Akibat saudara laknat yang membawanya ke bar, dia malah berhubungan satu malam dengan laki-laki yang tak dikenalnya. Disaat bersamaan, perusahaan ayahnya dinyatakan bangkrut, sang ayah yang tak kuat dengan kenyataan ini, memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari gedung. Seorang gadis kaya yang tadinya sangat dihormati, sekarang berubah menjadi pelacur yang terhina itulah julukannya. Empat tahun kemudian, gadis ini membawa ketiga anaknya yang lucu dan tidak sengaja malah bertemu kembali dengan sosok laki-laki misterius itu.
penasaran dengan kisah selanjutnya? yukk disimak dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara; like, follow, tambah pavorite, dan komen agar author lebih berkreatif lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MD tri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Tania masih mengingat dengan jelas kejadian masa lalu...
Alih-alih memasang trik!
Tapi nasi sudah jadi bubur, selain membenci pikirannya yang terlalu konyol, apa lagi yang bisa dilakukan Tania?
Orang-orang memasang jebakan untuk memancingnya, dan bodohnya dia telah lompat ke dalamnya.
"Terimakasih." Alisia tersenyum lalu berkata, "Meskipun saudara, masalah ganti rugi ini tetap harus diselesaikan. Anakmu memukuli putraku dan memecahkan kaca jendela mobilku, coba jelaskan bagaimana cara mengganti ruginya?"
"Ternyata kalian adalah saudara ya?" Ibu Anita buru-buru mengambil kesempatan untuk menyelesaikan masalah. "Karena kalian adalah saudara, lebih baik diselesaikan secara kekeluargaan..... "
"Kekeluargaan?" Alisia menyela Bu Anita dan berteriak dengan marah, "Reputasi putraku sangat penting. Masalah yang terjadi di sekolah ini, kalian kira bisa lari dari tanggung jawab?"
"Bukan, bukan, maksudku bukan itu... "
"Aku sudah telpon suamiku, sebentar lagi akan sampai."
Alisia menekan Ibu Kepala Sekolah Lucy dengan angkuh, "Bu, jika saya tidak puas dengan penanganan masalah ini, sekolah ini akan ditutup!"
"Hah?" Bu Anita terkejut hingga pucat.
"Banyak omong." Bu Lucy buru-buru memarahi Bu Anita lalu memohon kepada Alisia, "Jangan marah Nyonya Alisia, saya pasti akan menyelesaikan masalah ini."
Kemudian dia berkata pada Tania dengan serius, "Bu, anak Anda benar-benar keterlaluan, Anda dan anak Anda harus segera meminta maaf kepada tuan muda Kristian dan Nyonya Alisia, kemudian membayar ganti rugi."
"Bu, saya belum tahu jelas masalah ini, tapi Anda sudah membuat kesimpulan, ini tidak adil, kan?" Ucap Tania dengan tegas.
"Kamu... "Bu Lucy tidak dapat ber kata-kata lagi.
"Menurut saya, seharusnya cari tahu kebenarannya dulu." Tania berjalan ke arah Carlos dan Carles, "Nak, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Dia." Carlos menunjuk kearah Kristian dengan marah, "Dia-lah yang mengecat rambut Carla dan membuatnya menangis. Aku memperingatkannya supaya jangan seperti itu, tapi dia malah memarahiku."
"Omong kosong, anakku tidak akan melakukan hal seperti itu." Alisia segera membela putranya.
"Tolong jangan menyela!" Tania mengamati Kristian dan ditangannya masih ada cat.
Dan juga Carlos tidak membantah, hanya ada ekspresi jujur yang tersirat dari wajahnya.
"Benar." Carles mengepalkan tangan, dan wajahnya memerah karena marah __ __
"Aku memintanya untuk minta maaf kepada Carlos dan Carla. Bukannya meminta maaf, tapi dia malah melempar bola kristal yang ada di meja guru. Untungnya aku menghindar dengan cepat, tapi bola kristal itu terlempar keluar jendela kelas, dan memecahkan kaca mobil yang ada dibawah...... "
"Jadi kalian sama sekali tidak memukulnya, dan jendela kaca mobil pecah itu juga ulah dia, ya?" Tania sepenuh hati memeluk kedua anaknya.
"Benar." Carlos dan Carles mengangguk bersama.
"Beberapa teman juga melihatnya, mereka dapat bersaksi." Pikiran Carlos sangat jernih.
"Apa kalian sudah memberi tahu Bu guru kejadian ini?" Tania bertanya lagi.
"Sudah." Carlos memandang Bu Anita dengan kesal. "Aku sudah mengatakannya beberapa kali, dan teman kelas juga sudah bersaksi. Bu Anita sudah tahu."
Tania menoleh kearah Bu Anita.
Bu Anita tampak malu dan ingin buka mulut, tapi ketika melihat mata tajam Bu Lucy, dia menundukkan kepala karena takut.
"Apakah benar yang mereka latakan?" Alisia mencibir, "Jelas-jelas mereka berdua yang membuli putraku."
"Aku lebih percaya anak-anakku, mereka tidak pernah berbohong atau sembarangan memukul." Tania memandang Kristian.
"Lagi pula tuan muda masih berpakaian rapi, dan rambutnya tidak berantakan sedikitpun, tidak seperti orang yang habis dipukuli."
g publik kelanjuatnnya
tanya aja langsun,,,
gak jadi baper,,,,
ih danil,,,