NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:998
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Nindi tiba lebih awal ke café dari biasanya. Bukan tanpa alasan. Ia ingin punya waktu sebelum semuanya dimulai. Waktu untuk mengembalikan kendali. Namun rencananya tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Clay sudah ada di sana. Berdiri di balik bar. Seperti biasa. Seolah tidak ada yang berubah.

Nindi berhenti sejenak di pintu. Ada dorongan kecil untuk berbalik. Namun ia tidak melakukannya. Ia masuk. Clay menoleh. Tatapan mereka bertemu. Singkat. Namun cukup untuk mengingatkan semuanya.

“Pagi.” Nada suara Clay tenang. Terlalu tenang.

Nindi mengangguk kecil. “Pagi.”

Hanya itu. Namun entah kenapa, jarak itu terasa lebih jelas dari sebelumnya.

Nindi langsung bergerak ke belakang, mengambil apron, berusaha sibuk. Berusaha biasa. Namun ia sadar, Clay tidak lagi berpura-pura tidak melihat.

Beberapa kali, tanpa sengaja, ia menangkap tatapan itu. Lebih langsung. Lebih terbuka. Tidak lagi setengah. Dan itu yang membuat Nindi goyah. Bukan karena ia tidak kuat. Tapi karena untuk pertama kalinya, tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura bahwa semua ini hanya ada di kepalanya.

“Nindi.”

Nindi menoleh. Clay berdiri tidak jauh darinya. Tidak terlalu dekat. Namun cukup untuk membuat kehadirannya terasa.

“Iya?”

“Kamu belum sarapan.”

Nindi sedikit terdiam.

“Sudah,” jawabnya singkat.

Clay mengernyit tipis.

“Jangan bohong.”

Nada itu, tidak keras. Namun terlalu, memperhatikan.

“Aku tidak bohong,” kata Nindi, mencoba tetap tenang.

Clay tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik lebih lama. Seolah memastikan sesuatu. “Oke,” katanya akhirnya.

Namun Clay tidak benar-benar berhenti di situ. Clay berbalik. Langkahnya tenang menuju pantry. Tanpa penjelasan. Tanpa tambahan kata.

Beberapa saat kemudian, ia kembali. Di tangannya ada sepotong roti, masih hangat. Dan segelas susu. Ia meletakkannya di samping meja kasir. Tanpa suara. Tanpa menatap langsung. Seolah itu hal biasa.

Nindi menatap benda-benda itu. Lalu ke arah Clay.

“Clay…”

“Kalau kamu tidak lapar, tidak perlu dimakan,” potongnya singkat. Masih tanpa melihat.

Namun justru itu yang membuat semuanya terasa jelas.

Nindi terdiam. Ia tidak langsung menyentuhnya. Namun ia juga tidak menolak. Dan entah kenapa, hal sederhana itu terasa jauh lebih sulit untuk diabaikan dibandingkan kata-kata apa pun.

Beberapa saat kemudian, pintu café terbuka. Maron masuk dengan langkah santai, seperti biasa. Namun langkahnya melambat begitu ia menangkap sesuatu yang berbeda.

Matanya bergantian antara Nindi… lalu Clay. Berhenti sebentar pada roti dan susu di meja kasir.

Alisnya sedikit terangkat. “Hm.”

Maron tidak langsung mengatakan apa-apa. Hanya berjalan mendekat, lalu bersandar santai di sisi meja.

“Apa aku melewatkan sesuatu, atau memang suasananya yang terasa berbeda??” gumamnya, dengan nada santai namun penuh pengamatan.

Nindi refleks mengambil roti itu. Bukan karena lapar. Lebih karena tidak ingin menjawab. “Biasa saja,” katanya singkat.

Maron menoleh ke Clay. Yang seperti biasa, tidak bereaksi banyak.

“Biasa?” ulang Maron pelan, dengan nada yang jelas tidak percaya.

Clay akhirnya mengangkat pandangan. Singkat. Datar. “Lanjutkan pekerjaanmu, Maron.”

Maron tersenyum kecil. Bukan karena puas. Melainkan karena ia mengerti.

“Oh… oke.” Maron mengangguk pelan, lalu menepuk meja ringan. “Tapi kalau ini yang disebut ‘biasa’,” lanjutnya santai, “kayaknya aku harus mulai memperhatikan lebih sering.”

Clay tidak menjawab. Namun rahangnya sedikit mengeras.

Nindi menggigit roti itu perlahan. Tanpa sadar. Dan untuk alasan yang tidak ingin ia akui— rasanya hangat. Bukan hanya karena baru keluar dari oven.

Maron memperhatikan itu. Diam-diam. Dan kali ini, ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun dari caranya tersenyum tipis, satu hal sudah jelas :  Maron melihat lebih banyak dari yang mereka kira.

Hari terus berjalan seperti biasanya. Café ramai. Hampir tidak ada jeda. Pelanggan silih berganti. Sampai pada di jam café berhenti. Maron, Cris dan maria dengan wajah lelahnya berpamitan pulang. Begitu juga dengan nindi yang sudah siap meninggalkan café. Tapi langkahnya terhenti karna clay menangkap tangannya. Clay menariknya dan mendudukkannya tanpa berkata apa. Nindi protes. Clay tidak peduli. Clay mengeluarkan sebuah salep dan mengoleskannya ke sisi lengan nindi yang sudah melepuh. Ah rupanya clay sadar. Kalau tadi saat di pantry saat membantu maria, nindi sempat menyenggol oven panas.

Hari terus berjalan seperti biasa. Café ramai. Hampir tidak ada jeda. Pelanggan datang dan pergi silih berganti. Sampai akhirnya, jam operasional berakhir. Maron, Cris, dan Maria berpamitan lebih dulu. Wajah mereka lelah, langkah mereka berat, namun tetap ringan dengan obrolan singkat sebelum benar-benar pergi.

Nindi juga bersiap. Ia merapikan barang-barangnya, mengambil tas, lalu melangkah menuju pintu. Namun langkahnya terhenti. Clay menangkap tangannya. Refleks, Nindi menoleh.

“Clay—”

Namun Clay tidak memberi kesempatan untuk protes lebih jauh. Ia menarik Nindi kembali, cukup kuat untuk menghentikannya, lalu mendudukkannya di kursi terdekat.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Diam.” Singkat. Tenang. Namun tidak memberi ruang untuk dibantah.

Clay mengeluarkan salep dari dalam sakunya.

Nindi mengernyit. “Ini—”

Clay mengoleskan salep itu pada sisi lengannya yang memerah. Kulitnya sedikit melepuh.

“Ah..” Perih.

Nindi ingat. Tadi di pantry, saat membantu Maria, ia sempat menyenggol sisi oven yang masih panas. Ia sempat merasakannya. Namun terlalu sibuk untuk benar-benar memperhatikan. Dan Clay, rupanya menyadarinya.

“Ini bisa diurus nanti,” kata Nindi pelan, berusaha menarik tangannya.

Clay menahannya. Tidak kasar. Namun cukup jelas.

“Sekarang.” Hanya satu kata. Namun nadanya tidak bisa ditawar.

Nindi terdiam. Membiarkan Clay melanjutkan pekerjaannya. Mengoles salep dengan fokus. Tidak tergesa. Tanpa ragu. Seolah hal itu memang sudah seharusnya Clay lakukan.

“Sudah,” ucap Clay akhirnya. Namun tangan Nindi tidak langsung dilepaskan.

Ada jeda. Singkat. Namun terasa terlalu lama.

Nindi menarik napas pelan. “Terima kasih.”

Clay mengangguk kecil. Namun tetap tidak menjauh. Dan untuk pertama kalinya, Nindi tidak langsung menarik tangannya. Ia membiarkannya. Hanya beberapa detik. Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya bergeser.

“Clay…”

Nindi memanggil, lebih pelan dari sebelumnya.

Clay menatapnya.

“Aku tidak bisa terus seperti ini,” kata Nindi akhirnya.

Bukan menolak. Namun juga bukan menerima.

Clay tidak langsung menjawab.

“Seperti apa?” tanya Clay pelan akhirnya.

Nindi menelan pelan. Ia tahu jawabannya. Namun mengatakannya terasa jauh lebih sulit. “Kamu tahu,”

Clay menghela napas pelan.  “Tapi aku ingin dengar darimu.”

Kalimat itu sederhana. Namun justru itu yang membuat Nindi semakin goyah. Ia menunduk sejenak. Mengumpulkan sesuatu yang sejak tadi ia tahan. “Kamu membuat semuanya jadi tidak sederhana,”

Clay sedikit mengernyit.

“Aku sudah mencoba menjaga jarak,” lanjut Nindi. “Aku sudah mencoba tetap seperti biasa.”

Nindi berhenti. Lalu mengangkat pandangannya.

“Tapi kamu tidak berhenti.”

Hening.

Clay tidak menyangkal.

“Dan sekarang,” lanjut Nindi pelan, “aku mulai tidak yakin aku masih bisa menjaga seperti sebelumnya.”

Kalimat itu jatuh pelan. Namun dampaknya jelas.

Clay menatapnya lebih dalam. “Jadi kamu sudah membuat keputusan?”

Nindi menggeleng cepat. “Belum, bukan itu.”

Clay mengernyit, sedikit bingung dengan jawaban Nindi.

“Aku hanya…” Nindi terdiam Untuk pertama kalinya, ia kesulitan menemukan kata yang benar. “Aku mulai terbiasa,” lanjutnya akhirnya.

Hening jatuh di antara mereka.

Clay tidak langsung mendekat. Namun ia juga tidak mundur. “Terbiasa denganku?”

Nindi tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup.

Clay menghela napas. “Itu bukan hal yang buruk,”

Nindi tersenyum tipis. Lelah. “Justru itu masalahnya,”

Clay terdiam.

“Kalau aku mulai terbiasa,” lanjut Nindi, “aku akan berhenti menjaga.”

Nindi berhenti sejenak.

“Dan kalau itu terjadi… aku tidak tahu aku masih bisa berhenti.”

Kalimat itu lebih dari sekadar pengakuan. Dan untuk pertama kalinya, tidak ada yang bisa Nindi tarik kembali.

Clay menatapnya. Lebih lama dari sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat Nindi yang menjaga jarak. Ia melihat Nindi yang hampir kehilangan kendali.

“Nindi…” Suara Clay lebih pelan sekarang.

Namun kali ini, Nindi yang lebih dulu bergerak. Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Clay. Bukan dengan tegas. Namun juga tidak ragu.

Nindi berdiri. Namun tidak langsung pergi. Ada jeda. Seolah ia sendiri belum siap meninggalkan momen itu sepenuhnya.

“Aku harus pulang,” katanya pelan.

Clay mengangguk kecil. Namun tidak mengatakan apa-apa.

Nindi melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berhenti. Tanpa berbalik, ia berkata—

“Kalau kamu terus seperti ini…” Ia terdiam sejenak. “…aku mungkin tidak akan bisa menolak selamanya.”

Hening.

Dan kali ini, itu bukan ancaman. Melainkan peringatan. Untuk dirinya sendiri.

Top of Form

Bottom of Form

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!