Delima, gadis yang hidup dengan rasa percaya diri yang rendah. Terbiasa dibully membuatnya menarik diri dari pergaulan dan merasa dirinya tak pernah berharga. Sampai Ia dicintai oleh Richard Kusumadewa, mantan pemakai narkoba dan playboy kelas kakap. Akankah Richard mampu merubah Delima dan mengembalikan rasa percaya dirinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mamah Sri Beraksi
Adel
"Cie... Bu Adel yang dianterin sama pacarnya..." ledek Santi saat aku duduk di meja kerjaku.
"Ganteng banget Bu pacarnya. Bolehlah kenalin ke kita." sahut Jihan menambahkan.
Aku tersenyum sambil tersipu malu. Ah... Baru kali ini aku dianter ke kantor sama seseorang. Calon suamiku lagi.
Nih anak-anak belum tau aja kalau Richard calon suamiku, kalau tahu bakalan lebih heboh lagi nih reaksinya dibanding sekarang.
"Ih kamu... Apaan sih. Tapi kalau ganteng sih memang ganteng." kataku mengakui.
"Cieee.... Yang lagi jatuh cinta. Jatuh cinta berjuta indahnya...." ledek Santi lagi.
"Hush! Sudah sana balik ke tempat kalian. Sebentar lagi kita briefing!" kalau ditanggapi terus bisa jadi bulan-bulanan anak-anak nih nantinya.
Aku merapihkan sedikit dandananku. Karena naik mobil jadi make-upku masih rapi. Kalau aku bawa motor sih terpaksa di retouch ulang.
Sudah mau jam 8, sebentar lagi waktu briefing dimulai. Aku menyempatkan diri melihat Hp. Mataku terpaku pada status Richard.
Breakfast With Love
Bergambar nasi uduk yang tadi kubelikan di warung Bu Uun. Ya ampun kamu Cat. Hal sepele begini kenapa terasa istimewa banget ya buat kamu.
Aku jadi tersenyum-senyum sendiri dibuatnya. Aku memasukkan hp ke saku blazerku dan mengikuti briefing pagi seperti biasanya.
Seharian aku sibuk dengan pekerjaanku. Aku sesekali melihat Hp-ku, kenapa Richard sama sekali tidak menghubungiku ya?
Biasanya kalau baru memulai hubungan, entah pacaran atau taaruf seperti kami suka saling berkirim pesan. Entah hanya sekedar bertanya kabar atau mengucap selamat makan siang.
Kenapa Richard bersikap cuek ya? Apa mungkin Ia terlalu sibuk? Bukannya kemarin dia bilang hanya sedang belajar ilmu manajemen saja?
Huft....
Aku menatap susu low fat yang tadi Ia belikan untukku. Perhatian kecil yang tak kusangka mampu Ia lakukan. So sweet, tapi membuatku merasa kecanduan.
Entah mengapa kalau bersama Richard, aku jarang merasa mual dan tak lagi memuntahkan makananku. Apa mungkin aku merasa kalau Richard menerimaku apa adanya?
Sore harinya aku berharap Richard akan menjemputku walau kutahu itu tak mungkin. Ia seperti hilang tanpa jejak setelah update status tadi pagi.
Aku mau telepon tapi gengsi. Tidak telepon tapi ada yang mengganjal. Harus bagaimana dong?
Aku bosan di kontrakkan sendirian. Kalau ke rumah Maya pun tak mungkin, Ia punya kehidupan sendiri sekarang. Terpaksa aku mengumpulkan Duo Julid yang selalu siap kapan saja aku panggil.
Aku sudah membeli 3 porsi bubur ayam dan satu box donut buat cemilan. Maya bilang, mereka suka kalau dikasih makanan sebagai upeti.
"Buburnya enak, Del. Beli dimana?" tanya Bu Sri yang sudah menghabiskan bubur miliknya dan kini sedang ngemil donut.
"Tadi di dekat stasiun. Enak ya?" aku tadi sudah memberikan setengah buburku pada Bu Sri, namun kenapa punyaku masih ada dan Bu Sri sudah habis ya? Jangan-jangan tuh emak-emak cuma ditelan aja tanpa dikunyah dulu?
"Saya mah apa aja enak Del asal gratis. Tumben kamu manggil kita berdua malam-malam begini?" tanya Bu Sri. Nih emak-emak tingkat kepekaannya tinggi. Jangan coba-coba bohong deh sama dia.
"Bosen, Bu. Enggak ada temennya." jawabku jujur.
"Lah si Richard mana? Kan kalian mau menikah katanya?" tanya Bu Jojo.
Aku mengangkat kedua bahuku. "Enggak tau. Dari tadi pagi belum ada kabar."
"Cieeeee yang kangen...." ledek Bu Sri.
"Enggak kok. Siapa yang kangen? Biasa aja tuh." kataku dengan suara yang gugup. Membuat dua ibu-ibu itu semakin meledekku.
"Kalau kangen mah bilang atuh Del. Jangan dipendam, nanti jadi jerawat batu loh kayak tukang siomay!" ledek Bu Sri lagi.
"Loh apa hubungannya sama tukang siomay?" tanyaku bingung.
"Dia enggak ngerti rupanya. Tuh tukang siomay kebanyakan dipendam makanya jerawat baru. Kalau ada yang beli minta tambahin, dia diem aja, dipendam kekesalannya. Lama-lama berubah jadi jerawat batu deh. Mau kamu kayak tukang siomay?" tanya Bu Jojo yang kini juga sudah menghabiskan bubur miliknya.
"Ya enggak lah, Bu. Adel mana mau jadi tukang siomay."
"Makanya telepon dong. Mana Hp kamu?" tanya Bu Sri.
"Buat apa?" tanyaku bingung tapi tetap saja kuberikan hp milikku padanya.
"Udah diem aja." Bu Sri mengutak atik Hp milikku sambil tersenyum. Wah ada niat enggak bener nih.
"Ibu ngapain sih?" aku berusaha mengambilkan Hp milikku dan saat kulihat ternyata Ia sudah menghapus apa yang Ia kirim. "Ih ibu bilang apa sama Richard?"
"Kepo. Udah pokoknya masalah kamu beres deh." jawab Bu Sri dengan entengnya.
Aku menaruh kembali Hp milikku diatas nakas. Toh Richard tidak merespon berarti apa yang dikirim Bu Sri tidak fatal.
"Jadi kamu kapan mah nikah Del? Saya enggak nyangka loh kalau kamu bakalan sama Kakaknya Leo. Kirain saya kamu bakalan sama Kakaknya Maya." tebal Bu Jojo.
Aku reflek menoleh ke arah Bu Jojo. Kenapa dia bisa sampai berkata seperti itu?
"Maksud Ibu?"
"Ya kirain saya tuh kamu sama kakaknya Maya ada hubungkan. Soalnya kan saya melihat kalian berdua itu tuh akrab banget. Udah gitu dari cara ngeliat kakaknya Maya ke kamu tuh beda."
"Beda gimana Bu?" aku makin penasaran dibuatnya.
"Ya beda. Gimana sih ya jelasinnya ya, kayak ngeliat ke lawan jenis gitu bukan kayak ngeliat teman adiknya. Beda deh pokoknya."
"Ya nggaklah Bu. Aku tuh cuma temennya Maya. Lagian juga Kak Rian udah punya pacar. Ibu kan udah ngeliat kemarin, pacarnya yang namanya Sari. Cantik loh Bu." kataku sambil mengacungkan jempol.
"Terus kalau cantik memang kenapa? Saya juga ndak suka sama dia." jawab Bu Jojo dengan santainya.
"Ya maksudnya jauh lebih cantik daripada saya gitu. Jadi Kak Rian enggak akan berpaling. Gitu loh maksud saya."
"Ya siapa tau Kak Rian sukanya sama kamu. Kamu mau enggak kalau Kak Rian suka sama kamu?" tanya Bu Jojo.
Ah aku membayangkannya saja sudah happy, apalagi kalau beneran sampai kejadian.
"Hush! Orang udah punya calon masih aja dicomblangin sama orang lain. Enggak boleh!" omel Bu Sri pada sohibnya. "Kamu juga Del. Udah dilamar orang enggak boleh goyah. Teguhkan pendirian kamu!" aku pun kena semprotnya.
"Tapi kan Bu, ada pepatah sebelum janur kuning melengkung masih bisa nikung." jawabku seenaknya.
"Iya kalau kamu yang nikung. Kalau kamu yang ditikung gimana? Kalau kamu yang nikung, mana kamu peduli sih sama perasaan orang lain? Tapi saat kamu ngerasain sakitnya ditikung, bisa nangis kejer kamu Del nanti!" omel Bu Sri.
Baru kali ini aku kenal omel Bu Sri. Bener juga sih apa yang Bu Sri bilang.
"Orang tuh mau nikah godaannya banyak Del. Dicoba dari segala sudut. Karena apa? Karena nikah itu adalah ibadah yang terus-menerus. Kamu cuma bikinin kopi aja buat suami kamu dapat pahala. Kamu cuma nyiapin baju aja kamu jadi pahala. Kamu cuma nyuciin sem vak aja jadi pahala. Makanya setan itu nggak suka. Dia akan menggunakan segala cara untuk menggagalkan pernikahan kamu." Mamah Sri mulai berceramah.
"Ya tapi enggak usah bawa-bawa sem vak segala kali, Bu." protesku.
"Lah kalau enggak pakai sem vak gimana? Bisa kemana-mana." jawab Bu Sri seenaknya.
"Ih Ibu mah, ngomongnya vulgar."
"Bukan vulgar, Del. Ini mah bener. Nanti kalau nikah kamu yang nyuciin sem vak suami kamu!" balas Bu Sri.
"Kan ada pembantu, Bu. Atau di laundry aja biar gampang."
"Enggak bisa gitu, Neng. Kalau sem vaknya diambil orang terus suami kamu dipelet gimana?" tanya Bu Sri lagi.
"Ih bukannya pelet tuh pakai foto ya? Kenapa sekarang berubah pakai sem vak? Ah ngaco nih Ibu mah!" aku mulai tertawa dengan obrolan absurd ini. Pantas saja Maya suka mengundang mereka datang. Lucu ternyata.
"Lah iya ya Sri. Kenapa kita jadi bahas tentang sem vak? Kita kan lagi bahas tentang hubungannya si Adel. Kamu sih kebiasaan apa-apa larinya ke sem vak, apa-apa larinya ke sem vak. Yang lain dong!" protes Bu Jojo.
"Oke. Kita balik lagi ke topik semula. Saat kamu pengen nikah nanti, kamu bakalan dapet banyak ujian Del. Misalnya, orang tua kamu nggak merestui, itu juga masuk ke ujian. Belum nanti pas mau resepsi, ada aja yang nggak setuju antara keluarga kamu dan keluarga dia, bisa juga jadi berantem." Mamah Sri kembali ceramah.
"Kalau restu orang tua sih kayaknya Papa dan Mama udah merestui meskipun kami ada satu masalah pribadi lagi ya nggak bisa diungkapin disini. Lalu kalau masalah resepsi, kayaknya aku menyerahkan sepenuhnya deh ke keluarganya Richard. Aku ikut aja."
"Nggak bisa kayak gitu Del. Kamu juga harus menanyakan pendapat Mama dan Papa kamu gimana. Siapa tahu nih, dari keluarganya Richard minta bajunya tuh pakai payet, tapi dari Mama kamu mintanya pakai batu Swarovski kan beda tuh. Jadi harus di ambil jalan tengahnya."
"Memangnya ada gitu yang batal nikah karena masalah payet atau swarovski? Enggak kali ah. Ibu mah lebay!" kataku sok tau.
"Yeh nih anak, kalau dikasih taunya. Masalah make up tebel atau tipis aja bisa jadi masalah. Lalu kateringnya juga kalau enggak enak bisa masalah. Ya intinya menikah itu menyatukan dua keluarga. Kamu dan Richard yang berada di tengah-tengahnya yang harus menjembatani dua belah pihak." aku mengangguk setuju dengan perkataan Bu Sri.
"Iya Bu. Aku akan belajar lagi lebih sabar."
"Bukan sabar aja Del. Kamu juga harus bisa menahan diri. Baru digodain Jojo aja udah kesenengan. Jangan gitu lah. Hargai Richard. Dia tuh calon suami kamu. Kamu jangan gampang kegeeran, kalau memang Rian suka sama kamu kenapa malah bawa cewek lain buat dikenalin?"
Jlebb.... Perkataan Bu Sri menusuk hatiku. Bukan perkataan yang menyakitkan, tapi perkataannya terlalu benar adanya.
"Ih saya dibawa-bawa." protes Bu Jojo.
"Lah memang bener. Kamu tuh suka ngomporin orang. Dulu aja Maya kamu jodohin sama Angga. Udah tau keluarganya enggak bener masih dijodohin aja!" omel Bu Sri pada sahabatnya tersebut.
"Ya itu kan dulu. Kalau Rian kan jelas. Kakaknya Maya. Keluarganya juga jelas. Apa salah toh?" Bu Jojo tak mau kalah.
"Ya jelas salah. Si Adel ini udah terima lamarannya Richard. Jangan digoda-godain lagi. Kalau seorang perempuan sudah menerima pinangan seorang pria tidak boleh lagi menerima pria lain. Harus diputuskan dulu pinangannya. Memang kamu mau kayak gitu Del?" tanya Bu Sri padaku.
Aku menggeleng. Aku memang tak ada rencana memutuskan pinangan Richard sih. Baru kemarin dilamar masa aku putusin sih?
"Enggak, Bu." jawabku yakin.
"Yaudah kalau memang tidak mau. Jangan tergoda lagi ya. Ingat, cobaan kamu masih panjang. Oke?"
Aku mengangguk sekali lagi, kali ini sambil tersenyum. "Oke Bu. Makasih banyak ya sarannya. Aku jadi tau kenapa Maya sayang banget sama kalian. Kalian tuh hebat!"
"Iyalah. Duo Julid gitu ha...ha...ha..." jawab mereka berdua kompak. Aku pun ikut tertawa dibuatnya.
Setelah mereka berdua pulang, aku merasa rumahku sepi kembali. Enggak enak rasanya sepi seperti ini.
Aku teringat saat dulu Papa ditugaskan ke luar kota. Mama harus bersosialisasi dengan tetangga sekitar, sehingga jarang ada di rumah. Aku pulang ke rumah yang kosong. Tak ada kehangatan didalamnya.
Sebenarnya aku terbiasa dengan rumah yang kosong, namun kekosongan setelah diisi dengan tawa canda rasanya lebih terasa kosongnya. Tak enak rasanya.
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Menatap kosong langit-langit kamar kontrakkanku. Ya, cobaan kami masih panjang. Dan, satu cobaan besar adalah aku belum mencintai Richard. Masih ada nama Rian di hatiku.
Richard masih belum ada kabar. Aku sudah memberitahu dia kalau aku tak bisa cuti minggu ini, baru bisa minggu depan karena bertepatan dengan akhir dan awal bulan banyak kerjaan yang harus aku handle.
Richard hanya menjawab satu kata saja, yakni ok. Singkat. Membuatku berpikir kalau Richard mengurungkan niatnya menikahiku.
Namun niatku pupus dikala pada Jumat sore aku melihat Richard berdiri di depan lobby menungguku. Ia mengenakan coat cokelat dan kemeja hitam didalamnya. Persis seperti oppa-oppa di drama Korea.
Beberapa cewek disana saling berkasak-kusuk membicarakannya namun Ia cuek saja. Saat aku berjalan ke lobby, Ia melihat ke arahku dan tersenyum.
Aku balas tersenyum. Aku pun menghampirinya diiringi dengan kasak-kusuk di belakangku.
"Kamu bawa mobil enggak?"
Aku menggeleng. "Tadi naik ojek online. Motor aku bocor, belum sempat ke tambal ban." jawabku jujur.
"Baguslah. Ayo naik mobilku." aku dan Richard berjalan ke parkiran dan menuju mobil Jazz miliknya.
"Kita makan dulu ya." Richard memajukan tubuhnya dan memakaikanku seat belt.
Deg....deg...deg.... Jantungku terlalu kencang berdetak. Jarak kami begitu dekat, dan sikap Richard yang penuh perhatian membuatku melting.
Richard kembali mengemudikan mobilnya. "Maaf kemarin aku sibuk dengan bisnis Papa yang di luar kota. Masih kangen enggak?"
"Kangen?" tanyaku bingung.
"Iya. Kangen. Kemarin kamu kirim pesan sama aku, katanya kamu kangen berat. Enggak nafsu makan, kepikiran aku terus. Masih kangen enggak sekarang?"
Hmm... Enggak salah lagi ini. Pasti ulah Bu Sri deh! Mamah Sri reseeeeeee!!!!!
*****
Hmm... Cuma mau bilang, jangan lupa vote dan likenya Kakak.... 🥰🥰🥰