Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan, karena Hati yang kaya mungkin berada dibawah Mantel yang buruk, sebelum menilai seseorang, selalu ingat tidak ada orang suci atau Pendosa yang murni.
Menjadi seorang Gangster memang bukan pilihan, namun karena pernah mendapatkan bullyan saat masih menuntut ilmu di negara orang, Ruby Ajeng Apsari nekad masuk dalam sebuah kumpulan Gangster dengan tujuan sebagai perlindungan diri.
Namun diumurnya yang sudah menginjak kepala tiga, mau tidak mau dia harus kembali ke negara asal, bahkan disebuah perkampungan yang jauh dari kata kemewahan, karena Ibunya memilih tinggal di desa untuk menikmati masa tuanya, walau sebenarnya dia punya usaha dan rumah mewah di kota.
Sebenarnya dia sudah nyaman tinggal di negara orang, namun sebelum Ibunya mengamuk dan menjemput langsung ke luar negri, Ruby memilih pulang.
Dan siapa sangka, ternyata tujuan Ibunya menyuruh pulang karena punya niat terselubung, untuk menjodohkan putrinya dengan pemuda desa biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.Secepat itu?
Jika rasa sudah menggebu, seolah jembatan yang akan runtuh pun rela disebrangi, begitu juga dengan Ruby dan Abiseka yang sudah kepalang tanggung melakukan proses pengolahan mie cap dua telor dengan sosis daging super.
"Ahhtaktakdundangdesh."
Baru kali ini Ruby sampai merem melek merasakan nikmat yang tiada tertandingi dengan hal apapun.
"Stthh... jangan keras-keras Dek!" Abiseka semakin ketar-ketir dibuatnya, perasaannya sudah tidak karuan lagi, sebenarnya dia pun sebentar lagi hampir sampai, namun apalah daya suara Bapaknya Ruby telah menghancurkan segalanya dan membuat cairan susu kental amis itu seolah menggumpal tak bisa menyembur keluar.
"Ruby, keluar dulu nak." Teriak Bapak Ruby kembali.
"Gimana ini Bang? aku jawab nggak?" Tanya Ruby yang meminta persetujuan suaminya terlebih dahulu.
"Nanti kalau dijawab kita ketahuan kalau lagi dikolong ranjang Dek, mana bajunya Abang lempar ke kursi semua tadi." Karena terlalu semangat Abiseka tidak memikirkan yang lainnya, dia begitu takut ada orang ketiga dalam hubungannya dengan Ruby, sedangkan dia belum melakukan tugas dan apa yang diinginkan istrinya dari kemarin.
"Tapi kalau kita nggak keluar Bapak pasti tahu tempat rahasiaku." Jawab Ruby yang sudah menyimpulkan sendiri.
"Emang dimana tempat rahasiamu?" Tanya Abiseka sambil mengingat-ingat ruang kamar Ruby yang tidak terletak banyak barang-barang besar untuk bersembunyi.
"Ya disini, kalau aku lagi males berdebat sama Ibu, aku sering sembunyi disini, dan Bapak selalu tahu tempat persembunyianku." Jelas Ruby sambil mengusap keringat yang berkucuran dari kening suaminya.
Dugh
"APA!" Karena kaget tanpa sengaja kepala Abiseka terbentur ranjang besi itu, namun dia tahan walau sebenarnya sakit.
"Cepat keluar kalian berdua, Bapak tau kalian ada didalam kamar kan, itu mertua kamu baru saja datang, mereka khawatir dengan keadaan kalian berdua."
Astaga kenapa mereka datang disaat kami seperti ini?
"Ayo kita keluar Bang, nggak ada gunanya juga kita sembunyi disini lagi."
"Trus gimana, kita nggak pakai baju loh Dek?" Karena memang semua sudah terlepas semua, mereka hanya beralaskan lantai saja.
"Pak.. cepat bapak keluar dulu, aku belum pakai baju ini."
Duar
"Astaga Dek, nggak usah jujur juga ngomongnya." Dan Abiseka semakin dibuat takjub oleh kejujuran istrinya sendiri.
"Mau bohong juga nggak ada gunanya Bang, bapak juga pasti udah tahu kita ada didalam."
"Ya salam."
Akhirnya sesalpun tiada guna, namun setidaknya Abiseka sudah merasa sedikit lebih tenang, karena hari ini dia bisa menjadi suami yang sempurna karena telah berhasil melakukan tugas utamanya menjadi seorang suami.
Walau Bapak Ruby tidak menjawab ucapan Ruby setelahnya, namun sepertinya Bapak Ruby sudah pergi dari kamar miliknya, sehingga Ruby dan Abiseka bisa kembali mengenakan baju mereka masing-masing.
"Bang ayok keluar, itu orang tua Abang sudah datang loh?" Saat Ruby terlihat kesusahan berjalan karena efek penjebolan itu belum sepenuhnya reda, namun Abiseka malah terduduk lesu diatas ranjang.
"Abang malu Dek, apalagi Bapak Mertua tahu kita sembunyi tadi."
Sebagai anak pondok, kelakuannya seperti ini termasuk anti mainstream juga, apalagi biasanya Abi bersikap kalem dan tidak neko-neko.
Yaelah..
"Enggak kok, orang Bapak tadi bilang nggak lihat apa-apa, jadi sudah pasti tidak melihat, jangan risau Bang." Ruby mencoba menenangkan walau dia sendiri sebenarnya tidak yakin.
"Kamu ini bagaimana sih Dek, kalau nggak melihat apa-apa kenapa Bapak Mertua bisa tahu kalau kita ada didalam?"
"Kan itu tempat persembunyianku selama ini."
"Trus kenapa dia tahu juga aku ada didalamnya?"
"Ya mungkin karena kamu ka suami aku Bang, kemana aku pergi kamu pasti menemani."
Seharusnya kata-kata itu terdengar manis, namun kali ini semakin membuat Abiseka merasa gundah gulana, apalagi tadi dia yang memulainya terlebih dahulu.
"Justru itu Dek, Bapak pasti sedang mengumpat aku ini, bisa-bisanya aku mengajakmu tempur dibawah sana."
"Abang suka bertempur juga?" Namun yang Ruby pikirkan malah soal lain.
"Ya suka lah." Dan Abiseka pun mengibaratkan soal lain pula, jadi pikiran mereka memang tidak nyambung sama sekali.
"Emang musuh Abang geng apa?"
"Abang tidak punya musuh kok, emang kamu punya musuh?"
"Ahahaha... enggak kok, bagus kalau Abang nggak punya musuh, hidup Abang pasti lebih tenang, kalau begitu ayo kita keluar, mereka pasti sudah menunggu." Tawa Ruby terdengar sumbang, dia lupa kalau saat ini dia adalah istri yang manis, bukan seorang ketua Gangster.
"Tapi---"
"Sudahlah Bang, kita sudah menikah, mau melakukan apa saja tidak masalah, nanti aku yang akan melindungi Abang soal apapun, itu janjiku untuk Abang." Ruby langsung menggengam jemari suaminya dan membawanya untuk keluar kamar.
"Kamu ini, manisnya kok kebangetan, disini Abang pihak pria, itu tanggung jawab Abang untuk melindungi kamu, bukan sebaliknya." Jawab Abiseka yang seolah terharu biru saat mendengar celotehan istrinya.
"Siapa tahu Abang ingin dimanja ya kan?"
"Harusnya kamu yang Abang manjain." Abiseka pangsung menyentil kening Ruby, bukan marah namun sebagai tanda sayang karena terlalu gemas melihatnya.
"Kalau begitu gendong aku sampai depan Bang." Rengek Ruby kembali.
"Malu Dek, kalau mau dimanja jangan didepan orang lain, cukup hanya kita berdua saja, ingat Allah itu tidak suka Umatnya yang suka berlebihan."
Dakwah dadakan ini ceritanya?
"Kalau begitu cium aku aja sekarang." Ruby langsung menarik leher suaminya agar menunduk kebawah, karena memang postur Abiseka lebih tinggi darinya.
"Ruby, tadi kan kita sudah empth--"
Cap
Cip
Cup
Saat Abiseka ingin menolaknya, Ruby langsung tidak tinggal diam.
"Tinggal sosor doang aja ribet banget, kebanyakan ini itu Abang ini."
Bukan Ruby namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, bagi Ruby hidupnya tidak pernah dia bikin ribet, kalau mau ya tinggal lakuin, kalau tidak cukup tinggalkan.
Dan seperti biasa, Abiseka hanya bisa tersenyum-senyum sendiri jika sudah mendapatkan serangan dadakan seperti ini.
"Ruby, kalian berdua tidak apa-apa Nak?" Saat melihat Ruby dan Abi berjalan santai, Ibu Abiseka langsung berdiri dan menyambut mereka dengan wajah yang terlihat panik dan khawatir, bahkan begitu diberitahu kepulangan mereka oleh Ibu Ruby, kedua orang tua Abi langsung berbondong-bondong datang kerumah Ruby.
"Tidak Buk, kami baik-baik saja, maaf sudah membuat kalian khawatir, tapi Ruby tidak bisa membiarkan Abang sakit dan harus dipajang diacara Resepsi, jadi Ruby memang sengaja membawa Abang pergi ke Hotel." Dia sudah memikirkan alasan itu sejak kemarin dan sepertinya alasannya cukup meyakinkan, bahkan Abiseka menggangukkan kepala tanda setuju, jadi masalah cepat clear.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan nak?"
"Ruby baik-baik saja kok Buk, kemarin Abang yang pingsan." Jawab Ruby yang langsung tersenyum, dia pun bahagia karena dirinya pun diterima oleh keluarga suaminya.
"Lalu kenapa sepertinya kamu yang kurang enak badan sekarang, apa Abiseka menyusahkan kamu, sampai kamu terlihat kelelahan begini?"
"Kalau itu bukan salah Abiseka saja, pasti Ruby juga yang jadi penyebabnya." Celetuk Bapak Ruby yang sudah menghela nafasnya terlebih dahulu.
"Kok jadi aku Pak?" Ruby merasa tidak terima, karena memang dia lelah akibat ulah suaminya yang begitu gencar main kuda-kudaan tadi, apalagi Ruby tidak bisa bergerak bebas karena dihimpit tubuh suaminya yang kekar berotot itu.
"Kamu yang mengajarkan suamimu sembunyi dibawah kolong ranjang kan?"
"HAH?" Abiseka langsung berteriak karena kaget, bahkan bapak mertuanya benar-benar tau kalau mereka ada dikolong ranjang.
"Gimana, berhasil tidak tadi? kepala kalian kejedot juga tadikan? orang Bapak sudah buatkan ranjang spesial anti patah kok, tapi kenapa kalian lebih memilih dibawah kolong ranjang?"
"APA? DIBAWAH KOLONG RANJANG?" Dan semua orang disana ikut terkejut juga, bahkan tidak menyangka.
"Hufh... kasian sekali nanti cucuku, harus rela bernasip dibuat dikolong ranjang, nggak elit sekali kalian, apa nggak sekalian aja kalian berdua buat dipematang sawah, biar kayak lagu jamrudi itu?" Ledek Bapak Ruby sambil tersenyum miring, walau dia tidak melihat posisi mereka secara langsung, tapi dia mendengar dengan jelas suara jeritan kenikmatan dari putrinya.
"Stop Pak, cukup!"
"Beneran nggak mau, ada gubuk bagus dibelakang sana, pemandangannya juga bagus, hijau semua, ditambah suasananya semilir lagi."
"Boleh juga sih idenya, nanti kita list ya Bang."
"Bahahahaha!" Akhirnya mereka tertawa saat Ruby mudah tergoda, apalagi sudah tahu rasanya.
Sebenarnya kalau hanya Ruby yang dibully didepan semuanya dia tidak masalah, namun dia tidak tega saat melihat raut wajah Abiseka yang terlihat pucat pasi, bahkan menundukkan kepalanya dan menyembunyikan dibelakang tubuh Ruby karena terlalu malu.
Secepat itu kamu menyerahkan semuanya dengan pria itu Ruby? kenapa sakit sekali rasanya...
Dan disudut ruang tamu itu, ada satu pria yang tidak ikut tertawa dalam candaan mereka, bahkan tawa mereka seolah seperti belati yang tajam menusuk ke relung hati seorang diri Zack.
Hadiah terbaik adalah apa yang telah kita miliki, dan Takdir terbaik adalah apa yang sedang kita jalani, kuncinya Ikhlas saja, walau itu memang terasa berat.