"Jika cinta dapat mengubah segala hal, mengapa perlu ada yang namanya memperjuangkan? Kamu tahu kenapa? Karena untuk mendapatkan sesuatu butuh usaha,dan sekarang aku tengah memperjuangkanmu dengan usaha yang sungguh-sungguh."
~Davier Galuh Pramono~
"Meski hatiku memilihmu namun apakah aku mampu untuk mempertahankanmu selamanya agar selalu bersamaku?"
~Aira Anandia Maheswari~
Aira Anandia Maheswari merupakan Mahasiswi yang terkenal pintar di fakultasnya. Bahkan hampir seluruh kampus mengenal dirinya. Masa mudanya harus berakhir dengan di jodohkan oleh orang tuanya. Dijodohkan dengan Davier Galuh Pramono yang tak lain adalah dosennya ssndiri.
Keduanya sering merasakan perasaan aneh yang terselimut di dalam dirinya. Hingga Davierlah yang menyadari lebih dulu perasaannya itu. Lalu apakah Aira akan menyadari perasaannya atau ia akan terus menepis perasaan itu dari hatinya? Akankah mereka bisa bersatu dengan hati yang tulus? Apakab mereka bisa melewati semua lika-liku yang menghalagi kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tia Oktavianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~MTLY 33~ Rasa Percaya
Di Kamar Rawat Ai
"Seharusnya kamu ga ngomong begitu sama Mamanya Kak Nasya. Dia juga lagi sakit dan mungkin karena usia dia lupa kan. Aku ga mau kamu bersikap seperti itu sama orang lain, apalagi sama yang lebih tua." omel Ai.
"Tante Risa yang mulai duluan Ai, lagj pula perkataannya pasti menyakiti hati kamu. Aku tau apa yang kamu pikirkan dan juga rasakan." ucap Davier sembari mengenggam jemari tangan Ai.
"Apa aku harus percaya pada perkataan orang lain dan menghujat masa lalu kamu? Aku bukan orang yang seperti itu Davier. Kamu bersama aku itu membuat aku ga perlu meragukan kepercayaan aku sama kamu. Setiap orang punya masa lalunya jadi ga salah jika masa lalu itu datang kembali untuk menyapa masa kini kan?" tanya Ai.
"Kamu ini terbuat dari apa sih Ai? Kenapa kamu begitu banyak memberikan ruang pengertian untuk aku? Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung memiliki istri seperti kamu." ucap Davier.
"Aku yang Seharusnya merasa beruntung karena dipertemukan sama kamu." ucap Ai.
Di Kamar Rawat Risa
"Ma, tadi Davier kesini jenguk mama. Tapi tadi waktu aku mau masuk dan berpapasan sama Davier. Wajahnya terlihat kesal. Apa mama mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal?" tanya Nasya.
"Mama hanya bilang selamat datang calon menantu, hanya itu. Tapi dia malah menjawabnya dengan nada tinggi." ucap Risa ketus.
"Mama kenapa bilang gitu. Mama tau betul hubunvan aku dan juga Davier telah berakhir 8 tahun yang lalu. Mama tidak memikirkan perasaan gadis yang duduk di kursi roda itu. Dia itu tunangan sekaligus calon istri Davier." ucap Nasya.
"Mama mana tau kalau gadis itu tunangan Davier. Mama pikir dia adiknya Davier." bela Risa.
"Mama tau betul, Davier itu anak bungsu dari keluarga Pramono. Tolong Ma jangan membuat usaha aku untuk meminta maaf menjadi sia-sia." ucap Nasya.
"Sudahlah, jika kamu masih mencintainya lakukan apapun yang kamu suka Nasya, mama tidak akan menentangmu, justru Mama akan mendukungnu." ucap Risa.
Di Ruang Rawat Ai
"Nah, keadaan kamu sudah membaik. Sekarang kamu sudah boleh pulang. Pastikan kamu istirahat total ya. Ingat 3 hari lagi adalah hari bahagia kamu." ucap Nayla.
"Akhirnya aku keluar dari dunia putih menyeramkan ini." kekeh Ai.
"Kalau gitu aku keluar dulu ya. Hati-hati pulangnya." ucap Nayla seraya keluar dari pintu.
"Ayo kita pulang aku udah kangen sama rumah dan kasur kesayangan aku." ucap Ai.
"Iya bentar, aku beresin barang kamu dulu ya." ucap Davier.
Setelah selesai, mereka pun keluar menuju ke parkiran. Ai memasuki mobil, dan ketika Davier ingin masuk ke mobilnya Nasya memanggilnya.
"Davier, tunggu sebentar." ucap Nasya.
"Iya ada apa Sya?" tanya Davier.
"Eh Kak Nasya." ucap Ai.
"Aku minta maaf atas ucapan Mama yang sudah keterlaluan sama kamu. Maafkan Mama ya Davjer." ucap Nasya.
"Iya, tidak masalah.
Ketika Davier dan Nasya sedang mengobrol Ai memilih berkutat dengan ponselnya. Ketika itu ia mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenal.
0878xxxxxxxx
Tes
Ini gue Alvaro
Me
Eh lo, jadi gimana?
0878xxxxxxxxx
Sabar Anin, gue belum juga mulai
Gue cuma ngabarin lo aja
Ngecek nomor yang lo kasi ini bener
atau nggak.
Me
Lo pikir gue bohong
Lo gila atau gimana sih Al
Me
Gue ga sebodoh itu juga
Dasar lo selalu nuduh gue aja
0878xxxxxxxx
Bisa aja kan Anin
Siapa yang ga kenal lo sih
Me
Tau ah lo ngeselin
0878xxxxxxxx
Kebiasaan ngambek
lo mode on dah
"Serius amat main handphonenya." ucap Davier.
"Loh kamu kapan masuknya?"tanya Ai heran karena yang ia ketahuiDavier sedang mengobrol dengan Nasya.
Udah dari tadi, kamu aja yang terlalu fokua sama handphone sampai ga liat aku masuk ke mobil." ucap Davier.
"Iya maaf, lagi berdebat sama manusia cabe nih." ucap Ai.
"Manusia Cabe? Emangnya siapa?" tanya Davier.
"Alvaro teman lama aku yang tadi di taman sama aku." ucap Ai.
"Kamu tuh ya selalu memberi gelar yang aneh-aneh aja." ucap Davier.
"Itu ga aneh, memang mulutnya itu pedas kayak cabe kalo lagi ngomong tau. Ga peduli " ucap Ai
"Kita pulang atau mau mampir kemana dulu nih?" tanya Davier.
"Pulang aja. Aku udah rindu berat sama rumah. Mau pulang cepat, ga mau kemana-mana." ucap Ai.
Davier pun melajukan mobilnya menuju ke rumah Ai. Lima belas menit kemudian mereka telah sampai.
"Ayah, Bunda, Aa, Ai pulang nih." teriak Ai yang membuat Davier geleng-geleng kepala.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Ai begitu senang, walau hanya semalam ia dirawat. Begitu rindu ia dengan rumah ini.
"Ai, kamu udah pulang. Maaf bunda ga bisa jemput." ucap Surraya seraya memeluk Ai.
"Ai kangen Bunda. Ai kangen semuanya."
"Bunda juga kangen banget." balas Surraya dan melepas pelukkannya.
"Bunda, Davier pulang dulu ya, orang rumah sudah menunggu." pamit Davier.
"Hati-hati ya bawa mobilnya." ucap Ai seraya memeluk Davier.
Di Rumah Keluarga Pramono.
"Assalamualaikum, Davier pulang." ucap Davier seraya masuk ke dalam rumahnya dan duduk di sofa.
"Anak Mama udah pulang. Gimana keadaan Ai udsh baikkan?" tanya Nirmala.
"Udah sehat Ma." ucap Davier.
"Syukur deh." sambung Vina.
"Oh ya Mama ada kabar baik buat kamu. Pernikahan kamu dipercepat jadi besok. Kamu senang kan?" tanya Nirmala.
"Mama serius?" kaget Davier.
"Iya, keluarga Maheswari juga sudah tahu dan juga mereka setuju. Jadi kamu istirahat dan persiapkan diri kamu untuk besok." ucap Surraya.
Di Rumah Keluarga Maheswari
Bunda serius? Bunda ga bercamda kan? Pernikahan aku besok dilaksanakan?" tanya Ai yang tak percaya dengan apa yang Bundanya katakan.
"Iya sayang. Ayah dan juga Om Hardi sepakat untuk mempercepat pernikahan kamu. Kamu senang kan?" tanya Surraya.
"Ya ampun Bun, Ai senang banget. Ai ga sabar menunggu besok. Kalo gitu Ai ke kamar dulu ya. Ai mau istirahat. Daahh Bunda." ucap Ai.
Ai pun masuk ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di kasur kesayangannya. Ia benar-benar merindukan kamarnya. Apalagi setelah menikah ia akan meninggalkan kamarnya ini.
Ai merogoh tasnya dan mengambil handphonenya. Kemudian mencari kontak Fira.
Me
Fir, besok jangan lupa
datang ke acara pernikahan
gue
Me
Awas kalo lo ga datang
Fira
Besok?
Bukannya masih 3 hari lagi
Fira
Lo ga lagi ngebet kan Aj?
Me
Nggak, gue serius
pernikahannya besok.
Me
Kedua keluarga mempercepat
acaranya, nah makanya gue
kasi tau ke lo
Fira
Oke, gue pasti datang
tenang aja.
Setelah menghubungi Fira Ai pun beristirahat menanti hari bahagianya esok.
"Gue ga nyangka begitu cepat waktu mmepertemukan gue dengan jodoh. Semoga ini yang terbaik. Selamat malam masa kini. Selamat pagi masa lalu." monolog Ai.
Beberapa menit membaringkan dirinya di kasur sudah membuatnya terlelap dalam alam mimpi.
-----------------Next Update----------------
Kamis, 2 Juli 2020
Salam Hangat
Author Halu