"Aku akan membunuhnya.."
"Vito dia bukan pria sembarangan," ucap Emma.
"Aku tidak peduli, dia membuat wanita cantik ku tersiksa."
Vito pria tampan dan kaya yang tertarik dengan istri orang lain, awalnya dirinya tidak tau jika wanita yang ia sukai sudah menikah. Tetapi setelah tau Vito semakin tertarik untuk mengambil wanita itu dari suami sah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita_Bahagia12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
Setelah berada di tempat itu cukup lama dan sudah tidak ada lagi yang ingin mereka lakukan keduanya pun memutuskan untuk pulang ke apartemen, hari ini Vito tidak ada pekerjaan di kantor, ia masih dalam tahap libur menikah sampai beberapa hari kedepan.
"Sayang bagaimana dengan mantan istri mu dia tidak ada kabar," ucap Vito.
"Kenapa kamu bertanya tentang dia. Dia sudah tidak ada hubunganya dengan dia, aku juga sudah tidak mau di sangkut pautkan pada nya," kata Emma.
"Dia iri tidak ya pada ku, secara aku yang mengehem kamu bukan dia, hahaha padahal dia yang menikah lebih dulu dari mu."
"Sudah dari pada membahasnya sekarang aku tanya bagaimana kuliah kamu? Kamu sudah menyelesaikan tugas tugas yang diberikan," tanya Vito.
"Tenang walaupun daring aku selalu mengerjakan semua tugas dengan baik, nanti kalau aku sedang sibuk bekerja kamu bisa membantu ku mengerjakan tugas ku," jawab Vito.
"Tidak masalah kalau memang bisa aku bantu," kata Emma.
"Sampai rumah jatah ya," ucap Vito.
Emma langsung melirik ke arah Vito. Mereka berdua baru beberapa kali melakukan nya, jadi Emma masih sedikit ser seran.
"Sayang mampir ke supermarket dulu dong," ucap Emma yang ingin mengalihkan pemikiran Vito, ia pernah melakukan nya sekali di siang hari, rasanya kurang nyaman untuk nya jadi untuk mengalihkan pemikiran Vito ke arah sana, Emma mengajak Vito belanja ke minimarket.
"Mau beli apa," tanya Vito.
"Beli buah buahan, sayur sayuran, daging dagingan, belanja lah intinya," jawab Emma.
"Kamu bisa masak kan sayang? Jangan sampai kamu tidak bisa masak tapi belanja."
"Eh ya bisa lah. Kalau untuk memasak makanan saja aku jago, kamu harus memberikan ku uang belanja," kata Emma.
"Iya sayang, aku akan memberikan kamu uang belanja, yang biaya rumah, uang jajan, dan uang bulanan khusus untuk kamu. Jadi kamu harus mempunyai 4 ATM berbeda agar tidak tercampur," ucap Vito.
"Sayang kamu aku sudah pernah bilang pada kamu. Aku pakai ATM kamu saja, aku malas ribet."
"Sampai kapan kamu mau seperti itu? Kamu harus biasa memegang uang, kalau punya anak nanti bagaimana? Kalau aku sedang tidak di rumah dan kamu ada keperluan mendadak," ucap Vito.
"Iya deh iya, kamu buatkan saja ya, nanti aku terima dengan baik," ujar Emma.
Vito membawa mobil mereka ke sebuah supermarket besar yang tidak jauh dari apartemen, ia sengaja ke tempat ini agar Emma bisa membeli segera hal yang Emma perlukan, jika hanya supermarket kecil takutnya barang yang ada tidak begitu lengkap.
Dengan senyuman manis di bibir nya Emma berjalan masuk ke dalam supermarket itu, ia mengambil sebuah keranjang dorong dan langsung berkeliling mencari semua barang keperluan nya.
Sedangkan Vito berjalan di belakang Emma sambil memainkan handphone nya. Berbelanja bukan hal yang biasanya ia lakukan, dari pada membuat kekacauan Vito memilih menemani Emma dari belakang saja.
"Sayang kamu suka nasi putih atau merah," tanya Emma.
"Merah," jawab Vito.
"Kalau begitu ambilkan yang atas aku tidak sampai," ucap Emma sambil menunjuk sebungkus beras di atas sana.
"Satu saja," tanya Vito.
"Iya itu sudah cukup untuk seminggu lebih, kita kan mau pindah ke rumah, lebih baik kita belanja sesuai kebutuhan agar tidak repot saat pindah nanti," jawab Emma.
Vito menganggukkan kepala nya, ia mengambil apa ya Emma minta tadi.
"Aku saja," ucap Vito, ia kasihan dengan Emma yang harus mendorong keranjang yang cukup berat karena ada beras merah di dalam nya.
"Makasih." Emma memberikan senyuman termanis nya.
Keduanya melanjutkan perjalanan, mereka menuju ke perbumbuhan yang tidak jauh dari rak beras, dengan cekatan Emma mengambil semua yang iabpeeluk. Ia sudah tau apa saja yang harus ia beli, karena ia juga sudah biasa dalam kegiatan masak memasak.
"Sayang ambilkan kecap manis di atas situ," ucap Emma.
"Ini." Vito mengambil sebotol kecap.
"Manis sayang manis, aku butuh yang manis bukan yang asin," ucap Emma.
"Beda ya, tapi sama sama hitam," kata Vito.
"Kan ada tulisannya sayang, bisa kamu baca," kata Emma.
"Oh iya." Segera Vito menukar nya dengan apa yang Emma inginkan.
Setelah dari perbumbuhan, keduanya menunju ke tempat sayur sayuran, Emma tidak begitu suka memakan sayur, ia selalu membeli beberapa sayur yang biasa ia makan. Sebelum mengambil nya ia harus bertanya terlebih dahulu pada Vito, kalau Vito tidak suka ia tidak akan mengambil nya.
"Kamu suka sayur apa," tanya Emma.
"Aku suka sama sayur, makanan kamu tidak perlu khawatir aku tidak rewel kok," jawab Vito.
"Anak yang baik tidak rewel tentang sayur, sayangnya aku tidak begitu suka dengan sayur, aku ambil sayuran aku suka saja ya," ucap Emma.
"Terserah kamu sayang, apapun yang kamu suka ambil saja." Vito memberikan kebebasan pada Emma untuk mengambil apa saja yang Emma suka, dirinya selalu menerima apapun yang Emma masak untuk nya.
Salah saya sudah beres mereka berdua melanjutkan ke tempat daging dagingan, yang pertama kali Emma ambil adalah daging ayam, karena hampir setiap hari mereka berdua makan ayam, setelah hidupnya mampu mengambil lagi sapi, dan beberapa jenis ikan.
"Sayang aku mau cumi dan udang, kalau kamu bisa masakan seafood asam pedas," ucap Vito.
"Aku tidak bisa memasaknya, kalau belajar belajar nanti takutnya tidak enak, kalau kamu mau beli saja yang matang," kata Emma.
"Sayang kamu tidak bisa membuatnya? Mamaku sangat pintar membuat makanan seperti itu, kamu tidak mau belajar darinya?"
"Sebenarnya aku takut sama mama kamu, bukan takut sih tapi ke arah sungkan pada Mama kamu," ucap Emma.