🛑 COBA BACA DULU 10 PART jamin nagih 😁😁😁
Karena ancaman kedatangan Iblis di Blood Moon. Alexa Aegis, putri pertama klan Penyihir harus merelakan dirinya menikahi Alexander Ostrander, pertemuan pertama mereka tidaklah meninggalkan kesan baik.
Sementara dia lebih bisa berteman dengan Ahiga, putra kedua dari Kekuatan Warewolf yang ikut bergabung. Alexander yang asing baginya tiba-tiba berada di didekatnya sepanjang waktu. Sementara ternyata dalam klannya sendiri dia punya begitu banyak wanita yang siap menumpahkan darah satu sama lain
Akankah cinta bisa menemui mereka.
🌸
Ini adalah The Light Protector Witch Series
Terdiri dari 7 Book
BOOK 1 . ALEXA ● Blood Of Love
BOOK 2 . AURORA ● The Blood Moon
BOOK 3 . SOFIA ● The Cursed Diamond
BOOK 4 . APOCALYPSE ● The Faith of Love
BOOK 5 . NEW ERA ● The Next Leader
BOOK 6 . CARA ● Rewriting The Star
BOOK 7 . ALENA ● The Dragon Hatcher (On going)
🛑Book 2+3+4 ada di AURORA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33. Jebakan Leonard.
"Sudah kau dapatkan?" Leonard Ostrander bertanya sambil menyesap minumannya dengan sekali teguk.
"Sudah Tuan..." seorang pria berpakaian hitam menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan bening ke meja di depan Leonard.
"Hmm... bagus! Alexander sudah tiba di Grenoble?" Sekarang dia memutar-mutar botol kecil itu ditangannya sambil tersenyum kecil.
"Sudah Tuan, dia direncanakan akan mengawasi latihan legiun perang dalam tiga hari kedepan."
"Kau dan timmu akan ikut ke London besok. Pastikan Alexander masih berada di Grenoble. Segera laporkan jika dia sudah bergerak meninggalkan Grenoble."
"Baik Tuan... "
"Kau boleh pergi...." sebuah seringai sinis terpasang di wajah Leonard. "Alexander, sudah lama aku mencari kelemahanmu, sekarang aku akan melihatmu hancur karena seorang wanita..." Seringai licik teelihat di wajah gagah yang terlihat bagai seorang dewa itu.
Sebuah keyakinan akan keberhasilan telah membentuk Leonard Ostrander sampai sekarang. Setiap tindakannya adalah perhitungan matang dari pengalaman dan ketajaman instingnya. Dia telah berhasil mengalahkan semua orang .Kecuali satu penghalang yang terus menghalanginya mencapai posisi tertinggi, Alexander.
Alexander mengawasi sebuah lapangan luas dimana ribuan prajurit legiun berlatih dengan senjatanya masing-masing.
"Tuan persiapan kita pagi ini sudah maksimal. Legiun kita sudah dipersenjatai dan siap bertempur. Apa yang ingin Tuan tambahkan dalam latihan mereka."
"Berikan mereka latihan peningkatan kecepatan, pertarungan nanti bukan pertarungan fisik. Tapi menghindari serangan energi. Dan kecepatan mereka harus sempurna untuk menghindari kecepatan tembakan energi."
"Baik Tuan, akan kami beritahukan ke masing-masing pelatih." Komandan utama beranjak dari sisi Alexander.
Alexander menghela napas. Sudah lebih dari sepuluh hari sampai sekarang dia tidak bertemu dengan Alexa. Mereka berdua dipisahkan oleh persiapan peperangan yang hanya tinggal dua minggu lagi dari puncaknya.
Walaupun dia meninggalkan Odelia dan Odette, dan dua orang pengawal terbaiknya untuk mengawasi gadis itu, rasa tidak tenang tetap menyelimuti hatinya. Gadis itu adalah titik lemahnya sekarang. Sebelumnya tidak ada yang bisa menyerangnya dalam hubungan pribadi. Tapi sejak penguman pertunangan terjadi keadaan sudah berbeda.
Walaupun Veronica dan para wanita yang membenci Alexa tidak membuat gerakan apapun. Ada rasa khawatir yang selalu menyelinap di hatinya. Entah kenapa dia yakin Veronica bukanlah orang yang berniat membantu Alexa, ada agenda lain yang disembunyikan gadis itu. Gadis itu lebih berbahaya dari Keira Solley atau Bella Green.
"Velcro ... aku ingin kau mengatur orang untuk mengawasi Veronica Vasiliev. Aku ingin tahu dengan siapa dia berhubungan, dan apa yang dilakukannya sekarang." Akhirnya Alexander memutuskan melakukan sesuatu. Instingnya entah kenapa tak pernah salah.
"Baik Tuan. Tuan punya kecurigaan motif Veronica terhadap Nona Alexa?" assisten utamanya itu membaca pemikiran Tuannya.
"Kau juga berpikir hal yang sama Velcro" laki-laki setengah baya assiten utamanya itu sudah hidup lebih lama darinya. Dan Alexander banyak terbantu oleh ketelitiannya terhadap suatu masalah.
"Sedikit banyak Tuan. Veronica sama sekali tidak bisa dipercaya. Aku percaya dia punya tujuan lain sama seperti Tuan."
"Baiklah, mulai lakukan penyelidikan diam-diam terhadap dia. Termasuk penyadapan." Alexander memberikan perintah. Harusnya dia melakukan ini lebih awal. Tapi mungkin belum terlambat mengetahui sesuatu sekarang.
"Saya mengerti."
Sementara Leonard Ostrander sudah tiba di London. Dia memesan kamar hotel di daerah yang berdekatan dengan mansion Aegis. Bukan tanpa alasan tapi demi sebuah rencana jahat yang sudah terpikir matang di otaknya beberapa minggu ini.
Dan sekarang dia sedang menjalankan rencananya itu.
"Alexa, ini Leonard Ostrander."
"Tuan Leonard, bagaimana kabar Anda."
"Baik, terima kasih. Aku ada di Belfrod Kigsman. Aku ingin mengajakmu makan siang, kalau kau bisa... Kebetulan aku ada di London untuk pertemuan bisnis nanti malam... Orang tua ini tidak menemukan teman makan siang disini...Aku teringat Mansion Aegis tidak jauh dari sini. Tapi jika kau sibuk, tidak apa apa ... jam dua aku sudah harus pergi." Leonard bermain talik ulur di kalimatnya.
"Tuan Leonard kau tidak tua, masih terlihat muda." Alexa tertawa atas lelucon Leonard. "Ehmm...Baiklah ini jam makan siang,...aku akan kesana sebentar, kau harus pergi sampai jam dua?" Alexa sedikit binggung, apa dia harus membawa pengawal. Tapi ini hanya makan siang di sebuah restoran yang tak sampai lima menit perjalanan dari Mansion. Jika menunggu pengawalan akan butuh waktu lama. Dan ini cuma satu jam ditempat umum. Bukan tempat sepi.
"Kalau kau tak bisa tak apa. Aku baik-baik saja. Aku hanya teringat mungkin aku bisa mengajakmu makan siang di waktu singkat ini, atau kalau kau tak diperbolehkan makan siang dengan orang selain Alexander, sungguh tak apa hahaha.... "Leonard kelihatan menjauh, tapi itu hanyalah kamulfase agar Alexa bergegas.
"Tidak ... aku bisa, tempatmu dekat denganku Tuan Leonard. Baiklah, aku akan tiba dalam waktu sepuluh menit."
"Baiklah, aku menunggumu... terima kasih sudah bersedia menemaniku. Dan izinkan aku yang membayar kali ini." Leonard segera menutup teleponnya.
Leonard menjangkau ke sakunya. Botol kecil yang berisi cairan bening itu dituangkan ke gelas kosong didepannya. Dia memutar gelas itu meratakan cairannya hingga hampir tak terlihat.
Tak lama kemudian Alexa sampai. Gadis cantik itu memakai jeans ketat dan sweater gelap legiun dengan jacket kulit hitam karena dia baru kembali dari Pusat Pelatihan Pyreness.
"Tuan Leonard, maaf aku berpakaian non-formal begini. Aku baru kembali dari pusat pelatihan dan menerima teleponmu."
"Tidak apa Alexa, ini bukan kencan. Hanya ajakan makan siang. Alexander akan membunuhku jika tahu kau berdandan cantik untuk menemuiku." Alexa langsung tertawa menanggapi kata-kata Leonard. Pria didepannya ini memang pandai melucu.
"Kau ingin memesan apa, aku juga sedang kelaparan. Biarkan aku menuangkanmu minuman, sepertinya kau terburu-buru kesini. Maaf aku tidak meneleponmu lebih awal." Leonard menuangkan air mineral ke gelas yang dipersiapkannya tadi.
"Kau benar, terima kasih Tuan Leonard." dalam sekali tegukan dia menghabiskan air yang dituangkan Leonard. Sementara Leonard tersenyum kecil melihat rencananya berjalan dengan mulus. Dia tinggal menunggu reaksi antara campuran obat bius dan perangsang ampuh itu.
Pesanan makanan mereka datang tak lama kemudian. Mata Leonard menatap gadis didepannya dengan seksama. Alexa terlihat sedikit memijat keningnya. Tak lama lagi gadis itu akan menjadi miliknya. Dan ia terus mengajaknya berbicara agar dia tidak terlalu menyadari reaksi tubuhnya. Dan tidak melarikan diri terlalu cepat.
"Alexa ada apa, kau sakit?" tangan Leonard tiba-tiba menyentuhnya.
"Entahlah kepalaku pusing. Apakah disini agak panas. Rasanya tubuhku menjadi panas." Alexa membuka jaketnya, dan melanjutkan makan. Namun kepalanya tetap bertambah pusing.
"Kau mau kuantar pulang." Alexa kepalanya pusing. Tapi saat Leonard menyentuhnya sentuhannya yang seharusnya biasa saja membuat tubuhnya terasa aneh. Seperti saat Alexander menyentuhnya tapi rasanya meningkat berkali-kali lipat.
"Aneh kenapa aku pusing tiba-tiba."
"Aku menyimpan obat dikamarku diatas, kau bisa kesana untuk beristirahat sebentar. Ayo kuantar. " Leonard mendekati Alexa, bahkan akibat wangi parfumnya. Alexa merasa tubuhnya merespon. Tapi disisi lain tubuhnya melemas. Apa ini?! Leonard memanggil pelayan dan membayar makanan mereka.
"Tidak apa, ... hanya sedikit pusing."
"Aku akan pergi sebentar lagi, kita ambil obat dan aku akan mengantarmu pulang. Lift tak jauh dari sebelah kanan. Wajahmu pucat. Ayo..." dengan sedikit memaksa Leonard berhasil menarik Alexa dan membawanya berjalan. Tangannya memegang pinggang Alexa. Sementara Alexa sedikit bersandar padanya.
"Leonard, aku mau pulang saja. Lepaskan aku. " Tinggal sedikit lagi mereka mencapai lift. Alexa mencoba lepas dari rengkuhan tangan Leonard. Dia menyadari reaksi tubuhnya tidaklah benar. Ada sesuatu yang terjadi padanya. Dan Leonard yang melakukannya.
"Sayangku Alexa, kau bahkan tidak bisa berdiri dengan benar. " pintu lift langsung terbuka. Alexander membawa Alexa kedalam lift. Alexa panik, tapi bahkan berdiri dengan benar saja dia tak mampu.
"Apa yang kau lakukan padaku." matanya nanar memandang pria didepannya. Sementara Leonard menyandarkan Alexa ke dinding lift. Dua orang bawahan Leonard mengikuti ke dalam lift.
"Yang kulakukan hanyalah membuatmu tak bisa melawanku. Dan tubuhmu kecanduan sentuhanku." Leonard mendekat, Alexa bisa merasakan hembusan napasnya. Dan saat bibir Leonard menyentuh tengkuknya, dan pria itu menyelipkan tangan untuk meremas dadanya, tubuhnya merespon dengan hebat. Alexa bergetar merasakan bahwa tubuhnya mendamba sentuhan itu lebih banyak lagi. Alexa terjebak, dan mulai putus asa. Dia mulai menangis.
"Leonard lepaskan aku, apa yang kau inginkan dariku."
"Bersabarlah sayang, kita hanya akan bersenang-senang sedikit. Nikmati saja reaksi tubuhmu pada sentuhanku." Bersamaan dengan itu lift terbuka dan Leonard dengan cepat membopong Alexa yang sudah melemas.
Sebuah President Suite diujung ruangan dibuka oleh bawahan Alexander yang sudah menunggu.
"Tidak ada yang boleh masuk." suara Leonard yang dingin memberi perintah. Alexa ingin melawan tapi saat ini bahkan dia kesulitan untuk berdiri. Kepalanya terasa berat. Dan tubuhnya lemas tidak bertenaga. Leonard melemparnya ke ranjang besar di kamar itu.
"Leonard, Alex akan membunuhmu jika kau berani menyentuhku." sementara Leonard membuka kemeja gelapnya. Air mata terus mengalir dipipi Alexa.
"Hahaha... kau benar sayang, dia akan coba membunuhku. Tapi apa kau berani menanggung akibatnya. Aku merekam ini , kau lihat kamera itu. Begitu video desahanmu menyebar, Alexander akan kehilangan muka, dan kau, keluargamu bahkan bisnis keluargamu akan jatuh dalam skandal terdalam. Bahkan nantinya kau tak akan bisa memaafkan dirimu seumur hidup. Kau harus mengikuti permainanku sayang. Dan kau tidak akan bisa melawanku. Aku akan membuat tubuhmu menikmatinya walaupun pikiranmu menolaknya." Leonard sudah melepas semua pakaiannya, dan bergerak kearah Alexa.
"Jangan lakukan Leonard..." permintaan terakhir Alexa, tidak berguna ketika jari-jari besar Leonard bergerak meloloskan sweaternya dan jeansnya
"Alexa, aku bahkan belum memulai apapun... nikmati saja, karena kau tidak bisa melawanku sekarang." dan Leonard menekan tubuhnya melawan Alexa. "Kau sangat nikmat" Leonard menyeringai puas.
"Aku akan membunuhmu!" Alexa menangis, matanya nyalang tapi tubuhnya bahkan semakin melemas.
"Kau seharusnya bersyukur aku tidak mengasarimu Alexa,..." Napas kasar Leonard menyerbu wajah Alexa, pria itu mencium wajahnya.
Jika dia bisa memilih mati saat itu maka Alexa akan memilihnya. Ia tak mampu lagi menangis saat Leonard menyentuh seluruh tubuhnya, menanggung perasaan tak berdaya dan dipermalukan sekaligus. Leonard mengamati reaksi gadis itu dengan puas.
Alexa pingsan karena pengaruh campuran obat bius kemudian. Dan Leonard dengan pandangan puas melepas mangsanya yang sudah menyerah kalah dan dia telah menandai Alexa sebagai wanitanya. Dia mengambil kamera di depannya dan mulai menyoroti setiap lekukan tubuh Alexa. Laki-laki itu kemudian tertawa atas apa yang telah dilakukannya. Sebelum dia melemparkan selimut untuk menutupi tubuh Alexa lalu meninggalkannya.
padahal ini plus point.anda dari author lain, jeung..😍
makasih othor karyamu menambah wawasan dan pengetahuan