Seorang gadis yang pernah terpuruk karena masa lalunya, kini datang kembali untuk membalaskan dendamnya.
Ia tidak akan menyerah sampai tujuannya itu belum tercapai.
Dengan tekatnya, ia akan berusaha merebut dan menghancurkan hubungan dari sosok yang pernah dengan begitu jahat menggoreskan luka dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clara Dasella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Menjelang malam.
Seperti apa yang dikatakan oleh Reiner sebelumnya, jika ia akan menikahi Nara pada malam itu juga, dan saat itu juga lah rumah Kania dan David di datangi oleh beberapa orang yang ingin bertemu Nara.
Dua orang wanita yang di ketahui sebagai penata rias pengantin itu datang atas utusan Reiner. Setelah mengatakan jika mereka datang untuk merias Nara, maka Kania pun mengijinkan dua orang itu untuk langsung masuk kedalam kamar Nara.
"Aku pikir tuan Reiner benar-benar sudah gila." Kata David.
"Kenapa?" Tanya Kania.
"Bagaimana bisa dia akan menikahi Nara di malam ini juga? Kapan dia mempersiapkan semuanya? Bukankah ini sangat aneh?" Tanya David. Suami dari Kania itu nampak curiga dengan bosnya tersebut lantaran menikahi Nara tanpa persiapan apapun.
Kania tersenyum sembari menarik hidung mancung dari suaminya itu. Ia menggeleng heran mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh David.
"Apa kau lupa siapa tuan Reiner itu?" Tanya Kania lalu David menggeleng bingung.
"Dengan kekuasaannya dan juga dengan kekayaannya, apa yang tidak bisa dia lakukan? Hanya dengan menjentikkan satu jarinya saja maka semua orang akan tunduk dan mengikuti perintahnya." Ujar Kania.
David terdiam mencoba mencerna ucapan Kania. Sampai akhirnya ia pun mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kania, jika hanya untuk menikah Reiner tidak perlu mempersiapkan semuanya dengan waktu yang lama, dan sekali lagi itu semua karena kekuasan dan kekayaannya.
Meninggalkan obrolan Kania dan David, kini di kamar Nara, dua orang yang berada didalam sana sudah mulai merias wanita milik Reiner tersebut.
Gaun pengantin sudah dikenakannya dan wajahnya juga sudah mulai di rias. Tidak perlu menggunakan make up yang tebal, karena Nara yang sudah memiliki wajah yang cantik natural itu hanya membutuhkan sedikit polesan make up saja di wajahnya.
"Aku sengaja tidak meriasmu dengan make up yang terlalu tebal, Nona. Karen wajahmu sudah sangat cantik dengan make up yang tipis ini." Kata salah satu perias itu.
Nara tersenyum tipis seolah berusaha menyembunyikan rasa malu dan canggungnya di hadapan perias-perias itu. Sampai 15 menit kemudian, semuanya pun selesai.
Sungguh, Nara yang terlihat sangat cantik itu sampai membuat dua wanita perias itu sampai menatapnya kagum. Tidak hanya menatapnya kagum, tapi pujian demi pujian terus Nara dapatkan dari mereka.
Ceklek.
"Apa kalian sudah selesai merias, Nara?" Tanya Kania yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Nara.
Dua perias itu pun mengangguk yang menandakan pekerjaan mereka sudah selesai. Karena beberapa menit lagi pernikahan akan dimulai, Kania meminta perias--perias itu untuk pergi meninggalkan kamar sahabatnya itu. "Kalian pergilah, nanti aku yang akan mengantarnya ke Altar pernikahan."
Mereka berdua pun mengangguk dan pergi meninggalkan kamar Nara. Setelah mereka berdua pergi, kini tinggalah Nara dan Kania saja di dalam sana.
Kania menatap Nara dengan sendu dan haru, akhirnya malam ini ia bisa melihat sahabat baiknya itu akan menikah setelah mengalami kehidupan yang cukup pahit di masa lalunya.
"Nara..." Kania menggenggam tangan Nara dan menatapnya. Sebaliknya, Nara juga menatap wajah haru Kania di hadapannya.
"Aku tidak bisa mengatakan apapun padamu. Tapi yang pasti, selamat berbahagia untuk malam ini. Akhirnya malam ini kau akan--" Tidak kuasa mengatakan banyak hal di hadapan Nara, air mata Kania pun tumpah sampai tidak bisa membuatnya bicara lagi.
Ia menangis dengan terisak di hadapan Nara mengingat semua hal pahit yang pernah di alami Nara selama ini. Bagaimana ia berjuang untuk membuat sahabatnya itu untuk bangkit dari rasa sakitnya dan juga membantunya untuk tidak lemah saat kehilangan bayinya dulu.
Ya, semua masa lalu pahit itu seolah terkenang kembali dibenak Kania saat menatap gaun pengantin yang dikenakan Nara.
Melihat Kania menangis, Nara mencoba mengusap air mata Nara dengan pelan. "Terima kasih, Kania. Terima kasih kau sudah banyak membantuku dan tidak pernah meninggalkanku di masa sulit yang menyakitkanku dulu."
Kania mengangguk lalu memeluk Nara dengan sangat erat. Ia memejamkan matanya dipelukan sahabatnya dan sembari terus berharap dalam hatinya agar Nara akan selalu mendapatkan kebahagiaan di sepanjang hidupnya.
Sampai tak lama kemudian pelukan keduanya pun terlepas saat David yang masuk kedalam kamar mereka dan meminta Nara untuk segera turun lantaran pernikahan akan segera dimulai.
"Sayang, bawa Nara turun karena pernikahan akan segera di mulai." Kata David.
Kania menganggung senyum seraya mengusap sisa air matanya. Dan kemudian ia memegang tangan Nara untuk membawa gadis itu turun.
Sesampainya dilantai bawah, Kania memberikan alih tangan Nara pada David. Ya, karena Nara yang tidak memilki siapapun, maka malam ini David lah yang akan menuntun Nara dan mengantarkan gadis itu untuk sampai ke Altar pernikahannya.
Saat tangannya di genggam alih oleh David, tatapan Nara langsung tertuju pada Kania. Melihat tatapan Nara, lantas Kania pun mengangguk. Ya, gadis itu mengangguk memberi isyarat pada sahabatnya akan jangan mengkhawatirkan apapun.
"Ayo, Nara. Kita berangkat." Kata David.
Nara mengangguk dan akhirnya ia pun berjalan dengan tangan yang di genggam oleh David menuju Altar pernikahan.
Sesampainya disana, Reiner yang sudah berada di sana langsung memutar tubuhnya menatap kedatangan dari calon istrinya tersebut.
Cantik sekali. Begitulah yang di ucapkan Reiner dari dalam hatinya saat melihat Nara. Senyumnya seolah terus terpancar saat melihat sosok wanita yang sangat di cintainya itu tengah melangkah kearahnya.
Tidak hanya Reiner saja, tapi kedua orangtua Reiner tak luput dari cucuran air mata yang menetes dari kedua pipi mereka saat melihat calon menantunya yang terlihat begitu cantik
Dan sesampainya di atas Altar pernikahan, David melepas genggamannya pada Nara lalu di berikan alih pada Reiner. "Aku berikan dia padamu, Reiner. Ingat, hari ini kau tidak berhak memerintahku karena hari ini aku adalah ayah Nara. Ya, Nara. Wanita yang saat ini akan menajdi istrimu."
Sontak Nara langsung menahan tawanya saat mendengar ucapan David. Sedangkan Reiner tidak begitu dengan apapun karena yang ia pedulikan kali ini hanya wanita yang berdiri dihadapannya.
"Ingat, Reiner, Setelah kau menikahinya, kau tidak boleh menyakitinya atau membuatnya menangis. Jika sampai hal itu terjadi, maka aku akan memotong pusakamu sampai habis." Sambung David dengan gaya staycoolnya.
"David, kau--" Nara menggenggam tangan Reiner untuk menghentikkan kekesalannya pada David. Dan seolah kembali luluh, Reiner langsung menatap Nara dan tersenyum kembali.
"Apa pernikahannya sudah bisa dimulai?" Tanya Pendeta yang hendak menikahkan Nara dan Reiner.
Reiner mengangguk lalu David pun pergi dan duduk di kursi tamu bersama Kania. Setelah Nara dan Reiner siap, keduanya pun mulai saling mengucapkan sumpah janji pernikahan mereka masing-masing.
Sampai sumpah janji pernikahan itu telah usai di ucapkan keduanya, Kini baik Nara dan Reiner sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
"Baiklah, untuk pengantin pria silahkan untuk mencium pengantin wanita." Pinta Pendeta itu pada Reiner.
Nara menunduk malu, sungguh ini adalah pertama kalinya ia harus berciuman bersama Reiner di hadapan banyak orang, meski Reiner adalah suaminya untuk saat ini.
Tangannya mulai meremas bagian bawah gaunnya yang menandakan jika gadis itu tengah gugup saat ini. Dan perlahan, Reiner memegang tangan Nara lalu menarik dagunya.
Tatapan gugup Nara jelas terlihat, nafasnya pun mulai beradau tidak karuan. Melihat hal itu, Reiner tentu tidak tinggal diam. Pria itu kemudian menarik pinggang Nara hingga membuat tubuh gadis itu menetap pada Reiner.
"Hilangkan rasa gugupmu itu karena saat ini kau adalah istriku dan milikku satu-satunya, Nara." Lirih Reiner.
Seketika nafas Nara yang tadinya berderu tidak karuan kini mulai menurun. Dan saat kegugupan itu mulai hilang dari wajah Nara, Reiner pun tersenyum lalu dengan perlahan ia mencium dengan lembut bibir ranum milik wanitanya tersebut. Dan tepukan tangan pun langsung terdengar begitu keras dari para tamu yang hadir.
Tidak ada undangan di buat, tidak ada persiapan gedung atau apapun, tapi malam ini semua yang tidak di persiapkan itu justru jauh berjalan dengan baik.
Entah bagaimana seorang Reiner Alexander mempersiapkan semuanya hanya dalam waktu beberapa jam saja, tapi yang terlihat malam ini, semua di luar ekspektasi. Gedung pernikahan yang mewah, ribuan tamu yang hadir dan semua orang yang pernah berada dalam ruang lingkup kehidupan Nara semua di datangkan.
Sopir Taxi yang pernah memberi Nara pekerjaan di Club, Manager Club, teman-teman masa kecil Nara dikampun, Ziva dan Kania tentunya semua didatangkan.
Mereka datang dan memberikan banyak hadiah dan juga ucapan selamat pada Nara, dan semua hal itu tentu membuatnya sangat bahagia.
"Aku tidak tau bagaimana harus mengatakannya, tapi mereka semua, bagaimana mungkin--" Ucapan Nara terhenti saat Reiner menutup bibir gadis itu dengan satu jari telunjuknya.
"Bukankah sudah aku katakan, jika aku akan memberikan segalanya untukmu, Nara. Semua ini bukan lah apapun bagiku, meski kau meminta nyawaku sekalipun, aku pasti akan memberikannya."
Ungkapan yang indah sampai membuat Nara menangis haru. Gadis itu memeluk Reiner dan tidak henti-hentinya mengucapkan kata cinta pada sosok suaminya itu.
"Aku mencintaimu, Tuan Reiner." Kata Nara.
"Kau masih memanggilku dengan sebutan itu maka aku tidak akan memaafkanmu malam ini." Lirih Reiner.
Sontak Nara pun langsung melepas pelukannya dan mendongak menatap Reiner. Gadis itu mengerutkan dahinya melihat bagaimana wajah mesum dari suaminya itu mulai terlihat.
"Aku tidak perduli, yang terpenting kau milikku sekarang, Tuan Reiner." Kata Nara yang kemudian kembali memeluk Reiner dengan erat.
Kini dendam Nara pun telah usai, tujuannya sudah berakhir dan dendamnya sudah terbalaskan. Tapi untuk meninggalkan cintanya, itu tidak akan pernah Nara lakukan. Karena pada akhirnya ia kembali pada sosok yang pernah ia yakini sudah menyakitinya.
Lupakan semuanya.
Begitulah ungkapan Nara saat ini. Karena yang terpeting saat ini adalah, ia sudah berhasil di cintai oleh seoarang Reiner Alexander dengan begitu hebatnya.
THE END
Lanjut Thor say..💪💪🖐️