NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Hari Setelah Badai

Pagi itu, atmosfer sekolah terasa jauh lebih berat bagi Ray. Baru saja ia turun dari mobil, desas-desus itu sudah menyambar telinganya seperti sengatan listrik. Suara-suara bisikan di koridor terdengar seperti gema yang memantul di kepalanya, setiap kata seolah-olah dirancang untuk menguliti harga dirinya.

​"Serius lu? Vyan sama si Yasmin pacaran?"

​"Emang lu gak liat kemarin waktu di panggung, mereka pegangan tangan?"

​"Lu nggak tahu sih... waktu itu di belakang, banyak orang yang liat Vyan mencium si Yasmin di depan umum. Nyium bibir...!"

​Ray mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa panas yang menjalar di telinganya. Udara di sekitarnya terasa menipis, menyesakkan paru-parunya hingga ia menyesal mengapa ia tidak memilih untuk bolos saja hari ini.

Namun, suara orang-orang bergosip itu semakin tajam dan liar.

"Mereka cipokan tahu .... "

"Masa? Kok bisa?"

"Lama banget di depan Pak Yanto."

"Kok ga ditegur?"

"Karena dia Vyan."

Ray mengepalkan tangan. Ia tahu persis kejadian aslinya tidak segila itu, Vyan mencium Yasmin paling hanya sedetik, tapi mulut-mulut beracun di koridor ini selalu berhasil menggoreng cerita menjadi bumbu yang menjijikkan.

"Terus ada yang marah .... "

Beberapa siswa meliriknya dengan tatapan aneh—mungkin kasihan, mungkin juga mengejek karena tahu dialah yang kemarin "kalah" telak. Ray membalas tatapan itu dengan tajam, membuat mereka buru-buru berpaling, namun itu tidak cukup untuk memadamkan gejolak di hatinya.

​Lalu, sosok itu muncul.

​Vyan berjalan dengan tenang, ditemani Agil di sampingnya. Langkahnya mantap, menunjukkan karisma seorang pemimpin yang tak tergoyahkan. Ray sempat ingin berhenti, tapi ia memaksa kakinya tetap melangkah. Ia tidak boleh terlihat lemah lagi. Ia menatap langsung ke mata Vyan, mencoba menantang dominasi itu.

​Vyan justru tersenyum. Bukan senyum ramah, melainkan senyum tipis penuh kemenangan yang terasa seperti ejekan telak bagi Ray. Ray mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia teringat pesan Pak Rizal untuk belajar mengendalikan diri. Di depannya, Vyan adalah contoh nyata dari pengendalian diri yang sempurna—seorang manipulator ulung yang tahu kapan harus menekan dan kapan harus tersenyum.

​Begitu mereka berpapasan, Ray merasakan tubuhnya sedikit gemetar. Ada emosi yang meluap, rasa sakit, dan perasaan menjadi pecundang yang begitu hebat. Tanpa menoleh lagi, ia langsung melesat masuk ke dalam toilet pria.

​Di depan cermin, Ray menatap bayangannya sendiri yang tampak kacau. Napasnya memburu. Ia melihat buku jarinya yang masih terbalut luka, bukti dari amarahnya semalam.

​"Aku tidak perlu memakai cara yang sama," gumamnya parau pada bayangannya sendiri. "Kalau aku ikut main di permainan dia... aku pasti kalah."

​Ray mengepalkan tinjunya, bukan lagi untuk memukul samsak, melainkan untuk mengunci tekadnya. Ia sadar, Vyan adalah lawan yang jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan, dan untuk menghadapi seorang predator yang pandai bersandiwara, ia tidak bisa hanya mengandalkan otot dan emosi semata.

...****************...

Suasana kelas mendadak sunyi saat Zia melangkah masuk. Tatapan mata teman-teman lamanya mengikuti setiap gerakannya, menciptakan tekanan yang membuat Zia merasa asing di tempat yang dulu sangat ia kuasai. Ia berdiri terpaku di depan barisan bangku, menyadari bahwa peta kekuasaan di kelas ini sudah banyak berubah.

​"Zia, duduk di sini aja!" seru Sandra, memecah keheningan.

​Zia menoleh, sedikit terkejut melihat Sandra melambaikan tangan ke arah bangku kosong di sebelahnya. Dalam ingatannya, Sandra adalah tipe gadis yang selalu memandangnya sinis dan memusuhinya. Bagi Zia, Sandra adalah sosok yang dangkal—tipe siswi yang waktunya habis hanya untuk memikirkan laki-laki dan hura-hura, tanpa ambisi untuk membangun kualitas diri.

​"Terserah elo sih. Nggak ada kursi kosong lagi," tambah Sandra saat melihat keraguan di wajah Zia.

Zia mengedarkan pandangannya. Dia pergi ketika kenaikan kelas. Sehingga formasi kelas yang diacak berbeda dengan kelas yang dulu dia tinggalkan, sekalipun Sandra cs serta Vyan dan Agil masih di kelas yang sama.

Pandangannya jatuh ke bangku kosong yang ada di belakang. Namun, itu letaknya di samping cowok berhoodie yang menyembunyikan wajahnya di balik buku komik Naruto. Zia ragu ketika dua tempat kosong bukan tempat yang ideal buatnya.

Sementara itu di balik komik, wajah Zaki menegang. Pegangannya pada komik kini seperti orang yang mencoba bertahan dari badai.

"Baiklah," ucap Zia pelan sambil melangkah mendekati kursi dekat Sandra.

Sandra sumringah, Mia dan Resi tampak berseri-seri. Wajah-wajah yang dulu sering mencibirnya itu kini justru tampak sangat terbuka.

Sedangkan di waktu yang sama cengkraman Zaki pada buku komiknya mengendur. Namun, wajahnya tampak rumit.

​"Zia, kita seneng lo kembali ke sekolah kita. Kita bisa temenan!" seru Mia antusias.

​Zia tersenyum tipis, matanya menyipit penuh selidik. "Oh ya? Kelihatannya lo bertiga banyak berubah."

​"Zia, maafin kita dulu ya kalau kita sering salah paham," ucap Sandra dengan nada yang terdengar tulus, meski Zia masih merasa ada sesuatu di balik keramahan mendadak ini.

​"Nggak apa-apa. Gue seneng aja bisa nambah temen."

​Tak lama kemudian, Vyan dan Agil memasuki kelas. Langkah kaki Vyan yang berwibawa seketika menyerap perhatian seisi ruangan. Matanya sempat tertumpu sejenak pada formasi baru di barisan bangku itu—Zia yang kini bersanding dengan geng Sandra—sebelum akhirnya ia berjalan menuju mejanya sendiri.

​"Sepertinya gawat, Yan, kalau Zia temenan sama mereka," bisik Agil saat mereka sudah duduk.

​"Kayaknya sepuluh Sandra nggak bakalan ngaruh buat Zia. Kalaupun iya, gue gak peduli..." jawab Vyan dingin, meski matanya tetap menatap lurus ke depan.

​"Emang sih, tapi siapa tahu. Lagian kadang cewek tuh suka aneh. Gue yakin ada sesuatu yang bikin Zia kembali ke sini," gumam Agil lagi.

​Vyan terdiam. Kata-kata Agil tepat mengenai sasaran di benaknya. Ia tidak percaya alasan klise soal "masalah keluarga" yang Zia ceritakan. Kedatangan Zia yang tiba-tiba dan misterius ini terasa seperti badai yang mengguncang benteng yang sudah dua tahun ia bangun. Luka lama itu, yang selama ini ia tutup dengan topeng kesibukan dan otoritas sebagai Ketua OSIS, kini terbuka lebar dan terasa perih.

​Vyan memberanikan diri melirik ke arah Zia. Gadis itu sedang mengobrol, namun aura kecerdasannya masih memancar kuat. Rambut hitam legamnya yang kini bertambah panjang membuat wajah Zia terlihat lebih dewasa.

​Tiba-tiba, Zia mengalihkan pandangannya. Sepasang mata mereka bertemu.

​Seketika, Vyan merasakan getaran yang hebat di dadanya. Namun, kali ini bukan sekadar debaran cinta remaja seperti dulu. Getaran itu diikuti oleh rasa sakit yang mencekam dan kegelisahan yang luar biasa. Kesedihan itu tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya dari matanya. Jemari Vyan di atas meja bahkan ikut bergetar, memaksa ia untuk segera membuang muka.

​Ia mengambil napas dalam, berusaha mati-matian mengatur kembali kestabilan emosinya. Ia harus tetap menjadi Vyan sang pemimpin.

​Beberapa saat kemudian, Vyan menoleh kembali ke arah Zia. Gadis itu ternyata masih menatapnya, seolah sedang mencari sesuatu di balik mata Vyan. Vyan segera memasang topengnya; ia tersenyum seperti biasa, senyum ramah sang Ketua OSIS.

​"Zia, kalau ada lo, gue harus belajar ekstra dong...," ucap Vyan dengan nada bercanda yang ringan.

​Zia terdiam. Sensasi luka dan kerapuhan yang ia lihat di mata Vyan sesaat lalu menghilang begitu cepat, digantikan oleh keramahan yang terasa berjarak. Zia membalas dengan senyuman kecil untuk mencairkan kebekuan, tepat saat bel tanda masuk berbunyi nyaring, menandakan babak baru dalam dinamika mereka di kelas itu telah dimulai.

...****************...

Pagi itu, atmosfer di dalam kelas terasa sangat berbeda bagi Yasmin. Ia melangkah menuju bangkunya dengan perasaan waswas. Namun, yang ia temukan justru sapaan-sapaan ramah yang terasa asing. Jika beberapa hari lalu tekanan dari teman sekelasnya mulai memudar, hari ini mereka tampak sangat segan. Tatapan sinis yang biasanya mengikuti setiap gerakannya kini berganti menjadi senyuman yang dipaksakan.

​Bahkan, saat beberapa siswa di barisan belakang mulai berbisik sambil melirik ke arahnya, Tegar yang duduk tak jauh dari sana langsung memberikan pelototan tajam. Seketika, bisikan itu terhenti. Yasmin menyadari ada perlindungan tak kasat mata di sekelilingnya, tapi hal itu justru membuatnya tidak tenang. Untunglah Reka segera mendekat dan duduk di sampingnya.

​"Reka, kenapa teman-teman sikapnya aneh?" bisik Yasmin penuh selidik.

​Reka terkekeh pelan. "Lho, berita tentang kamu pacaran sama Kak Vyan sudah menyebar, Yasmin. Sekarang sudah nggak ada orang yang berani main-main sama kamu lagi."

​"Kenapa bisa? Padahal dulu mereka marah aku dekat sama Kak Vyan."

​"Sekarang beda. Sekalipun mereka jealous, mereka takut sama Kak Vyan," jawab Reka santai.

​"Kamu juga nggak marah?"

​"Hehe... ngapain aku marah. Aku lagi happy..." sahut Reka sambil membatin, 'Aku sudah punya Dean. Yang lainnya nggak penting lagi.'

Reka terbayang kembali saat Dean memberi sambutan di depan aula. Prestasi dan kecemerlangan Dean diam-diam membuatnya bangga. Apalagi Dean memberinya ucapan selamat karena kelompok tari mereka menang.

​Percakapan mereka terputus saat Guru Bahasa Inggris memasuki kelas. "Yasmin, jangan ngobrol terus. Coba baca teks paragraf satu," perintahnya.

​"Oh, iya, Pak," ucap Yasmin patuh. Ia mulai membaca teks bahasa Inggris itu dengan pelafalan yang terbata-bata, belepotan, dan terdengar cukup menggelikan bagi siapapun yang mengerti. Namun, kelas tetap sunyi senyap. Tidak ada ledakan tawa atau cemoohan yang biasanya riuh. Yasmin tidak menyadari bahwa teman-temannya sedang mati-matian menahan tawa demi "keamanan" mereka. Merasa mendapat dukungan, Yasmin justru semakin percaya diri dan membaca dengan suara lebih keras hingga akhir.

​"Yasmin, kalau pacaran itu, ambil positifnya," ucap Pak Guru sambil menghela napas. "Kamu harus terpacu meningkatkan prestasi. Vyan itu juara umum, harusnya kamu lebih terpacu lagi untuk belajar. Kalian semua juga jangan sampai pelajaran terganggu gara-gara sibuk pacaran."

​"I... iya, Pak. Saya mengerti. Saya juga sering ke rumah Kak Vyan buat belajar. Karena itu saya merasa sudah agak lumayan," jawab Yasmin polos.

​"Lumayan...?" Pak Guru hanya bisa menggelengkan kepala. "Baiklah, kalian kerjakan dulu soal di bawah teks ini."

1
Aquarius97 🕊️
aseeekkk ... gitu kek gar dari kemarin
Aquarius97 🕊️
aihhh mantap banget vyan
Cimol krispy
di sini korban sesungguhnya ya Yasmin. dia cuma di jadikan alat oleh Vyan untuk membalas sakit hatinya ke Zia. whatever kalau memang Vyan beneran suka ke Yasmin, yang jelas sekarang aku kesal sama Vyan. tingkah lakunya antagonis, tapi nyatanya dia protagonis nya, huhuhuhu
Filan: Dia adalah masalah bagi dirinya sendiri ☺
total 1 replies
Cimol krispy
kalian berharap apa, Yasmin dan Zia jambak²an kah🤭
Cimol krispy
Pinter banget emang di Vyan ini memanfaatkan keadaan
Cimol krispy
Mulai playing victim
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
yasmin kamu memang bodoh. tapi, kali ini aku akui kamu benar-benar sangat amat bodoh /Proud/
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
gak suka sama vyan /Sob/ kasihan yasmin
Miu.Nuha
yaa sesadis itu ternyata Vyan...
kalau gk ad yg nyadarin bisa keblalasan tuh...
Filan: kita siksa aja ya di akhir si Vyan biar dapat balasan setimpal gitu 🤣
total 1 replies
Miu.Nuha
lah, tiba2 menang /Sweat/
gk ada angin gk ada ujan, masuk sekolah pun enggak... aneh betul...
Filan: Iya...
total 3 replies
Miu.Nuha
nangis dulu deh Ray, move on belakangan 😆
Miu.Nuha
mungkin Agil adalah saksi kedekatan vyan dn Zia 🤔🤔 ,, gimana Gil? siapa yg belencek?
Miu.Nuha
kencan apa main 🤭
Miu.Nuha
emang zia cinta sama vyan /Drowsy//Drowsy//Drowsy/
Xlyzy
wkwkwk gimana gimana rasa nya sesak ga tuh hati🤭
Xlyzy
gimana gimana kaget kn kok bisa🤭
Xlyzy
wah mana aci masak masuk jurang ngajak ngajak
Three Flowers
Yasmin jadi tercemar dong namanya...gak marah tuh?
Three Flowers
salting di depan ayang
Three Flowers
waduh bu Dinda beneran jatuh cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!