Karena setiap orang memiliki rahasia.
Ellio yang baru sadar dari koma baru tahu bahwa gadis yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup ternyata sudah membagi hatinya untuk orang lain. Patah hati tentu membuat Ellio hampir kehilangan arah. Namun, tekad untuk mendapatkan kembali cintanya mendorong ia lebih keras untuk segera pulih.
Di saat yang sama, ada Putri
yang mencintai Ellio dalam diam. Ia yang hanya berperan sebagai figuran di kisah cinta Ellio dan Shanum. Dia yang selalu ada untuk Ellio, malah menjadi tersangka yang harus di adili untuk kesalahan yang sebenarnya tidak patut di salahkan. Jatuh cinta.
Siapa yang bisa memvonis bahwa jatuh cinta adalah kesalahan ? Mungkin hanya Ellio. Dan, ketika Ellio baru menyadari arti kehadiran Putri, gadis itu sudah pergi. Menghilang seperti permintaan Ellio terakhir kali.
Cinta, benci serta sebuah tahta yang harus di teruskan, bagaimana kisah ini akan berakhir ?
Baca juga :
~Bima & Ellena : Pernikahan Kontrak
~Senja di Moorea
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSP#33
"Put ! Menurut kamu, Shanum sama aku cocok nggak sih ?" Tanya Ellio sambil mendongakkan kepalanya menatap Putri yang sedang mendorong kursi roda miliknya. Senyum kecil tampak menghiasi wajah tampan yang perlahan mulai terlihat segar itu.
"Cocok." Angguk gadis itu balas tersenyum. Putri kemudian menghentikan kursi roda Ellio di pinggir lorong rumah sakit sebelum dirinya sendiri duduk di salah satu bangku yang berjejer sepanjang lorong.
"Kok kita berhenti di sini ?" Tanya Ellio heran. Dirinya baru saja selesai terapi latihan berjalan dan meminta Putri mengantarnya kembali ke dalam kamar. Namun, yang di lakukan gadis itu justru menghentikan kursi rodanya dan memilih duduk di bangku itu.
"Heheehe." Gadis itu menampilkan cengir kuda andalannya. "Kaki Putri juga pegel tahu." Ucapnya dengan pipi menggembung.
"Dasar Anak kecil !" Sahut Ellio tertawa sambil mengacak rambut Putri.
Putri baru saja merasakan ada ledakan petasan di dalam hatinya. Perlakuan kecil Ellio seperti tadi yang di rasanya begitu manis cukup membuat hati Putri berbunga-bunga. Lihat saja ! Rambutnya yang di sentuh Ellio tidak akan dia cuci untuk satu minggu ke depan.
"Ellio sayang banget ya sama Shanum ?" Gadis itu mengatupkan kedua bibirnya menunggu jawaban dari Ellio.
Pemuda tampan itu tertunduk malu. Secarik senyum lagi-lagi menghias wajah tampannya ketika membayangkan bagaimana rupa dari gadis yang selama ini di cintainya.
"Iya. Aku sayang banget sama dia. Rasanya, asal ada Shanum, apapun yang aku alami bisa dengan mudah aku terima. Buat aku, Shanum itu segalanya. Dan gak akan ada satu perempuan pun di dunia ini yang bisa menggantikan dia di dalam hati aku."
Hati Putri mencelos pedih mendengar perkataan Ellio. Meski dia sudah menduga jawabannya memang akan seperti itu namun, hati Putri tetap saja terasa sakit ketika Ellio mengucapkan dengan lantang melalui mulut pria itu sendiri.
"Ya udah ! Putri anterin ke kamar lagi yuk." Gadis itu berdiri dengan menghiraukan rasa sakit hatinya. Rasa pegal yang tadi dia rasakan sudah menghilang tersapu rasa sakit hati yang jauh lebih perih.
"Kalau kamu masih capek, nanti-nanti aja baliknya. Aku juga belum ngantuk-ngantuk amat kok." Sahut Ellio.
"Nggak. Putri udah nggak capek lagi sekarang. Yuk !" Putri kembali mendorong kursi roda milik Ellio kembali ke kamar pria itu. Dia juga membantu Ellio untuk naik ke atas ranjang dan berbaring.
Terkadang, Ellio merasa bahwa Putri seperti manusia super. Gadis itu tidak pernah mengeluhkan berat badan Ellio jika membantunya untuk berpindah dari tempat tidur ke kursi roda ataupun sebaliknya. Entah karena dia yang sudah kehilangan banyak berat badan selama koma atau gadis itu yang memang memiliki tenaga ekstra.
"Anak kecil !" Panggil Ellio ragu-ragu.
Putri yang sedang mengepak kembali barang-barang bawaannya ke dalam ransel hanya menatap Ellio sambil mengangkat kedua alisnya. " Kenapa ?"
"Aku bisa minta bantuan ke kamu nggak ?"
"Bantuan apa ?"
"Kamu bisa cari tahu hubungan antara Shanum sama Andra sepupunya kak Bima, nggak ?"
Gerakan tangan Putri untuk menutup tasnya terhenti. Matanya membulat tak percaya bahwa Ellio bisa mengetahui keberadaan Andra secepat ini.
"Pak Andra ? Kok Ellio bisa kenal dia ?"
"Sebenarnya, tadi pagi dia sama Shanum datang ke sini."
"Apa ?" Lagi. Putri lagi-lagi terkejut.
Ellio mengangguk sambil menatap tautan jemarinya. " Apa menurut kamu mereka ada hubungan, Put ?"
"Hubungan ? Hubungan apa ?" Ujar Putri berpura-pura tidak tahu. Di lanjutkannya untuk menutup tasnya lalu duduk kembali di atas sofa yang berhadapan dengan brankar Ellio.
"Apa kamu pernah lihat mereka jalan bareng selama ini ?"
"Nggak pernah. Setahu Putri Shanum sama Pak Andra juga gak terlalu akrab. Ngapain mereka jalan bareng ?" Putri mulai menebar kebohongan. Entah ini akan berakhir baik atau buruk, Putri hanya tidak ingin Ellio terluka. Setidaknya, untuk kali ini saja.
"Kamu yakin ?" Tatap Ellio penuh selidik. Seolah sedang meragukan ucapan yang meluncur ragu dari mulut kecil Putri.
"Ya iyalah. Masa' Ellio gak percaya sama Putri sih ?"
"Kalau gitu, apa aku bisa minta sesuatu ke kamu ?"
"Apa ?"
"Tolong awasi Andra sama Shanum selama aku masih di rumah sakit. Kabari aku kalau kamu dapat sesuatu yang mencurigakan di antara mereka. Kamu mau kan ?"
Hati Putri kini mulai bimbang. Apa yang harus di lakukannya dalam situasi sesulit ini ? Jika Putri menolak permintaan Ellio, pasti pemuda itu akan merasa sedih. Dan tentu saja, Putri tidak ingin melihat hal itu. Namun, jika dia mengiyakan permintaan Ellio, apa yang harus dia katakan pada Shanum ? Shanum pasti akan lebih membencinya di banding saat terakhir mereka berseteru.
"Put ? Kamu nggak mau ya ?" Ellio bertanya dengan raut wajah kecewa. Dia bisa mengerti jika Putri tidak mau. Memangnya, dia siapa sampai-sampai harus di patuhi Putri layaknya raja.
Sementara Putri, demi menghapus raut wajah kecewa yang tersirat di wajah pemuda tampan itu, terpaksa mengambil langkah beresiko dengan mengiyakan permintaan pria itu. Sebuah keputusan yang akan menggoreskan luka terparah di hati gadis polos nan imut itu.
"Putri mau." Gadis itu tersenyum meski hatinya merasa hancur.
"Makasih ya, Put ! Kamu memang sahabat yang baik."
Sahabat ? Miris sekali Putri mendengar kata itu. Wajahnya tersenyum menanggapi perkataan Ellio meskipun hatinya merasakan nyeri yang luar biasa. Cinta dalam diam yang sedang dia lakoni sendiri perlahan-lahan semakin menghancurkan dirinya dari dalam. Putri terlalu lemah untuk bisa mengakui perasaannya. Sementara Ellio tak pernah peka sedikit pun dalam memahami bahasa hati yang Putri sampaikan melalui tingkah lakunya yang tulus.
* * *
Hanya gelap yang menyambut kepulangan gadis berusia 20 tahun yang baru saja tiba di rumah. Ia menyapu setiap keremangan cahaya dengan pandangannya lalu perlahan menyeret langkahnya menuju ke kamar.
Gadis itu meletakkan ransel di atas meja, kemudian menidurkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Air mata yang setengah mati dia tahan di rumah sakit agar tak terjatuh akhirnya bisa dia loloskan tanpa seorang pun yang tahu. Putri meringkuk dalam gelap. Memeluk dirinya sendiri sambil terisak pilu sembari memikirkan nasib yang tak kunjung membaik untuknya.
Gadis itu kemudian mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan bergegas menelepon seseorang.
"Ya, Nak ! Ada apa ? Kok nelpon Bapak malam-malam begini ? Kamu baik-baik aja kan ?"
"Bapak ! Sampai kapan Putri harus hidup dalam kepura-puraan begini ? Aku capek, Pak ! Dada aku udah semakin sesak." Tangis gadis itu putus asa.
"Put, ada apa Nak ?"
"Putri udah benar-benar jatuh cinta sama dia, Pak. Tapi Putri tahu kalau cinta Putri sampai kapan pun nggak akan terbalaskan. Putri harus gimana ? Putri harus ngapain biar rasa sakitnya nggak terlalu dalam ?"
Handoko hanya bisa diam. Pria itu tidak bisa memberikan nasihat yang berarti bagi anak gadisnya yang baru pertama kali jatuh cinta dan patah hati di saat bersamaan. Pria itu hanya bisa tertunduk. Merutuki kegagalannya untuk memberikan bahagia yang selayaknya Putri dapatkan seperti gadis remaja yang lain.
"*Maafkan Bapak, Nak !"
**Ellio***
Putri
murat tau nggk klo putri anak.adimas