Mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari seorang pria yang berstatus sebagai ayah angkatnya tentu adalah hal yang paling membahagiakan bagi seorang gadis bernama Kania Atifah.
Namun, siapa sangka justru di balik kebaikan itu nyatanya ada cinta yang sedang di sembunyikan. Kania sangat tak menyangka jika justru cinta pertamanya dalam hidup mengkhianati ketulusannya sebagai anak selama ini.
Kehidupan manis yang selama ini banyak di agungkan oleh teman-teman sekolah Kania bagai terganti oleh mimpi buruk ketika petaka datang dalam hidupnya. Impian di usia sembilan belas tahun besok ia akan meniup lilin dengan doa agar di terima kuliah di perguruan tinggi dengan jurusan musik.
Nyatanya kesuciannya hilang tanpa ia duga malam itu dan pelakunya adalah sang papah yang membesarkannya selama ini.
Akankah Kania meninggalkan dan melupakan semua jasa orang yang telah membesarkannya selama ini? ataukah kania mau menerima pria yang berstatus sebagai ayah angkat menjadi pendampingnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Satu Minggu
"Ada apa ini, Mah? Kenapa dia di bawa ke sini?" Kania yang terganggu dengan kehadiran Karin di rumah itu lantas memberanikan diri mengatakan pada sang mamah mertua.
Ia tak perduli bagaimana wanita itu menolaknya selama ini. Sekarang Kania adalah istri dari Jemi. Yang artinya ia pun berhak atas seisi rumah sang suami. Namun, sayang respon Wulan justru hanya mencebikkan bibirnya saja. Ia tak suka sama sekali dengan sang menantu bahkan enggan menganggapnya sebagai menantu.
"Berani kamu memanggil saya Mamah? Siapa kamu? Ingat Kania, saya tidak pernah memberi restu atas pernikahan kalian." Jemari telunjuk Wulan terlihat tegas menunjuk pada Kania.
Jemi menggeram kesal melihat kejadian ini semua. "Mah, tidak ada yang memberi ijin dia tinggal di sini. Saya dan Kania merasa terganggu atas ini semua." ujar Jemi namun Wulan justru mengibaskan tangan seolah ucapan sang anak hanya angin yang bisa ia kibas begitu saja.
"Halah Jem, Mamah tidak butuh ijin darimu atau dia. Sudah Mamah harus siap-siap untuk berangkat. Hanya satu minggu. Kalau tidak orang tua Karin akan menuntut Mamah. Mau kamu Mamah di penjara? Sedangkan di Singapur Mamah harus menghadiri seminar." ujar Wulan lalu pergi tanpa menghiraukan bagaimana respon Kania dan juga Jemi saat ini.
Keduanya saling pandang tanpa bicara. Jemi sadar lagi-lagi ia harus membuat sang istri kecewa.
"Aku capek, Mas." Kania melangkah meninggalkan sang suami dengan wajah kecewanya.
Jemi tak tinggal diam. Ia mengejar sang istri dan membiarkan Karin di kamar tamu istirahat. Tentu saja kemenangan kini ada di tangan wanita itu. Karin berbaring menikmati kasur empuk dengan wajah puasnya.
Sedang di kamar utama Kania berbaring membelakangi sang suami. Jemi yang mendekati Kania memegang lengan sang istri selalu di tepis.
"Kania, ayo kita bicara. Ini semua bukan maunya aku." Kania masih saja diam tak menanggapi ucapan sang suami. Berbicara dengan Kania yang marah seperti ini benar-benar baru Jemi rasakan jika wanita yang ia nikahi memanglah masih sangat bocah.
Dalam mengahadapi masalah pun Kania sering menghindar atau bahkan diam. Jemi harus memiliki ketegasa dan sikap sabar yang lebih menghadapi Kania.
"Nia, kita tunggu satu minggu. Mamah akan menjemput Karin. Oke? Kamu tidak perlu bertemu wanita itu meski kita tinggal satu rumah. Aku janji kita akan baik-baik saja selama dia ada di sini. Justru kita tidak boleh tunjukkan jika hubungan kita selemah ini pada orang lain." Mendengar penuturan sang suami sontak Kania menatap Jemi denga kening mengerut dalam.
"Satu minggu itu bukan waktu yang sebentar. Dan bukan aku yang jadi masalah ketemu sama dia. Tapi kamu, Mas. Dia itu lagi usaha keras buat kembali sama Mas. Mana ada istri yang mau mantan istri suaminya tinggal di rumahnya. Aku nggak terima, Mas." sahut Kania kesal kembali membanting tubuhnya ke kasur setelah ia duduk menatap sang suami.
Jemi pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia berjanji tidak akan membuat masalah dan tidak akan bertemu Karin. Malam itu Jemi terpaksa tidur tanpa mendapat ijin memeluk tubuh sang istri. Kania mengancam akan mendorongnya keluar kamar jika Jemi masih memaksanya.
"Huh baru saja baikan sudah kelahi lagi. Mamah juga kenapa sih bisa bawa Karin ke sini? Bisa-bisa setiap hari aku ribut dengan Kania." gumam Jemi menggerutu kesal mengumpati sang mamah yang sudah tenang di rumah megahnya.
hidupnya tidak bahagia
katanya malaikat kok membatasi istri kuliah dan bertemu orang lain....
kena Lo..mw ngomong apalagi sm Kania kl udah ketauan gamon