Bagi sebagian orang jatuh cinta adalah hal yang mudah, manusia bisa jatuh cinta bahkan tanpa mengenal lebih dalam orang yang dia cintai. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hal yang berbeda di rasakan oleh pemuda bernama David Gabriel, putra sulung dari pengusaha kaya raya bernama Louis Gabriel yang sama sekali tidak mudah untuknya jatuh cinta kepada seseorang wanita.
Baginya, jatuh cinta hanya sekali seumur hidup dan cintanya hanya untuk wanita bernama Teresia Anindya Putri, wanita yang tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi.
Mampukah David menemukan kembali cinta pertamanya? Seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani oleh wanita bernama Teresia itu sehingga dia harus pulang ke desa terpencil dimana keluarganya berada?
Sekuel dari "Hasrat Tuan Kesepian" Untuk kalian semua Reader kesayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Terlambat
David menatap lekat wajah Tere sang istri yang tiba-tiba saja menangis sesenggukan tepat di depan pusara ibu kandungnya. Dia pun seketika mengerti, pasti istrinya itu sedang memikirkan Bunda Annisa sang ibu yang saat ini masih belum di ketahui keberadaannya.
David pun segera memeluk tubuh sang istri mencoba untuk menenangkan, dia membenamkan kepala Teresia di dada bidangnya seraya mengusap rambut panjangnya lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya, sayang. Mas janji bakalan cari Bunda Annisa sampai ketemu, dengan di bantu sama Daddy dan juga Om Jodi, Bunda Annisa pasti akan segera diketahuinya keberadaannya, kamu gak usah khawatir ya.'' Lirih David lembut.
"Secepatnya, aku ingin Bunda ditemukan secepatnya, Mas. Aku gak mau sampai terlambat dan Bunda sudah tinggal nama saja nantinya."
"Iya, Mas janji sayang."
Cup ....
Satu kec*pan pun mendarat di kepala Teresia sang istri.
♥️♥️
Di tempat yang berbeda.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara ketukan di pintu seketika membangunkan tidur lelap seorang Larisa. Dia yang masih tertidur usai pesta semalaman pun terpaksa harus bangkit lalu berjalan ke arah pintu dengan mata yang menahan rasa kantuk.
"Huaaa ... Siapa si akh? Ganggu orang tidur aja si." Gumam Larisa dengan perasaan kesal.
Ceklek ....
Pintu rumah pun di buka. Larisa menatap seorang ibu paruh baya yang saat ini berdiri tepat di depan pintu. Penampilan wanita berusia pertengahan 50-an itu pun terlihat elegan layaknya kaum sosialita lengkap dengan tas mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya kini.
"Permisi, apa Teresia masih tinggal di rumah ini?" Tanya ibu tersebut ramah.
"Maaf, anda siapa ya? Kenapa anda nanyain adik saya?'' Larisa balik bertanya.
'Adik? Apa ayahnya Tere udah nikah lagi?' (batin Ibu tersebut.)
"Saya ibu kandungnya Tere, bisa tolong panggilkan dia?"
Larisa seketika tercengang. Ibu kandungnya Tere semodis dan secantik ini? Dari penampilannya saja, sudah terlihat jelas kalau wanita ini berasal dari kalangan sosialita dan pastinya juga orang yang sangat kaya.
"Silahkan masuk, Tante. Kira bicara di dalam, saya akan menceritakan tentang putri Tante. Gak baik ngobrol di pintu, o iya nama Tante siapa?'' Tanya Larisa pandai berakting seperti biasanya.
"Nama saya Annisa, panggil saja Bunda Annisa."
"Silahkan masuk Bunda Annisa."
Bunda Annisa pun mengangguk samar lalu masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah yang pernah dia huni dahulu sebelum dirinya berpisah dengan ayah Teresia. Dia pun menatap sekeliling rumah, tidak ada yang berubah sedikitpun dari rumah yang telah dia tinggalkan lebih dari 10 tahun yang lalu itu.
"Silahkan duduk, Tante. Saya ambilkan minum dulu."
"Gak usah, saya gak haus ko. Katakan saja dimana Teresia sekarang." Tolak Bunda Annisa kemudian.
"Sebenarnya, Tere sudah tidak tinggal lagi disini. Dia sudah menikah dan ikut suaminya di kota." Ucap Larisa berbicara jujur.
"Benarkah? Tere sudah menikah?"
Larisa menganggukkan kepalanya.
"Kamu pasti tahu dong dimana alamat dia di kota?"
Larisa menggelengkan kepalanya, berbohong memanglah keahliannya.
"Wah, sayang sekali. Padahal berharap banget bisa ketemu sama dia, saya sempat tinggal di luar negeri sama suami saya, makannya baru sempat datang ke sini setelah sekian lama." Ucap Bunda Annisa penuh rasa kecewa.
'Tinggal di luar negeri? Wah ... Sekaya apa Bunda Annisa ini? Astaga, beruntung sekali Tere punya ibu kaya raya seperti dia.' (batin Larisa.)
"Saya bisa carikan alamat dia kalau Tante mau tapi--'' larisa tidak meneruskan ucapannya.
"Tapi apa? Saya akan bayar berapapun biayanya. Kamu sebutkan saja nominalnya, 10 juta, 20 juta, tak masalah saya punya banyak uang ko.''
Mata Larisa seketika berbinar lengkap dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.
"30juta cukup, Tante. Saya janji akan segera menemukan alamat Tere,'' ucap Larisa tersenyum lebar.
"Oke, saya kasih ceknya sekarang juga.''
"Cek?"
"Iya, Kenapa?"
"Gak bisa yang cash aja, Tante?"
"Saya mana bawa uang sebanyak itu. Kalau kamu mau, besok saya bisa balik lagi ke sini dengan bawa uang segitu."
"Gak usah, Tante. Gak apa-apa cek juga, saya tinggal cairkan ke Bank nanti."
"Oke, labih baik seperti itu supaya saya gak capek bolak balik ke sini."
Bunda Annisa pun merobek secarik cek yang sudah tertulis nominal uang yang diminta oleh Larisa.
"Ini, pastikan kamu benar-benar menemukan alamat putri saya dengan benar, kalau sampai salah, saya bakalan ambil lagi uang ini dan itu harus, kamu harus mengembalikan uang ini utuh seutuh-utuhnya tidak boleh kurang sepeserpun jika dalam waktu satu Minggu kamu masih belum bisa menemukan alamat putri saya itu."
Larisa seketika menelan ludah kasar.
'Mudah-mudahan mereka masih tinggal rumah itu. Jangan sampai mereka pindah kemanapun, bisa gawat nanti. Darimana aku bisa cari uang sebanyak ini jika harus mengembalikannya kemudian.' (batin Larisa.)
"Kamu mengerti apa yang saya katakan?" Tanya Bunda Annisa.
"Pasti, Tante. Saya pasti akan memberikan alamat yang akurat buat Tante. Saya janji." Ucap Tere terlihat begitu meyakinkan lalu menerima cek yang berikan oleh Bunda Annisa.
"Saya pergi dulu. Ingat, saya beri waktu kamu selama satu Minggu. Oke?" Tegas Bunda Annisa penuh penekanan lalu hendak keluar dari dalam rumah.
"Tunggu, Tante."
Bunda Annisa pun menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa lagi?"
"Eu ... Kemana saya harus menghubungi Tante kalau saya sudah menemukan alamatnya?"
"O iya saya lupa. Ini kartu nama saya, kamu bisa menelpon atau datang ke rumah saya kalau kamu mau.'' Jawab Bunda Annisa menyerahkan kartu nama miliknya lalu benar-benar keluar dari dalam rumah tersebut.
'Ya Tuhan, kenapa aku gak punya ibu sekeren dia? Udah cantik, elegan, kaya raya lagi. Coba tadi aku ngaku sebagai Teresia, bilang aja kalau muka aku ini habis di operasi plastik gitu, hahaha ... Gila kamu Larisa,' (batin Larisa.)
Dia pun mengantar kepergian Bunda Annisa sampai di tepi jalan dimana mobil mewah dengan harga miliaran sudah terparkir di sana.
'Mobilnya? Astaga ... Pasti harganya mahal banget.' (Batin Larisa lagi.)
Ceklek ....
Seorang supir membukakan pintu mobil tersebut dan Bunda Annisa pun segera masuk ke dalamnya.
"Ingat pesan saya ya. O iya, siapa nama kamu? Kita belum sempat berkelana tadi."
"Saya Larisa, Tante.'' Jawab Larisa ramah.
"Oke, Larisa. Saya pulang dulu."
Blug ....
Pintu mobil pun di tutup rapat dan sang supir segera masuk ke dalam mobil siap untuk menyetir.
"Dadah ... Hati-hati ya Tante." Teriak Larisa melambaikan tangan saat mobil tersebut mulai meninggalkan tempat itu.
"Si Tere benar-benar bodoh, seharusnya dia ikut ibunya yang kaya raya itu. Eh ... Malah ikut sama ayah yang miskin dan sakit-sakitan. Lumayan rezeki nomplok ...'' Gumam Larisa men*ecup secarik cek bertuliskan uang dengan nominal 30 juta di tangannya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️