Siapa sangka tulisan dongengnya yang ia tulis diblog, menjadi penolong seorang remaja yang tengah putus asa. Sejak saat itu Jiva Arunika menjadi sahabat online Kai Gentala Bhalendra, akankah hubungan keduanya berlanjut hingga ke dunia nyata?
Cerita selengkapnya hanya di novel Sang Pendongeng ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Kunjungan Cempaka
"Saya sudah membaca data pembelian tanah tahun lalu, tak ada masalah semuanya dilakukan sesuai prosedur. Jadi apa yang kalian permasalahkan?" Gema menyodorkan data yang ia dapatkan dari stafnya.
Gala memeriksanya dengan teliti, tak lama kemudian ia langsung menemukan akar masalahnya. "Data Anda tidak sesuai dengan uang yang petani ini terima, Pak Gema." Gala menyodorkan bukti pembayaran lahan dari perusahaan Maharaja Group.
"Kalian sengaja membayar lebih rendah dari harga pasar, dengan iming-iming memperkerjakan mereka di lahan yang mereka jual dengan gaji yang besar," lanjut Gala.
"Itu tidak mungkin," sangkal Gema. "Aku tidak pernah membuat mekanisme seperti itu." Meski saat itu ia masih tinggal di New York, namun segala keputusan Maharaja Group yang berada Indonesia tetap berada di bawah wewenangnya.
"Tapi ini semua bukti-buktinya," Gala kembali menyodorkan bukti-bukti bahwa para petani pernah bekerja di bawah manajemen Maharaja Group, namun hal tersebut tidak berlangsung lama, secara sepihak Maharaja Group memberhentikan mereka. "Untuk itulah kami ingin meminta sisa pembayaran tanah dan kejelasan soal kontrak kerja itu."
Meski Gema sudah melihat bukti-bukti tersebut, Gema tidak bisa langsung mengambil keputusan, ia ingin mempelajarinya lebih lanjut, ia ingin tahu siapa dalang di balik semua ini. "Baiklah, pengaduan kalian Saya terima. Saya akan mendalami masalah ini lebih jauh. Jika memang kami terbukti tidak membayar sesuai dengan harga tanah saat itu, kami akan segera membayar kekurangannya. Tapi jika tidak, maka kami akan menuntut kalian karena telah membuat keributan dan mencemarkan nama baik perusahaan."
"Jadi Anda menuduh kami berbohong?" tanya salah seorang perwakilan petani dengan nada kesal.
"Tidak. Saya akan berada di pihak yang netral sampai Saya mengetahui semuanya dengan jelas."
"Apa jaminannya Anda berada di posisi netral?" sahut Gita. "Bagaimana jika nantinya Anda mengelak dan malah menuntut kami."
Gema menatap Gita dengan tatapan tajam, begitu pula dengan Gita yang seolah tak gentar dengan tatapan Gema. "Aku adalah seorang yang profesional, dalam berbisnis aku tidak pernah mengambil hak orang lain."
"Berapa lama?" tanya Gala.
Mata Gema beralih ke Gala. "Tidak sampai 24 jam aku akan menghubungimu," ia besiap beranjak dari tempat duduknya, namun Gala seolah masih tidak puas, ia kembali menyakan soal kontrak kerja para petani. "Apa tidak bisa mereka tetap bekerja di lahan mereka sendiri? Lahan tersebut sudah turun temurun mereka miliki, mereka tidak akan menuntut gaji tinggi asalkan masih bisa tetap berada di sana. Lagipula, sebetulnya mereka tak berniat menjual. Hanya saja pihak Anda yang seolah-olah mengatakan ini demi kepentingan bangsa, mereka terpaksa menjualnya."
"Untuk yang satu itu Saya tidak bisa. 80% pengolahan perkebunan sudah menggunakan teknologi, kami tidak memerlukan banyak tenaga manusia." Gala berjalan menuju pintu.
"Jadi teknologi yang kalian kembangankan memang bertujuan untuk menyingkirkan rakyat kecil?" Gala menaikan nada bicaranya, ia meminta Gema untuk tidak pergi begitu saja karena ia berharap Gema bukan hanya harus bertanggung jawab soal sisa pembayaran tanah tapi harus memikirkan nasib para petani yang kini menganggur.
Gema bebalik. "Kita tidak bisa menyalahkan teknologi yang terus bergerak maju, yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi agar kita tetap bisa bertahan dan berjalan beriringan dengan teknologi. Bukan begitu Nona Gita? Anda sedang belajar Computer Science kan?" Gema tersenyum simpul sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan ruang meeting dan kembali ke ruang kerjanya.
***
Menjelang sore Rendi menggelar rapat insidental, ia terlihat begitu marah mengenai berita yang berseliweran di media sosial akibat unjuk rasa yang terjadi siang tadi. Reputasi baik yang di bangun perusahaannya, sekita tercoreng karena pemberitaan tersebut.
Kai tersenyum sinis mendengar ocehan Rendi, ia kemudian beranjak dari tempat duduknya setelah 10 menit berada di sana. "Si bodoh itu yang sudah membuat kekacauan ini," tunjuk Kai pada Glen, membuat seisi ruangan menoleh pada Glen termasuk Rendi.
"Dia sudah korupsi dan membohongi para petani, suruh dia bertanggung jawab atas kesalahannya." Kai berjalan mendekati Glen. "Kalau mau korupsi pakai otak!" bisik Kai. "Dasar bodoh." ia pun keluar dari ruangan.
Tak butuh waktu lama bagi Kai untuk mengungkap akar masalah dan dalang dari kejadian ini, dari awal ia sudah menduga bahwa pelakunya adalah saudara tirinya sendiri. Sesuai dengan janjinya, ia pun sudah mengganti sisa pembayaran yang masih menjadi tanggung jawab perusahaannya.
Sebagai gantinya, Glen tidak akan terima gaji sesuai jumlah kerugian perusahaan. Kai juga sudah meminta stafnya membuat pernyataan klarifikasi mengenai masalah ini dan menyatakan masalah ini sudah selesai dengan baik, agar reputasi perusahaan kembali membaik.
Hari ini sangat melelahkan bagi Kai, ingin rasanya ia pergi ke rumah nenek Cempaka. Tapi melihat raut wajah Gita yang seolah menujukan kemarahannya setelah mengetahui ia sudah tidak lagi menggunakan nama Bhalendra, dan Kai pun merasa tidak pantas berada di sana.
Ia telah mengkhianati keluarga ayahnya, Kai yakin jika nenek Cempaka tahu. Wanita tua itu akan sedih dan marah padanya, untuk itulah Kai mengurungkan niatnya untuk datang menemui Cempaka.
Kai kembali ke apartemennya dengan perasaan sedih, ia tak menyangka akhirnya orang-orang termasuk Gita mengetahui siapa dirinya, dan kemungkinan sebentar lagi neneknya pun tahu dari media. "Gigi, putarkan musik untukku," ucap Kai pada robot AI ketika ia memasuki unit apartemennya.
"Hari ini sepertinya suasana hati Anda sedang galau, saya akan memutarkan lagu Fur Elise karya Beethoven untuk menenangkan hati Anda."
"Tidak!" cegah Kai. "Aku tidak mau lagu itu, itu lagu kesukaan ayahku." Kai semakin merasa bersalah.
"Baiklah, bagaimana jika sekali-kali Anda mendengarkan lagu lokal. Mungkin lagu dangdut bisa menghibur Anda." Seketika unit apartemen terdengar ramai oleh lagu remix dangdut yang Gigi putarkan untuknya.
Belum sempat Kai protes, dering ponselnya mengalihkan perhatiannya. Gigi pun secara otomatis menurunkan volumenya, saat Kai mengangkat telepon yang tak ia kenal. "Hallo," ucap Kai hati-hati, ia merasa tak pernah memberi nomornya kepada orang asing.
"Ini aku Gita, apa aku mengganggumu?"
Raut wajah Kai yang semula murung berubah menjadi senang mendengar suara Gita, dan seketika Gigi yang melihat perubahan tersebut kembali menaikan volume lagu yang sedang di putarnya hingga Gita bisa mendengarnya.
"Kai, kau sedang dangdutan?"
"GIGI, HENTIKAN!!" teriak Kai.
"Kai, kau sedang sibuk?"
"Ti-tidak, itu hanya robot."
"Robot?"
"Robot AI. Dia sedang gila memutar lagu sembarangan, sepertinya dia minta di ganti ."
"Saya tidak gila. Perubahan raut wajah Anda yang membuat saya bersemangat menaikan volume suara musik yang Anda inginkan," protes Gigi.
"Sudahku katakan diam..." ucap Kai kesal.
Gita hampir terkekeh mendengarnya. "Aku tidak bermaksud mengganggumu dangdutan, aku hanya ingin mengantar nenek menemuimu, beliau memasak banyak untukmu. Dimana alamatmu? Bisa kah kau share location?"
"Kalian mau kesini?" Kai semakin sumringah. "Baiklah aku akan kirimkan alamatnya sekarang juga."
Atau kalaupun emang benaran ada, apa yang membuatnya langsung tertarik sama Gita? 😕
galaa semoga kamu cepat balik pulang
kasihan banget kamu kiranaa