Tiara Putri harus membesarkan keponakannya yang bernama Bintang, karena kakaknya -Rani- yang merupakan ibu kandung Bintang, telah meninggal. Tiara sangat menyayangi Bintang hingga rela bekerja siang dan malam demi bisa mencukupi kebutuhan anak sambungnya itu. Namun tiba-tiba muncul seorang lelaki bernama Troy Richard Kardinal yang mengaku sebagai mantan pacar Rani dan ayah biologis Bintang. Dia menginginkan Bintang dan akan merebutnya dari Tiara.
Akhirnya demi bisa terus bersama Bintang, Tiara terpaksa menikahi Troy.
Bagaimanakah lika liku kehidupan pernikahan pasangan tanpa cinta itu? akankah cinta tumbuh di antara keduanya suatu saat nanti? yuk, ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Troy.
Tia membuka matanya perlahan karena terusik suara dentingan sendok yang beradu dengan gelas.
"Hmmm... ah! aduuuhhh aku lupa..." Tia mencoba meregangkan badanya, namun tiba-tiba rasa sakit menyerang perutnya, tepatnya di bagian yang kemarin baru di operasi.
"Sshhh... aduduhhh..." rintih Tia sambil meringis.
"Kenapa? ada apa?" Troy mendekat sambil membawa secangkir teh dan piring berisi beberapa kukis.
"Eh.. lukaku sakit waktu aku meregangkan badan barusan..." jawab Tia sambil nyengir.
"Hmmm..." Troy menghela napas, lalu meletakkan cangkir teh dan piring kukis di meja kecil sebelah ranjang Tia.
"Minum teh dulu, kukisnya d celupkan ke teh, biar lembut. Kamu belum boleh makan yang kasar-kasar," ucap Troy. Dia menekan tombol yang ada di sebelah ranjang Tia, dan tak lama, secara perlahan tapi pasti ujung ranjang bagian kepala Tia mulai naik hingga posisi Tia seperti sedang duduk.
"Waow..." seru Tia takjub. "Ranjangnya keren banget!"
Setelah meletakkan meja lipat di depan Tia, Troy meletakkan cangkir teh dan kukis tadi di sana.
"Makan cemilan dulu sambil menunggu sarapan datang," ucap Troy, lalu bergegas menuju kamar mandi.
Tia menyeruput tehnya sambil tersenyum, "kapan lagi bisa di layani sama CEO, hehehe..."
Tiba-tiba Troy muncul sambil membawa baskom kecil berisi air hangat dan sebuah handuk kecil.
"Ayo, aku seka badanmu..." ucapnya sambil meletakkan baskom di meja.
Troy ingat sekali, dahulu saat dia sakit, Rani merawatnya dengan begitu telaten. Dia menyediakan air hangat dan membasuh tubuh Troy dengan handuk kecil, hingga Troy merasa nyaman. Jadi sedikit banyak, Troy sudah belajar dari Rani cara merawat orang sakit, dan sekarang dia memperaktekkannya pada adik Rani sendiri.
"Gila ya! ngapain kamu mau seka badanku!" Tia menyilangkan tangannya di dada sambil melotot ke arah Troy.
Troy terdiam, lalu tersenyum malu. "Maaf... ini ku letakkan di sini saja, kau bisa bersih-bersih sendiri, ya."
"Aku mau ke kamar mandi aja..." Tia berusaha turun dari ranjang dan dengan cekatan, Troy mendekat untuk membantunya.
"Tapi kamu belum boleh mandi, bagian yang di operasi nggak boleh kena air dulu," ingat Troy.
"Iya, aku nggak mandi, cuma mau keramas aja. Rasanya jijik ada bau orang itu terus tercium. Kayaknya rambutku kena keringatnya!" kesal Tia.
"Aku bantu..."
"Nggak usah!" Tia berusaha menjauh dari Troy, dia terus mendorong tubuh kekar Troy yang tak juga mau menjauh darinya. Bukannya menjauh, Troy malah makin mendekat, dan dalam hitungan detik, Tia sudah berada dalam gendongannya.
"Aakh! apa-apaan!" pekik Tia yang terkejut setengah mati. Dia seperti sedang naik kora-kora! tiba-tiba di ayun tanpa aba-aba.
"Turunkan aku!" kesal Tia sambil memukuli dada Troy.
"Aku bopong sampai ke kamar mandi," ucap Troy sambil berjalan pelan menuju kamar mandi dan tetap membopong Tia, seperti pangeran yang sedang membopong seorang putri.
"Kaki ku masih bisa berjalan! aku mau jalan sendiri!" tolak Tia, sambil berusaha turun. Namun apalah daya, tubuh Tia begitu mungil jika di bandingkan dengan tubuh Troy yang tinggi besar plus kekar.
"Turunin, nggak! aku pukul nih!" ancam Tia.
"Pukul saja, pukulanmu nggak ada rasanya, kayak di gigit semut," jawab Troy dengan santai.
"Aku cubit, nih!" Tia mencoba mencubiti dada Troy. Namun apalah daya, dada Troy begitu kencang, sulit sekali untuk mencubit nya.
Troy tersenyum geli melihat Tia yang kebingungan.
"Jangan di elus bagian itu... bahaya," Troy berusaha mengingatkan saat Tia terus mencoba mencubiti nya hingga kebagian sensitif Troy.
Tia kesal, dia mencoba mencubiti Troy, malah di bilang mengelus? "oke, kali ini kamu pasti menurut!" Tia mulai menggelitik Troy dan sontak Troy terkejut.
"Jangan! Tia! jangan! Please!" Troy menggeliat-geliat karena kelitikan Tia.
"Nanti kau bisa jatuh!"
"Makanya turunin..."
"Ehem! ehem! maaf mengganggu waktu bahagia kalian..." ucap seseorang dari pintu sambil mengetuknya beberapa kali.
Tia dan Troy spontan menoleh dan terkejut saat melihat, Okta, Prita dan Bintang berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan mereka berdua.
Troy langsung menurunkan Tia, dan Tia bergegas masuk ke dalam kamar mandi walaupun sambil terseok-seok.
"Ck, ck, ck..." Okta berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku kira keadaan gawat darurat, ternyata kalian mesra-mesraan... sia-sia ke khawatiran ku semalaman!" kesal Okta sambil duduk di sofa. Dia menyilangkan tangan di dada, dan juga mengangkat satu kakinya sambil memperhatikan Troy yang tampak salah tingkah.
"Ah-anak Papa..." Troy mendekati Bintang lalu menggendongnya. "Bintang, sehat? nggak ada yang sakit, kan?"
Bintang menggelengkan kepala sambil terus menatap Papanya.
"Cih! pengalihan isu!" celetuk Okta.
"Papa... Mama... kapan pulang? Bintang nggak mau di rumah tante Prita..." rengek Bintang.
"Bintang mau sama Mama Papa!" ucapnya sambil melingkarkan tangan mungilnya di leher Troy.
"Bintang takut..." ucapnya lagi sambil di ikuti isak tangis.
"Nanti, Papa tanya dokter dulu ya, kapan Mama boleh pulang."
"Kalau begitu, Bintang ikut tidur di sini saja..." rengeknya.
"Iya.. iya..." Troy mencoba menenangkan Bintang sambil mengelus punggungnya dan memeluknya dengan erat.
Okta tersenyum melihat pemandangan ayah dan anak yang sangat manis itu, dia tak menyangka jika Troy memiliki jiwa kebapakan yang tinggi. Dia pikir selama ini, Troy adalah orang yang tegas dan kaku. Okta benar-benar tak menyangka, Troy bisa sangat lembut dan hangat pada anak-anak. Ini adalah hal baru yang di ketahui Okta selama sepuluh tahun berteman dengan Troy.
Sedangkan Prita yang sedari tadi berdiri di pintu, perlahan-lahan berjalan menuju toilet untuk menemui Tia, siapa tau Tia membutuhkan bantuannya.
"Tia? lu mau di bantu nggak?" bisiknya sambil sedikit membuka pintu kamar mandi.
"Iya Prita, tolongin keramasin rambut gue... gatel banget ini udah 3 hari belom keramas," pinta Tia memelas.
Prita mendekat dan mulai menggosok rambut Tia dengan shampo. Tia sendiri duduk di atas kloset duduk dengan posisi kepala sedikit ke depan, agar air tak turun ke tubuh Tia.
"Kalian lagi ngapain, tadi?" tanya Prita penasaran.
"Nggak lagi ngapa-ngapain, kok."
"Masa sih? tapi tadi yang aku lihat, kalian berdua kaya suami istri yang lagi bercengkrama. Apa itu tadi, kamu menggerayangi tubuh Pak Troy yang sangat atletis. Kamu sebegitu penasarannya ya? sampai berani pegang-pegang begitu!"
'Srot!!!'
"Akh!" Prita menjerit terkejut, karena Tia tiba-tiba menyemprot nya dengan jet shower.
"Jaga mulutmu, cuprit!"
Prita terkekeh, "aku juga mau kali, ajak-ajaklah!" ucap Prita kesal sambil menjambak pelan rambut Tia yang penuh busa shampo.
"Adduuhhh!" pekik Tia. "Sakiit..."
"Kenapa? apa yang sakit?!" tiba-tiba Troy menerobos masuk ke dalam toilet dengan wajah yang nampak khawatir. Diikuti teriakan Tia dan Prita yang terkejut.
"Mesum!" teriak mereka berdua bersamaan sambil melempari Troy dengan botol sampo.
dan untuk keluarga Tiroy semoga bahagia selalu dan punya anak yg banyak biar rumah kalian rame 🥰🥰🥰
Happy Ending ya author.. ♥️♥️♥️♥️♥️
Makasiii.. 😘😘😘😘😘
♥️♥️♥️♥️♥️