"Gimana bisa coba gue masuk novel?! Emangnya masuk akal? Udah kayak di novel aja!"
tahap revisi🙏
jangan lupa masukan ke favorit ya( ◜‿◝ )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 32
Haii guyss!!! Ada yang nunggu cerita ini gak? Aku bakalan up lagi deh setelah membaca ceritanya ulang. Walau rada sedikit lupa dan mungkin berbeda dengan rencana ku yang dulu.
Oh ya, karena alurnya sedikit berantakan dan banyak yang bingung. Aku mau selesaikan dulu akhir cerita Aluna ya biar gak bingung, kalian bakal syok sama kejutanku satu ini☺️
...Happy Reading 💚...
...Episode 32...
Disebuah ruangan yang gelap. Seseorang berteriak meminta tolong dengan keadaan yang memprihatinkan. Kaki tangannya yang diikat dengan matanya yang di tutup dengan kain. Bekas luka sayatan yang masih baru terdapat sebagian wajahnya, dan lembam di beberapa bagian tubuhnya. Bajunya kusut dan terdapat bercak noda darah, sungguh mengerikan.
" Bagaimana Jerk? Kau menikmatinya?" Suara rendah itu begitu mengema di ruangan ini. Aura dominan seorang pemuda yang duduk dikursi tepat dihadapannya, langsung membuat tubuhnya menggigil ketakutan. Dia mengenali suara itu.
" Si- siapapun tolong aku!? T- tolong jangan sakiti aku! Aku minta maaf! A- aku mohon!" Rintih pemuda itu.
" Takut, hm?"
Pemuda dia bangkit berjalan mendekat kearahnya, berjongkok menatap wajah pria itu dengan teliti.
" Dimana otak licik mu itu? Semudah itu kau memohon setelah membuatku marah?" Sarkas pemuda itu. Tangannya bergerak membuka penutup mata pria tersebut dengan kasar.
" A- Arthur..." Pupil pria itu bergetar melihat sosok Yanga da dihadapannya.
" Lihat dan rasakan apa yang gue rasakan waktu itu!"
Arthur, pria itu menyeringai mengeluarkan pisau lipat kesayangannya dari saku. Dia akan bermain main sebentar.
" T- tidak! Tidak!! To- tolong!!"
...****...
Garvan mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Menyalip dengan ugal ugalan melewati para pengendara lainnya yang mengumpati dirinya. Garvan tidak memperdulikan nya,dia harus segera bertemu dengan sosok yang sudah dia cari berbulan-bulan lamanya.
" Tunggu aku, lun." Gumamnya mengeratkan cekalannya pada setir mobil.
Gadis yang bersembunyi darinya karena sebuah kesalahpahaman. Seharusnya dia jujur saja saat ini, tetapi keselamatan Aluna di pertaruhkan.
Dia memiliki banyak musuh yang sangat ingin menggulingkan bahkan menyingkirkannya. Lalu ada sosok yang sangat membencinya, dia tahu kelemahan Garvan. Orang itu menggunakannya agar dirinya tunduk dan mematuhinya.
Bahkan arthur yang merupakan ketua geng motor tidak bisa melindungi, gadis itu karena itulah dia bertingkah seolah membencinya. Mereka berdua memerankan peran mereka masing-masing dan yang paling garvan sesali adalah luna yang tengah mengandung anaknya. Garvan bingung entah apa yang harus ia lakukan, namun yang pasti dia sangat ingin bertemu dengan gadis itu. Rsa rindu yang menumpuk dan mengebu membuat dia bersemangat untuk menyelesaikan urusannya.
Sosok itu berhasil ditangkap dan dibunuh oleh Arthur. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana mereka, walau ada beberapa yang kabur dan meloloskan diri.
Kini garvan harus menemui gadisnya. Meminta maaf dan membuat gadis itu kembali kepelukannya. Setelahnya dia tidak akan membiarkan gadis itu pergi.
Begitu sampai di sebuah rumah yang terlihat sederhana namun nyaman dilihat, Garvan terdiam menatap pintu rumah tersebut.
Hatinya ragu untuk keluar dan mengetuk pintu itu. Akankah dia disambut? Atau sebuah tolakan yang akan dia dapatkan?
Sebaiknya dia diam saja memperhatikan rumah itu tanpa ada niatan untuk keluar. Dua jam dia berdiam diri di mobil hanya untuk menunggu sang pemilik rumah keluar menampakkan diri, namun harapannya pupus. Sosok wanita hamil tidak terlihat sedikit pun, lagipula buat apa gadis itu keluar?
Garvan terdiam dengan pemikirannya sendiri. Menghela nafas panjang.
" Sebaiknya aku menyewa kamar, nanti malam kesini lagi." Ucapnya. Matanya menyorot rindu pada rumah itu.
" Maaf, sayang." Lirihnya.
Dikit dulu ya nanti malem lagi☺️
jdi ngebleng aku bacanya