup itulah tempat di mana Arsya melakukan segala aktivitas pekerjaannya.
Arsya menghubungi seseorang untuk membahas tentang proyeknya yang akan dibuat di daerah pertengahan, antara kota dimana dirinya tinggal dan kota tempat tinggal Eliana. Pemuda itu bahkan sudah merencanakan masa depannya dengan calon istrinya itu. Ah, manisnya pemuda ini .... Sayangnya Eliana belum terbuka hatinya untuk menerima Arsya seutuhnya.
"Iya Pak, mungkin dua atau tiga hari lagi saya mengecek lokasi itu. Tapi benar-benar sudah bebas masalah ya Pak? saya tidak mau ada satu hal pun yang masih sengketa. Pastikan semuanya sudah siap untuk dikelola."
Seperti itulah percakapan Arsya kepada seseorang yang berada di seberang telepon. Kembali senyumnya mengembang pada wajah pemuda itu, entah kegembiraan apa sebenarnya yang sedang ia rasakan. Seperti orang yang pertama kali jatuh cinta. Diam sebentar senyum, kegiatan sebentar senyum, bahkan sedang makan saja berkali-kali senyum tersungging di wajahnya.
***
Kampus Eliana
Kuliah telah usai, Eliana dan Clau pergi ke sebuah mall hanya untuk menikmati makan siang. Lagi-lagi dengan motor nyentrik milik Clau, Eliana duduk dengan tenang di jok belakang.
"El, nanti kamu ceritakan tentang dia ya!" teriak Clau, mengimbangi bisingnya suara kendaraan di jalan raya.
"Cerita apa? dia siapa?" teriak El pula.
"Jangan pura-pura nggak tau. Itu loh, cowok yang tadi nelepon kamu."
"Iya, kalau gak lupa!" jawab El, singkat.
TERT ... TERT ....
TERT ... TERT ....
Ponsel Eliana kembali bergetar, kemudian si pemilik ponsel itu tersenyum melihat panggilan yang masuk.
"Halo Kak?" jawab Eliana dengan sedikit berteriak.
Claudia heboh, "siapa El, siapa? cowok itu ya ...?"
Eliana cuma mencubit pinggang Claudia agar diam.
"Ade lagi di mana? kok kayaknya banyak kendaraan begitu?" jawab Arsya dari sebrang telepon.
"Iya kak, lagi diperjalanan."
"Oh, udah pulang dari kampusnya?"
"Iya kak, ini mau main dulu sama teman."
Arsya diam sejenak, dia berpikir Eliana main sama siapa dan mau kemana? terus diperjalanan lagi, apakah dibonceng sama teman cowoknya atau bahkan lebih dari itu? ah, pikiran Arsya berkecamuk. Akan tetap dia dapat mengendalikan dirinya, terhadap Rendy yang jelas-jelas dia lihat saja, tak menunjukkan rasa cemburu. Apalagi ini yang tak terlihat dan jauh.
"Oh, ya sudah kalau lagi di perjalanan. Hati-hati ya ...." Arsya berniat menyudahi panggilanya.
"Ini sudah mau sampai kok, Kak. Memangnya Kakak ada perlu apa? tadi disekolah juga nelepon kan? mungkin saja ada yang penting."
Ini memang penting Eliana, separuh hatiku sedang berada di tempat lain, dan itu harus aku dapatkan agar menjadi utuh. Lagi lagi dengan senyuman yang penuh arti, Arsya bergumam dalam hatinya.
"Kak Arsya, ada apa?" tanya Eliana kembali.
"Eh, enggak De. Nggak apa-apa, cuma pengen tau kabar Ade aja," Arsya terkesiap, sadar dari lamunannya.
"Pelan-pelan Clau, nanti jatuh." Eliana menegur temanya yang menghentikan kendaraannya dengan tiba-tiba.
"Ada apa De, kamu nggak apa-apa, kan?" Arsya khawatir, dia mendengar perkataan Eliana dengan temanya itu.
"Enggak Kak, nggak apa-apa kok. Ini Claudia, sembarangan masuk parkiran," jawab Eliana, dengan nada kesal yang tertuju pada temanya itu.
"Claudia? teman Ade ya? kenalin dong sama Kakak. Aku kan belum pernah tau teman kamu siapa saja di situ," canda Arsya.
"Boleh, nanti kalau Kakak ke sini ya!" jawab El dengan senyuman manjanya.
"Memangnya boleh Kakak ke situ? gak bakal ada yang ngambek?" senyum Arsya, mencoba reaksi Eliana akan seperti apa.
Sambil berjalan menuju gedung mall yang sudah banyak pengunjung, Eliana masih berbicara di telepon.
"Enggak lah, siapa juga yang bakal ngambek. Asal Kakaknya jangan nyebelin, jangan bertingkah aneh-aneh." Suara Eliana terdengar sedikit manja.
"Hehe ... yakin nih? baiklah. Nanti Kakak bikin kejutan." Arsya begitu sumringah.
Panggilan itu berkahir setelah cukup lama mereka berkomunikasi, mengabaikan hiruk pikuk jalan raya dan keadaan mall yang rami.
"Wih ... lama banget ngobrolnya. Sampai-sampai aku dikacangin, dari siapa sih?" ledek Claudia.
El hanya tersenyum sambil terus berjalan menuju tempat makan yang sudah tak jauh lagi. Mereka duduk di tempat area food court, mereka memilih jajanan bakso.
Eliana menaruh tas dan ponselnya di atas meja makan, dasar Claudia si keppo, diraihnya ponsel temanya itu tanpa ijin.
"Wah ... telepon dari cowok ganteng. Pantesan lama banget ...." Claudia bereaksi berlebihan.
"Kamu kebiasaan deh, ganggu privasi orang." Eliana berkata datar. Dia sudah paham tabiat temanya itu.
BERSAMBUNG....
dimana letak moral novelmu jika tindakan2 tidak bermoral kau bela dan kau benarkan
ini tindakan2 tidak bermoral yang kau benarkan
*genta selalu sok baik dan mencari perhatian pada istri sahabatnya sendiri,
*eliana seorang istri yang selalu terbuka dan menerima kehadiran genta
*interaksi genta dan eliana, kontak fisik, perhatian, curhat, suap suapan, papah, bahkan ada yang pakai perasaan kau benarkan
dimana letak moralmu saat kelakuan pebinor dan istri yang mudah menerima kebaikan lelaki kau benarkan
miris sekali
*apakah interaksi eliana dan genta masih wajar thor
gini aja thor jika ada wanita lain kayak genta yang baik pada suamiku kayak kebaikan dan perhatian genta pada eliana, apakah kau anggap wanita itu wanita baik2
thor adil lihat pelakir dan pebinor
jangan pelakor kau laknat tapi pebinor dan sok baik pada istri orang kau muliakan
egois yang terkesan munafik
sukses
semangat
mksh
Buat tmn2 yg baru/mau belajar nulis kudu bgt baca tulisannya kaka Author ini deh❤
maaf baru sempat mulai baca..
edisi, suka baca yg sudah the end biar ga pinisirin.. Tetap semangat berkarya 😘