Pernikahan di atas penderitaan terjadi karena perjodohan yang sangat tidak kamu inginkan, namun karena kedua orang tua hanya bisa menerima takdir.
Perjodohan tidak selalu dalam masalah, terkadang salah satu di antara kedua pasangan memiliki perasaan dan simpati yang tidak bisa ia katakan, yang mana bisa membuat dirinya merasa dibakar api cemburu saat melihat pasangannya bertemu dengan teman yang tidak sejenis.
Rasa cemburu membuat seseorang melakukan hal yang tidak di inginkan pasangannya, walaupun dirinya sendiri tidak menginginkannya, namun karena api cemburu yang membakar akal sehatnya membuatnya melakukan hal yang harusnya ia tidak lakukan.
Wanita mana yang tidak sakit hati apabila anak di kandungannya tidak di akui oleh ayahnya sendiri.
"Dia bukan anakku, dia anak lelaki simpanan mu itu,!" teriaknya marah didepan ibu mertuanya.
Kecelakaan terjadi begitu saja karena kelalaian diri sendiri, koma selama beberapa tahun. hingga pada saat sadar semuanya seakan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thalib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadar
Saat melihat Yudha pergi, Gereth merasa bosan dan melihat ke arah Satya, dengan segera ia berlari dan naik ke atas tempat tidur, menarik daun mata Satya.
“Daddy macih punya mata kok, kenapa tidak bica bangun,” ucap Gereth melihat bola mata Satya saat dia menarik kelopak mata Satya.
“Daddy, bangun,” ucap Gereth menggoyang-goyangkan tubuhnya.
“Kenapa ada ini cih,” ucap Gereth merasa terganggu oleh selang oksigen Satya, Gereth menariknya hingga terlepas begitu saja.
“Daddy,” ucap Gereth memukul mukul wajah Satya.
Yudha yang keluar membulatkan matanya melihat Gereth yang ada di tempat tidur, dengan wajah sangat panik dia berlari dan membulatkan matanya melihat semua selang yang menempel pada tubuh Satya terlepas, wajah yang sudah keringat dingin itu segera menarik Gereth turun dari kasur.
“Astaga, apa yang kamu lakukan, ayahmu akan mati,” ucap Yudha marah namun ia tidak mungkin menyalahkan Gereth. Dia yang ceroboh membiarkan Gereth bangun.
Yudha dengan cepat mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter yang selama ini merawat Satya.
“Astaga, apa yang harus aku lakukan,” ucap panik Yudha segera meletakkan telinganya di dada Satya dan masih terdengar suara detukan jantung.
“Syukurlah masih hidup,” ucap Yudha sangat panik.
“Uncle, kenapa nangic,?” Tanya Gereth dengan wajah polosnya.
“Tidak,” saut Yudha segera menghapus air matanya.
“Hahahhaaha Uncle nangic, Cemen,” ucap Gereth.
Wajah yang penuh kepanikan itu terdiam melihat tangan Satya yang bergerak, dia beberapa kali mengucek matanya dan kembali melihatnya.
“Satya,” ucap Yudha menatap serius namun sangat penuh kekhawatiran.
Tiba-tiba Satya membuka matanya membuat Yudha mematung, Yudha seketika terjatuh disana membuat Gereth yang melihatnya kebingungan, Gereth kembi memanjat kasur dan melihat Satya sudah membuka matanya, seketika Gereth berteriak memanggil Ayahnya dan memeluknya.
“DADDYYYYYY....! Daddy cudah bangun,” teriak Gereth sangat senang.
“Tadi adek banguni Daddy, ciapa culuh lama cekali tidul,” ucap Gereth.
“Kamu siapa,?” tanya Satya dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Geleth,” saut Gereth.
“Geleth,?” ucapnya lagi dengan suara yang begitu lemah.
Bu Adriana yang melihat kedatangan dokter bingung, apalagi melihat Dokter tersebut sangat berburu-buru masuk.
“Bukankah kamu cukup mengecek 1 kali dalam sehari,?” tanya Bu Adriana.
“Tadi Pak Yudha menelfon saya jika selang oksigen yang terpasang dan alat alat lainnya terlepas,” ucap Dokter tersebut membuat Bu Adriana begitu syok, dia dengan cepat berlari ke arah kamar di ikuti oleh dokter.
Bu Adriana membuka pintu dan melihat Yudha pingsan di lantai, sedangkan Gereth terlihat memeluk seseorang di atas kasur, air mata Bu Adriana mengalir deras sangat takut jika anaknya akan benar-benar pergi untuk selamanya.
Sebelum sampai didepan sana, langkah Bu Adriana terhenti melihat Satya yang sudah membuka matanya, badannya bergetar hebat.
“Oma, Daddy cudah Geleth bangunkan,” ucap Gereth melambaikan tangannya pada Bu Adriana yang sudah ikut tumbang (pingsan).
Dokter yang melihatnya begitu panik dan bingung siapa yang sebenarnya ia akan sembuhkan, dia dengan cepat melangkah ke arah Satya lebih dulu.
“Tuan sudah sadar? Anda benar-benar sudah sadar,?” tanya Dokter tersebut merasa tak percaya namun tidak mendapat sautan dari Satya, hanya mengedipkan matanya tak sanggup mengeluarkan suara, badannya begitu terasa sangat lelah dan lemas.
Setelah memeriksa keadaan Satya, Dokter kini mengurus kedua orang yang sedang pingsan tersebut. Gereth hanya terus mengoceh pada Yudha yang hanya diam kebingungan menatapnya.
“Aku ayahmu,?” tanya Satya.
“Daddy, kata uncle biar Kelen haluc manggil Daddy,” ucap Gereth.
“Kamu anakku? Kapan aku menikah,? Dan siapa istriku,?” tanya Satya dengan nada pelan, namun Gereth yang tidak mengerti hanya menganggukkan kepalanya.
Yudha membuka matanya, ingatannya kembali pada Satya dan Gereth dengan cepat berdiri dan melihat ke arah kasur.