"Ons nya dengan nya, tapi aku nikah dengan mu. kenapa kamu mau tanggung jawab atas perbuatan teman mu sendiri?" - Husna Aldina.
"Because I love you" - Dimas Baskara.
....
fyi : autor ga pernah copas/menyalin karya orang lain! semua karya yang autor buat murni dari khayalan+kisah nyata yang di alamin oleh teman-teman autor.
kalau tidak menyukai karya ini atau karya ini terlalu kaku, tolong beri saran bukan makian. tks.
langsung baca aja ya! biar nggak penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Una, kegiatan kamu selama di sekolah itu apa aja ya, nak?" tanya Laura menatap Husna, ia ingin mendengar cerita dari Husna tentang keseharian nya di sekolah.
"Kayak murid pada umum nya Mi, belajar" jawab Husna seadanya.
Laura manggut-manggut mencoba mencari topik lagi agar Husna tak terus menerus diam.
"Una sering kegiatan lomba kah?" tanya Laura di angguki Husna dengan senyum manis.
"Wih ikut lomba apa aja Na?" sahut Bella ikut-ikutan penasaran dengan kemampuan Husna.
"Olimpiade sih biasa nya Kak," balas Husna membuat Laura dan Bella makin antusias dan bertepuk tangan pelan.
"Keren kamu Na, prestasi kamu pasti udah banyak banget. Kamu paling suka olimpiade bidang apa?" tanya Bella membuat Husna tersenyum malu.
"Semua bidang olimp sih Kak" jawab Husna makin membuat Bella takjub.
"Keren deh. Kapan-kapan ajarin Dimas buat belajar ya nak, biar pinter nya nambah dikit" sahut Laura melirik Dimas dengan cibiran.
"Otak Dimas nggak kosong-kosong amat Mi, ada isi nya kok. Cuma ya kapasitas nya aja udah penuh gegara Una" cela Dimas membela diri.
"Kok ke aku?" protes Husna, kenapa nama nya di bawa-bawa ke urusan otak Dimas?
"Iyalah soal nya wajah kamu tu selalu terbayang dan muncul terus di pikiran ku" ujar Dimas melayangkan gombalan maut nya.
Vero berdecak sembari memutar bola mata malas mendengar gombalan dari putra bungsu nya itu.
"Nggak legend gombalan nya, udah basi. Gue udah biasa gombalin Laura pake kata-kata yang begitu nggak ada tuh luluh nya" sahut Langit sesekali melirik sinis ke arah sang istri.
"Yaiyalah, lo kan gombalin nya sambil pake muka triplek lo itu, coba gue nih menghayati" balas Dimas mengurui Langit.
Yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala bila Dimas dan Langit sudah mulai berdebat.
"Oh iya Mi, Una satu minggu lagi akan ikut olimpiade untuk yang terakhir nya" cetus Husna mengalihkan pembicaraan agar tak terdengar lagi perdebatan Dimas dan Langit.
"Terakhir? Kamu mau berenti ikut lomba-lomba begitu, nak?" tanya Laura nampak terkejut.
"Iya Mi, Una mau fokus belajar kan sebentar lagi ujian kelulusan, Una takut waktu nya habis buat lomba-lomba" jawab Husna jujur.
"Udah ngabarin Mama Papa kamu belum?" tanya Laura di jawab gelengan oleh Husna.
"Belum sempat Mi, Mama Papa masih sibuk jadi jarang pegang hp kayak nya" ujar Husna menunduk lesu.
Laura tersenyum tipis. "Nggak apa-apa Sayang, Mami dukung apapun kemauan kamu ya sebagai perwakilan Mama Papa" sahut Laura menyemangati Husna.
"Ada Kak Bell juga, kamu jangan sedih-sedih ya" timpal Bella membuat Husna mendongak dan tersenyum.
"Makasih Mi, Kak Bell" ucap Husna menatap Laura dan Bella bergantian di sertai senyuman.
ᯓᡣ𐭩ֶֶֶֶֶָָָָָ֢֢֢֢֢ᯓᡣ𐭩ֶֶֶֶֶָָָָָ֢֢֢֢֢
Selama seminggu itu, Husna benar-benar fokus dalam belajar untuk mengikuti lomba olimpiade bersama Sinta, Tania, dan Jess.
Hingga pada saat hari nya telah tiba.
Saat sarapan pagi sebelum semua melakukan pekerjaan masing-masing. Husna merasakan perut nya bergejolak ketika mencium bau makanan, walau begitu dia tetap memaksa untuk makan.
Sampai di pertengahan sarapan, Husna sudah tidak bisa lagi menahan diri nya untuk tidak memuntahkan semua isi perut nya di wastafel dapur.
Di bantu Dimas dan Laura yang sama panik nya.
"Kamu nggak apa-apa Na?" tanya Laura setelah Husna berbalik dengan badan lemas.
Husna mengangguk pelan lalu menggeleng pelan, tanpa aba-aba Husna langsung ambruk untung nya Dimas sigap menangkap tubuh Husna.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang Dim!" titah Laura dengan berteriak panik, begitu juga yang lain.
Dimas masih mondar-mandir di depan ruangan UGD, di dalam masih ada Husna yang di periksa oleh dokter.
Tak berselang lama. Dokter pun keluar.
"Dok gimana keadaan istri saya dok?" tanya Dimas tanpa memikirkan hal kedepan nya lagi, padahal dia menggunakan seragam sekolah, apa yang di pikirkan oleh orang lain bila melihat Dimas yang cemas begitu.
"Seperti nya harus di periksa lebih lanjut di dokter obgyn" ucap dokter itu dengan ambigu.
Dimas mengernyit bingung. "Kenapa gitu? Emang nya dokter nggak bisa ya meriksa kenapa istri saya bisa pingsan gitu sampai harus di oper-oper?" tanya Dimas dengan suara sedikit keras.
"Bukan begitu, saya hanya menyarankan karena ini berurusan dengan wanita hamil pada umum nya" jawab dokter itu menjelaskan dengan pelan.
"Hah? Hamil?" cengo Dimas dengan raut tak percaya.
"Kalau tidak percaya bisa saya minta dokter obgyn datang untuk memeriksa lebih detail nya" ucap dokter itu langsung di angguki Dimas.
Laura yang sejak tadi hanya diam mulai menatap Dimas dengan tatapan sulit di jelaskan.
"Kalau Una beneran hamil.. Artinya?" gumam Laura membuat Dimas terdiam.
"Artinya aku bakalan jadi Ayah!" pekik Dimas dengan sumringah.