(#HIJRAHSERIES)
Keputusan Bahar untuk menyekolahkan Ameeza di SMA Antares, miliknya mengubah sang putri menjadi sosok yang dingin.
Hidup Ameeza terasa penuh masalah ketika ia berada di SMA Antares. Ia harus menghadapi fans gila sepupu dan saudaranya, cinta bertepuk sebelah tangan dengan Erga, hingga terlibat dengan Arian, senior yang membencinya.
Bagaimanakah Ameeza keluar dari semua masalah itu? Akankah Erga membalas perasaannya dan bagaimana Ameeza bisa menghadapi Arian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Hasna Raihana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Lebih Baik
Arian menghampiri Erga yang baru saja keluar dari kelasnya. Kebetulan sekali ia mau bertemu Erga dan orangnya muncul duluan.
"Erga!" panggil Arian sembari melambaikan tangannya.
Erga mengangguk sekali. Lantas melangkah mendekati Arian yang tampak menunggunya.
"Ah, ya hari ini lo gak perlu kerja lagi."
Kening Erga mengernyit. Tapi, setelahnya air muka Erga kembali datar.
"Em, maksud gue. Hari ini tempat kerja lo itu libur. Tadi gue dikasih tahu sama om. Kayaknya lo juga gak terlalu suka main HP, yah?"
"Gak punya."
Arian terkejut. "Oh, gak punya HP?"
Erga mengangguk singkat.
"Kenapa?"
"Dijual."
Arian mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Ah ... iya-iya."
Arian menatap air muka Erga yang tampak datar. Ia benar-benar tak bisa menebak apa yang tengah Erga rasakan saat ini. Laki-laki itu terlalu minim ekspresi. Dan, terlalu tertutup. Bahkan untuk sekadar mendobrak sedikit pintu hatinya saja sesusah itu.
"Duluan." Erga hendak pergi, namun Arian lebih dulu menginterupsi.
"Tunggu dulu."
Erga berbalik. Menunggu. Kira-kira apa yang akan Arian katakan padanya.
"Gue temen lo 'kan?"
"Ya."
"Yah, gue cuma mau bilang kalau lo butuh tempat cerita gue bisa. Em, yah lo bisa curhat sama gue. Meskipun gue gak terlalu pinter buat ngasih solusi. Setidaknya gue bisa menjadi pendengar."
Erga mengangguk.
"Bisa gak kita ngobrol bentar? Yah, kalau lo lagi gak sibuk, sih." Untuk pertama kalinya Arian merasa suaranya agak tersendat, seolah ada yang menghalangi. Apa, yah? Mungkin karena ia berhadapan dengan Erga. Berbeda jika berhadapan dengan orang lain.
"Oke."
Arian duduk di kursi yang ada di depan setiap kelas diikuti Erga.
"Maaf, gue cuma mau tanya keadaan lo saat ini baik-baik aja atau gak?" Arian menarik sudut bibirnya, tersenyum canggung. Yah, pasalnya ia agak menyinggung sedikit hal yang mungkin sensitif bagi Erga.
Erga menatap lurus. "Yah baik."
"Gue harap lo gak bohong. Yah, gue tahu gue ini temen baru lo. Kita belum kenal lama. Tapi ... lo jangan mikir gue nanya keadaan lo ini cuma karena penasaran. Gak! Gue bener-bener peduli sama lo."
Erga diam. Berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Arian. Kedengarannya sih Arian sungguh-sungguh. Ia rasa kakak kelasnya itu jujur dan tulus peduli padanya, bukan semata-mata ingin mengorek informasi mengenai kehidupan Erga untuk memuaskan rasa penasaran.
Namun, Erga agak belum benar-benar percaya dengan orang sekitarnya. Yah, sudah terbiasa sendiri dan dijauhi lantas tiba-tiba ada yang ingin berteman dan menerima keadaannya yang seperti ini. Agak sulit dipercaya.
Kak Arian, Molla dan Ameeza? Kayaknya mereka baik.
Mungkin pengecualian buat Ameeza. Jujur gue belum terlalu percaya sama dia.
Ameeza udah terlalu jahat sama gue. Meski dia sempet sungguh-sungguh ngebantu gue. Tapi, kejadian buruk itu gak gampang dimaafkan.
Erga rasa penilaiannya tidak salah. Bagaimana pun juga tidak mudah melupakan perlakuan kurang baik yang Ameeza lakukan padanya. Erga rasa semua orang juga pasti pernah mengalami posisi yang sama sepertinya. Yah, sulit memaafkan orang yang sudah terlalu dalam menyakiti kita.
"Oke. Aku emang udah baik-baik aja."
Arian senang mendengarnya. "Lo udah gak nyakitin diri sendiri lagi 'kan?"
Erga mengulum sedikit bibirnya. "Masih dikit."
Arian mengangguk paham. Bagaimana pun juga proses penyembuhan penyakit mental Erga ini tidak mudah. Memang perlu benar-benar diusahakan. Dan salah satunya dukungan dari orang-orang sekitar.
"Erga!"
Mulut Arian kembali tertutup. Ia tak jadi berbicara karena tiba-tiba terpotong oleh suara panggilan dari seorang perempuan berambut sebahu.
Erga langsung beranjak membuat Arian sedikit terkejut. Yah, lebih terkejut lagi ketika ia melihat Erga yang ikut menghampiri perempuan berambut sebahu itu.
"Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Molla khawatir
"Iya."
Molla menarik Erga menjauh. Ia menarik sedikit lengan jaket laki-laki itu. Di sana masih ada sedikit bekas luka walau tak terlalu banyak. "Kamu gak baik-baik aja."
Erga menggeleng. Menarik tangannya kembali dari genggaman Molla. "I'm fine, oke."
Molla mengangguk.
Dari kejauhan Arian terdiam. Ia merasa ada hal yang cukup berbeda dari cara bicara dan ekspresi Erga ketika bertemu dengan Molla. Mungkin, Erga seperti sudah kenal lama dengan perempuan itu. Atau memang mereka sebenarnya dekat?
...-oOo-...
"Erga," panggil Ameeza.
Erga yang baru saja keluar dari perpustakaan menoleh. Tak menyahut, tapi ia menunggu ucapan selanjutnya yang keluar dari mulut Ameeza.
Ameeza mengembuskan napas pelan. "Lo baik-baik aja 'kan?"
Erga menggangguk.
Kenapa dari kemarin banyak yang tanya keadaan gue?
Erga tentu saja heran. Tapi, ia tidak terlalu menunjukkannya.
"Kalau lo ada apa-apa. Em, lo bisa hubungin gue." Ameeza menatap ke segala arah. Agak susah juga menyusun kosa kata yang sempurna agar layak di ucapkan pada Erga. Yah, tahu sendiri Ameeza memang orangnya sering ngegas.
Ameeza berdehem. "Gue bisa jadi pendengar buat lo. Yah, mungkin aja lo butuh temen buat cerita. Kita temen 'kan?"
Erga mengangguk.
"Temen deket 'kan?" tanya Ameeza memastikan.
Erga diam cukup lama. Sampai akhirnya cowok itu melangkah maju, namun sebelum melewati Ameeza, ia sempat berkata, "Teman sekolah, gak deket."
Deg!
Okey, ini agak terlalu menyakitkan untuk Ameeza. Jujur saja perempuan itu cukup sedih mendengarnya. Okey, Ameeza bisa sedikit maklum mungkin karena Erga belum terlalu nyaman dengannya. Yah, wajar saja.
Setidaknya dia baik-baik aja. Gue udah seneng.
"Yo! Ameeza!"
Ameeza refleks meninju perut Arian yang muncul tiba-tiba mengagetkannya. Sontak Ameeza langsung menghampiri Arian yang berjongkok. Sepertinya laki-laki itu kesakitan.
"I'm sorry. Lo gak apa-apa 'kan? Gue gak sengaja, sorry."
Arian mengangkat tangannya pertanda agar Ameeza menunggunya sebentar. Ameeza mengangguk.
Arian menghela napas cukup panjang. "Huh, untungnya fisik gue kuat. Kalau gak gue udah tumbang mungkin."
Ameeza terkekeh samar.
"Lo jago banget berantem, yah?" tanya Arian penasaran. Pasalnya pukulan Ameeza tadi bukanlah pukulan seorang amatir. Arian bisa menilai, sepertinya Ameeza lumayan mahir berkelahi, walau tidak mahir sekali. Tapi, lumayanlah.
Ameeza tersenyum. "Yah, gak juga." Ameeza memasang tampang sedang berpikir. "Ah, gue beberapa minggu ini suka ikut Kak Angga latihan boxing. Sekalian belajar boxing si."
"Gila."
"Ada yang mau diomongin?"
Arian mengangguk. "Duduk di sana dulu," tunjuk Arian pada bangku di depan kelas.
Ameeza mengangguk.
Keduanya duduk. Menatap Area sekitar sekolah yang cukup sepi. Sepertinya sudah mulai KBM lagi.
"Cepet," desak Ameeza. Ia juga takut kepergok oleh guru.
"Lo tahu gak cewek rambut sebahu yang lagi deket sama Erga?"
Ameeza langsung terpikirkan satu nama. "Molla?"
"Mungkin."
"Kenapa?"
"Soalnya kemarin Molla nyamperin Erga. Dan kayaknya mereka deket banget gitu. Gue ngerasa ada yang beda dari sikap Erga. Yah beda aja gitu. Kalau sama Molla kayak lebih terbuka aja."
Ameeza menggangguk. "Iyah kayaknya mereka deket, kemarin-kemarin gue sempet buntutin mereka. Bahkan Erga sama Molla ngobrol banyak dan terakhir Erga meluk Molla," cerita Ameeza setengah hati. Sejujurnya ia tidak mau menceritakan ini. Tapi, ia hanya tidak mau Arian berpikir Ameeza perempuan pencemburu.
"Lo gak cemburu?"
"Entah."
"Cemburu kayaknya, nih," goda Arian.
Tatapan Ameeza menajam. "Mau gue tonjok lagi?"
"Gue tonjok balik, sih."
Ameeza hanya menghela napas menanggapi jawaban Arian.
"Jadi, lo mau tetep merjuangin Erga?"
Ameeza mengangkat bahu. "Tergantung situasi. Yah, kalau gak memungkinkan gue gak bakalan bilang. Gue gak mau terlalu larut sama perasaan konyol ini." Ameeza tersenyum miring. "Yah, lo ngertilah gue ini cewek kayak gimana."
"Yah, lo cewek bar-bar dan kayaknya realistis banget."
Ameeza tersenyum paksa. "Iya."
Gue gak bakal maksa sesuatu hal yang gak mungkin bisa gue gapai. Terlalu konyol kalau gue maksa terlalu keras.
Walau yang namanya patah hati pasti ada.
...-oOo-...