"Kalau kau ingin aku tidak mengenali mu di kampus. Oke!! Itu tidak masalah bagi ku. Tapi kalau nikah dan pakai kontrak kontrakan seperti di novel-novel! I say NO! Aku tidak akan bersedia!! Dan kalau pun kau ingin menyembunyikan ini dari semua orang maka aku punya satu syarat yang harus kau penuhi.” Sebut Saka.
"Aku tidak sedang melakukan negosiasi saat ini tuan Gyan Assaka Hardata." Jawab Bia malas.
"Kalau begitu sayang sekali. Karena begitu sampai dikampus aku akan langsung mengumumkan pernikahan kita ke semua orang.." Ujar Saka dengan enteng nya.
Bia menghela nafas panjang dan melihat malas pada Saka. " Baik. Aku setuju. Tapi aku tidak mau ada siapapun yang tahu tentang pernikahan kita selain keluarga kita dan orang yang datang ke nikahan kita kemarin.."
“cepat katakan!” sambung Bia.
"Aku ingin kau melayani k-u... "
"Apa!!!" sela Bia, langsung memotong ucapan Saka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Saat Saka selesai melilitkan handuk di pinggang nya, Saka pun langsung menuju kamar mandi. Saka yang tidak tahu kalau ada Bia di dalam kamar mandi karena memang tidak terdengar bunyi apapun dari di dalam kamar mandi itu.
Pada saat Saka akan memegang knop pintu kamar mandi tiba-tiba pintu itu terbuka padahal Saka sama sekali belum memutar knop pintu itu. Dan Mata Saka langsung tertuju ke Bia yang hanya mengenakan handuk yang Bia lilit.
Untuk persekian detik, Bia terbengong melihat Saka yang hanya menggunakan handuk yang Saka lilitkan di pinggang Saka, sehingga semua roti sobek tanpa selai itu terpapar di depan Bia. Bohong kalau Bia bilang itu tidak membuat nya tergoda.
Kini kedua nya sama-sama masuk dalam mode mengheningkan cipta untuk sesaat, sampai akhirnya Bia sadar kemana arah pandangan mata. Yang tidak lain dan tidak bukan tertuju pada belahan da dan nya.
“Aaaaaaaaaaaa- aaaaaaaaaaaaa - aaaaaaaaaa!! Aaaaaaaa-aaaaaaaaaa- aaaaaaaa! Aaaaaaaaaaa!” Bia sampai teriak kencang berkali-kali.
Saka yang mendengar Bia berteriak auto panik dan hendak menutup mulut Bia dengan tangan nya. Hanya saja gerakan Saka kalah cepat dengan gerakan Bia yang reflek melempar sebuah box transparan yang berisi sabun, sampo dan benda- benda lain nya yang Bia butuhkan untuk mandi.
“Ahk!!” teriak Saka yang awalnya memang karena kesakitan karena di lempar box seberat itu. Tapi begitu ini dapat menjadi peluang dia berdekatan dengan Bia, Saka dengan sengaja melebih-lebih kan teriakan nya. Seolah-olah lemparan Bia mengenai pelipis nya itu sangat- sangat sakit.
Tidak lupa untuk membuat suasana lebih drama lagi, Saka pun pura- pura reflek memenggang pelipis nya sambil memasang ekspresi kesakitan yang sangat parah. Dengan harapan Bia akan merawat nya malam ini. “Kalau perlu dia mengira aku kena geger otak saja sekalian.” Gumam Saka dalam hati.
“Kau tidak apa-apa?”tanya Bia reflek melangkah maju melihat keadaan Saka. Mulut Bia boleh mengatakan dia tidak peduli dengan pria yang bernama Gyan Assaka Hardata itu, tapi hati kecil Bia tidak bisa berbohong, membuat alam bawah sadar Bia menggerakkan tubuh Bia. Bukti nya saat ini tubuh Bia sudah berada sangat dekat dengan tubuh Saka. Kaki Bia berjinjit melihat pelipis Saka yang terkena lemparan homerun nya tadi.
“Sini coba aku lihat.” Paksa Bia, menarik tangan Saka yang menutupi pelipis kanan Saka.
“Tidak perlu. Aku bisa mengobati nya sendiri. “ Ucap Saka dengan ekspersi yang sudah pasti di lebih-lebihkan nya. “Tidak buruk juga! Walau pun harus mengorban kan pelipis kanan ku tapi hasil nya tidak mengecewakan.” Ucap Saka dalam hati.
“Sini aku lihat! Kalau geger otak gimana?” ujar Bia asal.
“Sudah benar Bia. Ini sudah tidak apa-apa!” ucap Saka kemudian mengelengkan nya kepala nya pelan sambil sesekali meringis agar terkesan pelipis nya sangat lah sakit.
“CK!! Kau ini selalu saja keras kepala Gyan Assaka Hardata! Ayo kita duduk dulu disana. Aku cek. Nanti malah kenapa-napa.”Bia menarik tangan Saka menuju sofa.
“Ayoo buka...” Paksa Bia menarik tangan Saka. “Kalau kau tidak membuka nya, bagaimana aku bisa lihat ini luka nya parah atau tidak.”
Saka pun perlahan menurunkan tangan nya dan – PLETAK!! Bia menyentil kuat pelipis Saka. “Awas kalu sekali kau mempermainkan ku!” ujar nya marah karena ternyata tidak ada apa-apa di pelipis nya Saka kecuali sedikit tanda merah.