NovelToon NovelToon
Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Status: tamat
Genre:Duda / Dikelilingi wanita cantik / Janda / Tamat
Popularitas:184.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Kelanjutan cerita yang season 1 ya kak

Bagaimana rumah tangga Adi dan Indri selepas kehadiran dua putra kembar nya yang melengkapi Cinta dan Dhea?

Adi berjuang keras untuk mempertahankan rumah tangga nya dengan Indri disaat godaan datang silih berganti.

Bahkan seorang pacar masa lalu Adi yang berstatus janda muda juga hadir kembali ke kehidupan Adi, saat dia sudah menemukan kebahagiaan bersama Indri.

Temukan jawabannya di Mandor Proyek dan Janda Muda 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adi, Antok dan Didik

Antok dan Didik saling berpandangan sejenak setelah melihat api cemburu membakar Bu Tiara. Ekspresi perempuan cantik itu tidak susah untuk di tebak. Apalagi dengusan nafas dingin nya semakin memperlihatkan kecemburuan yang mendalam pada Susi.

Sejenak dua orang asisten Adi itu berpikir betapa beruntungnya Adi yang selalu mendapat perhatian lebih dari lawan jenis nya.

"Permisi Mas,

Ini totalan katering nya", ujar Susi sembari mengulurkan secarik kertas nota pada Adi.

Mandor proyek itu segera menerima nota yang di berikan Susi kepadanya. Dan mulai membaca angka yang tertera di sana.

"Emang berapa sih jumlah nya? Kog kelihatannya gak sabaran banget?", gerutu Bu Tiara sambil mendekat ke arah Adi untuk melihat angka disana.

Tertulis jelas disitu bahwa jumlah total belanja untuk selamatan dan upah pengerjaannya sebesar 2,87 juta.

"Sebentar ya Mbak", ujar Adi sambil tersenyum tipis lalu membuka tas kecilnya.

"Kurang berapa Mas?", tanya Bu Tiara pada Adi. Tanpa menoleh ke arah Bu Tiara, Adi menjawabnya.

"Kurang 1,87 juta Bu Bos", jawab Adi sambil terus menghitung jumlah uang di dalam tas kecil nya.

Bu Tiara buru-buru membuka tas merk Hermes nya lalu mengambil 2 jepit uang ratusan ribu lalu mengulurkannya pada Susi.

"Pakai duit ku saja Mas", ujar Bu Tiara sambil menatap sengit ke arah Susi.

"Loh itu kan tanggung jawab saya Bu Bos. Itu kan di luar kontrak kerja kita", Adi menatap ke arah Bu Tiara dengan penuh pertanyaan.

"Gak apa apa Mas. Lagian saya harus juga menghormati kearifan lokal masyarakat sini kan?

Mbak, sudah cukup kan? Kalau sudah silahkan mbak tinggalkan tempat ini. Kami masih ada personal meeting disini", ujar Bu Tiara yang terang-terangan mengusir Susi dari tempat itu.

"Lha ini kelebihannya gimana Bu?", tanya Susi segera.

"Ambil saja. Anggap saja uang tips untuk anda", jawab Bu Tiara sambil menatap tajam ke arah Susi.

Bunga warung pinggir pasar itu segera mengangguk mengerti dan bergegas meninggalkan tempat itu. Bu Tiara menghembuskan nafas lega seolah salah satu beban berat lepas dari hidup nya.

"Kog kelihatan lega gitu Bu Bos Besar?", celetuk Antok yang mulai kumat kepo nya. Asisten Adi yang satu ini memang pintar cari perkara.

"Siapa yang gak sewot dengan perempuan itu? Kelihatan banget kalau dia mau mendekati Mas Adi", jawab Bu Tiara sambil mendengus dingin. Api cemburu yang sempat meredup langsung berkobar lagi.

"Kan wajar Bu Bos Besar, secara bos saya ini orangnya ganteng nan menawan loh", ujar Antok yang langsung mendapat pelototan mata dari Adi.

"Kau bilang wajar?

Hei dia itu bibit pelakor tau gak ha?", hardik Bu Tiara yang makin emosi mendengar jawaban Antok yang asal ngomong.

"Lah kan bos Adi emang.....

Waaaaadddddaaaaaaaawwwwwwhhh", Antok mengaduh kesakitan akibat injakan sepatu safety Adi pada jempolnya yang cantengan.

"Bisa diam gak tuh mulut Tok?", Adi mendelik tajam ke arah Antok yang meringis kesakitan akibat jempol kaki kanan nya yang cantengan diinjak oleh Adi. Sedari tadi dia sudah pincang karena cantengan dari 3 hari yang lalu. Jempol kaki Antok langsung mengeluarkan darah bercampur nanah.

"Ampun bos aduh ampun...", Antok sampai meneteskan air mata karena merasakan sakit pada jempol kaki kanan nya.

"Makanya kalau punya mulut ada rem nya biar gak nyerocos seperti ember bocor.

Dik,

Ambilkan kotak P3K itu. Ada Betadine di situ", perintah Adi pada Didik yang membuat asisten Adi itu segera melangkah ke kotak P3K di sudut ruangan.

Didik lalu mengoleskan Betadine ke jempol kaki kanan Antok yang berdarah. Pria bertubuh ceking itu meringis menahan rasa perih pada jempol kaki kanan nya.

Akibat peristiwa itu, Bu Tiara tak meneruskan omongannya. Dia yang tidak tahan melihat darah langsung pamit pulang pada Adi.

"Mas Adi,

Aku pamit pulang dulu ya? Ada urusan lain menunggu", ujar Bu Tiara sambil tersenyum manis pada Adi.

"Monggo Bu Bos,

Hati hati di jalan, jangan ngebut", jawab Adi segera. Bu Tiara segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan Adi menyambut nya.

Perlahan Bu Tiara memundurkan mobil Fortuner nya untuk keluar dari halaman rumah Pak Karmin. Usai membunyikan klakson sekali, mobil Fortuner warna hitam itu melaju meninggalkan tempat itu. Adi yang mengantar Bu Tiara segera kembali ke dalam ruangan direksi kit dan melihat Didik tengah membalut jempol kaki Antok dengan kain kasa steril.

"Wah si bos tega bener deh.. Jempol kaki cantengan malah di injak pakai sepatu safety lagi", gerutu Antok sambil terus menatap Didik yang hampir menyelesaikan tugas nya.

"Salah kamu sendiri!

Sudah tau Bu Bos lagi naik darah malah kau panas-panasi Tok. Makanya itu mulut di jaga. Boleh asal ngomong tapi lihat sikon dong", Adi mengeluarkan sebungkus rokok diplomat favoritnya dan menyulutnya sebatang. Asap putih mengepul dari mulut Adi.

"Ya bos, saya minta maaf. Emang kadang ini mulut suka nyerocos gak pakai rem", ujar Antok sambil menepuk bibirnya sendiri.

"Aku juga minta maaf karena menginjak jempol kaki mu yang cantengan..

Tau gitu tak injak dari tadi biar cepat keluar itu penyakit. Kata orang, kalau nanah dan darah sudah keluar dari cantengan, besoknya pasti sembuh", ucap Adi sembari tersenyum tipis.

"Mana orang nya yang bilang begitu bos mana?

Suruh kemari biar tak injak kakinya yang cantengan agar tau rasanya sakit setengah mati", omel Antok mendengar omongan Adi.

Hahahaha...

"Dah gak usah di perpanjang. Nanti siang kita makan di warung permpu itu tadi. Tak traktir deh..

Sekarang kalian rapikan ruangan ini dulu. Tulis jadwal kita selama seminggu ke depan di white board. Aku mau kita kerja tertata sampai memenuhi target kerja", perintah Adi sambil terus menghisap rokok Diplomat favoritnya.

"Ok siap laksanakan bos", ujar Antok dan Didik bersamaan.

Siang itu mereka merapikan tempat itu sembari menyiapkan beberapa kebutuhan kecil seperti Aqua galon, spidol, gelas plastik berikut gula kopi sebagai tahap awal pekerjaan besar mereka.

Jam sudah menunjuk pukul 12 kurang seperempat.

"Yuk kita cari makan", ajak Adi sembari berjalan keluar dari ruangan direksi kit mereka. Antok dan Didik segera mengikuti langkah sang mandor proyek usai mengunci ruangan itu karena ada beberapa barang berharga yang ditinggal disitu.

Dengan dua motor mereka melaju ke arah warung makan Susi yang ada di sudut pasar desa Karangan. Warung makan itu tengah ramai oleh pengunjung.

Setelah memarkir motornya, Adi segera masuk diikuti oleh dua asisten setia nya.

"Mbak,

Makan siang ya", ujar Adi sambil tersenyum.

Susi langsung pamer senyum manis nya begitu melihat Adi kesitu. Perempuan cantik itu rupanya benar benar suka dengan Adi. Dengan cekatan dia mengambilkan nasi di magic com yang tertata rapi di samping etalase kaca yang memajang aneka lauk pauk dan sayuran.

"Lauk nya apa Mas?", tanya Susi segera.

"Itu pakai sayur daun singkong, sambel terasi, ikan jendil goreng dua sama dadar jagung satu aja", jawab Adi sambil menunggu Susi yang segera mengambilkan pesanan Adi.

"Mas Adi gak doyan daging ayam atau sapi gitu ya?", Susi memancing obrolan antara mereka. Dia ingin tahu seleranya Adi seperti apa.

"Bukan gak suka mbak. Kalau adanya itu ya pasti aku makan. Cuma kalau ada ikan air tawar gitu aku favorit mbak..

Eh iya es jeruk nya satu ya mbak", ujar Adi sambil berlalu menuju ke salah satu sudut meja yang kosong.

"Siap mas", jawab Susi yang terus menatap ke arah tempat Adi duduk sampai lupa ada dua orang mengantri di belakangnya Adi.

"Mbak ... mbakkk....", ujar Antok sambil menggoyangkan telapak tangannya ke arah Susi.

"Ee-eehh Maaf mas, iya mas mau pesan apa?", Susi tersadar dari lamunan indahnya.

"Makan siang lah mbak, masak mau pesen rujak buah?", ujar Antok sambil nyengir kuda.

"Lha iya mas, maksud nya pakai lauk apa?", kembali Susi bertanya kepada Antok.

"Ya apa aja boleh mbak asal bukan racun", lagi lagi Antok memperpanjang waktu obrolan dengan Susi. Janda kembang itu mulai kesal dengan ulah Antok.

Didik yang di belakang nya pun mulai geram karena sedari tadi menahan lapar.

"Kau mau jempol kaki mu yang cantengan itu diinjak lagi Tok?", Didik mendelik tajam ke arah Antok.

"Ya ogah Dik. Sakit banget tahu", jawab Antok segera.

"Makanya cepat tentukan kau mau makan pakai apa? Aku sudah lapar. Dan kalau lapar kaki ku suka injak kaki orang", ancam Didik dengan cepat.

"Iya iya gitu aja marah sih..

Mbak, lodeh nangka muda, telur dadar dan perkedel. Minum nya es teh", ucap Antok segera. Dia takut jempol kaki kanan nya yang sudah berdarah di injak oleh Didik. Susi pun segera mengambilkan pesanan Antok hingga lelaki mengesalkan itu segera menuju ke dekat Adi yang asyik menikmati makan siang nya. Tak berapa lama kemudian Didik pun menyusul di dekat bos nya itu.

Susi segera mengantar air minum pesanan mereka bertiga. Sempat dia mencuri pandang ke arah Adi yang nampak asyik mengunyah daging ikan jendil goreng nya.

Usai bersantap bersama, Adi, Antok dan Didik menyulut rokok seperti biasanya. Tiga orang itu bersenda gurau namun tak lepas dari pengamatan Susi.

Usai makan Adi segera mendekati ke etalase kaca di depan Susi, untuk membayar makanan mereka.

"Berapa Mbak semuanya?", tanya Adi sambil membuka tas kecilnya.

"Gak usah mas, anggap saja itu bonus karena mas sudah pesan katering di tempat saya", jawab Susi sambil memamerkan senyum manis nya.

"Loh kok gitu mbak, kan memang sudah sesuai kesepakatan", ujar Adi sambil menarik lembaran uang 50 ribu dan mengulurkan nya pada Susi. Namun sekeras apapun Adi ingin membayar, Susi tetap menolak nya. Akhirnya Adi memasukkan kembali uang nya ke dalam tas kecil.

"Kalau begitu terima kasih ya Mbak", Adi mengangguk sambil berlalu dari depan Susi. Antok dan Didik mengikuti langkah bos nya itu keluar dari warung Susi.

Susi terus menatap ke arah kepergian Adi. Dia berharap agar Adi sedikit lebih lama di warung nya agar dia bisa puas memandang wajah tampan Adi.

Selepas dari warung Susi, Adi dan kedua asisten nya kembali ke tempat direksi kit mereka. Ketiga orang itu terus melengkapi semua kebutuhan harian yang di perlukan agar besok semuanya sudah siap.

"Eh bos, itu orang kerja kita suruh masuk mulai kapan?", tanya Didik di sela kesibukan mereka.

"Besok besi nya kan datang tuh, nah tukang pembesian nya kamu masukkan dulu Dik..

Besok kamu awasi kerja mereka. Halaman samping ini kan cukup luas, kamu atur mereka untuk bekerja disitu", jawab Adi segera.

"Oke deh bos, assiaapp", ujar Didik mulai kumat lebay nya.

Jam sudah menunjukkan angka 15.45

Tiba-tiba ponsel pintar Adi berdering nyaring. Adi buru-buru melihat siapa yang menelpon nya dan tertera nama Renata. Adi segera mengangkat panggilan itu.

📞

Renata : Assalamualaikum mas Adi.

Adi : Waalaikumsalaam Ren.. Ada apa ya?

Renata : Gak ada apa apa Mas. Kog beberapa hari ini mas tidak kelihatan di pengaspalan jalan. Lagi sibuk apa mas?

Adi : Ah iya, lagi sibuk ngatur pekerjaan sabo dam sungai Lesa Ren. Awal ya pasti repot begini. Emang pekerjaan di Wanaraja sudah hampir selesai ya?

Renata : Belum mas, ya mas tengok saja sendiri lah. Aku takut salah ngomong.

Adi : Loh memang ada apa? Ada masalah ya?

Renata : Besok mas Adi cek sendiri ke lokasi. Tak tunggu ya Mas. Wassalamu'alaikum.

Adi : Okey, Waalaikumsalaam.

📞

Adi mengerutkan keningnya. Dia merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Renata, Sekdes Wanaraja padanya.

Melihat perubahan wajah Adi, Antok segera bertanya.

"Ada apa bos? Kog kayak mikir berat gitu", tanya Antok dengan kepo nya.

"Gak tau Tok. Besok pagi aku ke Wanaraja dulu.

Kalian berangkat pagi-pagi karena material dan alat berat nya datang pagi. Tadi pak Alfi dan pak Bakri sudah WA aku begitu", jawab Adi sambil memasukkan ponsel pintar nya ke dalam tas kecil.

"Siap bos!", ujar Antok dan Didik bersamaan.

Mereka lalu keluar dari ruangan direksi kit dan mengunci pintu. Bertiga segera men-start motor mereka masing-masing untuk pulang ke rumah. Di lampu merah pasar Garut mereka berpisah. Adi lurus ke selatan, Didik ke timur dan Antok ke barat.

Tak sampai 20 menit, Adi memasuki wilayah desa Mande tempat tinggalnya. Mandor proyek itu segera menggeber motornya agar cepat sampai di rumah.

Saat sampai di rumah ternyata ada beberapa motor yang terparkir di halaman rumah Adi. Pria itu mengenali motor Supra yang merupakan kendaraan Wawan kakak iparnya.

Adi segera masuk ke dalam rumah.

"Assalamualaikum", salam Adi yang membuat beberapa orang di ruang tamu segera menoleh.

"Waalaikumsalaam", jawab mereka bersamaan.

Indri langsung berlari dan menubruk tubuh Adi. Perempuan cantik itu menangis sesenggukan.

"Loh ada apa Yank? Kenapa kamu menangis?", tanya Adi keheranan melihat istri tercinta nya itu mengeluarkan air mata.

"Duduklah dulu Nak, ibu ingin bicara dengan mu", ujar Bu Sarmi mertua Adi sambil tersenyum tipis.

Adi segera mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu sambil memeluk tubuh Indri yang masih menangis tersedu-sedu.

"Ada apa sih Yank? Kog aneh begini", tanya Adi kebingungan dengan tingkah Indri.

Bu Sarmi menghela nafas panjang sebelum berbicara.

"Begini Nak, tadi keluarga ayah kandung Dhea datang ke rumah. Beserta seorang lelaki yang mengaku sebagai pengacara.

Mereka ingin mengambil Dhea karena menganggap bahwa tuntutan hukum pada perceraian Indri dan ayah kandung Dhea tidak layak.

Makanya sebagai kompensasi dari masalah ini, mereka menuntut agar bisa merawat Dhea", ujar Bu Sarmi sambil menatap Adi dengan berkaca-kaca. Setetes air mata jatuh di ujung mata perempuan sepuh itu.

"Oh begitu masalahnya. Ibuk, Mas Wawan dan kau Yank tenang saja. Itu masalah masih bisa diatasi", Adi tersenyum penuh arti. Indri langsung menghentikan tangisannya.

"Beneran Mas? Memang bisa masalah rumit seperti ini?", tanya Indri setengah tak percaya dengan omongan Adi.

Mandor proyek itu tersenyum tipis.

"Mas sih gak bisa yank,

Tapi pengacara mas bisa"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Rumit nih🤦🤦🤦

Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁

Selamat membaca 🙏😁😁🙏

1
putra gde
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Agus Susanto
Luar biasa
Bonar Narj
suatu kisah nyata dalam ujian berumah tangga bahwa sebuah kesetiaan itu mhal harganya walaupun banyaknya ujian
Ardan
Luar biasa
Liza_ Leo 2003
sangat menarik cerita nya salut sama pengarang nya.... terimakasih untuk cerita nya semoga kedepannya tambah sukses....
RAGIL RUKIATI
kok cepet2 banget tamatx thorrr
Esther M
tks kang Ebezz
neng ade
akhir nya Adi beserta keluarga kecil nya hidup bahagia ..
neng ade
jadi perang dukun nih ..
neng ade
waduh ada 3 penggoda nih .. Hani.. Renata dan Maya..
neng ade
o ternyata Renata janda 1 anak toh .. apa mungkin bisa clbk (cinta lama bersemu kembali) ???
neng ade
ingat Adi .. km baru aja punya si kembar .. jadi sekarang anak mu tuh udh 4 ya di .. jngn cari gara2 lagi deh ya .. ingat anak2 dan istri mu yg cantik itu .. !!
neng ade
selamat datang Rendra dan Yaka ..
semoga menjadi anak2 yg sholeh dan berbakti kepada ortu nya ..
Humaira Hasan
ko langsung end sie....uhhhh nungguin 1 tahun pas ada malam end
Ratu Tety Haryati
Kang Ebez 2 tahun gak Up, nongol2 langsung, ---- T A M A T ----
Ratu Tety Haryati
Mungkin ini kerjaannya, Mbak Suryo... kecelakaan sampe nabrak mobil box biar bikin Heni amnesia sama, Adi😁✌️
Solaiman Andreas
wes capek kang ebez nungguin..muncul langsung tamat😭
Idrus Salam
Karya barunya...
Dwi Sulistyowati
lahh setelah lama gk up
akhirnya up juga nunguin selama 1thn lebih tp ujungnya tamat😭😭😭
AbhiAgam Al Kautsar
waah kok si bikin tamat kabeh kang Ebez
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!