NovelToon NovelToon
Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Sci-Fi / System / Sistem / Tamat
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arzen Virayz

Jadwal Update: Selasa, Jumat
Sistem itu telah gagal dikembangkan. Pemerintah akan menghentikan aliran dana penelitiannya. Para peneliti pun kecewa. Mereka semua meninggalkan proyek itu kecuali satu orang.

Ini adalah kesalahan. Harusnya benda itu disegel, tapi malah jatuh ke tangan seorang murid di Akademi Altair. Tapi, bagaimana dia bisa menahan beban sistem itu.

"Nak, bekerja samalah denganku," sang peneliti menawarkan. Ia pun mengirim izin rahasia kepada pemerintah untuk melanjutkan proyek itu. Dengan pengawasan ketat, anak itu harus berhasil dididik untuk menjadi cikal bakal Armada Perang Rahasia yang mengendalikan seluruh droid di kekaisaran. Ini akan menjadi kemajuan besar bagi Klan Zarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzen Virayz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 033: Dokter Razana Asir

"Hais ... Ats, apa saja yang kamu adukan pada Dokter Razana kemarin?" keluh Profesor Han lemas. Sepanjang pagi tadi, ia mendapat omelan keras dari wanita itu. Rasanya seperti mendapat omelan langsung dari adiknya sendiri, Elnara Zarah Altair yang cerewet.

"Em, semuanya," jawab Ats enteng, "Semua yang dokter tanyakan pada saya."

"Ah, begitu, ya," Profesor Han menatap tak percaya. Ia yakin bahwa muridnya ini mengadukan banyak hal pada Dokter Razana. Buktinya, omelan itu tak kunjung pergi dari pikirannya. Ia jadi tak bisa fokus sepanjang hari ini. Rasa bersalahnya pada Ats pun jadi semakin besar.

Ats menatap sang profesor iba. Sebenarnya, bukan hanya profesor saja yang mendapat omel, tapi ia juga. Kemarin malam, bibinya itu bahkan hampir menginap di ruang kesehatan akademi hanya untuk memastikan Ats benar-benar mematuhi kata-katanya. Karena itu, Ats belum bisa sekolah meskipun sudah mampu hari ini.

"Yah, mungkin kita hentikan dulu penelitian ini untuk sementara," ujar Profesor Han kemudian, "Seperti kata dokter, kamu harus lebih menjaga kesehatan, sedangkan aku harus mencarikan alternatif yang tepat untuk menjaga keselamatanmu."

"Hm," Ats menurut.

"Lalu, apa yang kamu rasakan selama di dunia virtual?" Profesor Han beranjak ke pertanyaan utamanya. Sejak kemarin, inilah yang ingin ditanyakannya.

"Sepi," jawab Ats mengingat-ingat saat itu. Memorinya masih sedikit buram sekarang. Ia belum mampu mengingat seluruhnya, "Makanya, kupikir tempat itu cocok untuk melakukan akselerasi."

Akselerasi adalah upaya meningkatkan kemampuan neuron zarah. Teknik itu dilakukan dengan melatih daya tahan praktisi dan meningkat energi zarahnya dalam waktu singkat. Itulah yang Ats lakukan kemarin.

"Kamu harusnya memberi tahuku dulu sebelum melakukan itu," Profesor Han pun menghela napas kecil, "Kalau kamu bilang dulu, kan aku jadi lebih siap."

"Hehe, maaf, Profesor," Ats tulus meminta maaf. Profesor Han pun menjelaskan hasil penelitian yang mereka dapat kemarin. Ia juga menceritakan bagaimana Ats bisa ada di pusat kesehatan akademi.

"Dokter Razana adalah yang paling ahli di bidang itu, jadi kami tak punya pilihan lain," jelas Profesor Han, "Untung saja dia kerabatmu."

"Kenapa memangnya?" Ats menatap curiga.

Profesor Han terlihat ragu untuk menjawabnya. Ia bahkan sedikit memalingkan wajahnya. Setelah beberapa saat memberanikan diri, ia akhirnya bertanya, "Apa kamu akrab dengan Dokter Razana?"

"Ya," Ats mengangguk. Melihat ekspresi di wajah sang profesor, ia bisa sedikit menebak maksud di balik pertanyaannya.

"Orang yang seperti apa beliau?" lanjut Profesor Han.

"Ha? Apa Profesor mau melamar bibiku?" Ats langsung memastikan tebakannya. Pertanyaan balik yang tak terduga itu membuat sang profesor gelagapan. Ia ingin menyangkal, tapi merasa sayang. Ini adalah kesempatan terbaiknya untuk mendapat informasi itu.

"Saya tidak akan menjelaskan kalau Profesor tidak menjawab," ancam Ats setengah bercanda.

"Em—" Profesor Han masih ragu. Ia pun berkata, "Mungkin saja begitu. Para tetua terus mendesakku untuk menikah. Kalau Dokter Razana berkenan, aku akan segera melamarnya. Menurutku, dia calon terbaik."

"Wah, Profesor tidak trauma setelah diceramahi sebanyak itu?" Ats menatap kagum, lalu kembali memastikan tebakannya, "Atau, karena itulah Profesor tertarik pada Dokter Razana?"

"Bukan, mana mungkin aku tertarik diomeli setiap hari?" sangkal Profesor Han, "Kubilang, mungkin saja ia yang cocok denganku yang sudah tua ini."

"Wah, ternyata Profesor menyadarinya," gumam Ats lirih. Sebenarnya, bibinya itu pun sudah sangat terlambat dari ambang batas usia normal pernikahan. Jadi, mereka mungkin memang cocok.

"Apa?" Profesor Han hampir saja mendengar gumaman itu. Ats pun segera menggeleng, lalu menjelaskan tentang bibinya, "Dokter Razana baik hati, cerdas, dan perhatian. Beliau selalu membawakan oleh-oleh padaku setiap pulang ke kampung. Beliau juga yang mengajarkanku kiat-kiat di akademi sebelum aku berangkat. Karena itulah aku sangat siap tinggal di sini."

"Beliau tidak pemarah, kan?" tanya Profesor Han hati-hati. Ats pun segera menggali ingatannya, lalu menggeleng. "Beliau orang yang ramah kok. Cuman, kadang cerewet banget tergantung perasaannya."

"Kamu sering diajak beliau belanja, nggak?"

Ats menatap Profesor Han miris. Meskipun tersirat, ia bisa mengerti maksud asli dari pertanyaan itu. "Dokter Razana bukan orang yang matre kok, tapi beliau suka berbagi. Anggaran angpaunya paling besar di antara kerabat yang lain, jadi—"

"Cukup! Aku sudah paham," Profesor Han tak bertanya lagi, "Mungkin akan lebih baik kalau aku berkenalan langsung dengannya."

"Wah, apa Anda akan meluangkan waktu?" Ats mendapatkan hal yang menarik, "Mungkin saya bisa membantu."

"Hm," Profesor Han mencoba mengingat-ingat, "Biar kulihat lagi jadwalku nanti."

"Oke, katakan saja saat Anda butuh bantuan saya," Ats menyatakan dukungannya, "Saya pasti membantu."

"Membantu apa?" sosok Dokter Razana muncul begitu pintu ruang kesehatan dibuka, "Profesor, jangan bilang Anda mengajak Ats untuk melakukan eksperimen berbahaya lagi."

"Sama sekali bukan," Profesor Han langsung menjelaskan dengan singkat, padat, dan jelas, tapi meragukan bagi Dokter Razana.

"Wah, Bibi," Ats jadi bersemangat melihat bibinya datang, "Kebetulan sekali, Profesor ing—"

"Ssst ...!" Profesor Han langsung meminta Ats untuk diam. Ia belum memeriksa jadwalnya. Tidak, sebenarnya ia belum siap saja.

"Apa itu, Profesor?" Dokter Razana menatap curiga. Ada hawa mengerikan yang terpancar dari pertanyaannya itu. Entah mengapa, itu membuat Profesor Han merinding.

"Profesor ingin 'berkenalan' dengan Bibi," Ats menjelaskannya tanpa ragu. Kata-katanya itu membuat Profesor Han terkejut, sedangkan Dokter Razana tertegun.

Selama beberapa saat, suasana jadi kaku dan canggung. Samar-samar, Ats bisa melihat rona merah di pipi bibinya. Ia pun tersenyum jahil. Sepertinya, perjodohan ini akan semakin menarik.

"Ke—kenapa harus berkenalan? Kita kan sudah saling kenal," Dokter Razana pun memutuskan untuk pura-pura tak mengerti. Itu membuat Ats berdecak. Akting bibinya ini terlalu payah.

"Tentu saja berkenalan untuk 'itu', Bibi," Ats mempertegas di kata "itu". Sebagai orang yang sudah cukup berumur, tentu Dokter Razana sangat paham.

"Ah, begitu, ya," pandangan Dokter Razana berubah jadi dingin. Ia pun berkata pada Profesor Han, "Profesor, bisakah Anda keluar dari sini sekarang?"

"Eh?" Profesor Han tertegun. Ia tak menyangka reaksi itu sama sekali. Mungkinkah ia langsung ditolak? Tidak mungkin, kan? Usia mereka memang terpaut hampir sepuluh tahun, jadi—ditolak itu mungkin sih.

"Mohon Anda keluar sekarang, Profesor," pinta Dokter Razana lagi dengan aura yang lebih dingin. Profesor Han pun mengindahkan pengusiran halus itu. Ia tak akan memaksa kalau Dokter Razana memang tak mau menerimanya.

"Bibi?" Ats menatap Dokter Razana yang terduduk dan menekuk wajah di sampingnya. Ia jadi cemas karena itu, "Bibi nggak apa-apa, kan?"

"Ats—" Dokter Razana mendongak. Rona merah di pipinya benar-benar terlihat kali ini. "Kamu nggak bohong? Itu serius?"

"Iya, serius kok," jawab Ats jujur.

"Si Nggak Peka itu seriusan mau ngajak "kenalan" dulu?" tanya Dokter Razana sekali lagi.

"Iya, serius. Eh, dua rius malah," jawab Ats dengan helaan lega. Ia pikir, ia menyinggung bibinya barusan. "Oh ... jangan-jangan—"

"Ssst ...! Kamu masih kecil!" Dokter Razana mencegah Ats untuk mengatakan tebakannya itu. Ia bahkan mencubit pipi bocah itu seperti kemarin. Cubitannya sangat keras sampai membuat pipi Ats sangat merah.

1
Rani
thor kapan update?
Arzen_V: maaf, ya. akhir-akhir ini saya sedang dalam kesibukan kuliah, jadi belum bisa fokus pada novel. insyaallah pertengahan menjelang akhir januari nanti akan dilanjutkan. mohon doanya juga
total 1 replies
Lanz D Kenzy
temen laknat. temennya selamat dari maut, masih aja mikirin hukuman.
Rani
udah penasaran ini apa kelanjutannya
Rani
lanjut dong
Rani
lanjut
Rani
seru
fabdul
mampir kak
Shuuha
ganbattekudasai
Senja
semangat kak
dewa imajinasi
thor.aku mampir:kubawakan like dan rat bintang lima untukmu.tetap semangat berkarya.yuk saling dukung dengan feedback ke ceritaku .di tunggu ya😁
Arzen_V: Terima kasih atas dukungannya
total 2 replies
Shuuha
semangat
Shuuha
ganbattekudasai
Shuuha
hallo.... ganbattekudasai
chonurv
Awalan yang bagus untuk sci-fi.
Shuuha
ganbattekudasai
jgn lupa mampir
vina
semangat terus yah aku kasih mawar buat hadiahnya
vina: follback dong kak author 🙃
total 2 replies
floufrouu
Maaf ya thor kalau kita teriakin buat up bab terus pdhl author yg mikir.. soalnya emg aku nunggu bgt lanjutannya
Senja
Mmpir kak bagus😍
Shuuha
done ....
ganbattekudasai...
salam dari Isekai Tensei de Kyōka
SnowySecret
rate bintang 箝絶ュ絶ュ絶ュ絶ュ biar semangat  saling mendukung ya Thor 
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!