Apa jadinya jika niat balas dendam mu menyimpang dan menumbuhkan perasaan cinta?
Ikuti kisah Aurel si Penyamar dengan Nathan sang Rival
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon herlia ia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Baiklah, terimakasih karena sudah merawatnya untukku. Aku senang sekali" ucap Beatrix sumringah lantas memeluk Nathan untuk berterima kasih.
"Tenanglah. Kekasihmu aman bersamaku" ucap Nathan balas tersenyum pada teman masa kuliahnya dulu.
"Oke, I got to go. Duty calls, see you tomorrow" pamit Beatrix pada Nathan lantas menempelkan pipi kanannya pada pipi kanan Nathan.
"Oke, bye" balas Nathan.
Dia tak menyangka jika dokter yang menanganinya adalah teman kuliahnya yang ternyata kekasih Rio, sang asisten.
Baru saja Beatrix keluar ruangan, dia menyembulkan kepalanya kembali kedalam kamar.
"Nat, kamu kedatangan tamu" seru Beatrix yang lantas mendorong masuk Aurel lalu menutup pintunya.
Nathan terkejut dengan kedatangan wanita yang sangat di rindukannya itu.
Nathan menyembunyikan rasa rindunya dengan menyandarkan kepala dan memejamkan mata.
Jakunnya naik turun karena dadanya bergemuruh.
"Sialan, tenanglah" rutuknya dalam hati pada jantung yang mungkin tampak naik turun.
"A-apa kabar.." cicit Aurel nyaris tak terdengar.
"Baik" jawab Nathan singkat dan dingin.
Nathan menghembuskan nafasnya ke arah berlawanan, dan itu terlihat seperti membuang muka.
Aurel menunduk. Ada kekecewaan dalam hatinya jika kehadirannya tak diharapkan.
"Maaf, se- sebenarnya saya.. saya salah kamar, permisi" ucap Aurel terbata lantas langsung keluar dengan menitikan air mata.
Apa yang dia harapkan? bukankah dia berjanji pada diri sendiri untuk tak jatuh cinta?
Sudah jelas Nathan tak mau menemuinya.
"Siapa pasien yang ada disebelah ruanganku?" tanya Nathan melalui sambungan telfon.
Dia tak menyangka jika Aurel pergi begitu saja dan mengatakan jika dia salah masuk kamar.
Awalnya dia menyangka jika Aurel tengah mengada ada. Namun..
"Baron Mc Kenzie. Tentu saja dia salah kamar. Heh.. apa yang kamu harapkan?" ucap Nathan dalam hati setelah mengetahui jawabannya.
Nathan kecewa.
"Dia bahkan tak bertanya tentang Ethan" keluhnya menghembuskan nafas dengan kasar.
Nathan kelelahan karena menunggui Ethan yang tengah dirawat di rumah sakit yang sama.
Ethan mengalami demam selama 3 hari berturut turut setelah kekerasan yang dilakukan Angel terakhir kali.
Selain trauma, dia tak berhenti menangis dan menyebabkan imun nya lemah.
Aurel dipaksa kembali oleh Baron karena perusahaan pastilah sangat membutuhkannya.
"Tenanglah, disini banyak perawat. Nanti kalau memungkinkan, ayah akan minta dipindahkan ke Jakarta" imbuh Baron yang melihat ketidak-relaan sang anak untuk meninggalkannya. Dia merasa lega akhirnya hubungannya dengan anak semata wayangnya kembali seperti semula.
Aurel yang bersikap tegas dan serius di kantor, justru bersikap manja padanya. Persis seperti dahulu saat mendiang istrinya masih ada, Aurel lebih lengket padanya. Itulah yang menyebabkan Aurel berbalik membencinya, karena pengkhianatan yang dia lakukan bersama Lily lebih menyakiti hatinya.
Tapi bukan karena hal itu saja Aurel enggan pulang ke tanah air, melainkan selama 3 hari di Singapore, dia masih belum punya keberanian untuk kembali menjenguk Nathan, yang awalnya menjadi tujuan utamanya datang ke negara tetangga ini.
"Permisi, pasien di ruangan ini kemana ya?" tanya Aurel pada perawat yang baru saja mengganti sprei dan sarung bantal di kamar yang sebelumnya Nathan huni.
"Oh, beliau sudah pulang 2 jam yang lalu" jawab perawat membuat Aurel tertegun.
Bodohnya dia.
Dia bahkan tidak bertanya mengenai kabar Ethan. Juga tempat tinggal mereka.
Tiba tiba terbesit ucapan Nathan sebelumnya..
"Jangan mudah menyimpulkan kalau kamu gak tau keseluruhan cerita. Atau kamu akan salah paham dan membuat kesalahan fatal"
Aurel membolakan matanya kala menyadari kesalahannya.
Dia menyesal terlalu cepat menyimpulkan.
"Paman, apa paman belum menemukan tempat tinggalnya?" tanya Aurel pada Alfred dalam perjalanan menuju bandara.
"Maaf nona, sinyalnya hilang di rumah sakit itu" jawab Alfred membuat Aurel frustasi.
...----------------...
Waktu berlalu.
Aurel membuat kontrak dengan perusahaan pembersih kaca tempatnya dulu bekerja.
Untunglah Tomo masih bekerja di perusahaan itu, jadi sesekali Aurel melepaskan rasa penatnya dengan memanjat gedung perusahaannya sendiri.
"Gila lu, Rel. Gak nyangka gue, ternyata elu anak sultan. Pantesan auranya beda" tukas Tomo kala mereka berada di bibir roof top gedung.
Aurel memberikan minuman kaleng yang sebelumnya ia bukakan untuk Tomo.
"Ya elah, biasa aja kali bang. Gue tetep gue dimanapun. Yang susah tuh cari pengalaman sama cari temen yang tulus" jawab Aurel yang memang tak memandang rendah siapapun.
"Trus, orok yang elu asuh gimana? bapaknya juga gimana?" tanya Tomo penasaran pada kelanjutan hubungan Aurel dan Nathan.
Aurel hanya mengedikkan bahu. Tak mau membahas hal yang membuatnya melow.
"Sayang, ya. Gue kira kalian bakal jadian. Padahal kalian cocok" imbuh Tomo membuat Aurel kembali merasakan sesak.
Dia juga menyayangkan sikapnya yang mudah mengambil kesimpulan dan sok jual mahal.
Namun apalah daya. Apa yang sudah terjadi memang sudah seharusnya terjadi.
Aurel bergegas menghadiri meeting dengan klien dari luar negeri.
Ini merupakan proyek pertamanya yang akan dia ambil dan berasal dari luar negeri. Tentu saja nilainya sangatlah besar dan akan mendapatkan keuntungan yang ratusan kali lipat dari modal yang dia keluarkan. Dan hal itu juga yang membuat para pemegang saham sangat berharap pada kinerjanya.
"Hello Mr. Ford. Sorry for being late. It's traffic everywhere" (Halo tuan Ford. Maaf atas keterlambatannya. Macet dimana mana). Ucap Aurel yang menyesal karena terlambat 10 menit dari yang sudah dijanjikan.
"Tidak masalah. Saya juga baru sampai" ucap pria berusia seumuran Nathan berparas bule itu dengan bahasa Indonesia yang fasih.
"Ah, anda bisa bahasa Indonesia ternyata" sedikitnya Aurel terkejut. Namun hal itu membuat suasana tidak tegang.
Mereka membahas proyek yang sudah Aurel tanda tangani. Dan tiba tiba kepalanya terasa pusing luar biasa saat hendak pulang.
Karena mereka mengadakan meeting sepulang jam kerja, maka Aurel sedikit melonggarkan waktunya untuk tak terburu buru pulang agar mereka bisa membahas tentang proyek baru dengan lebih leluasa.
Namun sepertinya tubuhnya kelelahan.
"Nona.. apa anda baik baik saja?" tanya Ford saat melihat Aurel yang berjalan terhuyung kala baru saja melangkah.
"Tidak apa apa. Ini hanya anemia saja" jawab Aurel yang mencoba menetralkan rasa pusingnya.
"Aaarghh.. " Aurel semakin mengaduh kala rasa pusing itu tak kunjung reda, namun semakin bertambah pusing. Hingga dia tak bisa menopang tubuhnya sendiri dengan kedua kakinya.
Aurel menyesal menyuruh Dewi pulang duluan karena dia berfikir bisa menghandle nya sendiri.
"Biar saya antar" Ford menawarkan diri karena khawatir.
"Tidak perlu. Tolong panggilkan saja taksi untukku" tolak Aurel yang lantas diangguki Ford.
"Tunggu.. ini bukan jalan ke rumah saya, pak. Tolong.. tolong putar balik.. aaarrgh..." Aurel merasakan kepalanya semakin terasa sakit.
"Tenanglah, sayang.. aku akan mengurusmu.." ucap Dennis dengan seringai jahat dibibirnya.
tp mmg hrs tahan sp halal dl ya/Smile/