NovelToon NovelToon
Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Romansa-Teen school
Popularitas:25.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: dheocto

Hai, namaku Akbar umurku 17 tahun dan baru masuk kelas 1 SMA, ya, anda tidak salah baca, aku memang "terlambat" untuk mendaftar sekolah, diusiaku ini seharusnya sudah berada di kelas 3 SMA. kalian jangan berfikir kalau aku sering tinggal kelas, itu salah! aku selalu naik kelas dengan lancar, peringkatku selalu bagus. ada alasan tersendiri kenapa aku baru mendaftar sekolah, itu yang akan aku ceritakan nanti.
dan juga akan aku ceritakan semua petualanganku bersama Bony, dia bukan manusia, bukan pula hewan, apalagi makhluk ghaib XD
Bony adalah sahabat baikku dia selalu menemani aku dikala susah dan susah. hahahaha ga ada senengnya kalo sama Bony, yah walaupun dia sering "ngambek" cerita ini adalah ungkapan rasa rinduku untuk Bony.
***
"Jangan lupa follow,like and rate ya gaes, *ngomong a la yutuber masa kini
kalo kalian suka ceritaku share ke teman teman kalian.. Thanks

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheocto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.33 – Sebuah Persiapan

"Perjalanan yang jauh selalu dimulai dengan langkah kecil dan persiapan yang matang."

— Ali bin Abi Thalib

\=======

Pagi itu terasa sedikit berbeda.

Bahkan jam weker tua di samping tempat tidurku belum sempat berbunyi, aku sudah bangun lebih dulu.

Aku duduk sebentar di tepi ranjang sambil mengusap wajah.

Entah kenapa...

rasanya dadaku jauh lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir.

Mungkin karena aku dan Dhewi akhirnya berhasil menyelesaikan semua kesalahpahaman itu.

Atau mungkin...

karena sekarang aku mempunyai sesuatu yang harus kujaga.

Sebuah janji.

Aku tersenyum kecil sambil melipat selimut, lalu berjalan keluar kamar.

Belum sempat sampai ke dapur, suara emak sudah lebih dulu menyapaku.

"Lho..."

Beliau memandangku dari depan kompor.

"Tumben pagi-pagi udah bangun."

Aku hanya nyengir.

"Habis nemu duit apa?"

Aku menggeleng pelan.

"Nggak, Mak."

"Lha terus?"

Emak menyipitkan mata.

"Semalem mimpi ketemu bidadari po?"

"Halah Mak..."

Aku langsung menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Emak malah tertawa melihat wajahku yang mulai salah tingkah.

"Jangan-jangan anakku lagi demam."

"Ya enggak lah."

"Tak cariin termometer?"

Aku ikut tertawa.

Sudah lama rasanya rumah ini tidak dipenuhi obrolan ringan seperti ini.

Mungkin benar kata orang...

kalau hati sedang tenang, suasana rumah pun terasa jauh lebih hangat.

Hari ini seluruh peserta orientasi pramuka dijadwalkan berangkat menuju bumi perkemahan.

Selesai mandi dan sarapan seadanya, aku kembali masuk ke kamar.

Carrier yang selama ini kusimpan di pojok kamar segera kutarik mendekat.

Satu per satu perlengkapan mulai kumasukkan ke dalamnya.

Kompas.

Ponco.

Pisau lipat.

Kotak P3K.

Senter.

Peluit.

Nesting.

Botol minum.

Sarung.

Jas hujan.

Pakaian ganti.

Peralatan mandi.

Aku mengecek semuanya sekali lagi.

Tak ada yang boleh tertinggal.

Sejak dulu aku memang lebih suka membawa perlengkapan berlebih daripada nanti harus meminjam milik orang lain.

Baru saja tali carrier hendak kukencangkan, emak kembali muncul di depan pintu kamar.

Beliau memperhatikan isi carrier-ku beberapa saat.

"Lho..."

Aku menoleh.

"Kemah apa mau ndaki Semeru?"

Aku hanya tersenyum.

"Siapa tahu kepake semua, Mak."

Emak langsung mencubit lenganku.

"Lha wong kemahnya paling cuma Kecamatan sebelah."

Aku meringis sambil tertawa kecil.

"Iya sih..."

"Tapi lebih baik siap daripada nanti malah nyusahin orang."

Emak hanya geleng-geleng kepala.

"Dasar."

Aku ikut tersenyum.

Beliau memang selalu begitu.

Mulutnya sering mengomel.

Tapi diam-diam beliau selalu memastikan semua kebutuhanku sudah siap.

Saat itu aku sama sekali tidak menyangka...

bahwa beberapa barang yang dianggap emak terlalu berlebihan itu...

beberapa hari lagi justru akan menjadi penyelamat seseorang.

Belum sempat carrier kututup.

Terdengar suara pintu depan dibuka.

Clek...

Aku langsung menghela napas.

Aku bahkan tidak perlu menoleh.

Karena aku sudah hafal suara berikutnya.

Clek...

Pintu kulkas.

"Hog..."

Aku berseru dari dalam kamar.

"Masuk rumah orang kok yang dicari kulkas dulu?"

"Ya haus."

Jawabnya santai.

Aku keluar kamar.

Benar saja.

Hogy sudah berdiri di depan kulkas sambil memegang sebotol air dingin.

Seolah-olah rumah ini memang rumahnya sendiri.

Emak keluar dari dapur sambil membawa spatula.

"Lho..."

"Rumahmu pindah sini ta, Hog?"

Hogy menutup kulkas, lalu nyengir lebar.

"Belum Mak."

"Masih proses balik nama."

Aku langsung tertawa.

Emak sampai geleng-geleng kepala.

"Kalau tiap main langsung buka kulkas, lama-lama tak tagihin uang listrik."

Hogy pura-pura berpikir.

"Boleh, Mak."

"Nanti bayarnya pakai doa."

"Doamu aja yang dimakan."

Balas emak spontan.

Aku sampai memegang perut karena menahan tawa.

Kalau emak dan Hogy sudah saling balas, aku lebih memilih diam.

Percuma.

Mustahil menang.

Hogy menghabiskan sisa air minumnya, lalu melihat carrier milikku yang sudah berdiri tegak di sudut kamar.

"Wah..."

"Kamu bawa banyak amat."

"Takut nyasar di hutan?"

Aku menggeleng.

"Takut nyusahin orang."

Hogy hanya mengangguk pelan.

"Khas kamu."

Aku tersenyum kecil.

Mungkin benar.

Kalau memang masih bisa dipersiapkan dari rumah...

kenapa harus menunggu repot di tengah jalan?

Belum lama kami mengobrol, suara knalpot dua tak mulai terdengar dari depan rumah.

Breeeeng...

Suara itu semakin mendekat, lalu berhenti tepat di depan pagar.

Aku dan Hogy saling pandang.

"Datang juga si biang ribut."

Benar saja.

Belum sempat mesin motornya benar-benar mati, Topan sudah berteriak dari luar.

"Oi... gaes!"

Topan masuk sambil memanggul carrier yang ukurannya hampir sama besar dengan badannya sendiri.

Napasnya sedikit terengah.

"Buset… Berat amat..."

gumamnya sambil menjatuhkan carrier begitu saja ke lantai teras.

Buk!

Aku hanya geleng-geleng kepala.

"Carrier apa karung beras?"

"Banyak perlengkapan."

Jawab Topan singkat.

Belum sempat duduk.

Dia langsung menoleh ke arahku.

"Bar."

"Hmm?"

"Bawa odol?"

"Bawa."

"Sabun?"

"Bawa."

"Sikat gigi?"

"Bawa."

"Handuk?"

"Bawa."

Topan mengangguk pelan.

Lalu kembali bertanya.

"Celana?"

Aku menjawab tanpa berpikir.

"Bawa."

Topan tidak langsung menjawab.

Tatapannya perlahan turun.

Aku ikut melihat ke bawah.

...

Aku membeku.

Aku memang sudah memakai seragam pramuka lengkap.

Tapi...

celana lapanganku masih tergeletak manis di atas kasur.

Yang kupakai sekarang...

hanya celana dalam.

"Astagfirullah..."

Aku langsung menutup wajah.

"Asem!"

Tanpa berkata apa-apa lagi aku berlari masuk ke kamar.

Di belakangku suara tawa Hogy dan Topan langsung pecah.

"Bwahahahaha..."

"Kirain udah siap!"

"Baju udah keren..."

"Celananya ketinggalan!"

Aku hanya bisa menggerutu dari dalam kamar sambil buru-buru memakai celana.

Bahkan emak sampai keluar lagi dari dapur.

"Ada apa to?"

Beliau melihat Hogy dan Topan yang tertawa sampai memegangi perut.

"Lha iki kenapa?"

Topan menunjuk ke arah kamarku sambil masih tertawa.

"Akbar..."

"...lupa pakai celana."

Emak langsung menepuk jidat.

"Ya Allah..."

"Untung tetangganya belum ada yang lewat."

Suara tawa kembali pecah.

Aku keluar kamar sambil memasang wajah paling datar yang bisa kubuat.

"Udah puas ketawanya?"

Topan masih berusaha menahan tawa.

"Belum."

Aku mengambil sandal.

"Lempar tak ya?"

Topan langsung sembunyi di belakang Hogy.

"Damai... damai..."

Kami bertiga akhirnya ikut tertawa.

Beginilah kalau sudah berkumpul.

Selalu saja ada bahan untuk saling mengejek.

***

Tak lama kemudian kami benar-benar berangkat.

Tiga kendaraan tua kembali meninggalkan halaman rumahku.

Bony.

Vera.

Dan Jagur.

Meski sama-sama sudah berumur, suara ketiganya masih terdengar gagah di jalanan pagi.

Aku berada paling depan.

Hogy menyusul di belakangku.

Sedangkan Topan...

seperti biasa.

Paling berisik.

Sesekali dia sengaja menggeber gas Jagur hingga suara knalpotnya memantul ke rumah-rumah warga.

Breeeeng...!

Aku menoleh sebentar.

Topan malah melambaikan tangan sambil tertawa.

Dasar.

Tak lama kemudian Hogy membalas ulahnya.

Tin... tin...

Klakson Vera berbunyi nyaring.

Topan langsung menoleh.

"Apaan?"

"Balapan klakson."

Jawab Hogy santai.

Pret… pret…

Klakson Bony juga tak mau ketinggalan.

"Hahahaha..."

Kami hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil.

Kalau ada orang yang baru mengenal kami...

mungkin mereka akan mengira kami bertiga memang kurang kerjaan.

Dan...

mungkin memang benar. seperti itu kebiasaan kalau kami bareng

Sekitar sepuluh menit kemudian kami sampai di Kampus Utama SMA Islam Nusantara.

Suasana sekolah berubah total.

Lapangan yang biasanya dipakai upacara kini dipenuhi ratusan siswa baru berseragam pramuka.

Ada yang sedang memanggul carrier.

Ada yang sibuk mencari kelompoknya.

Ada yang mondar-mandir sambil membawa tongkat pramuka.

Suara peluit bersahut-sahutan dari berbagai arah.

Para kakak kelas tampak mondar-mandir mengatur barisan.

Sementara beberapa guru berdiri di dekat meja registrasi sambil memegang daftar hadir.

Aku memarkir Bony di samping motor Hogy dan Topan.

"Lumayan rame."

gumamku.

"Iya."

Jawab Hogy.

"Kayak pasar."

Topan ikut menimpali.

"Bedanya di sini gak ada yang jual cilok."

Aku menoleh.

"Perutmu emang mikir makan terus?"

"Lha nanti di hutan lapar gimana?"

Aku tertawa kecil.

"Makan daun."

"Daun singkong?"

"Boleh."

"Asal jangan daun kelor."

Kami kembali tertawa.

***

Tak lama kemudian suara pengeras terdengar.

"Seluruh peserta harap membawa perlengkapan masing-masing menuju area pemeriksaan."

Kami bertiga segera memanggul carrier.

Di depan meja pemeriksaan, panitia mengecek perlengkapan satu per satu.

Carrier.

Tongkat.

Peralatan makan.

Peralatan mandi.

Semua diperiksa.

Seorang kakak kelas berdiri sambil membawa spidol permanen.

"Semua barang wajib diberi nama."

"Kalau belum diberi nama, silakan tulis sekarang."

Aku segera mengeluarkan spidol dari saku.

Satu per satu perlengkapanku mulai kutulisi.

Piring.

Gelas.

Sendok.

Kotak P3K.

Bahkan peluit pun ikut kutulisi.

Hogy memperhatikanku sambil menggeleng.

"Bar..."

"Hmm?"

"Sendok juga dikasih nama?"

Aku mengangguk.

"Kalau hilang gimana?"

Topan langsung menyahut.

"Kalau sendoknya masih hilang juga..."

"...berarti malingnya niat."

Aku tertawa.

"Bisa jadi."

"Atau lapar."

Balas Hogy.

Kami bertiga kembali tertawa.

Begitulah.

Di tengah kesibukan persiapan kemah...

selalu saja ada alasan untuk saling mengejek.

Tak lama kemudian seluruh carrier mulai dinaikkan ke atas sebuah truk logistik.

Sementara kami diminta berkumpul sesuai kelompok masing-masing.

Suasana lapangan semakin ramai.

Suara peluit.

Suara mesin truk yang mulai dipanaskan.

Suara panitia memanggil nama kelompok.

Semua bercampur menjadi satu.

Aku menarik napas panjang.

Petualangan kami...

akhirnya benar-benar akan dimulai.

***

Satu per satu carrier yang sudah diperiksa mulai dinaikkan ke atas truk logistik.

Suasana lapangan semakin ramai.

Beberapa kakak kelas terlihat sibuk mengatur posisi barang agar tidak mudah bergeser selama perjalanan.

Di sisi lain, panitia mulai membagi peserta sesuai kelompok masing-masing.

Kelompok putra memakai nama hewan.

Sedangkan kelompok putri memakai nama bunga.

Aku sempat melihat papan pembagian kelompok yang ditempel di depan ruang guru.

Harimau.

Rajawali.

Elang.

Serigala.

Di sebelahnya berjajar kelompok putri.

Melati.

Mawar.

Anggrek.

Kenanga.

Aku tersenyum kecil.

Entah siapa yang memberi nama kelompok seperti itu.

Yang jelas...

nama kelompok hanya untuk administrasi.

Karena nanti semua peserta tetap berbaur selama kegiatan berlangsung.

Tak lama kemudian suara peluit kembali terdengar.

Preeet...!

"Kelompok Harimau!"

"Naik Truk Satu!"

Beberapa siswa mulai berlari sambil membawa tongkat pramuka.

Disusul kelompok berikutnya.

"Kelompok Rajawali!"

"Truk Dua!"

Panitia terus memanggil satu per satu.

Aku, Hogy, dan Topan ikut mengantre sambil memanggul tongkat masing-masing.

Saat nama kelompok kami dipanggil, ternyata Truk Tiga sudah hampir penuh.

Panitia menghitung cepat jumlah peserta yang masih berdiri.

"Laki-laki tiga orang..."

"Perempuan enam orang..."

Seorang kakak kelas segera memberi isyarat kepada panitia lain.

"Masukkan ke Truk Darurat saja!"

Aku sempat saling pandang dengan Hogy.

"Lho..."

"Truk Darurat?"

Topan malah terlihat santai.

"Sing penting berangkat."

Aku hanya mengangguk kecil.

Benar juga.

Yang penting sampai.

Kami pun mengikuti arahan panitia menuju truk yang diparkir paling belakang.

Berbeda dengan truk lain yang hampir penuh oleh satu kelompok, Truk Darurat berisi campuran.

Ada beberapa siswi dari kelompok bunga.

Beberapa peserta putra dari kelompok lain yang tidak kebagian tempat.

Serta beberapa dus perlengkapan tambahan yang ditumpuk rapi di bagian depan bak.

Seorang panitia berdiri di dekat bak truk sambil membawa daftar peserta.

Beliau meniup peluit sekali lagi.

Preeet!

"Yang mabuk kendaraan..."

"Silakan duduk di bagian depan!"

Belum selesai kalimatnya.

Topan langsung mengangkat tangan.

"Saya!"

Lalu berlari secepat mungkin.

Aku dan Hogy hanya saling pandang.

"Padahal tiap hari naik Jagur..."

gumam Hogy.

Aku tertawa kecil.

"Dasar..."

Kami naik beberapa saat kemudian.

Bak truk mulai dipenuhi peserta.

Aku memilih duduk di bagian tengah bersama Hogy.

Sedangkan Topan...

melambaikan tangan dari depan.

"Bar!"

"Di sini masih kosong!"

Aku baru hendak melangkah mendekat.

Namun langkahku terhenti sesaat.

Di samping Topan...

sudah duduk seorang gadis dengan seragam pramuka lengkap.

Kerudung cokelat muda yang dikenakannya tampak rapi.

Tangannya memeluk tas kecil di pangkuannya.

Saat melihat kami naik, gadis itu tersenyum pelan.

"Ayo..."

Masih kosong kok."

Aisyah.

Topan yang baru menyadari siapa teman duduknya langsung salah tingkah.

"O..."

"Iya..."

"Makasih."

Biasanya mulutnya tidak pernah berhenti bicara.

Sekarang...

justru seperti kehilangan kata-kata.

Aku menahan senyum melihat tingkahnya.

Hogy bahkan sampai menyenggol lenganku pelan.

"Bar..."

"Ajaib."

Aku mengangguk kecil.

"Topan bisa diem."

Kami berdua langsung menahan tawa.

Topan hanya melotot ke arah kami.

Namun beberapa detik kemudian...

dia sendiri ikut tersenyum malu.

Mesin truk mulai dipanaskan.

Suara diesel tua perlahan memenuhi halaman sekolah.

Getarannya terasa sampai ke lantai bak tempat kami duduk.

Beberapa guru mulai melambaikan tangan.

Panitia kembali menghitung jumlah peserta.

Tak lama kemudian peluit panjang kembali terdengar.

Preeeeeeet...!

"Semua siap!"

"Berangkat!"

Truk mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman sekolah.

Aku menoleh ke belakang.

Gedung SMA Islam Nusantara semakin lama semakin mengecil.

Entah kenapa...

rasanya seperti akan pergi jauh.

Padahal bumi perkemahan itu hanya berada di kecamatan sebelah.

Saat itulah...

HP Nokia di saku celanaku bergetar pelan.

Bzzz...

Aku mengeluarkannya.

Satu pesan baru.

Dhewi.

“Semangat kemah ya.”

Aku membaca pesan itu beberapa kali.

Tanpa sadar...

aku tersenyum kecil.

Jempolku sempat berhenti di atas tombol balas.

Namun akhirnya...

HP itu kembali kututup.

Bukan karena aku tidak ingin membalasnya.

Melainkan karena aku tahu...

kadang sebuah janji lebih baik dijaga lewat tindakan daripada kata-kata.

Aku memasukkan kembali HP itu ke dalam saku.

Lalu memandang jalanan yang mulai menjauh di depan sana.

Perjalanan kami baru saja dimulai.

Dan aku sama sekali belum tahu...

bahwa perkemahan ini akan menjadi awal dari begitu banyak cerita yang mengubah hidupku.

1
Dinasti Khaida
ditunggu kak
dheocto [online]: maaf nunggu lama, udah up ya beb hehe
total 1 replies
Ran_kudo
nahh lohh..
pilih dewie apa aisyah??
Ran_kudo
jangan maruk bar..
smua pengen di embat..
pilih salah satu aja..😁😁
nEVe®_ENd
aku malah penasaran sama emak 😄
nEVe®_ENd
singkong goreng...😁
Susan Sinuraya
hallo .. aku mampir lagi ...
go go.. semangat...

sehat terus ya thor
sukses berkarya ...

Salam DANAU CINTAKU
nEVe®_ENd
author ini kayaknya seangkatan sama aku... lagunya jadul semua..tp masih bersemayam di hati 🤣🤣
nEVe®_ENd
nggak banyak typo kok thor...
opo gak ono iki mau🤔🤔
halah emboh lali wes terbawa suasana 🤣🤣
Icha
hhhehdhp
nEVe®_ENd
apek iki ceritane 😊
nEVe®_ENd
wul...tiwul owal awul 🤣🤣🤣
nEVe®_ENd
Bony...namanya keren... nggak taunya itu singkatan to..bokonge muni 😄😄😄

suka aku bahasanya, nggak kaku....kayanya wong jowo ini authornya😁😁
Ayunina Sharlyn
oke thor
Shanty Fadillah
hay thor aku sudah mampir di karyamu

yuk mampir juga di karya pertamaku.
"cinta tanpa syarat Da💘Ra"

aku sudah bom like di stiap babnya
Rain04
waooo kk ceritanya menarik semangat terus jangan lupa mampir dicerita aku " Anak Motor" Saling support thorr♥️♥️
Ayunina Sharlyn
sering ketemu. novel diawali tokohnya dibangunin ✌🤩
nhiaarKMD_19
semangat thor aku mampir jangan lupa feedback yah
devita_•
hahaha ceritanya lucu thor
emaknya akbar kek mm gue aja
Khasiatun Setiyo Rini
author belum on lagi
Nenk Rina Olive
manggilnya jgn wul dong thor.. dh ky tiwul aja.. 🤭🤭 tp kok jd sedih c 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!