NovelToon NovelToon
Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Tamat
Popularitas:137.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Vira Adelia tak menyangka, dirinya akan bertemu kembali dengan Vicky Bahru Sanusi mantan kekasihnya yang teramat dia cintai di masa lalu.

Setelah tujuh tahun lamanya mereka tak ada kabar. Hubungan mereka yang harus kandas karena sebuah kesalahpahaman yang belum terungkap oleh sebab fitnah yang di rekayasa Mama tirinya Vicky, Shopia.

Kini mereka telah di pertemukan kembali dengan keadaan Vira yang sudah bersuamikan Pria lain. Dika Mahesa, dialah Pria yang sudah pernah membalut luka hatinya Vira di masa lalu.

Namun sayangnya, pertemuannya dengan Vicky ketika itu harus bersamaan dengan dirinya yang melihat penghianatan Dika di depan matanya sendiri.

Akankah hubungan pernikahan Vira dan Dika terus berlanjut? Ataukah Vira nanti sanggup melepaskan Dika begitu saja dan melanjutkan kisah kasihnya bersama Vicky yang belum usai?

Terus nantikan kisah mereka ya.. Jangan lupa like serta komentar juga favoritkan Novelnya ya ....😍😍😍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vira Hamil, Dika Shock

...BAB 33...

...Vira Hamil, Dika Shock...

Sontak di sana Vicky mendongak, tercengang mendengar perkataan mereka. "Apa?! Si-siapa barusan tadi katamu?" tanya Vicky pada Dika refleks ia meraup kencang dua bahu Dika. Tiba-tiba jantungnya berdegup sangat keras ketika mendengar nama Vira di sebut-sebut Dika.

"Tantenya Mas Dika Kak... Tante Vira namanya" jawab Sindy menjelaskan. Keningnya melipat heran, melihat ekspresi wajah Vicky yang terkejut mendengar nama Vira. Seolah dia mengenal nama itu. Vicky menoleh pada Sindy dengan kedua pupilnya yang bergetar.

"Vi, Vira!" ulangnya pelan. Tangannya turun melemas. Sindy mengangguk.

"Iya Kak, apa Kak Vicky, mengenalnya?" selidik Sindy bertanya.

Vicky tercenung. Wajahnya penuh tanda tanya. Seketika dia jadi penasaran dengan nama Vira yang di maksudkan Sindy dan Dika di sini, apakah sama dengan Vira yang dia maksudkan juga? Vicky menggeleng pelan. "Tidak-tidak, mungkin hanya namanya saja yang sama." ucapnya agak ragu, lalu ia terkekeh hambar.

"Ooh..." Sindy mengangguk. Sedang Dika memincingkan matanya aneh melihat tingkah Vicky.

"Baiklah Dokter, silakan masuk ke kamar di sebelah sana." alih Dika yang langsung menyilakan Dokter itu mengajaknya untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar Vira.

Vicky memandang Dika dan Dokter itu dari kejauhan, yang telah masuk ke dalam kamar. Entahlah, tiba-tiba saja ada firasat tidak enak yang menyelubungi hatinya, semenjak ia memasuki apartemennya Dika.

"Em, Kak aku juga mau nengok ke sana dulu ya... Lihat Tantenya Dika." bisik Sindy tersenyum, seraya mengusap lengan Vicky.

"Iya tapi jangan lama-lama juga. Karna kita harus pergi ke kantor." pesannya.

"Ok, aebentar saja kok!" sahut Sindy yang langsung melenggang pergi menyusul Dika dan Dokter ikut masuk ke dalam kamar menemui Vira. Tampak Dokter Fuji tengah serius memeriksakan kondisi Vira yang tampak pucat sekali. Tubuhnya sudah melemah.

"Apa anda sudah sarapan pagi ini, Bu?" tanya Dokter matanya menatap prihatin pada Vira. Karena tensi darah Vira sangat rendah sekali.

Vira menggeleng pelan. "Aku tidak bisa masuk makanan Dokter. Rasanya nggak kuat, ingin muntah-muntah setiap kali mencium bau-bau makanan." ucapnya pelan.

"Hmm..." Dokter itu mengangguk mengerti.

"Bagaimana Dokter?!" Dika pun sebenarnya ikut prihatin dan penasaran dengan sakit yang Vira alami.

"Em,... Jika sulit makan dengan terpaksa saya harus memasangkan selang infus di tangan Bu Vira. Namun sebelumnya saya meminta urinenya Bu Vira dulu untuk saya tes lebih lanjut. Dari gejalanya sih, sepertinya anda sedang hamil muda, Bu. Saya khawatir Ibu mengalami hiperemesis gravidarum, karena hal itu menyebabkan dehidrasi karena kurangnya asupan cairan dan banyaknya cairan yang keluar saat muntah.  " sahutnya setelah mendiagnosa gejala sakit yang Vira keluhkan.

Sontak Dika dan Sindy tercengang dengan perkataan Dokter itu. Tetapi tidak dengan Vira sendiri, karena memang Vira sudah mengetahuinya sejak awal.

"Ha-hamil?!" Dika terbata-bata, terkejut.

"Apa tantemu ini sudah menikah?" bisik Sindy bertanya pada Dika dengan raut muka tak percaya.

Walau suara Sindy pelan tapi masih tetap terdengar oleh Vira. Dika masih tergugup di tempat, bingung sendiri harus menjawab apa di depan Sindy dan juga Vira, yang juga sedang menatapnya masih kesal walau matanya agak sayu.

"Ya, aku memang sudah menikah dan Dokter Fuji memang benar, aku memang sedang mengandung baru tiga minggu ini..." ungkap Vira santai menjawab pertanyaan Sindy di sana, dengan senyuman mirisnya dia menatap lagi ke arah suaminya yang terlihat bertambah gelisah. Wajahnya sontak memerah padam.

Mungkin dalam hatinya Dika, kini tengah mencerca Vira. Karena kenapa dia tak memberitahukan tentang kehamilannya padanya. Dika juga berharap semoga Vira tak membocorkan rahasia hubungan mereka pada Sindy.

"Hamil, ja-di kamu sedang hamil Tante?" alih Dika berpura-pura senang layaknya ikut terkejut, padahal hatinya tengah shock mendengarnya. Antara harus senang atau tidak-kah, mendengar berita kehamilan istrinya sendiri? Sedang dirinya berada di tengah-tengah Sindy dan Vira.

"Sepertinya suamimu di Singapura harus segera di kabari. Ini akan menjadi berita baik untuknya, Tante..." celetuknya, Dika berpura tertawa kecil, pandai sekali dia berakting di depan Sindy.

"Iya betul itu Tante..." sontak Sindy mengangguk setuju dengan saran Dika. Vira yang melihat mereka tertawa bersama hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam dengan menahan kekesalan di hatinya. Bibirnya menyungging dengan senyuman terpaksa.

Sedangkan Vicky yang sejak tadi berada di ruang tamu mendengar samar pembicaraan itu dari jauh. Dadanya terus bergemuruh kian cepat. Keringat dingin tiba-tiba menyergapnya. Ada rasa penasaran di hatinya, ingin sekali melihatnya ke dalam. Tanpa dia suruh kakinya telah melangkah maju, pelan ia ke arah kamar yang terbuka.

"Jadi bagaimana Bu Vira, saya jadi kan melanjutkan pemasangan infusnya di tangan anda." sahutnya.

"Baiklah Dokter, pasangkan saja..." Vira mengangguk menyetujui saran Dokter wanita itu. Karena memang dia sudah tidak berdaya lagi, jika perutnya terus saja menolak makanan.

Bola mata Vicky semakin membulat lebar. Langkahnya terhenti seketika ia mendengar suara wanita yang memang tak asing baginya. Terdengar jelas wanita itu bicara di balik dinding kamar. Vicky melangkah lebih cepat ke arah kamar namun suara ponselnya malah bergetar lebih dulu di saku dalam jas kerjanya yang sontak membuat Vicky terkejut, bimbang antara ingin melihatnya ke dalam kamar atau mengangkat telepon itu lebih dulu. Ponselnya tak berhenti memanggil yang ternyata panggilan dari Adam asistennya.

Vicky pun mendengus kasar yang lalu dia mengurungkan niatnya untuk melihat ke kamar wanita yang bernama Vira itu. Dia pun berbalik dan mengangkat teleponnya.

"Hallo?!"

["Maaf Pak, anda ada jadwal bertemu dengan Pak Santoso pukul 10 ini di kota B. Jadi kita harus mempersiapkan pemberangkatannya dari mulai sekarang."]

"Oke baiklah siapkan semua keperluannya. Sebentar lagi aku akan segera ke kantor."

["Baik Pak!"]

Sambungan telepon pun terputus. Vicky menarik nafasnya dalam dan berjalan mendekati kamar bermaksud memberitahukan Sindy karena sudah waktunya mereka pergi bekerja.

Tok tok tok... dengan ragu Vicky mengetuk daun pintu kamar. Mereka semua sontak menoleh padanya. Terkecuali seseorang yang tengah berbaring lemah di atas kasur dengan tubuhnya tertutup rapat oleh selimut, serta wajahnya yang terhalang oleh Dokter Fuji karena berdiri di samping kepalanya yang sedang membenarkan kantung infus yang ia gantung di sisi atas ranjang.

"Maaf permisi, Sindy ayo sudah waktunya kita pergi ke kantor." sahutnya.

"Oh baik Kak,"

"Maaf Mas Dika, Tante Vira. Saya permisi dulu harus bekerja, dan Mbak Vira semoga cepat sehat kembali, dan kandungannya juga sama-sama sehat..." ucap Sindy tersenyum.

Vira di sana hanya mengangguk dengan senyuman tipisnya. Sindy pun memutar tubuhnya setelah pamitan pada Vira. Dika mengantarkan Sindy lebih dulu.

Setelah selesai memasangkan infus, Dokter Fuji melenggang untuk mengambil tasnya di sofa dekat jendela. Sekilas Vira melihat siluet punggung Pria berjas keluar dari pintu kamarnya. Lalu di ikuti oleh Sindy dan Dika yang berjalan sambil bergandeng tangan.

Kedua matanya mengerjap cepat, hingga tak terasa buliran air beningnya menetes keluar begitu saja.

"Nah sudah selesai Bu, Ibu sekarang bisa istirahat setelah memakan obat mualnya. Namun setelah satu jam, Ibu harus memaksakan diri untuk memakan sesuatu agar kondisi janinnya juga lebih sehat, ya..." pesan Dokter lagi tersenyum.

"Iya Dokter terimakasih banyak..." ucapnya seraya mengusap pipinya yang sudah basah. Dokter Fuji tersenyum sendu melihat Vira menangis.

"Tidak perlu khawatir Bu, awal kehamilan memang hampir semua ibu hamil mengalaminya. Tapi jika terus menerus muntah dan tak bisa masuk makanan, bukan hanya menurunkan berat badan Bu Vira, hal ini juga bisa membahayakan kesehatan ibu dan janinnya. Untuk itu Ibu harus bisa memaksakan makan dan ngemil agar tubuhnya lebih bertenaga." papar Dokter itu lagi menjelaskan.

Vira hanya mengangguk mengerti, Dokter Fuji tak tahu jika yang tengah di tangisi Vira bukanlah soal kekhawatiran kondisi dirinya. Namun hal pribadi yang membuatnya hatinya semakin nelangsa.

****

Setelah pamit pergi dari apartemen Dika. Vicky dan Sindy sudah berada di dalam mobil.

"Hari ini Kakak mau berangkat ke Kota B. Kamu dan Mira, handle tugas Kakak di sini ya!" titah Vicky seraya mengemudikan mobilnya dengan laju lumayan cepat. Karena mereka sudah terlambat untuk masuk kerja.

"Oke Kak!"

Ada yang masih mengganjal di hatinya Vicky sejak tadi di apartemen Dika. Belum sempat ia melihat rupa wanita yang bernama Vira di sana tapi pekerjaan yang lebih penting dan tak bisa di tinggalkannya. Namun jua untuk bertanya pun dia agak ragu karena gengsinya yang terlalu tinggi. Vicky menghela nafasnya berat dan dalam. Lalu melirik Sindy di sampingnya dan memberanikan dirinya untuk bertanya.

"Em, ee tadi yang bernama Vira itu, memangnya dia sakit apa?" tanyanya. Sindy pun menoleh pada Vicky.

"Oh Tantenya Mas Dika?!" Vicky mengangguk cepat. "Dia sedang hamil Kak!" jawab Sindy to the point.

"Hamil?!" Vicky membeliak kaget, bersamaan dengan rem yang dia injak mendadak. Sindy pun ikut terkejut.

"Iya memangnya kenapa sih Kak?" pekik Sindy.

Vicky bergeming wajahnya jadi pias. Ke-kenapa bisa kebetulan begini? Apa mungkin, benarkah dia? hatinya semakin bertanya-tanya.

"Kak Kak Vicky? Hey, kenapa mobilnya jadi berhenti sih Kak?!" Sindy mengibas-ngibas tangannya di depan wajah Vicky yang masih bengong menatapnya kaku.

Vicky terperanjat, dia lekas mengambil ponselnya dan bertanya pada Irfan lewat chat whatsappnya, menanyakan alamat tempat tinggal Vira dan suaminya sekarang. Untuk memastikan apakah benar jika Vira tinggal di apartemen?

Irfan, boleh aku meminta alamat lengkap rumah Vira?

Vicky fokus menunggu balasan pesan dari Irfan, dan tak menghiraukan pertanyaan Sindy yang terus mengocehnya dari samping.

Tak berapa lama pesan Irfan muncul di layar gawainya.

Oh Mbak Vira, sekarang dia tinggal di Apartemen Southgate Kak.

Deg deg deg

Vicky kembali terkejut dan sangkaannya ternyata benar. Sontak wajahnya memaling ke belakang mobil. Menatap getir, pada menara gedung tinggi Apartemen Southgate yang baru saja dia keluar dari dalam sana. Tanpa dia sadari bahwa ia dan Vira bertemu di sana tanpa saling melihat.

"Ini tidak mungkin..." Lagi Vicky di buat penasaran dan kembali bertanya pada Irfan.

Irfan, boleh aku tahu siapa nama lengkap suaminya Vira?

Irfan pun mengetik...

Namanya Dika Mahesa Kak! Dia bekerja di Perusahaan A

Seperti ada petir di siang bolong. Vicky di buat terkesan dengan kebenaran yang baru saja terungkap tanpa ia sadari selama ini. Ternyata keberadaan Vira malah lebih dekat yang ia bayangkan sendiri.

Kedua matanya memerah panas. Mengetahui siapa di balik belangnya Dika Mahesa.

"Ternyata, dia memang lelaki bajingan!" geramnya memekik pelan. Mengepal kencang ponsel di tangan kirinya.

"Apa Kak?!" Sindy terkejut, Vicky tiba-tiba mengumpat seseorang.

Vicky tersenyum miring sekilas memandang adik sepupunya. Lalu kembali menjalankan mobilnya dengan cepat.

"Tidak ada apa-apa. Ada saatnya kau pun tahu nanti..." jawabnya santai dengan senyuman sinis di bibirnya.

Sedang Sindy semakin mengerungkan kedua alisnya bertambah bingung dengan jawaban Vicky padanya.

Bersambung....

...****...

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Ah nubenghar siga keluarga siamah udh biasa geude hulu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya udahlah yah lanjutin aja vir, gw males lihat tampang cewe lemah.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
aja bulsit 🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Najis kata aku mah.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hmmm bacot ah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
nya jeuh awewe atuh Ari kmu nggak sama Prabowo mah.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Kebiasaan di jeulaskeun mewek, kadele sia nu Bogoh oon. cari yg ganteng yg lewat sikat.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Samperin monyet kagak usah lama² kaget bodoh Lo.
Heriyani Lawi
umur blum setahun bayi bisa ngomong, bayi ajaib
tabina ruby
Luar biasa
Seven8
judulnya kisah yg belum usai... ternyata gak usai beneran /Sob/
Mukmini Salasiyanti
kapokkkkkkkkk
Mukmini Salasiyanti
ancurrrr...
ancurrrrr
hahhhhhhhh
vira....
semangat yaaa
Hotmariatun Damanik
kejar dika vicky
Uthie
watak pelakor mahh emang gtu 😡
Uthie
coba nyimak kembali yaa 👍🤗🙏
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
yaaaaah .... sayang banget ini tor .... padahal cerita nya bagus lhoh ....
termasuk bikin Neng Gemoy emosi jiwa bingiiiiddd .... 🤣🤣🤣🤣 ...
tapi itu barti otor berhasil ....

ayo donk tooorrr ... mangaaaaatttt ✊️✊️✊️
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️: ini baru kemaren mulai baca yg Mencintai Kekasih Sahabatku, kak othor ...
ntar deh lanjut yg Kurebut Calon Suamimu... 😁
makasiiii 😍😍😍
total 6 replies
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
hadeeeuh ... palingan itu Vira gak dibolehin makan bareng di meja makan sama mama Ria dan Sindy..
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Mama Ria ini udah miskin tapi tetep sombong dan songong.
Sindy juga ikutan somplak. Oke masih labil krn sekarang jadi buta. Tapi juga gak panteslah bersikap spt itu ke Vira. Biar gimanapun Vira istri dari Vicky.
Buruan deh Vicky ngeliat sendiri kelakuan Sindy dan mama Ria.
Gosah berbaik hati ngobatin Sindy kalo sikapnya masih breng.sek spt itu.

Vicky dan Dika sama2 emosian gaje!!
Kirain Vicky lebih bijak ... tapi nyata nya sama aja ..
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Harusnya Vicky bijak ... mau dengerin penjelasan Dika dulu. Vicky juga harus tau kelakuan Sindy selama jadi istri Dika. Tapi Vicky begitu krn pada dasarnya juga memanjakan Sindy. Jadi gak bisa bersikap netral.

Cuma yaaaa .... di sini emang Dika udah dikenal sbg sosok yg breng.sek ... jadi ya gitu deeeh ... sekali lancung keujian, bakalan dicap begitu terus ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!