Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Rintik Hujan masih terdengar di luar apartemen yang sempit itu. Airnya menetes pelan dari ujung balkon yang dipenuhi tumpukan barang bekas, sementara suara televisi tetangga sayup sayup terdengar, menembus tembok ruangan yang tipis. Apartemen Arga yang kecil makin terasa sesak oleh aroma mi instan dan kopi dingin.
Nara duduk di sofa tua sambil memegang segelas teh hangat pemberian Arga. Tangannya masih sedikit gemetar. Semua yang terjadi malam ini terasa sangat cepat. Satu jam lalu hidupnya masih sangat normal. Dan sekarang, ia berada di apartemen pria asing bersama seseorang yang mengaku nyaris membunuhnya. Dan yang paling buruk, mereka semua menganggap situasi ini sangat serius.
Arga duduk di kursi plastik dekat meja komputer sambil melirik Han.
“Jadi?” tanyanya pelan. “Lu mau mulai ceritanya dari mana?”
Han berdiri dekat jendela. Matanya menatap ke luar jendela, memperhatikan situasi jalanan di bawahnya.
“Dari hal penting...”
“Iya, yang mana?”
Han melirik sebentar ke arah Nara, “Dia belum aman.”
Nara langsung mendecakkan bibirnya.
“Kalau bisa jangan ngomong seolah olah aku itu barang kiriman.”
Han terdiam sesaat.
“…maaf.”
Jawaban yang sangat cepat sampai Nara sendiri agak kaget. Arga bahkan mengangkat alis.
“Wah,” gumamnya. “Lu bisa minta maaf juga?.”
Han mengabaikannya. Nara menghela napas pelan lalu meletakkan gelasnya.
“Oke, sekarang, tolong jelaskan semuanya.”
Han berjalan mendekat lalu duduk di kursi seberang sofa yang diduduki Nara. Selama beberapa detik ia tampak berpikir, menyusun kalimat.
“Aku dikirim buat mengawasimu.”
“Dan membunuhku?” potong Nara.
Han tidak menyangkalnya dan hanya melihat Nara yang mengusap wajahnya dengan frustrasi.
“Kenapa?”
“Belum tahu.”
“Kamu serius?”
“Aku jarang dikasih alasan.”
“Kamu ngomong itu, seperti pekerjaan biasa.” Kata Nara sambil menatap tajam ke arah Han.
“Karena memang itu tugasku,” jawab Han.
Hening sebentar lalu Arga cepat-cepat menyela sebelum suasana makin buruk.
“Oke, jadi intinya… ada yang bayar Han buat ngawasin lu. Tapi terus muncul kelompok lain.”
“Helios,” kata Han pelan.
Arga langsung menunjuknya. “Nah…nah itu. Gue nggak pernah suka nama itu.”
Nara menoleh pada keduanya, “Helios itu apa sebenarnya?”
Han diam lagi.
Arga mendesah, “Kalau dia diamnya lama, biasanya jawabannya pasti jelek.”
“Helios bukan geng jalanan.” Han akhirnya bicara.
“Bagus,” kata Nara datar. “Karena malamku belum cukup buruk.”
Han mengabaikan nada sarkasnya.
“Mereka punya pengaruh besar. Perusahaan, rumah sakit, pemerintahan, politisi. Banyak orang yang bahkan nggak sadar kalau mereka terhubung.”
Nara mengernyit bingung, “…itu terdengar seperti teori konspirasi.”
“Kadang teori konspirasi cuma kenyataan yang bocor terlalu cepat,” gumam Arga.
Nara mulai merasa mual. Ia bekerja sebagai staf administrasi biasa di perusahaan arsip digital. Hidupnya tidak menarik dan tidak penting. Sangat tidak masuk akal kalau organisasi sebesar itu mengejarnya.
“Aku nggak ngerti…” katanya pelan. “Aku bahkan nggak kenal siapa pun.”
Han memperhatikannya beberapa detik.
“Coba pikir lagi.”
“Aku udah mikir!” kata Nara dengan nada suara yang meninggi. “Aku cuma kerja, pulang, bayar tagihan, makan tidur! Hidupku membosankan!”
Han tetap tenang dan berkata pelan, “…kadang orang biasa justru melihat sesuatu yang tidak sengaja.”
Kalimat itu membuat Nara terdiam. Ada sesuatu yang melintas di kepalanya. Bukan ingatan yang jelas tapi hanya sebuah perasaan. Ia mencoba mengingat kejadian beberapa hari terakhir di kantornya. Lembur. Data arsip. Folder yang salah tempat. Dan…
Nara tertenggun dan Han langsung menyadarinya. “Kamu ingat sesuatu.”
Nara ragu beberapa detik, “…mungkin.”
Arga duduk lebih tegak, sembil menyeletuk, “…jangan bilang ‘mungkin’. Biasanya itu awal dari bencana.”
Nara menelan ludah, lalu berkata lebih lanjut. “Minggu lalu ada file perusahaan yang salah masuk ke server divisi kami.”
“Perusahaan apa?” Tanya Han yang memperhatikan penuh.
“Aku nggak terlalu ingat namanya. Tapi…” Nara mengernyit mencoba mengingat, “…datanya aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Kayak data pasien rumah sakit.”
Han tidak bereaksi, tapi matanya sedikit fokus.
“Lanjut.”
“Beberapa nama punya kode yang sama.” Nara menunjuk kepalanya sendiri pelan, mencoba mengingat. “Dan… sebagian data kematian mereka nggak cocok.”
Arga mengerutkan dahinya. “Maksudnya gimana?”
“Orang-orang itu tercatat sudah meninggal.” Nara menatap mereka pelan. “Tapi datanya terus aktif.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Han tidak bergerak.
“Aktif bagaimana?” tanyanya pelan.
“Ada transaksi. Perpindahan data medis. Beberapa bahkan punya aktivitas baru setelah tanggal kematiannya.”
Arga langsung menatap Han.
“Oke,…itu jelas-jelas nggak normal.”
Han berdiri perlahan. Ekspresinya sekarang jauh lebih serius.
“Nama perusahaannya.”
“Aku lupa.”
“Coba ingat.”
Nara memejamkan mata sebentar, mencoba mengingat detil yang sepintas ia lewatkan.
Logo putih. Tulisan kecil. Folder biru. Lalu, matanya terbuka.
“Solara Foundation.”
Han terdiam. Sementara Arga langsung memaki pelan.
“Bangsat…”
Nara menatap mereka bergantian.
“Apa?”
Han mengusap dagunya dengan pelan.
“Solara itu salah satu perusahaan bawah Helios.”
Perut Nara langsung terasa dingin. “Aku nggak sengaja lihat datanya,” katanya cepat. “Aku bahkan nggak buka semua filenya.”
“Tapi sistem mereka mungkin sudah mencatat aksesmu,” jawab Han.
Arga berdiri dari kursinya.
“Kalau benar itu data internal…” Ia menatap Nara. “Lu sekarang bukan saksi biasa.”
“Aku cuma lihat beberapa file,” ucap Nara yang mulai panik.
Han menatapnya, “…buat organisasi seperti mereka…” lalu nada suaranya merendah,
“…itu sudah cukup untuk dihilangkan.”