Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sistem 'HELL SIGMA'
Suara klik berat terdengar, saat pintu baja setebal lima belas sentimeter itu akhirnya terbuka.
Udara dingin, lembab, dan berbau logam basi langsung menerpa wajah Alessandro.
Ia berdiri di ambang pintu, napasnya tertahan. Di depannya bukan sekedar ruangan, ini adalah sarang laba-laba digital yang dibangun oleh pria terkejam, yang pernah hidup di muka bumi. Leonardo Valerio.
Markas rahasia di bawah tanah ini, tersembunyi di bawah tanah perkebunan tua milik keluarga Valerio. Dan baru ia temukan tiga hari yang lalu.
Di sini, semua jejak, semua rahasia, dan semua kejahatan ayahnya tersimpan rapi. Bersama Kai, pemuda jenius mantan anak buah Andrey yang kini memilih setia padanya.
Alessandro melangkah masuk, ruangan itu begitu luas. Lampu-lampu LED berwarna biru dan merah berkedip di sepanjang dinding besi, menciptakan pantulan sinar di mata Alessandro yang gelap.
"Gila," gumam Kai, matanya terbelalak takjub sekaligus ngeri.
Kai berjalan cepat di samping rak-rak server, jarinya melahap di atas perangkat keras yang terlihat canggih puluhan tahun di atas teknologi zaman sekarang
"Ini bukan sekedar database, Ale. Tapi ini infrastruktur. Leonardo membangun ini sendiri, dibantu Andrey, dua puluh tahun lalu. Teknologi yang pemerintah dunia bahkan belum miliki sampai sekarang."
Alessandro tidak menjawab, ia berjalan pelan menuju pusat ruangan. Di sana terdapat satu kursi kulit hitam, yang seluruhnya adalah layar sentuh.
Di atas meja depan kursi itu, hanya ada satu benda. Sebuah dongke perak kecil, terukir simbol rumit berbentuk lingkaran bergerigi.
Alessandro mengambil benda itu. Dingin, padat, dan berat. "Apa ini?" tanyanya rendah.
Kai berhenti bergerak, wajah pemuda itu pucat. Ia menelan ludah susah payah. "Itu... kuncinya. Selama ini kita cuma mengorek sampah-sampah kecil di server luar. Tapi benda ini, itu akses ke inti sistem. Andrey dulu menyebutnya dengan nama kode." Kai menjeda, matanya menatap benda perak itu dengan takut. "HELL SIGMA."
Darah Alessandro terasa berhenti mengalir di pembuluh nadinya, ia sudah mendengar nama itu.
Bisikan-bisikan lama, cerita horor antar mafia, legenda tentang senjata terbesar Leonardo yang tak pernah digunakan. Konon sistem itu adalah mata, telinga, dan otak dari seluruh kekaisaran Valerio.
"Nyalakan," perintah Alessandro singkat.
Kai mendadak panik, "Ale, dengerkan aku. Kita nggak tau apa yang bakal keluar, Leonardo itu paranoid. Dia jenius, tapi dia gila. Sistem ini didesain buat patuh sama dia saja. Kalau kita salah langkah, bisa-bisa seluruh data kita lenyap, atau lebih buruk sistem ini menganggap kita ancaman dan meledakkan seluruh tempat ini."
Alessandro menoleh perlahan, tatapan matanya tajam, dingin, tanpa emosi. "Aku anaknya, Kai. Darahnya mengalir di tubuhku, kalau memang ini hak aku, maka sistem ini akan mengenaliku. Nyalakan, sekarang."
Meskipun merasa ragu, Kai akhirnya mengangguk. Ia duduk di depan konsul utama, jarinya bergerak cepat di atas keyboard holografik.
Kode-kode rumit melesat di layar dengan kecepatan cahaya. Ruangan makin riuh dengan suara mesin yang berputar makin kencang, suhu udara perlahan naik.
"Masukkan kuncinya ke port utama, di sebelah kananmu," arah Kai, suaranya terdengar gemetar.
KLIK.
Detik itu juga seluruh ruangan berubah drastis, suara dengungan mesin berubah menjadi suara gemuruh rendah. Seluruh layar di dinding raksasa itu menyala serentak, memancarkan cahaya putih biru yang silau, memenuhi ruangan yang tadinya gelap.
Angin pendingin berhembus kencang, menerbangkan rambut Alessandro.
Di tengah layar utama, tulisan merah darah muncul perlahan. Satu per satu, dengan font tajam.
SISTEM AKTIF. MENDETEKSI KUNCI BIO-METRIK... MENCOCOKKAN DNA... MENCOCOKKAN POLA SUARA... MENCOCOKKAN RETINA...
Jantung Kai berdegup dengan kencang, ia menatap Alessandro dengan cemas. "Ale, sistem ini memindai kamu. Secara langsung, kalau data kamu nggak cocok dengan basis data Leonardo, maka kita akan mati."
Alessandro tetap tenang, ia berdiri tegak, dada bidangnya naik turun pelan. Alessandro menatap lurus ke mata kamera di atas layar, seolah menantang mesin itu untuk menghakiminya.
Di dalam kepalanya, ingatan masa lalu melintas begitu saja. Suara ayahnya yang dingin, tatapan ibunya yang penuh ketakutan, darah, ancaman, dan beban nama Valerio yang selama ini ia coba kubur.
Apakah aku anaknya?
Atau aku cuma kesalahan yang tidak seharusnya lahir?
Tiba-tiba suara mekanis terdengar serak, dan tidak berjiwa menggema di seluruh ruangan. Keluar dari ratusan speaker yang tersembunyi di setiap sudut ruangan. Suara itu berat, seolah berasal dari dasar neraka.
"PEMINDAIAN SELESAI."
Suara napas Kai terdengar jelas, Alessandro mengepal tangan di sisi tubuhnya, kukunya menancap ke telapak tangan sampai terasa sakit.
"KOMPATIBILITAS: 99,8%."
"SITUASI: DIVERIFIKASI."
"IDENTITAS DIKENALI: ALESSANDRO VALERIO."
Sebuah senyum tipis terbit di sudut bibir Alessandro, ada rasa lega tapi jauh lebih banyak dari dahaga.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda."
Suara AI itu berhenti sejenak, lalu seluruh data dunia tiba-tiba terbentang di depan mata mereka.
Peta satelit seluruh dunia, kamera lalu lintas dari ribuan kota, rekaman percakapan telepon, data bank, lokasi setiap anggota organisasi, bahkan lokasi Viktor Karev saat ini. Semuanya terlihat jelas, nyata, dan hidup.
"Ya Tuhan..." bisik Kai, mulutnya terbuka lebar. Ia memutar kursinya ke arah Alessandro. Matanya berkilat campur takut dan kagum. "Ale, ini bukan cuma sistem keamanan. Ini kendali penuh, Leonardo bisa lihat siapa saja, dan kapan saja hanya dari sini. Dia punya akses ke listrik kota, bendungan, stasiun kereta, dan bursa saham. Bahkan senjata militer cadangan saja, dia bisa bikin negara runtuh dalam satu malam."
Alessandro melangkah maju, meletakkan kedua tangannya di atas meja dingin itu.
Matanya menatap titik koordinat yang berkedip merah terang di peta Eropa Timur. Nama di sana tertulis jelas: VIKTOR KAREV - MOSKOW.
Jari telunjuknya mengetuk meja secara perlahan.
"Leonardo bukan sekedar bos mafia, Kai," ucap Alessandro pelan, namun kata-katanya terasa berat seperti timah. "Dia adalah raja dunia bawah tanah yang sesungguhnya, dan dia menyimpan semua ini untuk aku."
Sistem ini bukan sekedar warisan teknologi, tapi ini adalah kekuasaan mutlak. Ini adalah dewa buatan, dan sekarang dewa itu tunduk padanya.
"PERINTAH MENUNGGU, TUAN MUDA," suara AI itu kembali terdengar. "Apakah anda ingin mengaktifkan PROTOKOL: KETURUNAN? Ini akan menyatukan seluruh jaringan RED ASHES di bawah satu komando."
Kai menoleh cepat, "Ale, jangan. Kalau kamu aktifkan itu, maka seluruh dunia mafia akan tahu bahwa kamu ada. Kamu bakal jadi terget nomor satu, ini garis batasnya. Kalau kamu tekan tombol itu, kamu nggak akan bisa balik lagi jadi Alessandro si penguasa biasa. Kamu akan jadi Valerio baru, dan kamu akan jadi monster seperti ayahmu."
Alessandro berbalik badan, cahaya biru dari layar raksasa itu menyinari separuh wajahnya. "Kamu pikir aku belum jadi monster, Kai?" tanyanya pelan, hampir berbisik.
Ia mengangkat tangannya sendiri, melihat telapak tangannya yang dulu bersih, tangan yang dulu memegang buku, melukis, memeluk ibunya dengan lembut. Tapi sekarang? Tangan ini sudah mencengkram pisau, sudah berlumur darah. Ia sudah membunuh, ia sudah menikmatinya sedikit.
"Dunia ini tidak membiarkan aku jadi orang baik," lanjut Alessandro, suaranya mulai dingin dan tajam. "Mereka memburuku, mereka mengancam ibuku, mereka menganggap aku harus berusaha jadi manusia baik? Kenapa aku tidak ambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak lahir?"
Ia kembali menghadap layar, jari telunjuknya melayang di atas ikon virtual merah besar yang bertuliskan: AKTIFKAN.
"Viktor bilang dia ingin melatihku, dia bilang aku punya potensi. Dan dia bilang, Leonardo lemah. Maka baiklah..."
Jari Alessandro mendarat.
TEKAN.
"PERINTAH DITERIMA. PROTOKOL: KETURUNAN DIAKTIFKAN."
"HELL SIGMA SEPENUHNYA DI BAWAH KENDALI ANDA."
Suara sirine terdengar pelan dari kejauhan, menandakan ribuan server di seluruh dunia mulai sinkronisasi ulang.
Lampu di ruangan itu berubah warna menjadi merah darah.
Alessandro duduk di kursi kulit hitam itu, kursi yang sama yang pernah diduduki ayahnya bertahun-tahun lamanya.
Sandarannya tinggi, kokoh, terasa pas di tubuhnya. Seolah kursi ini memang dibuat khusus untuk tulang dan ototnya.
Ia menyilangkan satu kaki ke atas kaki lainnya, lalu menyatukan ujung jari-jarinya di depan wajah. Tatapannya tajam, fokus, kosong dari belas kasihan.
"Kai," panggilnya. Suaranya sudah berubah, bukan lagi suara Alessandro yang ia kenal. Tapi ini suara seorang penguasa.
"Ya, Tuan," jawab Kai gugup.
"Cari tahu setiap orang yang pernah bekerja sama dengan Viktor Karev. Temukan setiap nama, setiap lokasi, setiap kelemahannya. Aku ingin mereka tahu, bahwa Valerio sudah bangkit kembali."
Alessandro berhenti sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang mengerikan. "Dan katakan pada Viktor, permainan baru saja dimulai," lanjutnya dengan tatapan dingin dan tajam.
Di luar sana, hujan turun deras. Tapi di dalam sini, di kedalaman bumi, di jantung sarang iblis itu ada seorang raja baru, yang baru saja dimahkotai.