NovelToon NovelToon
Lovely, Miss Agent

Lovely, Miss Agent

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:145.3k
Nilai: 5
Nama Author: Atseira

Jangan lupa, tinggalkan jejakmu 🥰

Rachelle Young, seorang Agent antisosial & kasar. Pamannya mendadak memberinya tugas, menjadi seorang pelatih bela diri di sebuah desa kecil. Menggantikan sang paman, Rachelle mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Berada di antah berantah, tak membuat Rachelle meninggalkan pekerjaan aslinya. Di desa tersebut, Rachelle menemukan banyak kasus aneh dan mulai menyelesaikannya. Dibantu dengan seorang polisi bernama Luke, Rachelle memulai misi kecilnya.
Satu pesanku saat kau berada di desa itu. Jangan percaya pada siapapun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atseira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33: Kekacauan yang Sengaja Dibuat

“Kau baik-baik saja, sayang?” tanya Gray, masih bisa santai dalam situasi yang genting. Rachelle malas membalasnya dan hanya mengacuhkan begitu saja. Gray takjub melihat Hugo dan para bodyguard di luar pintu, yang berhasil di lumpuhkan Rachelle. Tadi, dia malah hanya mendapat dua bodyguard untuk dikalahkan. Ya, bodyguard yang sempat membawa paksa Rachelle tadi.

“Wah, impressive!!” seru Gray puas. Dia mendekat ke arah para wanita sewaan Hugo. Mereka terlihat ketakutan di sudut ruangan. “Are you okay, ladies? Oh, jangan takut... Pria idamanmu, ada di sini!” ucapnya menggoda.

Rachelle segera memukul kepala Gray, dengan buku yang ada di meja. Bantal sofa juga. Dan terakhir, sebuah pigura kecil. Tentu, Gray tampak kesakitan dan hendak protes.

“Jangan senang dulu... sebentar lagi... polisi akan membawamu pergi. Dan kau... akan berada dalam sel selamanya! Aku akan memberikan saksi, bahwa kau mencoba untuk menyerang... anak buahku. Aku punya koneksi yang kuat, lho...” ancam Hugo, walau keadaannya sudah tak memungkinkan. Rachelle menatapnya dengan acuh. Sementara Gray, tampak berjongkok mendekat ke arah Hugo.

Gray mencengkeram rambut Hugo dengan kasar. “Istriku sudah bilang, bukan? Nyawa yang harus kau jamin adalah nyawamu sendiri. Polisi? Penjara? Omong kosong macam apa... Huh! Kukira, kau pintar. Ternyata, cuman seperti ini saja kelicikanmu? Hugo... Astaga...” balas Gray dengan nada setengah meremehkan. Dan rupanya, Gray sudah ada sejak tadi, di depan pintu ruangan pribadi Hugo. Buktinya, dia tahu semua pembicaraan antara Hugo dengan Rachelle. Mungkin, dia sedang memberi Rachelle waktu. Untuk menyerang Hugo sendirian.

“Waktu semakin menipis. Segera turun dari sana!” pinta Xavier lewat alat komunikasi di telinga Rachelle. “Gray, sebelum itu... Kenapa kau tidak membuatnya tersangkut di sini? Ada sesuatu yang harus ku lakukan, setelah yang ini” ucap Rachelle. “Oh, ada lagi? Baiklah, aku akan membuatnya berada di sini hingga polisi datang. Lucu sekali... Seorang kriminal melaporkan kriminal lain pada polisi. Tentu saja, bakal kau yang kena! Tahu!” tanggap Gray, yang kemudian menyeru ke arah Hugo.

Gray tampak mengikat kuat-kuat, tubuh Hugo yang makin melemah. Berbekal sebuah tali sepatu milik Ray yang diambil paksa, Gray telah berhasil membuat Hugo tak berdaya dengan ikatannya. “Semoga kau beruntung, Hugo” pamit Gray sebelum pergi.

“Kau yang akan tertangkap oleh mereka! Sudah ku bilang, penjara bukan tempat tujuan terakhirku untuk menetap! Khawatirkan dirimu sendiri, bangsat!” pekik Hugo makin emosi. Masih tak terima karena merasa dikhianati, Gray mencoba untuk membalas. Dia telah bersiap, kembali berjongkok.

Namun, Rachelle buru-buru menarik telinganya. Rachelle menyuruh Gray untuk mengabaikan. Waktu mereka, lebih sempit dari perkiraan.

“Mending angkat Ray sekarang, atau kau akan mati saat berdebat dengannya!” kata Rachelle setengah menekan. Gray begitu penurut, kalau Rachelle telah memiliki rencana matang. Dia menggendong Ray yang tak sadarkan diri, ke atas bahunya. Ray jadi semakin mirip karung beras, saat dibawa pergi oleh Gray. Oh, ya, dia juga kehilangan kedua tali sepatunya. Kasihan...

Rachelle bertemu dengan Xavier di bawah. Xavier juga melihat kedatangan Gray yang masih menggendong Ray, di bahu. Memang tubuh Gray terlihat besar, meski agak pendek. Tapi melihat Ray tergeletak lemah dan penuh luka, Xavier mendadak tak tega pada murid Rachelle tersebut.

“Kita harus cepat. Polisi akan datang beberapa menit lagi. Tadi, aku sempat mengacaukan lalu lintas ke arah sini, sebentar. Tak ada waktu! Ayo!” ujar Xavier sambil berlari lebih dulu, untuk menunjukkan jalan keluar. “Wah, kau yang sudah membuat para peserta pertarungan ini lemas begitu? Kau juga, lumayan... Penipu yang telah berkembang biak. Orhion tidak sia-sia memberimu makan” puji Gray terdengar agak mengganggu di telinga. Rachelle segera menjentikkan jarinya di dahi Gray dengan keras.

“Dari tadi bikin ulah terus! Aku masih toleran nih!” amuk Gray kesal. Mengingat, Rachelle sempat memukulnya dengan barang milik Hugo tadi. “Aku akan terus melakukannya, sampai jidatmu bolong!” balas Rachelle menyeramkan. “Oke, aku diam” kata Gray menyerah. Xavier tampak geleng-geleng kepala, melihat kelakuan keduanya.

Mereka berempat tiba di halaman belakang, markas geng Macan Gila. Di sana, sebuah mobil telah siap. Tadi, Xavier sempat memindahkan mobil, sebelum beraksi membius seluruh peserta yang ada di tempat pertandingan.

Xavier masuk di ruang kemudi. Gray terlihat membaringkan Ray di kursi belakang. Dia juga tampak membuat Rachelle duduk bersama Ray. Kemudian, dia sendiri duduk di kursi depan bersama Xavier.

“Kenapa ribet amat sih? Kau bisa duduk belakang, kan?” protes Xavier yang sebenarnya, malas duduk bersama Gray. “Kalau kau mengantuk, aku bisa menendang tulang rusukmu sampai kau bangun lagi” jawab Gray. “Sebelum kau melakukan itu, kau akan ku tendang dari mobil ini” celetuk Rachelle, mengancam dari belakang.

Gray mendadak kesal. “Kenapa kau selalu membelanya sih? Aku kan... Suamimu!!” pekiknya percaya diri. “Ku hantam dari belakang nih! Mau paket yang regular atau large, pak?” ancam Rachelle lagi. Xavier segera melaju kencang, kala mendengar pertengkaran mereka lagi. “Sepertinya, karena pria ini... kau tidak bisa memiliki hubungan dengan yang lain ya, Rin?” batin Xavier, usai menyadari sesuatu.

Ketika mobil Xavier telah menjauh dari markas geng Macan Gila, markas tiba-tiba meledak. Bukan, bukan meledakkan diri. Xavier-lah yang bertugas, atas semua ledakan tersebut. Rachelle dan Gray tampak kaget. Keduanya juga terlihat saling memandang.

Saat semuanya sedang beradu otot dengan musuh masing-masing, Xavier menggunakan kesempatan untuk memasang beberapa peledak di sekitar markas. Peledak tersebut akan aktif, apabila Xavier mengaktifkannya lewat sebuah remote control. Di perjalanan yang sudah cukup menjauh dari markas, saat itulah dia menekan tombol peledak.

“Special service. Tidak usah panik begitu. Bukankah kita biasa menggunakannya?” tanggap Xavier santai. Rachelle menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi mobil, dengan santainya. “Iya sih. Tapi kukira, kau akan menggunakan yang lebih kecil” ujarnya kemudian. “Aku benar-benar nggak bisa santai, kalau mengingat Hugo” ungkap Xavier bernada kesal.

Rachelle tersenyum tipis. “Kalian... Astaga! Kenapa kau menggunakan hal sekeji itu, hanya untuk...” kata Gray terhenti. Kalian tahu kenapa? Rachelle menjewer kedua pipinya, ternyata. Hingga Gray, tak dapat melanjutkan celotehan kesedihannya yang penuh drama.

Secara random, tiba-tiba Gray teringat pada para wanita yang disewa Hugo. “Bagaimana dengan wanita penghibur Hugo? Mereka ikut mati, terkena bom?” tanyanya setengah kaget. “Kenapa kau mengkhawatirkan mereka?” tanya Xavier tak habis pikir. Dia menatap ke arah Rachelle, lewat kaca kecil di atas kepalanya.

“Sepertinya, kita harus meninggalkan orang ini di sana tadi. Biarkan dia bersenang-senang, dengan para wanita yang mengkhianatinya” kata Rachelle sambil mengobati luka Ray. Anak itu, masih tak sadarkan diri. Setelah mendapat bius dari Xavier, sebelum dibaringkan dalam mobil. Hal itu dilakukan, agar Ray tak mengetahui lebih lanjut tentang kegiatan yang sedang dilakukan Rachelle dan yang lain.

Xavier menurunkan Rachelle beserta Ray, tepat di depan gapura desa. Gray dengan santainya, turut keluar dari mobil Xavier. Sayangnya, Rachelle mendorong kening Gray hingga tubuhnya kembali masuk ke dalam mobil Xavier.

“Tolong, kirimkan dia ke biro Deloffre. Pria itu sudah menunggunya” pinta Rachelle. Xavier mengangguk mengerti. “Apa?! Kau sungguhan mengadukanku ke bos Prancis? Wahh... Tega sekali kau!” amuk Gray, tetap dari dalam mobil. Dia sempat menurunkan kaca pintu mobil sembari menatap tajam Rachelle.

Namun, Rachelle hanya menjulurkan lidahnya, sebagai balasan. “Rachelleeee!!” teriak Gray kencang, bersamaan dengan laju mobil Xavier. Rachelle merangkul bahu Ray, sembari melangkah untuk menyandarkannya di gapura desa. Rachelle terlihat menelepon seseorang.

“Luke, aku di depan” ucap Rachelle. “Aku ke sana” tanggap Luke cepat. “Aku membawa anak itu juga” tambah Rachelle lagi. “Tetap di sana!” teriak Luke yang kemudian menutup sambungan telepon.

Hanya beberapa menit, Luke sampai di depan gapura desa. Dia segera merangkul bahu Ray. “Di mana kau menemukannya?” tanya Luke. “Ada. Di sebuah klub pertandingan bawah tanah. Dia hendak bertarung. Wah, keras kepala sekali... Aku harus memberikannya sedikit bius, agar dia bisa di pulangkan” keluh Rachelle di sepanjang perjalanan.

“Karena itu, sistemku tidak bisa menembus GPS miliknya. Dia pergi terlalu jauh. Kau sudah bekerja keras. Terima kasih, telah menyempatkan waktu untuk desa” tanggap Luke sembari mengelus rambut Rachelle. “Bukan masalah. Oh, sepertinya warga juga sudah berkumpul” ujar Rachelle, saat melihat beberapa warga terlihat memenuhi balai desa. Luke agak mempercepat langkah, setelah mengetahui keberadaan ibu Ray.

Ketika ayah Ray telah menerima anaknya kembali, tiba-tiba ibu Ray menampar keras pipi kanan Rachelle. “Kau sebut dirimu seorang pelatih?! Kau merusak anakku! Pasti kau, yang telah membuatnya kabur dari rumah! Dasar, sialan!!” amuk ibu Ray. Semua orang tampak kaget, saat melihat tindakan ibu Ray.

Rachelle tak membalas. Pandangannya langsung tertuju pada seseorang. Seorang wanita, yang berdiri tak jauh dari kerumunan warga. Wanita tersebut juga dengan santainya, tampak tertawa pelan. Dia menikmati, kekacauan yang telah dibuatnya.

1
nobita
yaa awal yg menarik...
Diana Puji Astuti
kereen ceritanya...
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
lln Oh iya ya nanti nanti anu tiba di anu di bawah-bawah saya telepon lagi
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
kerrnnnn
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
keren
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
wow kerennnn
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
😂😂😂😂😂😂😂😂
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
mmmm
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
gila kerennnnn
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
keren euy
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
cerita keren begini kq g byk yg baca ya. pdhal bgs bgt
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
cerita bgs bgini g ada yg komen dan baca
Boyscamp Official: terima kasih atas dukungannya ❤
total 1 replies
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
kerennnb
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
baca dlu
Boyscamp Official
terima kasih sudah mampir 🥰
Boyscamp Official: terima kasih sudah mampir 🥰
total 2 replies
Fina Tanjung
cerita sekeren ini kenapa sedikit bgt sih....padahal ceritnya bikin dag....Dig.....dug....
Fina Tanjung
penuh teka teki banget
Boyscamp Official: terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Fina Tanjung
KK isi kepala mu apa? ko bisa bikin cerita keren kayak gini sih....
Fitzu Taufik
next thor
Fitzu Taufik
semangat thor ku tunggu up nyaaa
Boyscamp Official: siap 😁😁 terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!