Mocca Yola, suatu malam yang tragis telah merenggut kesuciannya. Pulang ke rumah dalam keadaan hancur malah dikejutkan dengan sebuah peti mati dengan foto sang ayah tercinta di dekatnya.
Tidak hanya itu, ternyata semua sudah direncanakan oleh dua orang wanita bermuka dua yang berpura menangis tersedu di samping peti jenazah. Semua mereka lakukan tak lain demi mendapatkan harta keluarga Yola.
Setelah itu mereka mengusir Mocca dari rumah, mengirimnya ke tempat yang sangat jauh. 7 tahun kemudian dia kembali dengan si kembar Genius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YWulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Information!
Siang hari, setelah menjemput si kembar dari sekolah dan mengantarnya pulang Leon pun kembali ke rumah sakit untuk memeriksa CCTV dengan seksama, di temani oleh Harly dan Georgio.
Dari sana diketahuilah bahwa pria itu adalah Vello, anak angkat Kakek Mo pemilik perusahaan MB.
"Anak angkat Tuan Mo ini sangat misterius, tidak ada data lengkap tentang dia di sini." ujar Georgio.
"Apa mungkin dia pria di masa lalu Mocca? Mantan kekasih?" celetuk Harly.
"Aku tidak tahu banyak tentang Mocca, mantan kekasih itu mungkin saja, tapi kau bilang saat mereka bertemu pertama kali Mocca berlagak seperti tidak mengenalnya."
"Benar, jika mantan kekasih seharusnya saat itu Mocca memberi reaksi lain. Tapi dia malah bengong."
"Ngomong - ngomong. Kenapa dia bisa berada di rumah sakit ini? Apa pergi menjenguk seseorang?" tanya Leon pada Georgio.
"Hm, kemarin Tuan besar Mo dilarikan kerumah sakit karna suatu penyakit yang kambuh, kabarnya saat ini beliau mengalami koma. Mungkin dia habis menjenguk Tuan Mo. Jadi Leon, apa yang akan kau lakukan?"
Leon terdiam, dia masih penasaran mengenai asal - usul Vello yang misterius, data pribadi tentangnya nihil. Orang yang tahu banyak tentang Vello hanya Tuan Mo, tapi dia sedang koma saat ini.
Menurut informasi yang Harly dapatkan, Vello adalah seorang warga asli negara tersebut, namun beberapa tahun ini baru kembali dari LA. Tapi apa hubungannya dengan Mocca.
Leon kemudian menyuruh Harly untuk memeriksa data anggota keluarga Mocca, semuanya tidak boleh terlewatkan.
Dari sanalah Leon baru tahu, tanggal kematian ibu Mocca sama persis dengan tanggal kematian ibunya. Anehnya lagi, kedua ibu tiri mereka adalah kakak beradik. Semuanya menjadi semakin rumit, bagai tali benang yang saling berpautan.
"Dia memiliki kakak laki - laki bernama Vero Yola, dia meninggal dunia di usia muda karna suatu kecelakaan mobil. Satu - satunya anggota keluarga yang tersisa yaitu ayahnya, tapi beliau juga meninggal terkena serangan jantung." Harly membacakan informasi yang dia dapat.
"Apa mungkin, anak angkat tuan Mo ternyata Vero, kakaknya Mocca? Namanya hampir sama bukan?" Georgio menebak - nebak.
"Bagaimana bisa? Vero Yola sudah meninggal, kau juga tahu saat itu beritanya sangat ramai diperbincangkan. Keluarga Yola kehilangan penerus perusahaan, trending pada masanya." Harly menyangkal.
Tak lama Leon mengambil alih laptop Harly dan mencari sesuatu, dia menggerakkan jarinya sangat cepat. Dia mencari berita 11 tahun lalu, dimana Vero mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Beberapa saat kemudian berhasil mendapatkannya.
Dalam berita tersebut mengatakan seorang siswa sekolah menengah atas mengalami kecelakaan tragis dan meninggal dunia di tempat, tertulis hanya ada 1 orang korban.
Tapi dalam suatu laman yang terkunci, lain lagi. Disana disebutkan bahwa ada 3 orang korban, 1 orang meninggal dan 2 lainnya tidak ditemukan. Informasi itu dianggap hoax karna tidak memiliki bukti. Kebenaran dibalik kecelakaan itupun masih simpang - siur.
"Aaaah. Sebagai orang terkaya dan tertampan, ini pertama kalinya aku kebingungan menghadapi masalah." Leon mendongakkan kepalanya merasa putus asa.
Georgio beranjak "Aku masih ada kerjaan, tidak bisa temani kalian lagi. Kalau ada sesuatu cari saja." diapun pergi.
Harly menyandarkan tubuhnya sembari menguap "Lain hari baru cari lagi, sekarang aku mengantuk." ia bergumam dengan mata terpejam.
Sementara Leon masih memikirkan untaian tali yang saling berpautan tersebut. Dia menyimpulkan beberapa kemungkinan, tapi tetap saja hasilnya nihil.
"Sudah jangan di pikirkan lagi, si Vello itu kemungkinan anak haram dari salah satu anaknya Tuan Mo. Itu sebabnya segala informasi tentangnya di rahasiakan."
"Aha!" seperti baru saja mendapatkan pencerahan.
Dengan sigap Leon mengetik huruf demi huruf, ia mencari data keseluruhan anggota keluarga Mo. Jika benar Vello cucu haram keluarga Mo, setidaknya pasti ada jejaknya.
Dari susunan silsilah keluarga tampaknya tidak menimbulkan sesuatu yang berhubungan dengan perselingkuhan. Hampir semua anggota keluarga memiliki ambisi untuk mewarisi harta keluarga Mo. Tidak jauh berbeda dari keluarga Domino.
Sebuah kabar mengatakan, dari sekian banyak anak dan cucunya, Tuan besar Mo sempat membuat surat wasiat dan mencantumkan satu nama pewaris tunggal didalamnya. Dia cucu ke 7 bernama Revan Mo.
"Revan Mo?"
"Ah! Aku pernah mendengar namanya, Tuan muda Revan dikabarkan meninggal dunia, tidak tahu pasti penyebabnya." Harly bergumam.
"Itu dia! 3 siswa yang menjadi korban kecelakaan pasti melibatkan dirinya, semua data dihapus, hanya keluarga sebesar keluarga Mo yang bisa melakukannya selain keluarga Domino."
Harly terperangah dan langsung duduk tegak.
"Mungkinkah Vello itu adalah Revan? Kecelakaan itu mungkin dimaksudkan untuk mencelakai ahli waris namun malah melibatkan orang lain seperti kakak Mocca. Vello mendekati Mocca karna rasa bersalahnya pada Vero?"
"Tapi Harly, tampang Vello ini, sama sekali tidak mirip dengan Revan maupun Vero, apa dia telah melakukan operasi plastik?"
Kembali terdiam, bisa jadi yang Leon katakan itu benar. Kecelakaan itu mungkin telah merusak wajahnya, barulah melakukan operasi plastik.
Dan saat di depan rumah sakit pagi tadi, mungkinkah Vello mengatakan suatu hal tentang Vero yang membuat Mocca sedih sampai tertekan?
"Aaaaaah aku tidak mau pikirkan lagi, bisa - bisa kepalaku botak." ujar Harly, dia beranjak dan mengambil Jas-nya.
Leon menghela nafas, mungkin sampai disini saja, besok di lanjut lagi. Lagian sekarang harus memikirkan cara untuk menenangkan Mocca dan membujuknya pulang.
Tak berapa lama ponsel Leon berdering, telpon dari orang rumah.
"Tuan! Itu, Tuan dan Nona kecil kabur dari rumah!"
"Kabur dari rumah?! Bagaimana bisa?!" teriak Leon sampai membuat Harly terdiam mendengarnya. Sekarang apa lagi?
Leon mengakhiri panggilan, pikirannya kacau sekali.
"Kau tidak cari si kembar? Tidak khawatir pada anakmu?" tanya Harly.
"Paling - paling pergi ke toko itu untuk temui Mama-nya, nanti sore pergi kesana sekalian jemput."
"Leon mereka itu dua anak kecil! Ini kota besar bagaiaman bisa membiarkan mereka begitu saja?!" malah tampak Harly yang mengkhawatirkan si kembar dibanding Papa-nya.
Tap!
Leon menepuk pundak Harly, "Mereka itu anak - anakku, mereka juga bukan anak biasa, mereka Anak Genius! Ingat itu! Sekarang ada yang harus aku kerjakan di kantor, nanti sore baru jemput mereka. Oh ya, terima kasih untuk hari ini, nanti aku kasih hadiah wanita cantik."
"Benarkah? Aaah terima kasih." senang dan gembira.
"Ayo pulang."
...**...
Di sebuah Cafe, tempat favorit yang sering Ruri dan Vello kunjungi. Setelah hari dimana Vello datang ke Yola, Ruri tidak pernah bertemu lagi dengannya bahkan Vello sangat sulit di hubungi. Beruntung hari ini Vello mau bertemu dengan Ruri.
Sepulang dari kantor Ruri langsung pergi kesana padahal dia tahu jam pulang perusahaan MB sedikit lambat, tapi dia bersedia menunggu sampai Vello datang.
1 jam waktu berlalu, Vello pun datang.
"Ruri, ayo kita putus." ucapnya setibanya, dia bahkan tidak duduk terlebih dahulu dan langsung mengutarakan niatnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Ruri.
...** * **...