Ziel Alexander, pewaris satu-satunya Keluarga Alexander, terpaksa menikah dengan seorang wanita akibat perjodohan yang disiapkan oleh sang kakek, Romano Alexander.
Athena Beatrice Greene, wanita cantik yang dijodohkan dengan Ziel. Ia menerima perjodohan itu untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Pertemuan pertama antara Ziel dan Athena, membuat Athena tak ragu menerima perjodohan itu juga. Namun, ia tak menyangka sikap dan sifat Ziel langsung berubah setelah pernikahan mereka.
Penderitaan bertubi-tubi mulai dirasakan oleh Athena. Namun rasa yang telah timbul membuat ia menerima semuanya. Hingga suatu ketika ia menemukan dan mengetahui sesuatu yang membuatnya jatuh dan sakit tak terkira.
Ia pun bertekad untuk membuat Ziel menyesal dan merasakan sakit seperti yang ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Sudah hampir 1 jam Ziel berada di dalam ruang tindakan dan itu membuat Athena semakin cemas. Ia melihat banyak darah yang keluar dari tubuh mantan suaminya, sehingga membuatnya gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di depan ruang tindakan sambil meremas kedua tangannya.
Tak berselang lama, dokter keluar dari ruang tindakan dan menghampiri Athena.
“Bagaimana?” tanya Athena.
“Luka tusukan agak dalam, tapi untung saja tak mengenai organ vitalnya,” kata sang dokter, “ia akan segera dipindahkan ke ruang rawat.”
“Berikan ruang VIP untuknya,” kata Athena.
“Baik, Nona. Anda bisa langsung ke administrasi untuk mengurus pembayarannya.”
“Baiklah.”
Athena langsung menuju ke bagian administrasi untuk mengurus semuanya. Ia merasa berhutang budi pada Ziel karena telah menolongnya.
Setelah selesai mengurus semuanya, Athena bergegas menuju area ruang VIP. Ia bertanya pada bagian administrasi di sana, ruangan yang ditempati oleh Ziel.
“Tinggal jalan lurus, paling ujung sebelah kanan,” jawab staf administrasi tersebut.
“Terima kasih,” Athena pun langsung menuju ke ruangan tersebut dan masuk.
Ia melihat Ziel masih terlelap. Itu semua pasti karena pengaruh obat. Athena mengambil kursi dan meletakkannya persis di sebelah tempat tidur.
“Mengapa kamu datang, hmm? Apa kamu ingin berlagak sok pahlawan di depanku? Apa kamu ingin memperlihatkan bahwa kamu jago berkelahi? Seharusnya kamu tidak datang dan terluka seperti ini. Biarkan saja aku, lagi pula tak ada yang bisa diharapkan dari wanita sepertiku,” kata Athena dengan lirih.
Namun, tak ada jawaban apapun dari Ziel. Pria itu masih dengan tenangnya terlelap. Athena terus menemani Ziel hingga akhirnya ikut terlelap di sampingnya dengan posisi duduk.
Sore harinya, Ziel tersadar. Ia mengerjapkan matanya dan merasakan berat di tangan sebelah kanannya. Ia tersenyum saat melihat Athena menemaninya.
Ia sedikit meringis saat merasakan sakit di bagian perutnya. Hal itu membuat Athena pun terbangun.
“Kamu sudah sadar? Aku akan memanggil dokter,” kata Athena.
“Nanti saja. Aku ingin berduaan denganmu sedikit lebih lama,” kata Ziel.
“Jangan bercanda. Aku tak ingin lukamu kenapa-kenapa,” Athena pun menekan tombol untuk memanggil dokter. Meskipun dokter mengatakan kalau tak ada organ vital yang terkena tusukan, tapi luka yang dialami Ziel cukup dalam.
“Aku tidak apa-apa. Jangan kuatir,” kata Ziel tersenyum.
Pintu diketuk dan dokter pun masuk. Athena langsung beranjak dari tepi tempat tidur karena tak ingin mengganggu saat dokter memeriksa Ziel.
“Apa yang anda rasakan, Tuan?” tanya sang dokter.
“Hanya sedikit sakit di area perutku,” jawab Ziel.
“Hal itu wajar karena anda baru saja menerima tusukan dan menjalani operasi. Apa anda mengalami pusing atau mual?”
“Tidak.”
“Baiklah,” dokter tersebut meminta perawat yang ikut bersamanya untuk mencatat semuanya. Ia juga memeriksa kembali jahitan bekas operasi.
“Tuan Ziel sudah tidak apa, Nyonya. Ia akan menjalani proses pemulihan dengan cepat dan bisa pulang setelahnya.”
“Terima kasih, Dok,” kata Athena.
Dokter dan perawat itu pun meninggalkan ruangan. Athena kembali ke sisi Ziel dan menghela nafasnya pelan.
“Beristirahatlah.”
“Aku sudah terlalu lama tidur, An.”
“Apa tidak mengapa kalau aku tinggal dulu?” tanya Athena.
“Kamu akan pergi?”
“Ya, aku harus pergi ke kantor polisi untuk menjelaskan apa yang terjadi di butik-ku,” jawab Athena.
“Apa tidak bisa nanti?”
Athena menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan lama. Aku berjanji.”
“Baiklah, tapi hati-hati. Pria itu masih berkeliaran dan rasanya tidak aman kalau kamu pergi keluar seorang diri,” kata Ziel yang merasa kuatir.
“Aku akan cepat dan segera kembali.”
“Aku menunggumu.”
Athena pun mengambil tas miliknya kemudian keluar dari ruang rawat Ziel. Ziel mengambil ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia menghubungi Evan.
“Ada apa, Ziel?”
“Aku di rumah sakit,” jawab Ziel.
“Di rumah sakit?”
“Aku tertusuk. Untung saja aku tepat waktu, kalau tidak Athena akan mengalami hal yang buruk.”
“Aku akan segera ke sana,” kata Evan.
“Okay. Tapi jangan sampai Grandpa tahu apa yang terjadi padaku.”
“Hmm.”
Ziel tersenyum sesaat setelah memutus sambungan ponselnya. Meskipun ia tertusuk, setidaknya itu bisa membuat Athena berada di dekatnya. Ia yakin setelah ini hubungannya dengan Athena akan semakin membaik.
**
Evan yang baru saja mau berangkat dan sedang dalam perjalanan, melihat Tuan Ray dan Nyonya Christine sedang menarik Caroline keluar dari dalam mobil. Namun Caroline berusaha melepaskan diri.
Wanita itu pun berhasil dan akhirnya lari ke jalan di mana banyak mobil melintas.
Brakkk
Mata Evan membulat saat melihat bagaimana Caroline tertabrak dan kini tergeletak di jalan. Kedua orang tuanya yang Evan lihat bersamanya tadi, langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Caroline begitu saja.
Sialannn!!! - batin Evan.
🌹🌹🌹
👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍