NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:70.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 32

...Broken Home...

"Okay, Class!" Cariss berseru ke penjuru ruangan dan seketika anak- anak muridnya menoleh. "Hari ini kita punya teman baru"

Molly berdiri nggak jauh dari Cariss, tepat di belakangnya. Dengan ragu, ia maju beberapa langkah untuk mengenalkan diri pada teman-teman barunya. "Na. . .nama saya. . .Molly Andreata. . .," katanya menatap ke depan takut-takut.

Tapi, anak-anak di depannya jauh kelihatan beda dari teman-teman di sekolah yang rata-rata sebaya. Di sini, ia bahkan ketemu sama anak- anak kecil. Yah, ia ingat, di sini bukan sekolah formal. Anak-anak itu di sini karena ingin belajar piano. Kelihatannya mereka juga ramah.

"Itu aja, Molly?" tegur Cariss karena Molly nggak lagi mengatakan sesuatu.

Molly mengangguk dengan sangat pelan.

"Nah, seperti biasanya Molly, setiap anggota baru harus main piano dulu," Cariss tersenyum.

Apa?, Molly sedikit terkejut.

Cariss menuntunnya menuju piano Yamaha yang berada di sudut kelas. "Ayo, kamu harus mulai belajar main piano disaksikan orang lain. . .karena nanti saat festival kamu akan main di depan ratusan orang," ujarnya.

"Tapi. . .," Molly mulai cemas dan tangannya jadi gemetaran. Saat duduk di kursi, ia semakin deg-degan.

Sekali ia pandang teman-teman barunya, terlihat di satu sudut, ia menemukan dua orang anak cewek yang tengah berbisik-bisik dengan tatapan mengejek. Membuatnya down seketika.

"Molly, ayo. . .," kata Carris yang berdiri di nggak jauh dari pianonya.

Molly masih ragu-ragu, terlebih ia baru menerima pukulan nggak terlihat dari dua orang yang memandanginya dengan pandangan menusuk itu. Seolah Molly nggak pantas duduk di sini. Jari-jarinya gemetaran saking takutnya.

Tapi, ia teringat, ini bukan sekolah. Teringat kata-kata Richard yang menyemangatinya selama ini,

Sebenarnya nggak ada yang salah sama diri kamu kok.

Apa yang kamu takutin itu cuma perasaan parno kamu aja.

Kenapa kamu nggak bisa ngerasa main piano itu sama kayak mengambar? Hanya itu yang bisa kamu lakuin karena kamu nggak bagus dalam pelajaran. Gampang kan?

Jika ia nggak pernah mengenal Richard, apa ia akan berada di sini?

Demi Richard, pikirnya. Sebelum jari-jarinya menyentuh tuts piano, memperdengarkan sebuah lagu yang bikin cewek-cewek itu diam seketika. Membuat mereka merasakan bahwa dalam sebuah lagu, seseorang bisa mengungkapkan perasaan mereka terhadap sesuatu. Bagi Molly, lagu Beauty and the Beast itu seperti sebuah lagu keberuntungan, mengembalikan masa-masa indahnya bersama Mama dulu. . .

****

Chika masih memeluk dirinya yang menggigil kedinginan. Rambut panjangnya masih basah, terurai di atas bahunya. Tanpa terasa air matanya menetes lagi, dan ia menyekanya karena Getta sudah kembali dengan secangkir teh hangat yang ia seduh di dapur.

"Nih," Getta memberikan cangkir itu padanya sambil tersenyum. "Biar lo nggak masuk angin"

Chika menerimanya dengan senang hati lalu menyesap minumannya perlahan.

Getta masih diam. Ia hanya memandangi Chika sedikit kebingungan - nggak menyangka apa yang pernah terjadi padanya juga terjadi pada Chika. Karena yang ia tahu, selama ini, mereka damai-damai saja dan Chika adalah cewek yang sangat sangat beruntung.

"Gue bingung. . .," kata Chika. "Gue nggak ngerti kenapa mereka tiba-tiba kayak gitu. . ."

"Itu urusan mereka, Chik. Kita nggak pernah tahu," ujar Getta. "Kita hanya dipaksa nerima keadaan mereka dan nggak boleh protes"

"Tapi, gue nggak bisa. . .," katanya, menangis lagi. "Menurut lo, apa lo bisa milih salah satu di antara mereka?"

"Mau nggak mau, Chik. . .," ujar Getta. "Lo harus siap sama kemungkinan terburuk kalau orang tua lo sampai pisah"

"Gue nggak siap. . .semuanya mendadak banget. . .," rengeknya. "Sampai sekarang tuh gue nggak percaya, sampai sekarang tuh. . .gue nganggap ini cuma mimpi. . .tapi. . .gue nggak bangun-bangun. . ."

Getta diam lagi. Beranjak dari sofa tempat duduknya, ia pindah ke dekat Chika yang masih menangis.

"Sorry, gue nggak bisa bilang sesuatu yang bikin lo lega, Chik. . .," katanya. "Dulu semua orang selalu bilang gue harus kuat, tapi kenyatannya nggak segampang itu. Gue ngerasa mereka nggak ngerti karena mereka nggak pernah ngerasain ada di posisi gue. Tapi, gue bisa ngerti perasaan lo. . ."

Chika menatapnya lekat-lekat, sebelum meraih tangan Getta dan cowok itu lumayan kaget. "Gue cuma punya lo sekarang. . .," katanya, terisak.

"Karena lo pernah bilang bakal selalu ada buat gue. . .Jadi. . .please, Getta, jangan biarin gue sendirian. . .Gue nggak bisa ngadapinnya sendirian. . ."

Dengan berat hati, Getta mengangguk. Jika seperti ini, ia bakal punya sebuah kewajiban -buah dari kata-katanya sendiri yang selalu dipegang Chika. Sayangnya, kata-kata itu nggak bisa ditarik. Kenapa harus di saat seperti ini?, keluhnya saat Chika lagi-lagi menyandar ke dadanya.

Jika seandainya, ia nggak ketemu Molly lagi, akankah membiarkan Chika sebegini dekat dengannya menimbulkan perasaan bersalah? Karena ia belum bisa membuka hatinya untuk Chika?

Getta tiba-tiba beringsut menjauh, karena mendengar sesuatu. Chika agak syok, karena Getta menarik dirinya dan sesaat kemudian seseorang membuka pintu.

Seorang wanita masuk dan wajahnya terlihat kaget. "Ada tamu ya?, tanya dia ramah, sebelum menaruh payung yang basah di luar pintu. Seorang bocah kecil perempuan ikut masuk sambil mengibas-ngibaskan jaketnya yang basah.

"Ini Chika, Ma," Getta segera berdiri dan mengenalkan Chika yang ikut berdiri.

Mama memandanginya heran, karena Chika memakai kaos dan celana yang jelas-jelas punya Getta. "Oh. . .".

"Tadi dia kehujanan, jadi aku ajak ke sini," Getta menjelaskan dengan sedikit canggung.

Mamanya tersenyum. "Ya udah deh," katanya. "Kalian pasti lapar dingin- dingin begini, Mama masakin sebentar ya?"

Getta mengangguk ragu lalu melirik Chika yang berusaha terlihat tenang dengan menyeka habis semua air matanya. Cewek itu mengikuti Mama- nya Getta ke dapur.

"Aku bantuin ya, Tante. . .," katanya menawarkan diri.

"Aduh, nggak apa-apa. Jadi ngerepotin," Mama Getta menolak, sambil tertawa kecil.

"Nggak apa-apa kok, Tante," ujar Chika tetap mengikutinya ke dapur.

Getta menarik nafas panjang. Kalau udah begini, harus gimana lagi?

****

"Mama lo baik banget ya. . .," kata Chika pelan sambil tersenyum dalam langkahnya.

Getta cuma tersenyum. Ya, Mamanya memang baik. Ia nggak pernah marah-marah. Yang Getta tahu, Mamanya sangatlah penyabar dan karena penyabar itulah kelakuan Papanya yang suka main tangan menjadi-jadi.

"Makasih banget hari ini," ucap Chika, begitu mereka sampai di pinggir jalan dan nungguin taksi lewat.

"Ya. . .," jawab Getta, tersenyum ramah padanya.

Hujan telah reda dan sore hampir meredup. Lampu-lampu jalan sudah menyala. Saatnya buat Chika pulang ke rumahnya walaupun ia masih belum ingin.

"Besok gue ke sekolah kok," katanya mencoba untuk lebih semangat. "Gue bosan di rumah seharian. Lagian juga mereka mulai nggak peduli sama gue. . ."

Getta mengangguk-angguk dan matanya tertuju ke ujung jalan tiap sebentar. Dari ujung sana, yang lewat hanya mobil-mobil pribadi yang melaju sombong menerjang jalanan yang basah. Nggak ada satu pun taxi yang melintas.

Setelah hampir sepuluh menit berlalu dengan diam, sebuah taksi biru berhenti di depan mereka. Getta langsung membukakan pintu untuk Chika yang tampak ragu-ragu.

"Gue. . .balik dulu ya. . .," katanya pamitan dan tersenyum.

"Ya, hati-hati," Getta tersenyum, hanya itu yang bisa ia berikan setiap Chika menatapnya penuh arti. Tatapan yang penuh harap akan sesuatu yang besar setelah ini.

Chika mulai melangkah, ke pintu taksi yang terbuka. Masih memandangi Getta, ia menunjukan ekspresi yang nggak biasa sesaat sebelum ia meraih lengan Getta, menariknya lebih dekat secepat ia yang ia bisa dan membuat cowok itu terkejut.

Matanya membelalak, Chika mengecup pipinya selama kurang dari lima detik, sebelum ia akhirnya dilepas. Chika sudah naik ke taksinya dan pintu segera menutup. Getta termangu menyaksikan taksi itu akhirnya pergi.

***

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!