Badai besar dalam keluarga Cokro terjadi karena Pramudya yang merupakan putra pertama dari keluarga Cokro Tidak sengaja menodai kekasih adiknya sendiri, yaitu Larasati.
Larasati yang sadar bahwa dirinya sudah tidak suci lagi kalut dan berusaha bunuh diri, namun di tengah usahanya untuk bunuh diri, ia di kejutkan dengan kenyataan bahwa dirinya sedang hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuning dianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketegasan Pram
Entah kenapa Zavier terus menangis, dia rewel terus hari ini, ia tidak mau susu dan suhu tubuhnya tidak seperti biasanya.
" Apakah dia kembung??" tanya Laras pada perawat yang di percayai untuk menjaga Zavier,
" tidak nyonya, tapi sepertinya kita perlu mengompres mas Zavier.. Suhu tubuhnya sedikit naik.." ujar si perawat mengambil Zavier dari gendongan Laras.
" Kita harus ke dokter bukan?" wajah Laras terlihat khawatir,
" biar saya kompres mas Zavier dulu dan lihat perkembangannya beberapa waktu,"
" aku tidak tega melihat tangisnya.."
" bersabarlah nyonya, memang beginilah bayi.. Kita akan menunggu perkembangan, jika tidak ada perubahan kita memang harus membawa mas Zavier ke dokter.." perawat itu membaringkan Zavier di tempat tidur Laras yang luas, dan mulai mengompres Zavier.
" tolong pompa ASI nyonya, biar saya yang membantu memberi susu mas Zavier,"
" kenapa harus di pompa? Biar Zavier langsung menyusu kepadaku," ujar Laras duduk disamping tempat tidur.
perawat yang sudah berpengalaman itu menatap Laras sejenak,
" apakah nyonya sedang dalam kondisi yang tidak baik?" tanya si perawat membuat Laras heran,
" aku sehat, memangnya kenapa?"
" maaf, tapi mas Zavier tidak tenang karena nyonya juga sedang berada dalam kondisi yang tidak tenang..
Maaf, tapi nyonya terlihat resah sedari kemarin.."
Deg..
Laras terdiam,
" maafkan saya nyonya, ketenangan ibu saat menyusui dan merawat anak sangatlah penting..
Jadi lebih baik nyonya istirahat dulu, biarkan saya yang menjaga mas Zavier.." ujar perawat itu.
Laras tidak menentang, ia menyadari bahwa emosinya memang sedang tidak stabil,
Ia terus terusan memikirkan ayahnya.
Laras bangkit, mengambil pompa untuk ASInya, dan mulai memompa ASInya.
___
Seperti yang Pram perkirakan, lambat Laun ia akan menghadapi papanya.
Tidak hanya papanya, ia juga harus di permalukan di depan mama tirinya.
Dada Pram bergemuruh hebat, andai saja itu bukan orang tuanya,
Ia pasti sudah melawan dengan keras.
suara Cokro yang lantang sedari tadi memenuhi ruangan,
Bahkan tidak hanya itu beberapa tamparan jatuh ke wajah Pram karena Pram mengakui bahwa ia mencintai Laras dan tidak akan melepaskannya.
Rumah megah itu terasa mencekam saat bentakan bentakan Cokro menggema, membuat para pelayan yang berada dirumah itu serentak menyembunyikan diri mereka di ruangan mereka masing masing.
" Aku tidak pernah memberimu pilihan! Tidak pernah!
Jadi kau harus patuh dengan apapun keputusanku!" lagi lagi kalimat itu, kalimat yang selalu di jejalkan pada Pram kecil, Pram remaja, dan Pram yang telah dewasa.
Pram muak mendengarnya, Pram Benci dengan pola papanya yang tidak berubah.
" sampai kapan papa begini?" Pram mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk marah.
Cokro terbelalak,
" apa maksudmu Pram?!"
" papa masih takut ya?" Pram malah melontarkan pertanyaan yang membuat wajah papanya tiba tiba memucat.
" Jangan bicarakan omong kosong!" tegas papanya.
" papa ketakutan, jadi itu bukanlah omong kosong.." suara Pram dalam,
" Pengkhianatan papa pada almarhum mama yang membuat papa di hantui perasaan bersalah yang tiada habisnya,
Sumpah yang pernah mama berikan sebelum mama meninggal yang membuat papa bertindak sampai sejauh ini bukan?
Apa yang papa takutkan?
Bukan Pram yang menulis takdir, semua ini terjadi bukan atas kemauan Pram.
Jadi berhenti menganggap saya seolah olah sengaja merebut Laras.
Papa tau benar, saya yang lebih dulu dekat dengan Laras,
Dan bukankah Pram sudah mengalah karena papa selalu menegaskan Pram harus menyayangi elang dengan benar meski kami berbeda ibu,
Papa begitu takut aku membalas rasa sakit hatiku karena itu papa mendidikku dengan keras dan harus tumbuh sebagai kakak yang selalu mengalah." Pram bicara dengan mata lurus tertuju pada papanya, meski wajahnya sudah habis terkena tamparan.
Wajah anak dan istrinya terlintas, membuatnya berani dan tegar di hadapan papanya.
" Apa yang tidak saya relakan untuk elang?
barang milik Pram sudah hampir setengah menjadi milik elang.
Lalu sekarang papa menyuruh saya merelakan ibu dari anak anak saya?"
Pram dan papanya saling menatap tajam,
sementara Rista hanya bisa duduk sembari mengigit bibirnya,
Perempuan itu takut, sedari dulu ia takut dengan Pram yang pendiam dan patuh itu.
Ia tau benar, Pram menyimpan bom yang besar dalam dadanya.
Jelas ia gelisah, sejak kecil ia telah menorehkan luka pada Pram,
Meski ia sudah menebusnya dengan segala bentuk kasih sayang dan perhatian,
Tetap saja ia takut,
Pram adalah ancaman yang besar bagi elang,
Kasih sayang suaminya akan selalu terbagi jika Pram selalu menuai keberhasilan.
Pram adalah anak yang tekun sedari kecil,
Sementara elang, ia kerap menjadi masalah dan bukan anak yang penurut.
Rista sungguh takut, takut anaknya itu hanya akan memperoleh kegagalan, dan kesedihan.
keresahan itu berubah menjadi ketakutan saat ia mengingat sumpah yang di ucapkan oleh almarhum mama Pramudya.
Yah.. istri pertama Cokro, perempuan yang cantik dan anggun,
kecantikan mama Pramudya jauh jika di bandingkan dengan Rista, dan Rista sadar bahwa dirinya tidak secantik istri pertama Cokro.
Kecantikan itu menurun pada wajah Pramudya yang tampan, Pram tumbuh dengan tubuh yang tinggi dan menawan.
Sedangkan Elang, Elang yang wajahnya biasa biasa saja sering di bandingkan dengan Pram, hal itu sering membuat Rista berkecil hati,
begitu pula dengan tinggi badan, meskipun elang tidaklah pendek, tapi tetap saja ia kalah jika di bandingkan dengan Pram.
Sesungguhnya Pram lah yang lebih cocok untuk menjadi seorang tentara, tubuhnya tegap dan tinggi,
namun rasa takut Rista yang membuat Pram harus mengubur impian Pram itu,
Rista mencari banyak sebab dan alasan agar Pram tidak masuk ke akademi militer, karena Rista takut elang akan semakin tidak percaya diri melihat betapa gagahnya Pram.
Rista selalu memberi masukan suaminya agar Pram tetap berada di perusahaan dan membantu suaminya berbisnis, sehingga elang yang tidak suka bisnis itu bisa mengejar cita citanya menjadi tentara tanpa harus bersaing dengan Pram.
Benar.. Elang sudah pasti kalah, dari kekuatan fisik dan akademik.. Sejak kecil elang kalah dari Pram.
" Kembalikan dia pada adikmu!!" bentakan Cokro menggema di ruang keluarga yang luas itu.
" Laras bukanlah barang. bertanyalah padanya apakah dia mau kembali pada Elang?
Apakah dia mau meninggalkan putra putrinya?
Tidakkah papa berpikir bahwa apa yang sudah terjadi adalah ketentuan Tuhan?
Papa mau memisahkan kami?"
" kau yang berjanji akan melepaskannya setelah Laras melahirkan!!"
" benar!" jawab Pram tak kalah lantang, membuat papanya mundur karena kaget, ristapun sampai terbelalak tidak percaya mendengar suara sekeras itu keluar dari mulut Pramudya.
" Andai dia tidak mencintaiku aku akan melepaskannya! Andai dia tidak perduli pada anak anak aku juga akan melepaskannya!
Tapi keadaan sudah berubah!
Ternyata Laras juga mencintaiku!
Dia juga tidak ingin meninggalkan anak anak!" tegas Pram.
Para pelayan yang sedang bersembunyi tertegun dan saling memandang,
Sungguh..
Ini adalah kali pertama mereka mendengar suara tuan mudanya yang biasanya tenang itu begitu keras dan penuh emosi.
Apalagi sampai berani melawan pak Cokro, sungguh para pelayan itu terkesima dengan apa yang mereka dengar.
" jika papa terus menerus memaksa kami untuk berpisah,
Kenapa papa tidak membunuhku dan kedua bayiku saja.
Bukankah jika kami menghilang segalanya akan lebih mudah untuk papa?"
Cokro sungguh kaget melihat Pram yang berbeda dari biasanya,
Entah kemana hilangnya Pram yang pendiam dan penurut.
" akan ku terima kemarahan elang. jika perlu bersujud untuk meminta maaf maka akan kulakukan, karena aku memang bersalah, aku menghamili Laras yang masih menjadi kekasihnya.
Tapi tidak dengan menyerahkan istriku.
tidak akan pernah ku serahkan istriku pada laki laki lain, termasuk adikku.
Sejak kecil aku cukup mendengarkan papa.
Maka sekarang giliran papa yang mendengarkanku, suka atau tidak suka.
Aku, Pramudya putra prawira, tidak akan pernah menyerahkan istriku pada siapapun!" tegas Pram dengan sorot tajam pada Cokro yang tiba tiba saja limbung dan terduduk di sofa.
Happy ending.
Sy suka karya2 mb Ayu.
Sy tunggu karya berikutnya
sy sangat menunggu.
trima kasih mb ayu.
sehat selalu