NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 12 : Puncak kesunyian

Udara di lereng menuju Puncak Kesunyian terasa seperti bilah pisau yang dihunus langsung ke paru-paru. Setiap tarikan napas terasa tajam, kering, dan sangat tipis. Di ketinggian ini, dunia di bawah mereka hanyalah hamparan putih yang tak berujung, sementara langit di atas tampak biru gelap, hampir hitam, karena begitu dekatnya mereka dengan batas atmosfer.

Celestine terhuyung, kakinya yang terbungkus sepatu bot bulu terasa seberat batu. Salju di sini tidak lagi lembut; ia telah membeku menjadi lapisan es yang licin dan keras.

"Jangan berhenti, Celestine. Jika kau berhenti sekarang, ototmu akan mengunci dan kau tidak akan bisa berdiri lagi," suara George terdengar berat, diredam oleh masker kain yang ia gunakan untuk melindungi wajahnya.

George berada satu langkah di depan, menggunakan pedang hitamnya sebagai tongkat pendaki. Ia tidak lagi memancarkan hawa dingin yang mengancam, melainkan mencoba menarik sisa-sisa mana platinum untuk menciptakan area hangat kecil di sekitar mereka. Namun, di ketinggian ini, sihir pun seolah enggan untuk bekerja.

"Aku... aku hanya butuh semenit, George," rintih Celestine. Ia bersandar pada dinding tebing es yang tegak lurus. "Kenapa... kenapa sihirku terasa sangat berat di sini?"

George berbalik, ia mendekati Celestine dan merangkul bahunya, mencoba membagi panas tubuhnya. "Di Puncak Kesunyian, alam tidak mengizinkan manipulasi mana yang berlebihan. Ini adalah tempat di mana kekuatan murni diuji. Sihirmu tidak hilang, ia hanya sedang ditekan oleh tekanan atmosfer dan keheningan kuno gunung ini."

Celestine mendongak, menatap puncak gunung yang masih menjulang beberapa ratus meter lagi. Di puncaknya, sebuah pusaran awan hitam berputar pelan, menandakan lokasi inti dari meteor hitam yang mereka cari.

"George, lihat tanganmu," bisik Celestine.

George menatap tangan kristalnya. Pola platinum yang tadi bersinar terang kini meredup, berganti menjadi warna kelabu yang kusam. "Kutukannya mulai menuntut balas karena aku berada terlalu dekat dengan sumbernya. Semakin dekat kita dengan pusat meteor, semakin kuat pengaruhnya pada darah La’ Mortine."

"Kita harus melakukan sesuatu. Jika tanganmu membeku sepenuhnya lagi, kau tidak akan bisa bertarung saat kita sampai di atas," kata Celestine dengan nada cemas yang mendalam.

"Satu-satunya cara adalah terus bergerak," jawab George tegas. "Jangan pikirkan lukaku. Pikirkan langkahmu selanjutnya."

Mereka melanjutkan pendakian dalam diam. Keheningan di sini begitu pekat hingga suara detak jantung mereka sendiri terdengar seperti dentuman keras. Tidak ada burung, tidak ada angin yang menderu, hanya kesunyian yang mencekam yang seolah mencoba menelan kesadaran mereka.

Tiba-tiba, jalan setapak yang sempit itu terputus oleh sebuah celah jurang yang sangat lebar. Di bawahnya hanya ada kegelapan abadi yang seolah tak memiliki dasar.

"Kita harus melompat?" tanya Celestine, wajahnya pucat pasi menatap jurang itu.

"Terlalu lebar untuk melompat dalam kondisi fisik kita yang sekarang," George memeriksa pinggiran es itu. "Aku akan mencoba membangun jembatan es, tapi kau harus menyalurkan manamu padaku. Aku tidak punya cukup kekuatan untuk menstabilkan strukturnya sendirian di udara setipis ini."

Celestine mengangguk. Ia berdiri di belakang George, meletakkan kedua tangannya di punggung ksatria itu. Ia memejamkan mata, memanggil sisa-sisa kehangatan dari Valley, bayangan tentang Theodore yang tersenyum di taman mawar, dan janji yang ia buat untuk kembali.

"Sekarang!" teriak George.

George menghentakkan tangannya ke depan. Sebuah jembatan es yang jernih dan ramping mulai tumbuh dari tepi jurang, melesat menuju sisi seberang. Celestine mengerahkan seluruh tenaganya, mengubah mana emasnya menjadi perekat yang memperkuat kristal es George agar tidak retak oleh suhu ekstrem.

Jembatan itu berhasil mencapai sisi seberang dengan suara denting yang halus. George segera menarik Celestine untuk menyeberang. Namun, tepat saat mereka berada di tengah jembatan, sebuah getaran hebat mengguncang gunung.

"Bukan sekarang!" umpat George.

Dari dalam jurang, muncul mahluk-mahluk yang terbuat dari es murni namun memiliki mata ungu yang jahat Ice Stalkers. Mereka adalah manifestasi dari kutukan meteor yang mendiami puncak gunung. Mahluk-mahluk itu mulai merayap naik di bawah jembatan es mereka, mencoba menghancurkan pondasinya.

"Lari, Celestine! Jangan menoleh!" perintah George.

Celestine berlari sekuat tenaga, sementara George berbalik, menebaskan pedangnya ke arah bawah. Setiap tebasan George memicu ledakan es kecil, namun jumlah mahluk itu terlalu banyak. Jembatan mulai retak.

"George, cepat!" teriah Celestine saat ia sudah sampai di sisi seberang.

George melompat tepat saat jembatan itu hancur berkeping-keping. Ia berhasil menangkap pinggiran tebing dengan tangan kristalnya, namun retakan es mulai menjalar di bawah genggamannya. Celestine segera meraih tangan George, menariknya dengan seluruh kekuatan yang tersisa.

"Aku dapat!" seru Celestine. Dengan satu sentakan kuat, George berhasil naik ke atas tebing.

Mereka berdua terbaring di atas salju, terengah-engah dengan dada yang naik turun dengan cepat. Kematian baru saja sejengkal dari mereka.

"Kau... kau menyelamatkanku lagi," gumam George, menatap langit biru tua di atas mereka.

"Itu tugasku, bukan?" sahut Celestine sambil mencoba mengatur napasnya. "Lagipula, siapa yang akan membawaku pulang ke Valley jika ksatria esku jatuh ke jurang?"

George tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kontras dengan kesunyian puncak gunung itu. "Kau benar. Aku belum mencicipi kue cokelat yang kau banggakan itu."

Mereka bangkit berdiri, membersihkan salju dari pakaian mereka. Kini, di hadapan mereka, hanya tinggal satu tanjakan terakhir menuju kawah puncak. Cahaya ungu dari meteor hitam kini terlihat jelas, membelah langit malam yang mulai turun.

"Celestine, dengarkan aku," George memegang bahu Celestine, menatapnya dengan intensitas yang luar biasa. "Begitu kita masuk ke dalam kawah, aku mungkin akan kehilangan kendali atas sisi esku karena radiasi meteor itu. Jika itu terjadi, jangan ragu untuk menggunakan cahayamu padaku. Jangan biarkan aku menjadi bagian dari kegelapan itu."

"Aku tidak akan membiarkanmu hilang, George. Kita masuk bersama, dan kita keluar bersama," jawab Celestine dengan nada yang tidak menerima bantahan.

George menatapnya lama, lalu ia mengangguk pelan. "Ayo. Mari kita akhiri semua ini."

................

Langkah kaki mereka kini terasa lebih berat, seolah-olah udara di Puncak Kesunyian berusaha menarik mereka jatuh ke dalam pelukan es abadi. George berhenti sejenak, ia terbatuk kecil dan uap dingin yang keluar dari mulutnya tampak lebih pekat, hampir menyerupai kristal halus yang langsung jatuh ke tanah.

Celestine segera mendekat, merangkul pinggang George untuk menopang beban pria itu. "George, bicaralah padaku. Jangan diam saja. Apa yang kau rasakan sekarang?"

George menarik napas dengan susah payah, dadanya naik turun dengan tidak teratur. "Rasanya... seperti ada ribuan jarum es yang sedang mencoba menjahit jantungku agar berhenti berdetak. Meteor di atas sana, Celestine. Ia memanggil darah La’ Mortine. Ia ingin aku kembali menjadi bagian dari badai."

Celestine menggenggam tangan kristal George yang kini terasa sangat dingin, bahkan menembus sarung tangan sutranya. "Kau bukan bagian dari badai itu. Kau adalah George Augustine, pria yang menangkapku di kereta kuda, pria yang melindungiku di desa. Ingat itu."

George menatap Celestine, matanya yang kelabu tampak mulai tertutup oleh selaput tipis berwarna biru bening. "Kenapa kau tidak meninggalkanku saja saat di jurang tadi? Kau bisa lari lebih cepat tanpa beban sepertiku."

"Jangan mulai lagi dengan omong kosong itu, George," sahut Celestine tajam. "Jika aku ingin hidup sendiri, aku tidak akan pernah meninggalkan Valley. Aku di sini karena aku memilihmu. Mengerti?"

George terdiam, lalu ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Celestine. "Kau putri yang paling keras kepala yang pernah kutemui."

"Dan kau ksatria yang paling merepotkan. Sekarang, ayo jalan lagi. Sedikit lagi kita sampai di bibir kawah," perintah Celestine.

Mereka mendaki beberapa meter terakhir dengan sisa tenaga yang ada. Saat mereka mencapai puncak tertinggi, pemandangan di depan mereka membuat Celestine terengah. Di tengah kawah gunung yang luas, sebuah bongkahan batu hitam raksasa—meteor yang jatuh ribuan tahun lalu—berdiri tegak. Batu itu berdenyut dengan cahaya ungu yang memuakkan, dan dari sela-selanya, kabut hitam mengalir keluar seperti air terjun yang terbalik, naik ke langit dan membentuk awan badai.

"Itu dia," bisik George. "Jantung dari semua penderitaan di utara."

Di sekitar meteor itu, tanahnya tidak tertutup salju, melainkan tertutup oleh kristal-kristal hitam yang tajam seperti silet. Tidak ada mahluk hidup, tidak ada suara angin. Hanya suara denyut dari batu itu yang terdengar seperti suara jantung raksasa yang sakit.

"Bagaimana cara kita menghancurkannya?" tanya Celestine.

"Pedangku saja tidak akan cukup," George melepaskan rangkulan Celestine dan berdiri tegak, mencoba memanggil sisa mananya. "Aku harus menusukkan pedangku ke pusat denyut itu, tapi aku butuh kau untuk menyelimuti bilah pedangku dengan cahaya platinum. Tanpa pemurnian mu, es ku hanya akan memperkuat meteor itu."

"Tapi George, jika kau mendekat, radiasinya akan..."

"Aku tahu," potong George. Ia menatap lengannya yang kini hampir seluruhnya menjadi kristal. "Tapi ini adalah alasan kenapa aku dilahirkan dengan kutukan ini. Untuk menjadi wadah yang membawa cahayamu ke pusat kegelapan."

Celestine memegang tangan George, air matanya mulai membeku di pipinya. "Aku akan melakukannya. Tapi berjanjilah padaku, George. Begitu batu itu hancur, kau harus kembali padaku. Jangan biarkan dirimu ikut hancur bersamanya."

George tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik Celestine dan mengecup dahinya dengan lembut—sebuah sentuhan dingin yang terasa sangat hangat di hati Celestine. "Siapkan manamu, Putri. Kita hanya punya satu kesempatan."

Mereka mulai menuruni lereng kawah menuju meteor hitam itu. Setiap langkah mendekat membuat suhu udara terasa semakin tidak masuk akal. Celestine merasa api di dalam dadanya mulai berkobar hebat, bereaksi terhadap kegelapan yang mencoba menekannya.

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Kristal-kristal hitam di sekitar meteor itu mulai bergerak, membentuk sosok-sosok raksasa yang menyerupai penjaga tanpa wajah. Mereka adalah manifestasi terakhir dari pertahanan meteor tersebut.

"Jangan pedulikan mereka! Terus fokus pada pedangku!" teriak George.

George melesat maju, menerobos barisan penjaga kristal hitam itu. Setiap kali pedangnya beradu dengan kristal hitam, percikan api biru dan ungu meledak. Celestine berlari di belakangnya, kedua tangannya terangkat ke arah George, mengirimkan aliran cahaya platinum yang murni.

"Sekarang, Celestine! Berikan semuanya!" seru George saat ia sudah berada tepat di depan meteor yang berdenyut itu.

Celestine meneriakkan sebuah mantra kuno yang muncul begitu saja dari ingatannya. Cahaya platinum meledak dari tubuhnya, menyelimuti George dan pedangnya dalam sebuah pilar cahaya yang sangat terang hingga mengalahkan kegelapan di kawah itu.

George mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan dengan satu teriakan yang membelah kesunyian puncak gunung, ia menghujamkan pedang itu tepat ke pusat cahaya ungu meteor hitam.

Suara ledakan yang dihasilkan bukan suara dentuman, melainkan suara kaca yang pecah dalam skala raksasa. Gelombang energi terpental ke segala arah. Celestine terlempar ke belakang, penglihatannya menjadi putih total. Hal terakhir yang ia dengar adalah suara George yang memanggil namanya di tengah gemuruh kehancuran batu abadi tersebut.

Keheningan kembali menyelimuti Puncak Kesunyian. Cahaya ungu itu hilang, digantikan oleh cahaya bulan yang murni. Namun, saat Celestine membuka matanya, ia tidak melihat meteor itu lagi. Yang tersisa hanyalah debu hitam yang tertiup angin dan sosok George yang tergeletak diam di tengah kawah yang kini mulai ditutupi oleh salju putih yang bersih untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.

"George?" bisik Celestine, suaranya gemetar saat ia mencoba merangkak mendekat. "George, bangunlah... kita sudah menang..."

Salju yang turun di kawah itu bukan lagi salju abu-abu yang kotor, melainkan kristal putih murni yang seolah menari merayakan berakhirnya kegelapan. Namun, Celestine tidak merasakan keindahan itu. Ia terus memeluk tubuh George, menempelkan telinganya ke dada ksatria itu, mencari detak jantung yang mungkin masih bersembunyi di balik lapisan es yang kini menyelimuti seluruh zirahnya.

"George, ini tidak lucu," isak Celestine. Air matanya jatuh ke pipi George, menciptakan lubang kecil di lapisan es tipis yang menutupi wajah pria itu. "Kau bilang kau ingin mencicipi kue cokelat di Valley. Kau bilang kau akan menjagaku. Jangan berani-berani pergi sekarang setelah kau membuatku jatuh cinta padamu, dasar ksatria kaku!"

Celestine merasakan mananya sendiri hampir kosong, namun ia tetap mencoba memaksakan sisa-sisa kehangatan dari dalam jiwanya. Ia menggenggam tangan kristal George yang kini tidak lagi berpendar.

Tangan itu terasa sangat berat dan mati, seolah-olah George telah benar-benar berubah menjadi patung kristal permanen.

Tiba-tiba, dari sela-sela debu meteor yang hancur, sebuah percikan cahaya platinum kecil sisa dari penyatuan kekuatan mereka tadi melayang pelan dan hinggap tepat di atas dahi George. Cahaya itu masuk meresap ke dalam kulitnya, dan seketika, pola kristal di lengan George bergetar hebat.

"Uhukk!"

George tersentak, badannya mengejang hebat saat oksigen pertama kembali masuk ke paru-parunya. Ia terbatuk, mengeluarkan sisa-sisa uap ungu yang beracun dari dalam dadanya. Mata kelabunya terbuka perlahan, tampak linglung dan dipenuhi oleh bayangan rasa sakit yang luar biasa.

"Celestine...?" bisik George, suaranya sangat serak hingga nyaris tidak terdengar.

"George! Kau hidup!" Celestine memeluk leher George begitu erat hingga pria itu kembali terbatuk.

"Pelan... pelan... kau akan membunuhku lebih cepat daripada meteor itu jika kau memelukku seperti ini," gumam George sambil mencoba duduk dengan bantuan tangan kirinya yang masih manusiawi.

George menatap tangan kanannya. Kristal itu tidak hilang, namun warnanya kini menjadi putih mutiara yang indah, tidak lagi terasa dingin yang membunuh, melainkan memberikan sensasi sejuk yang nyaman. "Sepertinya... kutukan ini benar-benar telah dimurnikan. Aku masih seorang ksatria es, tapi aku tidak lagi membeku dari dalam."

Celestine menyeka air matanya dengan kasar, wajahnya merah padam antara lega dan kesal. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Jangan pernah membuatku berpikir bahwa aku akan pulang sendirian."

"Aku tidak punya niat untuk mati di tempat sesunyi ini, Putri," kata George sambil menarik napas dalam, menikmati udara puncak gunung yang kini terasa segar tanpa bau busuk sihir hitam. "Lihat ke sana."

George menunjuk ke arah ufuk timur. Garis cahaya keemasan pertama mulai muncul, membelah kegelapan malam yang panjang.

Matahari terbit di Puncak Kesunyian untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun tertutup badai abadi. Cahaya itu memantul di atas salju putih dan bunga-bunga kristal yang mulai tumbuh dari bekas reruntuhan meteor.

"Sangat indah," bisik Celestine.

"Ya, sangat indah," sahut George, namun ia tidak menatap matahari. Ia menatap Celestine yang wajahnya tersinari oleh cahaya fajar tersebut.

Mereka duduk berdampingan di tengah kawah itu, menatap dunia yang baru saja mereka selamatkan. Meskipun tubuh mereka penuh luka dan pakaian mereka compang-camping, ada rasa damai yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

"Jadi," kata George setelah keheningan yang cukup lama. "Bagaimana kita akan menjelaskan ini pada Theodore? Dia pasti akan bertanya kenapa adiknya pulang membawa seorang mantan ksatria buronan dengan tangan kristal."

Celestine menyandarkan kepalanya di bahu George. "Kita akan katakan padanya bahwa ini adalah oleh-oleh terbaik dari utara. Lagipula, Theodore itu sangat rasional. Begitu dia melihat kau bisa membuatkan es batu untuk minuman musim panasnya setiap saat, dia pasti akan menerimamu dengan tangan terbuka."

George tertawa kecil, kali ini terdengar sangat lepas. "Kau benar-benar hanya memikirkan kenyamanan kakakmu, ya?"

"Tentu saja tidak. Aku juga memikirkan kenyamananku. Aku butuh seseorang untuk menangkapku jika aku jatuh dari kereta kuda lagi, bukan?" balas Celestine sambil mengerlingkan mata.

George menggenggam tangan Celestine, kali ini dengan tangan kristalnya yang terasa sejuk namun mantap. "Aku berjanji, mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu jatuh sendirian. Di mana pun kau berada, entah itu di kebun mawar Valley atau di puncak gunung ini, aku akan ada di sampingmu."

"Itu janji yang berat, Tuan Muda Augustine," kata Celestine dengan senyum manis.

"Aku seorang ksatria, Putri Jour' Vallery. Kami tidak pernah mengingkari janji."

Mereka bangkit berdiri, menatap jalan setapak yang kini terlihat jelas menuju ke bawah gunung. Perjalanan pulang mungkin akan memakan waktu lama, dan mereka masih harus menghadapi Marquess serta politik antar kerajaan, namun ketakutan itu sudah tidak ada lagi.

Mereka memiliki satu sama lain, dan mereka memiliki cahaya yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh musim dingin mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!