Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sistem Rusak
Jarum jam terus berputar dan hampir menyentuh angka 12, namun Fabian belum juga menjumpai motor dan kotak makanan yang harus ia kirim.
Berulang kali Fabian menggeram kesal, rahangnya sampai mengeras dan napasnya pun memburu. Dia tidak ingin gagal, tetapi apa yang sekarang bisa diperbuat? Tinggal hitungan menit, sedangkan barang belum ada wujudnya. Mau ke mana lagi dia harus mencari?
"Dasar Zayan sial*n!" umpat Fabian dalam hatinya.
Sudah cukup jauh dia meninggalkan gudang tempat ia disekap, tetapi belum ada tanda-tanda jalan raya. Sekian menit berjalan, sekadar gang kecil dan gelap yang ada di depan mata. Fabian belum tahu pasti di daerah mana ia saat ini.
Ketika Fabian melanjutkan langkah kakinya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Berdegup kencang detak jantung Fabian saat melihat benda pipih itu. Apakah waktunya sudah berakhir? Apakah pemberitahuan kompensasi sudah dikirim?
'60 detik terakhir!'
"Sial! Sial! Sial!" Dengan keringat yang terus bercucuran, Fabian memaki dan memukuli udara hampa. Benci? Sudah pasti. Dia gagal dan harus siap menerima kompensasi.
Pada akhirnya, Fabian hanya diam. Berdiri terpaku di atas setapak tempat ia berpijak. Tatapannya tak beralih dari layar ponsel yang menampilkan waktu mundur. Dari 60 detik, kini sudah menjadi 40 detik. Terus berkurang sampai akhirnya tiba di angka 10.
Otak Fabian panas seketika. Entah kejutan apa yang akan ia dapat kali ini. Satu, dua, tiga, dan pada hitungan kesepuluh, angka berubah menjadi 0.
Detik berikutnya, angka berubah menjadi warna merah, setelah sebelumya hitam dengan latar putih.
'Misi gagal!'
Layar ponsel berkedip-kedip. Fabian masih tak mengalihkan tatapannya, antara takut dan penasaran dengan kompensasinya.
'Sistem rusak!'
Mata Fabian makin melebar. Belum sempat ia mencerna lebih jeli, ponsel langsung mati dan hanya menyisakan layar hitam, yang sama dengan suasana di sekitar.
"Jangan bilang low bat." Fabian menggerutu sembari menekan tombol power di ponselnya.
Tak membutuhkan waktu lama, ponsel kembali menyala dan menampilkan beragam aplikasi. Sayangnya, aplikasi yang dituju Fabian tak ada lagi di sana. SKAK, telah hilang dari ponselnya.
"Hah! Kok nggak ada sih? Terus gimana cara klaim misi?"
Fabian mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan menggoyangkan sejenak. Namun, tidak ada perubahan. SKAK tetap tidak ada. Mungkin memang aplikasinya menghilang permanen, bukan sekadar eror karena gangguan jaringan.
"Apa ini kompensasi yang dimaksud kemarin? SKAK hilang dan aku nggak bisa menjalankan misi lagi. Sama kayak di pilihan mundur. Apa emang begitu ya?" gumam Fabian di tengah kebingungannya.
Setelah berpikir beberapa saat, Fabian menyimpan ponselnya dan melanjutkan perjalanan. Pikirnya, biarlah SKAK hilang dan tidak ada misi-misi lagi. Dia akan menggunakan uang yang sudah masuk dengan baik. Kalau misalkan SKAK berhenti menanggung gaji pelayan atau pajak jet pribadi dan kapal pesiar, dia bisa menjual salah satu di antaranya. Harganya pasti mahal dan syukur-syukur bisa dijadikan modal usaha.
"Masalah ini pikirkan nanti aja. Yang penting sekarang tiba dulu di rumah," ujar Fabian kala itu.
Dengan pikiran yang masih kalut, Fabian berjalan lebih cepat dan menyusuri gang kecil itu. Sampai akhirnya ia tiba di jalan raya. Ternyata tempat barusan tidak jauh dengan lokasi pelanggan yang akan ia kirimi makanan.
Dalam kondisi yang menyedihkan, Fabian berdiri di tepi jalan, menunggu taxi online yang barusan ia pesan. Masih untung ada yang bersedia meski tarifnya lebih mahal, daripada jalan kaki, itu tidak lucu.
Setelah cukup lama menanti, akhirnya taxi itu datang juga. Dengan cepat Fabian naik dan menyebutkan alamat vila miliknya. Fabian tak banyak bicara, pikirnya nanti malah sopir bertanya banyak hal dan bisa-bisa dirinya menyinggung SKAK. Jangan sampai itu terjadi.
Perjalanan yang cukup panjang akhirnya usai sudah. Taxi yang membawa Fabian berhenti tepat di depan vila, bersamaan dengan mobil hitam yang tampak familier.
"Mobil siapa itu? Aneh sekali bertamu malam-malam," batin Fabian sembari turun dari mobil. Ia pun menyerahkan beberapa lembar uang, tetapi tatapannya tertuju pada tamu yang masih setia di dalam mobil.
Setelah taxi pergi, Fabian berjalan mendekati mobil hitam itu. Maksud hati ingin menyapa, tetapi urung setelah melihat sosok-sosok pria yang keluar dari sana. Mereka adalah orang dari SKAK. Untuk apa mereka datang mendadak?
"Tuan Fabian?" sapa salah satu di antaranya.
Fabian mengusap keringat di wajahnya, "Ada apa ya, Pak?"
Bersambung.....