Rere Deswaldy gadis berusia 18 tahun, dengan tinggal badan 148 cm, yg hidup bersama nenek dan kakeknya. Rere harus mengantikan nenek bekerja di sebuah perumahan mewah sebagai art, karena kakek sedang mengalami sakit keras. Rere bersekolah dan bekerja, demi biaya pengobatan kakek dan juga pendidikan nya. Sewaktu SMP Rere sudah bertunangan dengan kepala sekolahnya, namun, sayang takdir berkata lain. Sang kekasih menikah dengan wanita lain.
Di usianya yg masih belia Rere harus menikah secara sirih dengan Zizan (sang majikan) kerana sebuah kecelakaan. Pernikahan yg Rere jalani tidak bertahan lama. Dan hadirnya Azam seorang ustadz terkenal duda anak 1
Dapatkah meluluhkan dan menerima masa lalu Rere?.. Dan apa kah kekasih di masa lalunya kembali Hadir?..
penasaran dengan cerita selanjutnya???
yuk simak ceritanya sampai selesai 😊
Terimakasih yg sudah memberikan Like dan Komennya🙏🏻😊
semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. (aamiin ya rabbal alamin)
Ig: @Riairawati13
fb: Ria ira
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria irawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 33
Tiba saatnya Rere untuk berangkat ke jakarta di antar oleh embok dan juga Hakim. Hakim memaksa untuk mengantar mereka dan akan pulang bersama embok. Sedangkan kakung di rumah di temanin oleh pak ustadz. Rere juga sudah berpamitan pada calon mertuanya itu, mereka sangat sedih dengan keputusan Rere. Mereka sudah mencoba memberikan segalanya untuk Rere. Namun, Rere dan keluarganya bukan orang yang mudah memanfaatkan kebaikan orang lain. Mau tak mau mereka merelakan Rere dengan satu janji.
Ketika lulus SMA nanti Rere tidak boleh bekerja lagi, mereka akan membiayai kuliah Rere jika Rere mau melanjutkan nya. Dan rere harus bersedia untuk menikah dengan Hakim.
Rere menyanggupi permintaan calon mertua nya itu, setidaknya walaupun sedikit nanti nya Rere memiliki tabungan. Yang bisa di pergunakan untuk kebutuhan embok dan kakung. Tanpa harus merepotkan mertuanya.
Rere duduk di kursi depan bersama Hakim, sedangkan embok duduk di kursi belakang, awalnya Rere meminta embok untuk duduk di depan, embok menolaknya.
"kamu saja yang di depan, embok di belakan bisa tiduran ndo" kata embok
Mereka berangkat pagi hari, selama perjalan tangan Rere tak boleh lepas dari lengan Hakim. Hakim lah yang memintanya
Zizan sudah tau jika yang menggantikan embok bekerja adalah Rere. Zizan dan Wulan menerima nya bahkan akan menyekolahkan Rere di sekolah milik keluarga nya. Wulan sangat senang ketika Rere akan tinggal bersamanya.
Sampainya di kediaman Zizan. Zizan tercengang melihat seorang lelaki muda bersama Rere dan embok berada di rumahnya. Laki-laki itu duduk persis di sebelah Rere Biasanya supir trevel tak pernah mengantarnya sampai masuk ke dalam rumah dan ikut duduk
"embok sudah datang" kata Zizan
"sudah tuan" kata embok
"dia siapa mbok?" tanya Zizan
"saya Hakim"
"supir trevel?" kata Zizan
"bukan tuan, dia tunangannya Rere" kata Zizan. Seketika Zizan terbatuk-batuk begitu juga dengan wulan
"kamu udah tunangan re?" tanya wulan. Rere hanya mengangguk kepalanya "sejak kapan?" lanjutnya
"sudah 1 tahun non" kata embok
"astaga kecil-kecil sudah sudah tunangan" kata Wulan. Melihat embok yang sepertinya tertekan wulan langsung meneriskan perkataan "iya sudah lah gapapa, yang penting sekolah mu tidak boleh putus di tengah jalan, jangan nikah dulu biarin Rere menggapai cita-citanya dulu" lanjutnya . Hakim hanya tersenyum
Zizan menatap Hakim dengan dingin dan tak senang. Seolah-olah sedang menatapnya musuhnya.
Selesai merapikan barang-barang Rere embok dan Hakim berpamitan pulang ke desa. Rere merasa sedih, begitu juga dengan Hakim dan embok.
"kamu di sini baik-baik ya, jangan lupa buat ngabarin mas" kata Hakim
"iya mas, mas di jalan hati-hati ya" kata Rere seraya menyalami tangan Hakim dengan menciumnya. Zizan melihat hal itu dari balkon entah kenapa dadanya seperti panas.
Hari ini Wulan menyuruh Rere untuk beristirahat. Untuk makan malam Mereka memesan makanan dari restoran.
Di kamar Rere menatap layar ponselnya, dia sedang melakukan panggilan video dengan Hakim yang masih berada di jalan. Rere menepati kamar embok dulu, padahal Wulan sudah menyuruh Rere untuk tidur di ruang tamu, namun Rere menolaknya.
Mereka melakukan panggilan video hingga Hakim sampai ke rumahnya, dan tiba-tiba Rere menangis.
"rasanya gini ya jauh dari mas" kata Rere
"kalo kamu gk kuat kamu bisa pulang sayang, biar mas jemput" kata Hakim
"iya mas" kata Rere
"hapus air matanya, mas gk mau liat kamu nangis, mas gk kuat rasanya pengin jemput kamu" kata Hakim
"tolong jaga si embok sama kakung ya mas, maaf ngerepotin mas terus" kata Rere
"iya, gapapa sayang" kata Hakim "udah kamu istirahat, mas mau mandi, kamu mau ikut mas mandi?" lanjutnya
"ihh mas ngadi-ngadi aja" kata Rere
Bibi memanggil Rere yang berada di dalam kamarnya.
"neng di panggil sama nyonya, di meja makan" kata bibi
"iya bi" kata Rere
Rere langsung pergi ke meja makan, di atas meja sudah tersedia beberapa macam makan.
"sini re" kata Wulan "kamu duduk di sini, kita makan bareng" lanjutnya seraya menepuk kursi di sebelah kiri Wulan
Mereka makan malam bersama. Wulan melihat cincin melingkar di jari manis Rere, dan mengajukan beberapa pertanyaan yang ada di benaknya.
"kamu kenapa udah tunangan aja si re, kamu kan masih kecil" kata Wulan
"ini cuma pengikat aja kak, toh nikahnya masih lama" kata Rere
"kamu beneran mau nikah sama dia re?" tanya wulan
"iya kak" jawab Rere
Entah mengapa mendengar itu hati Zizan terasa sesak.
"padahal aku mau jodohin kamu sama pengusaha kaya re, gk kalah sama om mu ini" kata Wulan
(uhuk-uhuk-uhuk) Zizan tersedak makanannya.
"pelan-pelan mas" kata Wulan seraya memberikan air minum. Zizan menghabiskan air dalam gelas itu lalu kembali makan
"kalo kamu mau nanti aku kenalin sama dia re" kata Wulan
"gk usah macem-macem dia masih sekolah" kata Zizan
"macem-macem gimana? Orang cuma kenalan doang, lagi pula Rere juga udah tunangan" kata Wulan "kamu suka dia dari apanya si re?" lanjutnya
"mungkin dari karakternya, kepribadiannya kak" kata Rere
"harusnya usia se kamu tuh masih cinta monyet tau re, dia terlalu dewasa buat kamu" kata Wulan
Selesai makan Rere merapikan meja makan dan mencuci semua peralatan makan tadi, meja dan piring rapi Rere balik lagi ke kamarnya.
Rere dan Hakim kembali melakukan panggilan video. Hingga Rere tertidur.
"sebenarnya mas gk bisa jauh dari kamu sayang, mas pengin banget nikahin kamu sekarang biar kita gk LDR-an kaya gini, tapi mas gk bisa egois demi masa depan mu" kata Hakim dalam hati seraya melihat layar ponselnya yang masing melakukan panggilan video. Wajah Rere terlelap. Hakim tidak menutup panggilan itu hingga mereka berdua tertidur.
Subuh-subuh Rere terbangun karena alarm nya berbunyi. Dia meraih ponselnya dan mematikan alarmnya. Rere melihat layar ponsel yang masih terpampang wajah Hakim sedang tidur. Rere tersenyum
"mas, mas, bangun mas sholat subuh" kata Rere
Hakim mendengar seseorang memanggilnya, perlahan-lahan membuka matanya dia melihat ponselnya masih berdiri di sudut kasur bersandar bantal.
"udah bangun sayang" kata Hakim
"udah mas, ayo sholat subuh dulu, aku mau cas hp juga batrei tinggal 20% mas" kata Rere
"iya sayang batrei mas juga tinggal dikit, kalo kamu gk sibuk nanti kita lanjut lagi" kata Hakim
Mereka baru mengakhiri panggilan video di jam setengah lima subuh. Rere segera ke kamar mandi, bersih, wudhu, lalu melaksanakan sholat subuh di kamarnya.
Setelah itu Rere pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk Zizan, Wulan dan dirinya. Karena dulu pernah membantu embok jadi Rere sudah mengerti di mana letak barang-barang untuk masak dan juga bahan-bahan makanannya
Rere menyiapkan satu cangkir kopi yang belum di seduh, susu. Rere juga menyeduh teh manis hangat untuk dirinya tak lupa dengan roti tawar dengan selai coklat. Rere sudah memasak nasi untuk membuat nasi goreng nanti di jam setengah 7 pagi.
Sarapan untuk Zizan dan Wulan di siapkan jam 7 pagi. Subuh-subuh begini mereka masih tertidur jadi Rere memilih untuk sarapan terlebih dahulu karena perutnya juga merasa lapar.