Arkan Pratama, putra kedua dari pasangan Azel dan Renata. Dia adalah anak tengah yang keberadaannya seringkali di abaikan oleh mereka. Tidak seperti kakak dan adiknya yang mendapatkan kasih sayang dan perlakuan yang berbeda dari orang tuanya. Hingga....
Penasaran?
Akankah Arkan mendapatkan kasih sayang dari keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurFitriAnisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alone S2 (3)
“Anatasya? Tetangga kita? Ah! Anak kecil yang mirip balon itu.” Seru Arief sambil memperhatikan Ana dari atas hingga bawah berulang kali.
“Iya, itu Aku. Sudah lama tidak bertemu, kan, Kak. Ternyata Kak Arief beneran nepatin janji Kakak untuk menungguku kembali ke Indonesia.” Ujar Ana tersenyum manis.
“Bagaimana kabar Kakak?” Tanya Ana.
“Kakak, baik. Menunggu mu? Janji? Apa maksud mu Balon?”
Anatasya, Ana. Ana adalah tetangga dari Pratama bersaudara. Waktu kecil Arief suka mengajaknya bermain, karena Ana tidak memiliki teman ia di jauhi oleh teman-teman seusianya karena fisik Ana yang jelek dan gemuk. Ana akhirnya pindah ke luar negeri saat usianya 7 tahun.
"Yakk! Kak Arief. Aku kembali kesini untuk menangis janji Kakak yang dulu." Geram Ana yang merasa Arief melupakan janjinya.
"Anak-anak dulu mengejek ku jelek dan Aku nangis gak berhenti-henti terus Kakak bilang kalau Aku gadis yang manis dan Kakak janji akan menikahi ku saat aku sudah dewasa." Jelas Ana sambil cemberut.
"Aku pernah berkata seperti itu? Kok Aku gak ingat?" Ujar Arief mengingat-ingat kembali.
"Ihh, Kakak mah... Aku kira Kak Arief masih sendiri sampai sekarang karena menungguku." Ujar Ana menggembungkan pipinya kesal.
"Balon... usia kita terpaut jauh... gak mungkin lah Aku menunggu anak bocah sepertimu." Ujar Arief pelan.
"Aku bukan bocah Kak! Umur ku sudah 21 tahun, Aku berusaha dan berjuang menyelesaikan kuliahku lebih cepat agar bisa segera menemui Kakak." Ujar Ana.
"Dan Aku sudah 33 tahun, Balon. Bukan waktu ku untuk bermain-main dengan anak bocah seperti mu." Ujar Arief.
"Aku juga gak main-main! Ayo kita langsung nikah saja Kak!"
"Hahaha, sangat lucu...." Arief menertawakan ucapan Ana.
"Arhan, Arkan, ayo kita pulang!" Pinta Arief segera berdiri dari duduknya.
"Kak Arief... Aku serius." Tegas Ana.
"Enggak! Aku gak akan mau nikah sama bocah, apa kata teman-teman kantor gue nanti." Tolak Arief.
"Tuhan itu sudah ciptain Kakak untuk jadi jodohku, jadi Kak Arief terima takdir aja." Ujar Ana.
"Kalian nemuin nih anak di mana, sih? Datang-datang minta di nikahin?" Tanya Arief yang tak menggubris ucapan Ana.
"Sikat aja, Bang. Mumpung ada yang mau sama Abang. Hahaha." Ujar Arhan Tertawa.
"Tadi dia berhentiin mobil Aku, Bang. Katanya taksi yang di tumpanginya mogok di jalan. Dan jujur Aku kenal, tapi Ana langsung mengenaliku. Dia baru sampai di kota ini makanya Aku ajak dia makan dan nyuruh Arhan buat manggil Abang kemari." Jelas Arkan.
"Aku boleh numpang tinggal di rumah Kakak ya, untuk sementara. Aku baru sampai dan belum ada tempat tinggal." Pinta Ana tiba-tiba.
"Boleh dong, masak iya calon Kakak Ipar saya terlantarkan." Ujar Arhan sambil menggoda Arief.
"Makasih, Kak Arhan." Ujar Ana tersenyum.
"Tidak bisa, Han! Kamar rumah kita sudah penuh." Ujar Arief tidak setuju.
"Jangan jahat gitulah, Bang. Abang gak kasihan sama Dia? Bahayakan anak gadis berkeliaran di jalan." Ujar Arhan.
"Benar tuh, Bang. Biar nanti Dia tidur di kamar Rafi, dan Rafi tidur denganku saja." Saran Arkan.
"Kita gak boleh main masukin orang asing ke dalam rumah begitu saja!" Arief masih kekeh dengan keputusannya.
"Ana, bukan orang asing, tapi calon Kakak Ipar ku." Celetuk Arhan.
"Tutup mulut mu, Arhan...! Abang gak mau berurusan dengan anak bocah sepertinya. Kamu juga tau kan, kalau Abang setiap hari selalu ribut dengan Rafi. Masak mau nambah bocah lagi." Ujar Arief.
"Cuma sementara aja kok, Kak. Setelah aku nemuin apartemen yang cocok, Aku akan langsung pindah." Ujar Ana yang sejak tadi melihat perdebatan Pratama bersaudara.
"Tapi bohong, Aku harus menjadi istri Kak Arief." Batin Ana.
"Sudah gak ada perdebatan lagi. Ana ikutlah dengan Bang Arief dan Arkan pulang, Kak Arkan mau jemput anak Kakak dulu." Ujar Arkan.
"Kak Arkan sudah punya anak?" Tanya Ana kaget.
"Iya." Jawab Arkan tersenyum dan berlalu pergi.
Mansion Reza 🏠
"Paman Reza, di mana Rafi?" Tanya Arkan mencari keberadaan putranya yang tak nampak di ruangan manapun di rumah ini.
"Lagi mandi tuh, di halaman belakang sama grenpa nya." Jawab Reza yang baru saja dari sana.
Arkan segera menghampiri Rafi, di halaman belakang tempat pamannya memelihara beberapa ekor kelinci.
"Astaga...! Rafi, Ayah...." Ujar Arkan terkejut melihat Ayah dan Putranya saat ini.
"Papa!" Teriak Rafi lalu tersenyum girang melihat Papanya datang.
Azel melihat ke arah Arkan. Dirinya hanya tersenyum sembari mengangkat kedua bahunya. Memberikan kode bahwa yang terjadi saat ini bukanlah kesalahannya. Yah, Arkan melihat putranya di dalam bak mandi penuh dengan beberapa ekor kelinci.
"Papa, Rafi boleh bawa kelinci-kelinci ini pulang ya?" Pinta Rafi sambil mengendong salah satu kelinci dengan tubuhnya yang basah.
"Udah Rafi mandiin mereka semua, sudah bersih kok, Papa."
"No, Rafi." Larang Arkan, sambil menggoyangkan jari telunjuknya.
"Tapi, kata Grenpa boleh." Ujar Rafi melirik Azel.
"Di rumah kita gak ada tempat untuk kelinci-kelinci ini, Sayang." Ujar Arkan memberikan alasan.
"Grenpa... boleh kan, Grenpa?" Ujar Rafi dengan mata penuh harap.
"Boleh, tentu saja boleh. Nanti Grenpa belikan rumah buat kelinci-kelinci Rafi." Setuju Azel.
"Yeyyy! Wleee." Seru Rafi yang tak lupa mengejek Papanya.
"Ayah terlalu memanjakan Rafi, itu gak baik Ayah." Ujar Arkan.
"Ada apa Arkan?" Tanya Reza dari belakang mereka.
"Rafi, mau membawa kelinci-kelinci ini pulang, Paman. Lagian Paman ngapain sih, pelihara kelinci segala?" Protes Arkan.
"Kenapa memangnya?! Terserah Paman lah, mau pelihara kelinci kek, Anaconda kek, nyamuk kek, terserah Paman dong."
Arkan langsung terdiam mendengar ucapan Reza yang terdengar seperti rap baginya. Sedangkan Rafi malah tersenyum puas, karena sang Papa yang diam tak berkutik kena rap Grenpa keduanya.
"Tertawa! Kamu ya anak nakal. Tunggu saja di sana, Papa akan menghukum mu." Ujar Arkan dan bergerak perlahan mendekati Rafi.
"No! Tidak Papa." Rafi menciprat-cipratkan air pada Arkan sambil terus tekikik.
Arkan segera mengambil shower dan menyemprotkannya pada Rafi. Rafi keluar dari bak mandi dan berlarian ke sana kemari dan terjadilah kejar-mengejar antara Rafi dan Arkan.
"Mau lari kemana lagi? Papa akan menangkap mu." Ujar Arkan sesaat sebelum berhasil menangkap Rafi.
"Ampun Papa, hahaha." Ujar Rafi tertawa karena telah tertangkap oleh Papanya.
"Rafi, ayo kita serang. Grenpa juga." Ajak Arkan yang telah siap dengan pistol air di tangannya.
"Ayo, Pa! Kita serang Grenpa." Setuju Rafi sambil naik ke punggung Arkan.
"No! Jangan. Grenpa gak mau basah. Grenpa mau bertemu dengan seseorang setelah ini." Ujar Azel menghindar.
"Kita serang Grenpa Reza aja, Pa." Ujar Rafi.
"Jangan... nanti Papa kena rapnya lagi." Ujar Arkan tertawa.
Rafi juga ikut tertawa mendengar ucapan papanya. Sedangkan, Reza dan Azel menepuk jidat, melihat penampakan anak dan ayah yang ada di hadapan mereka.
...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...
. astaga apa akan selamat
Aku pastikan mereka akan menyesal telah tega menyakiti hati dan mentall Arkan.. kan saat itu waktu tak dpat menggantikan penyesalan mereka.