Demi bisa hamil, Deavenny sampai nekat mencuri benih suaminya sendiri yang tak mau memiliki anak dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Marvel mengusap puncak kepala istrinya sebelum meninggalkan ruangan. “Sebentar, ya, Sayang. Aku menemui dokter dulu,” pamitnya. Ia mencium kening Deavenny hingga membuat mertuanya cemburu.
“Ck! Sudah mesra-mesranya.” Daddy Davis menarik tangan Marvel hingga menjauh dari putri kesayangannya. Dia masih sedikit dongkol dengan menantunya itu karena kecolongan sampai membuat Deavenny hamil. Karena tak bisa diluapkan dengan marah-marah lagi, akhirnya disalurkan dengan keisengan.
“Itu tidak mesra, Dad, hanya mencium kening. Bukti kalau aku menyayanginya,” jelas Marvel seraya menggelengkan kepala menilai sifat kekanakan mertuanya. Sepertinya memang benar apa kata orang kalau orang tua pasti akan kembali seperti anak-anak lagi, dan kali ini ia sudah menjumpai dalam wujud seorang Tuan Dominique yang sudah memiliki tujuh cucu, artinya telah menjadi seorang kakek.
Marvel berdiri tegak, ia mengayunkan kaki menuju arah pintu. Menyusul dokter yang sudah keluar terlebih dahulu.
“Eits ... kau mau ke mana?” Mommy Diora menarik lingkar leher baju suaminya yang hendak mengikuti Marvel, hingga Daddy Davis mendadak tercekik oleh pakaian.
Mau tak mau, Daddy Davis berhenti bergerak. Sebab, semakin kaki maju justru membuatnya bertambah tercekik lingkar leher pakainnya. “Aku mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter juga. Pasti mereka ingin membicarakan tentang putri kesayanganku,” jelasnya seraya mencoba untuk melepaskan tangan istrinya dari bajunya.
“Tidak perlu, biarkan Marvel saja yang menemui dokter.” Mommy Diora mencegah suaminya supaya tak pergi. Sebab, bisa saja membuat masalah kalau dokter memberitahukan hal-hal yang tidak ingin didengar oleh Tuan Dominique. Pria baruh baya satu itu memang sedikit sensi kalau menyangkut Deavenny.
Daddy Davis menghela napas kasar. “Oke, aku tidak pergi, tapi lepaskan tanganmu. Sejak tadi aku tercekik,” pintanya seraya kembali duduk di tepi ranjang pasien.
...........
Sementara itu, Marvel sudah duduk berhadapan dengan dokter yang menangani istrinya. “Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Dok?”
“Hasil laboratorium istri Anda sudah keluar, Tuan.” Dokter memberikan sebuah dokumen dari tes urine dan darah pasiennya.
Marvel membuka amplop cokelat yang ada di tangannya, mengeluarkan kertas dan membaca dengan seksama. “Jadi, istriku mengalami preeklamsia?” tanyanya dengan hati yang sangat berdebar. Apa yang dia takutkan selama ini, ternyata sungguh terjadi.
Dokter mengangguk. “Benar, Tuan. Istri Anda hanya memiliki ginjal satu, itu bisa menjadi penyebabnya.”
Marvel menghela napas kasar seraya menyandarkan punggung ke kursi. “Lalu, apa yang harus ku lakukan agar anak dan istriku bisa tetap sehat?”
“Saya sudah mengecek dan melihat kondisi Nona Deavenny, sepertinya mulai membaik dari sebelumnya. Saran saya, lakukan proses persalinan saja supaya tidak membahayakan kesehatan istri Anda.”
Marvel nampak pusing sendiri. Dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena yang akan melahirkan adalah Deavenny bukan dirinya. “Aku akan menanyakan kesediaan istriku, entah dia mau atau tidak.”
“Silahkan, Tuan. Nona Deavenny juga meminta izin untuk pulang, sebenarnya dengan kondisi yang mulai menurun lagi tekanan darahnya, saya memperbolehkan setelah infus terakhir habis. Tapi, tetap dipantau kesehatannya dan rutin cek ke dokter, karena sewaktu-waktu tekanan darah bisa tinggi lagi dan gejala-gejala lainnya ada kemungkinan muncul. Tolong dipertimbangkan saran saya supaya mengurangi risiko eklamsia.”
“Baik, terima kasih atas sarannya.” Marvel memundurkan kursi dengan tenaga yang lemas setelah mendengar penyakit yang diderita oleh istrinya. Dia kembali lagi ke ruang rawat Deavenny.