Ellena Celestia Baskara adalah gadis pewaris tahta keluarga Jarzam, pemilik perusahaan berlian terbesar di negara itu. Tetapi dia harus mengalami peristiwa buruk saat para mafia merampas seluruh hartanya, dan membunuh kedua orangtuanya, dia melarikan diri dan tenggelam di lautan tempat tinggalnya dewa laut, sang dewa menolongnya dan membalik kehidupan Ellena menjadi seorang bayi lagi yang kemudian ditemukan oleh seorang wanita tua.
Para Mafia itu mengejarnya sampai menemukan sebuah kristal biru sumber kekuatan terbesar seluruh lautan di muka bumi ini, dan mereka merampasnya juga, sang dewa murka dan mengirim titisan setengah kekuatannya dalam kristal kapsul kecil bersamaan dengan Ellena yang juga sengaja di masukkan ke dalam sebuah kapsul kristal, lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua kristal itu?
Saksikan kisah selanjutnya hanya di sini, happy reading semuanya ...
Jika membaca tolong tinggalkan jejak ya ges, like, komen, dan vote-nya, thankyouu---haturnuhun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADD Eps 32
Komplotan geng motor yang tergabung dalam tim Atlantis Aodra itu tiba di sebuah villa besar lengkap dengan pagar yang menjulang tinggi di sekeliling bangunan Villa dengan pekarangan yang luas, air mancur di depan rumah itu memiliki desain menyerupai kuda poni yang memiliki sayap.
Enam belas motor menepi di pekarangan Villa besar itu, sehingga para anggota mafia DCN beranjak dari posisinya ke depan untuk memastikan siapa yang datang mengunjungi kediaman bos besar dari komplotan DCN.
Dua puluh lelaki bertubuh besar berjajar di sisi kanan dan kiri, sedangkan Kano dan anggotanya turun dari motor dengan tenang dan beringsut masuk ke dalam Villa itu, mereka menemui Rainero dan Mylan yang termendak di kursi tengah menyantap cemilan manis sambil menonton berita yang ada di televisi.
Melihat kedatangan putra semata wayangnya memasuki Villa bersama teman-temannya, Rainero dan Mylan beranjak dari posisinya, bergulir ke dekat Kano dengan anggota Atlantis Aodra yang ada di belakangnya.
"Apa yang kalian lakukan, kenapa muka kalian begitu tegang?" tanya Rainero setelah dia menyisir semua tatapan tegang yang terurai dari semua anggota Atlantis Aodra tidak termasuk dengan Kano.
Lelaki bermata biru cerah itu nampak tenang dan keratan tegas dari wajahnya semakin berhamburan. Kano menganyam langkahnya untuk mendekati Mylan dan memeluknya dengan erat dalam beberapa detik, yang dia akhiri dengan sebuah kecupan kecil di pelipis orang yang sudah melahirkannya itu.
"Serahkan semuanya," titah Kano pada anggotanya yang menggenggam koper dan surat rumah milik bandar narkoba yang telah tewas.
Ke-empat anggota Atlantis Aodra berayun ke hadapan Rainero, lalu melipir ke samping dan meletakkan empat koper yang berisikan tumpukan uang dan surat rumah itu di atas meja yang berdiri di depan televisi.
"Semua ini milik bandar narkoba itu dan Papi gak perlu mencari di mana lelaki tua yang licik itu," kata Kano bergerak ke sofa dan menganjurkan bokongnya ke atas sofa di belakang Mylan dan Rainero.
Pasangan mafia itu masih terhipnotis oleh tumpukan uang yang diserahkan oleh putra semata wayangnya itu, bahkan Rainero menelan ludahnya tidak menyangka jika putra yang selalu dia gertak untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya dia lakukan itu mampu mewujudkan keinginannya.
"Di mana jasad lelaki tua itu?" tanya Rainero melangkah ke dekat Kano yang baru saja mengangkat satu kakinya ke atas kakinya yang lain.
"Papi lihat aja nanti beritanya di pagi hari, pasti ada berita besar," celetuk Kano dengan entengnya.
Rahang Rainero mengeras, takut putranya melakukan kesalahan yang mengakibatkannya terlibat dalam sebuah masalah yang tidak diinginkannya. Lelaki bertubuh gagah itu melekatkan langkahnya ke dekat Kano.
"Katakan. Di mana kamu menghabisi bandar narkoba itu dengan anak buahnya?" cecar Rainero menuntut jawaban jelas dari Kano.
"Aku tidak membunuh anak buahnya," jawab Kano beranjak dari posisi duduknya, berdiri tegak di hadapan Rainero. "Anak buahnya tidak melakukan kesalahan yang mengakibatkannya pantas untuk menemui kematian lebih dulu, jadi mereka aku bebaskan," terang Kano kemudian.
"Kamu Gila!" sergah Rainero mengerang, rahangnya mengeras dengan kepalan tangan yang membulat begar. "Jika kamu menewaskan bandar narkoba itu, harusnya kamu juga membunuh anak buahnya tanpa terkecuali dan tanpa belas kasihan! Kamu adalah keturunan mafia, tidak ada jiwa kasihan yang tumbuh dalam dirimu, Kano! Kamu telah melakukan kesalahan," sambung Rainero dengan kemarahan yang tergores jelas di wajahnya yang memerah.
Kano menyeringai, lantas dia tertawa kecil di hadapan Papinya, lalu dia berayun ke dekat Mylan, mendekap sang mami dan mendekap wanita berpenampilan seksi itu dari belakang sambil menatapi wajah marah dari Rainero.
"Lihat Mi, Papi kayaknya lupa kalau anaknya itu siapa," bisik Kano di telinga Mylan yang kemudian kembali berdiri tegak dan melangkah ke dekat meja, lalu mengambil satu koper dan surat rumah tersebut.
"Maksud kamu apa? Jelaskan dulu Kano?!" tuntut Rainero semakin mengeras.
"Tanyakan pada Mami, Mami cantikku pasti sangat memahami siapa diriku, karena aku adalah putranya," jawab Kano membingkai senyuman tipisnya sambil beranjak dari sana membawa satu koper berisi uang itu dan surat rumah tersebut. "Aku minta satu koper dan rumah ini, sebagai imbalan ya Pi ...," seru Kano beringsut keluar dari Villa itu.
Rainero mendengkus kasar, lalu dia menghampiri Mylan yang tengah melipat kedua tangannya di depan dengan senyuman tipis, bahkan wanita itu tertawa kecil melihat kemarahan Rainero yang sepertinya akan meledak dalam beberapa detik ke depan.
"Lihat putra kesayanganmu, dia melakukan kesalahan besar sayang ... Kalau kita sampai diinterogasi polisi karena ulahnya bagaimana ...?" tanya Rainero menggebu-gebu menunjuk ke arah di mana Kano dengan anggota Atlantis Aodra enyah dari hadapannya.
"Ayolah sayang ... Kamu ini sama anak sendiri masa lupa," jawab Mylan mendekati Rainero dan melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki berahang keras itu, dia tarik leher suaminya sampai akhirnya dia kecup pipi kiri sang suami. "Dia putraku, lahir dari rahimku yang diberikan kekuatan yang berbeda dari manusia lainnya oleh dewa dan tuhan semesta ini," bisik Mylan membuat membuntang.
Dentuman kekhawatiran yang sedari tadi merajam hatinya, seketika saja semuanya enyah dan mulai terbit sebuah senyuman tipis dari Rainero. Hampir saja dia melupakan hal penting, jika putranya itu memiliki magis yang bahkan Mylan sendiri pun tidak memilikinya.
Di luar bangunan megah itu, Kano memerintah anggotanya untuk berkumpul dan membentuk lingkaran kecil. "Untuk malam ini tugas kalian selesai, dan empat hari lagi kita akan star mengikuti perlombaan balap motor lagi, kali ini akan lomba secara legal, di sirkuit," terang Kano sembari dia membuka koper itu.
"Baik ketua, kami akan mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan itu," sahut Bylan yang ada di samping kanan yang terhalang oleh tiga anggota lainnya.
"Bagus. Kita menghadapai geng motor yang tak kalah kuatnya dengan kita, mereka berasal dari kota ini," beber Kano lagi sambil dia mengambil satu gepok uang berwarna merah itu dan dia lemparkan ke udara lalu dia tangkap lagi sambil dia menyeringai kecil.
"Apa mereka punya skill tertentu ketua?" tanya anggota lain yang diketahui bernama Zai, lelaki itu berdiri di samping Bylan.
"Tidak ada, tidak akan ada kecurangan di sirkuit, saya akan pantau dari monitor, karena ketua tidak diizinkan untuk ikut serta sama anggota," balas Kano. "Sekarang kalian berjajar satu baris dan ambil uang ini satu orang dua gepok," lanjut lelaki bertubuh kekar itu.
Sontak semuanya segera berjajar rapi satu baris dengan senyum cerianya, satu gepok uang itu berjumlah 10jt mata uang negara Lescanara, Kano membagikan uang itu pada anggotanya sama rata, setelah selesai semua anggotanya mengendarai motornya masing-masing dan meninggalkan Kano di sana.
Semua anggota telah pergi, ini saatnya aku kembali ke laut itu sebelum pagi bertandang.
Batin Kano bercengkerama dengan rasa keingintahuan yang kuat mengenai gerbang putih di ujung lautan biru itu.
Tanpa menunggu lama lagi, Kano beranjak mengendarai motornya meninggalkan pekarangan Villa besar milik keluarganya itu. Sebetulnya jarak antara Villa dengan laut biru yang di jaga ketat itu cukup dekat hanya berjarak sekitar lima meter, tetapi Kano mengambil jalur lain untuk masuk ke sana.
Tepat di ruas jalan yang tidak mendapatkan pencahayaan lampu dari pemerintahan, Kano menepikan motornya di sana, dia mengurai helaan napas panjangnya di sana seraya melesatkan kerlingannya menembus pilar putih yang jauh dari jangkauannya saat ini, dia memejamkan matanya untuk mencoba menerawangnya dengan penglihatan batinnya yang tajam.
"Sialan! Tidak bisa, aku tidak bisa menembus pilar itu," gerutu Kano geram dengan kekuatannya yang kali ini tidak berfungsi dengan baik. "Ada apa sebenarnya di sana? Kenapa aku sangat penasaran dengan apa yang ada di sana." Kano semakin gusar, tetapi dia tidak bisa meninggalkan motornya di sana karena pikirnya kepolisian akan segera melacak keberadaan sang bandar narkoba itu.
Jari-jemarinya dengan lihai mencari nomor salah satu anggotanya dan kemudian melakukan panggilan telepon dengan anggotanya yang bernama Bylan. "Ambil motor saya dan bawa ke markas, saya ada urusan," titah Kano yang segera mematikan ponselnya.
Dia tidak perlu banyak basa-basi untuk memerintah anak buahnya, karena seluruh anggotanya akan segera paham dengan apa yang dia inginkan hanya dengan mengucapkan hal barusan. Lantas Kano kembali mengendarai motornya melaju ke depan untuk menyerahkan motornya pada anggotanya.
...----------------...
jangan lupa mampir di novel pertama qu
🙏