Jeyra dan Gevan bagaikan air dan api, yang satu tenang, pendiam, dingin dan cuek.
Sementara yang satunya sangat membara seperti api, Pemarah, angkuh, tak tersentuh.
Namun, keduanya terpaksa harus menikah karena insiden yang membuat Jeyra mengandung ben*h Gevan padahal dia masih duduk di bangku SMA.
Lalu apa yang akan Jeyra lakukan selanjutnya setelah menikahi pemuda yang paling dia benci? Mampukah Jeyra bertahan selama dua ratus tujuh puluh hari di samping Gevan?
"Lima ratus juta dan Lo harus gugu*in kan*ungan Lo!" _Gevan Willson Junior
Plak!
"Pecundang seperti Lo memang harus di kasih pelajaran! Kita liat siapa yang akan menang di antara kita! Coba hentikan kegilaan gue kalo Lo bisa, karena kehancuran Lo akan segera di mulai, Gevan Willson Junior!" _Jeyra Naomi Domani
"Bukan Gevan yang akan hancur! Tapi Lo, Jeyra!" _Aleana Glover
"Akan ku pastikan kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai, Jeyra." _Ravendra Askaraja_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memergoki Ravendra dan Jeyra.
Ravendra tersenyum gemas melihat tingkah lucu Jeyra. Padahal Ravendra tidak ingin melakukan apa-apa pada Jeyra. Pemuda itu hanya ingin menunjukkan sesuatu padanya.
"Gue nggak akan ngapa-ngapain Lo, Jey. Gue mau nunjukin Lo sesuatu! Kalo Lo nggak keberatan, apa Lo bisa noleh?" ucap Ravendra sambil terkekeh kecil.
Jeyra perlahan-lahan membuka matanya, mengatur nafas agar tidak terlihat gugup di hadapan Ravendra. Setelah itu barulah Jeyra membalikkan badannya melihat Ravendra yang saat ini sudah telanjang dada.
Untuk menghilangkan kecanggungan Jeyra mendeham agar suasananya juga tidak kaku.
"Apa yang mau Lo tunjukkin? Kenapa harus buka baju!" ucap Jeyra yang masih malu-malu menatap tubuh Ravendra.
"Kalo Lo buka mata Lo dengan benar, Lo akan tahu apa yang mau gue tunjukin, Jeyra." jawab Ravendra.
Jeyra lalu mengangkat kepalanya dan benar-benar menatap tubuh Ravendra yang terlihat sangat seksi dan atletis. Sungguh gila! Jeyra malah terpesona melihat lekuk tubuh Ravendra yang begitu perfeksionis. Hingga beberapa detik kemudian Jeyra tersadar dan barulah dia mengerti apa maksud Ravendra.
"Luka jahitan? Lo kenapa, Raven? Kenapa banyak luka jahitan dan sayatan!" Refleks Jeyra mendekat ke arah Ravendra sambil menyentuh bekas jahitan yang ada pada perut Ravendra.
Saat Jeyra menyentuh bagian tubuhnya, ada rasa geli yang Ravendra rasakan. Namun, sebisa mungkin dia menahan rasanya agar Jeyra tidak merasa canggung.
"Ya ampun! Sorry .. sorry, gue refleks!"
Jeyra segera memundurkan tubuhnya setelah sadar dia sudah menyentuh Ravendra.
Ravendra menelan salivanya dengan cepat, "Nggak apa-apa kok, mm semua luka yang ada di tubuh gue itu semua ulah nyokap gue, Jey. Dari kecil nyokap emang udah nggak suka sama gue, alasannya karena gue nggak sengaja bikin kakak gue meninggal pas gue masih kecil." jelas Ravendra yang kemudian memakai kembali baju miliknya.
Jeyra kemudian teringat dengan dirinya sendiri yang di benci habis-habisan oleh orang tua Clara karena mereka anggap Jeyra adalah penyebab kematian putrinya.
Ravendra mendeham. "Jey, Lo oke kan?"
Jeyra segera tersadar.
"Jadi maksudnya, nyokap Lo melampiaskan semua kesedihan dia sama Lo? Tapi penyebab kematian kakak Lo apa?"
Jeyra semakin penasaran dan semakin ingin tahu tentang masa lalu Ravendra. Menurutnya ini kisah yang unik, ini seperti cerita novel yang di tulis oleh orang gila yang membuatnya semakin rumit namun menarik.
Ravendra menyunggingkan senyumannya, "Lo tertarik sama kisah gue, hum?" goda Ravendra.
Jeyra menarik kedua alisnya sambil mengernyit malu.
"Karena Lo udah terlanjur bilang, jadi kenapa nggak sekalian aja Lo jelasin biar gue ngerti!" cetus Jeyra sambil menggaruk kepala bagian belakang yang tidak terasa gatal.
"Kalo gitu kita bahas ini sambil minum dan makan, gimana? Gue haus kalo harus jelasin semuanya sama Lo! Bisa-bisa cerita gue berakhir besok." goda Ravendra lagi sambil membuka kulkas yang berisi banyak makanan.
Melihat makanan yang ada di dalam kulkas Ravendra, tiba-tiba saja perutnya berbunyi dan Jeyra merasa lapar.
"Lo juga belum makan apa-apa dari semalem, Jey. Gue buatin spaghetti atau steak, mau?"
Jeyra menganggukkan kepalanya tanpa ragu sambil tersenyum lebar.
"Mau banget! Udah lama juga gue nggak makan makanan yang enak!" seru Jeyra tanpa malu.
Ravendra semakin gemas melihat tingkah Jeyra yang semakin hari semakin lucu. Jeyra juga tidak pernah menunjukkan sikap jaim. Dia terlihat apa adanya.
"Kalo gitu mau bantu gue potong kentang?" tawar Ravendra.
"Dengan senang hati!" jawab Jeyra yang kemudian meletakkan tasnya kembali di atas meja.
Jeyra dan Ravendra kini tertawa lepas setelah menyadari kekonyolan di antara mereka tadi.
Beberapa saat yang lalu keduanya merasa canggung, tapi sekarang Jeyra dan Ravendra mulai akrab dan Jeyra mulai mengerti sifat Ravendra. Mungkin selama ini benar, dia sudah salah menilai Ravendra.
...*****...
Satu jam sudah berakhir, hari ini Jeyra dan Ravendra menghabiskan waktu dengan canda tawa sambil memasak bersama.
"Enak juga masakan Lo! pinter juga masaknya!" puji Jeyra sambil menyantap spaghetti yang baru saja dibuat Ravendra.
Ravendra tersenyum menanggapi pujian Jeyra. "Lo bisa makan apapun yang Lo mau, gue bisa buat makanan apa aja! For information!" sahut Ravendra.
Disaat Ravendra dan Jeyra sedang menikmati hidangan mereka, tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan pintu yang terbuka lebar.
"Raven, Gevan ada di mana.."
Ternyata yang baru saja datang adalah Valerie. Dia sengaja datang ke apartemen Ravendra karena tahu hari ini adalah jadwal Black Devil meeting. Namun, hal yang tak terduga baru saja dia lihat sendiri di hadapannya.
"Oh My God! Lo becanda kan Raven, ngapain cewek aneh ini ada di apartemen Lo!"
Valerie terkejut setengah mati saat melihat wanita yang dia cari-cari beberapa hari ini ternyata ada di apartemen Ravendra.
Ravendra dan Jeyra yang sama-sama terkejut hanya bisa saling menatap tanpa reaksi apapun.
"Lo ngapain di sini, Va?"
Bukannya menjawab pertanyaan Valerie, karena gugup Ravendra malah bertanya balik pada Valerie.
Valerie melotot saat mendengar pertanyaan konyol dari Ravendra. "What? Gue ngapain ada di sini! Lo bukannya jawab pertanyaan gue tapi malah balik tanya gue ngapain ada di sini! Kenapa? Kaget karena kepergok sama gue kalo Lo calling cewek bayaran!" cetus Valerie yang sengaja ingin menjatuhkan harga diri Jeyra di hadapan Ravendra.
"Apaan sih Va, jaga mulut bisa kan!"
Valerie menyeringai. "Jaga mulut? buktinya ada didepan mata ngapain harus jaga mulut segala, oh atau Lo malu karena cewek yang Lo panggil ternyata udah nggak perawan alias udah hamidun?" cetus Valerie lagi hingga membuat Jeyra syok.
"Kenapa Valerie bisa tahu kalo gue lagi hamil?" batin Jeyra.
"Kenapa Jey? kaget gue tahu Lo lagi hamil yang nggak ada bapaknya, hah?"
Mendengar hal yang tidak menyenangkan dari mulut Valerie, jelas Ravendra marah dan menggebrak meja secara spontan agar Valerie tidak sembarang bicara.
"Jaga ucapan Lo! Dia di sini karena gue yang ajak! Lo sendiri ngapain ada di sini?" sentak Ravendra agar gadis di hadapannya tidak mengacau lebih jauh lagi.
Valerie mengerutkan dahinya, "Wow, santai dong! Nggak biasanya Lo ngamuk gini! Gue kesini mau cari Gevan, di mana cowok gue?" tanya Valerie sambil memutar kedua bola matanya dengan malas.
Jeyra mengerutkan keningnya, Gevan? Kenapa Gevan ada di sini? Karena sejak dari tadi tidak ada siapapun di sini, hanya ada dia dan Ravendra. Sedikit aneh jika Valerie mencari Gevan ke apartemen Ravendra, apa mungkin Gevan tadi datang ke sini?
"Mana gue tahu! Ya kali gue urusin dia! Lagian Lo ngapain cari Gevan ke sini sih? Harusnya dia ada di rumahnya kan!" ketus Ravendra tanpa basa-basi.
Valerie kembali terkekeh sambil mendekat ke arah pemuda itu.
"Lo lupa hari ini hari apa? Seharusnya Black Devil meeting di sini kan? Apa jadwalnya udah berubah? Atau tempatnya yang udah berubah! Oh, atau Lo sendiri yang udah lupain hari penting ini saking asyik-asyiknya sama ini cewek, gitu!" tuding Valerie dengan nada di tekan di setiap ucapannya.
Ravendra mengernyit, dia baru ingat ternyata hari ini hari di mana dia harus meeting bersama anggota Black Devil. Valerie benar, Ravendra melupakan hari penting Black Devil karena dia asyik memasak sampai tertawa-tawa bersama Jeyra.
Namun, hari ini dia tidak melihat Gevan atau kedua sahabatnya datang ke sini.
"Gue lupa! Mungkin mereka ada di lantai atas, di apartemen Angkasa!" jawab Ravendra dengan nada lebih kalem.
Dia salah karena sudah membentak Valerie, padahal dia juga salah karena sudah melupakan meeting pentingnya hari ini bersama Black Devil.
Valerie terkekeh keras mendengar ucapan Ravendra. Sejak kapan seorang Ravendra melupakan hari penting Black Devil? Rasanya ini tidak mungkin.
"Raven .. Raven. Kayaknya Lo kena hipnotis ini cewek deh. Setahu gue Ravendra itu paling anti sama cewek. Tapi kali ini gue lihat pemandangan yang tidak seperti biasanya. Oh, atau jangan-jangan Lo kena pelet ini cewek yah makanya Lo sampe lupa sama Black Devil bahkan Lo berani ajak dia datang ke apartemen Lo ini! Ck..ck..ck, Hati-hati sih kalau saran gue!" cetus Valerie sambil berbisik menatap tajam ke arah Jeyra.
Ravendra mendelik.
"Hati-hati sama ucapan Lo, Lo nggak lupa kan siapa Gue?"
jahat banget